Minggu, 05 Februari 2012

RENUNGAN HARI PERS NASIONAL 2012 : TEKANAN PEMERINTAH KOLONIAL JEPANG TERHADAP INSAN PERS REPUBLIKEN DI BORNEO MENSEIBU COKAN 1942-1945

Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd

Pada tanggal 10 Januari 1942, JJ Haga yang ketika itu menjadi Gubernur Belanda di Provientie Zuider en Oster Afdeling van Borneo (ZeO-AvB) sudah menerima laporan intelijen bahwa pos terdepan militer Belanda di Tarakan sudah jatuh ke tangan bala tentara Dai Nippon.
Tarakan kota yang terletak di Borneo Utara itu diserbu oleh pasukan Rikugun (angkatan darat) di bawah komando Kapten W, Okomoto. Pasukan militer Belanda terpaksa melepas nyawa di sana, jadi tawanan perang, atau lari kocar-kacir menyelamatkan diri ke mana-mana.
Lebih jauh juga diterima laporan intelijen bahwa penyerbuan ke Tarakan itu merupakan bagian awal dari strategi militer bala tentara Dai Nippon untuk merebut kota Banjarmasin yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda di Borneo.
Benar saja, 24 Januari 1942, 500 orang anggota pasukan Rikugun Jepang sudah mendarat di Teluk Adang, Balikpapan. Selanjutnya mereka menerobos hutan belantara dengan cara berjalan kaki atau naik sepeda yang dirampasnya dari tangan penduduk di sepanjang jalan yang dilaluinya. Tanggal 4 Februari 1942, mereka sudah tiba di Muara Uya, dan 6 Februari sudah berhasil merebut kota Tanjung dari tangan pasukan militer Belanda.
Begitu berhasil merebut kota Tanjung, Kapten W. Okomoto, komandan pasukan gabungan bala tentara Dai Nippon, langsung memerintahkan penangkapan atas kontrolir Belanda di Tanjung van Luth. Pejabat tertinggi pemerintah kolonial Belanda ini lalu diperintahkannya mengayuh sepeda dengan berpakaian dinas lengkap menuju ke kota Banjarmasin.
Pada hari itu juga berita tentang kedatangan bala tentara Dai Nippon di Tanjung sudah sampai ke Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau, Martapura, dan Banjarmasin.Aspirant Controleur Belanda di kota-kota setempat segera memerintahkan pasukan AVC (Afweren Vernielings Corp) untuk melakukan pembumi-hangusan sebelum bala tentara Dai Nippon tiba di kota-kota yang masih berada di bawah kontrol mereka.
Tanggal 9 Februari 1942, Gubernur Belanda JJ Haga menyingkir ke Kapuas, pejabat Belanda yang lain ke Purukcahu, Komandan Militer Belanda Halkema ke Kotawaringin kemudian menyeberang ke Pulau Jawa.
Pada hari yang sama. pasukan AVC membakar habis kota Banjarmasin, kota ini benar-benar menjadi lautan api. Di Banua Anyar dan Bagau, pasukan AVC membakar kaleng-kaleng minyak tanah, minyak pelumas, bensin, dan avtur. Di tengah kota mereka membakar instalasi listrik (Aniem), instalasi radio, pelabuhan, gudang karet milik Hok Tong, dan jembatan Coen. Pendek kata api membumbung di mana-mana di seantero kota Banjarmasin.
Sementara itu, rakyat miskin di kota Banjarmasin segera turun ke jalan-jalan, mereka memanfaatkan kesempatan “membeli” aneka jenis barang dengan harga diskon seratus persen di toko-toko milik orang Cina, dan gudang-gudang barang milik firma-firma Belanda. Suasana anarkis yang terjadi ketika itu boleh jadi lebih hebat dibandingkan peristiwa kerusuhan Jum’at Kelabu, 23 Mei 1997 (Amuk Banjarmasin) tempo hari.
Pada tanggal 10 Februari 1942, sekitar pukul 14.00 Wita bala tentara Dai Nippon tiba di kota Banjarmasin. Mereka geram melihat kota Banjarmasin sudah porak-poranda seperti itu. Mereka kemudian menyuruh rakyat untuk menangkapi orang Belanda dan orang Cina. Satu jam kemudian, Walikota Banjarmasin R. Mulder, Kepala Polisi Ruitenberg, Meulemans, 6 orang Belanda lainnya, dan 3 orang Cina warga kota Banjarmasin dihukum pancung di sisi jembatan Coen.
Sementara itu, di Telawang, bala tentara Dai Nippon memancung leher mantan Kontroleur Tanjung van Luth, Inspektur Labrijn, mantan Kontroleur Pelaihari Balk, dan pegawai rubberrestriksi HJ Honing.
Pada hari itu juga, pasukan Kaigun (Angkatan Laut Dai Nippon) mendarat di salah satu pantai di kawasan Tanah Laut. Dari sini mereka berjalan kaki ke Banjarmasin untuk bergabung dengan pasukan Rikugun yang sudah sampai duluan. Tanggal 11 mereka tiba di tempat yang dituju.
Pada saat terjadinya kerusuhan politik di kota Banjarmasin (9-10 Februari 1942 ), kantor pusat dan percetakan Surat Kabar Suara Kalimantan milik Anang Abdul Hamidhan juga tidak luput dari tindakan pengrusakan yang dilakukan oleh pasukan AVC Belanda. Bahkan, pengrusakannya dinomor-satukan dibandingkan dengan fasilitas khusus dan fasilitas umum lainnya yang ada di kota Banjarmasin.
Selain khawatir asset penting ini jatuh ke tangan bala tentara Dai Nippon dan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan mereka dalam perang Asia Timur Raya. Pemerintah Belanda juga memanfaatkan situasi genting itu untuk menghukum atau setidak-tidaknya merugikan AA Hamidhan sebagai pemilik surat kabar berhaluan Republiken dimaksud. Hal ini berkaitan dengan isi pemberitaan Surat Kabar Suara Kalimantan yang akhir-akhir ini sangat merugikan kepentingan pemerintah kolonial Belanda di daerah ini.
Pada tanggal 16 Februari 1942, Kapten W. Okomoto mulai melakukan konsolidasi di wilayah kekuasaannya. Mula –mula ia memanggil para tokoh masyarakat sipil di Banjarmasin untuk membentuk Panitia Pemerintahan Sipil di Borneo Menseibu Cokan.
Panitia Pemerintahan Sipil yang digagas oleh Kapten W. Okomoto dapat dibentuk pada hari itu juga. Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk sebagai Ketua, sementara anggotanya terdiri atas 3 orang, yakni : Dokter Soesoedoro, Mr. Rusbandi, dan Hadharyah M.
Situasi kondusif ini memberikan peluang kepada AA Hamidhan untuk membenahi alat-alat pada mesin percetakan surat kabar miliknya yang sudah porak poranda tidak keruan itu. Tidak berapa lama kemudian semua kerusakan pada mesin cetaknya sudah dapat diperbaiki, semua peralatan sudah dapat difungsikan kembali untuk menerbitkan surat kabar. Tanggal 5 Maret 1942, AA Hamidhan sudah berhasil menerbitkan Surat Kabar Kalimantan Raya. Namun, penerbitan surat kabar ini terpaksa dihentikan. Pemerintah kolonial Jepang merekrutnya dengan paksa untuk menjadi Pemimpin Redaksi Borneo Shimboen edisi bahasa Indonesia.
Surat kabar Borneo Shimboen yang berada di bawah kontrol langsung pemerintah kolonial Jepang ini mulai terbit pada tanggal 1 Mei 1942. Demi kelancaran penerbitannya, pemerintah kolonial Jepang mendatangkan mesin cetak surat kabar yang langsung dibawa dari Tokyo oleh para wartawan Jepang yang ditugaskan menangani penerbitan Borneo Shimboen edisi bahasa Jepang.
Surat kabar Borneo Shimboen edisi bahasa Indonesia dikerjakan oleh para wartawan pribumi di bawah pimpinan AA Hamidhan (Pengurus/Pimpinan Redaksi). Para wartawan pribumi lain yang direkrut sebagai anak buah AA Hamidhan ketika itu antara lain adalah AA Rivai (Pengganti Pengurus/Pimpinan Redaksi), Gusti Ahmad Soegian Noor, Fakhruddin Mohani, Marwan Ali, Zaglulsyah, Ahmad Basuni, Sjahransjah, Abdul Wahab, Rosita Gani, Golek Kentjana, dan Janti Tajana.
Selain Surat Kabar Borneo Shimboen, masih ada 2 majalah lain yang terbit di masa pendudukan Jepang ini, yakni Majalah Poernama Raja Kandangan dan Majalah Poespa Wangi Kandangan. Tapi, karena tidak diterbitkan oleh pihak pemerintah kolonial Jepang maka kedua majalah ini sangat ketat diawasi oleh aparat intelijen Jepang (Kempetai). Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hati para wartawan pribumi ketika itu. Setiap hari mereka harus bekerja di bawah tekanan, karena salah sedikit nyawa taruhannya.
Sekadar contoh, ketika bekerja di Surat Kabar Borneo Shimboen, AA Hamidhan sempat mendapat peringatan keras dari penguasa militer Dai Nippon. Ketika itu surat kabar yang dipimpinnya memuat berita seremonial pelepasan atau upacara perpisahan yang dilakukan oleh sejumlah penduduk di suatu kampung di daerah ini atas seregu bala tentara Dai Nippon yang akan pindah tugas ke kampung lain.
Ternyata peristiwa semacam itu tidak boleh diliput atau diberitakan di surat kabar. Peristiwa pindah tugas anggota bala tentara Dai Nippon termasuk rahasia negara karena menyangkut strategi militer yang tidak boleh diketahui oleh pihak musuh dalam Perang Asia Timur Raya. Untunglah, pihak penguasa militer Dai Nippon berkenan mengampuninya dengan catatan tidak boleh terulang lagi di masa depan.

Meskipun Surat Kabar Borneo Shimboen nyata-nyata milik pemerintah kolonial Jepang yang terkenal sangat kejam (refresif) itu, ternyata sangat menghargai hasil karya para penulis lokal yang berkenan menyumbangkan karangannya. Mereka tidak lupa memberikan honorarium atas semua tulisan yang dimuat di Surat Kabar Borneo Shimboen. Menurut Artum Artha, honor untuk sebuah puisi ketika itu antara 3-4 ringgit. Sementara honor untuk sebuah cerpen 10 ringgit (Tabloid Wanyi Banjarmasin, Edisi 12/Tahun 1/16 September 1999:6).
Nah, jika pada zaman sekarang ini, 63 tahun Indonesia Merdeka, masih ada surat kabar terbitan Banjarmasin yang tidak memberikan honorarium barang sepuluh ribu rupiah kepada para penulis yang menyumbangkan tulisannya, maka itu berarti pemilik surat kabar dimaksud jauh lebih kejam dibandingkan dengan pemerintah kolonial Jepang.

Kamis, 19 Januari 2012

RESUFLE KABINET PEMPROV KALSEL

Surat Terbuka

PEJABAT ESELON IV
BERPANGKAT III/B NON S.1
SEBAIKNYA IKUT DIRESUFEL

Menurut berita yang dilansir di beberapa koran terbitan Banjarmasin, sejak awal tahun 2012 yad, struktur organisasi Pemprov Kalsel akan dirampingkan, akibatnya ada sejumlah pejabat eselon IV yang bakal terkena resufel.
Saya menyarankan agar para pejabat eselon IV yang terkena resufel dimaksud diprioritaskan untuk menduduki jabatan eselon IV di Dinas atau UPTD yang sekarang ini dijabat oleh PNS yang baru berpangkat III/b nonsarjana S.1.
PNS yang baru berpangkat III/b nonsarjana S.1 itu saya kira wajar diresufel atau digusur dari jabatan eselon IV, karena penempatannya masih terlalu dini. Tunggu sampai PNS yang bersangkutan berpangkat III/d baru dipromosikan. Hal ini mengingat masih banyak PNS lain yang sudah lama menyandang pangkat III/d berpendidikan S.1 bahkan S.2, tetapi belum menduduki jabatan eselon IV.
Kebijakan mengangkat PNS berpangkat III/b non S.1 sebagai pejabat eselon IV yang terjadi selama ini menimbulkan suasana kerja yang tidak kondusif, yakni menimbulkan kecemburuan sosial yang secara langsung mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas-tugas kedinasan.
Banyak PNS berpangkat III/b non S.1 yang TMT pangkatnya lebih senior terpaksa harus menerima nasib buruk bekerja di bawah atasan langsung yang pangkatnya lebih yunior. Suasana kerja yang seperti ini jelas tidak sehat karena menimbulkan efek-efek psikologis tertentu.
Demikian sekadar saran dari saya pribadi.

Hormat saya,



Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
Jalan Mayjen Soetoyo S, Gang Sepakat
RT 9 Nomor 30, Banjarmasin, 70119

INTAN TRISAKTI

Berita
TUAS MEDIA TERBITKAN
BUKU TAJUDDIN NOOR GANIE
TRAGEDI INTAN TRISAKTI

Sejak 15 Desember 2011, Penerbit Tuas Media Kertak Hanyar mulai menyebar-luaskan buku Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Tragedi Intan Trisakti (TIT). Buku ini merupakan kumpulan naskah TNG yang telah dimuat di berbagai koran terbitan Banjarmasin, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Semua tulisan yang dikumpulkan di dalam buku ini bertemakan tentang kegiatan pendulangan intan di Kalsel.
Mahmud Jauhari Ali, pemilik Tuas Media Kertak Hanyar, mengatakan pihaknya tertarik menerbitkan ulang buku TNG ini karena di dalamnya banyak dimuat data-data dan informasi yang terbilang penting menyangkut kegiatan pendulangan intan di Kalsel. Sebelumnya (2010), buku ini diterbitkan oleh Puskajimastra Kalsel Banjarmasin dengan omset penjualan sangat menjanjikan.
Selain memuat tulisan utama berjudul Tragedi Intan Trisakti, TIT juga memuat 4 judul tulisan TNG yang lain, yakni Profil 27 Butir Intan yang telah ditemukan orang di Kalsel, Daftar Rekor 27 Butir Intan Kalsel, dan Mendulang Intan Tak Lagi Menjanjikan.
Melalui tulisannya berjudul TIT, TNG memaparkan nasib buruk para penemu intan Trisakti (1965) ketika mereka harus bernegoisasi dengan aparat pemerintah orde lama di tingkat lokal dan nasional. Para pihak yang berkuasa ketika itu secara sepihak menetapkan Intan Trisakti sebagai barang persembahan oleh para penemunya kepada pemerintah. Sehingga prosedur yang ditempuh bukanlah prosedur jual beli, tapi prosedur persembahan.
Akibatnya para penemu Intan Trisakti menjadi pihak yang dirugikan. Para penemu Intan Trisakti cuma diberi penghargaan dalam bentuk uang yang secara keseluruhan berjumlah Rp. 3,5 juta. Uang itu menjadi tidak berarti karena tidak lama kemudian terjadi sanering. Uang Rp. 1000,- berubah nilainya menjadi Rp. 1,-

Kamis, 07 April 2011

BIOGRAFI TAJUDDIN NOOR GANIE
(PEMILIK BLOG INI)

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. (TNG) dilahirkan di kota Banjarmasin, 1 Juli 1958.

Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus tahun 1971), kemudian melanjutkan ke SMEP Negeri Martapura (lulus tahun 1974), dan SMEAN Martapura (lulus tahun 1977).

Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (tahun 2002 diwisuda dengan predikat sebagai wisudawan terbaik). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2002).

Tanpa sempat jeda barang sejenak, tahun 2003 TNG langsung melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana (S2) PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan). Tesisnya berjudul Karakteristik Paribasa : Kajian Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2006).

Semua bahan kajian yang dikumpulkannya untuk keperluan menulis tesis ini pada tahun 2006 diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar (dengan jumlah entri/lema 1.538 buah, tahun 2007 sudah dicetak ulang), pada tahun 2011 diterbitkan Kamus Peribahasa Banjar dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah).

Sejak tahun 1979, bekerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bertugas di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kotamadya Banjarmasin (1978-1985), Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru (1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak tanggal 1 Juni 2006 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Banjarmasin.

Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kajian prosa fiksi, kritik sastra, pendekatan struktural sastra, penelitian sastra dan pengajarannya, penulisan kreatif sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sastra Banjar, dan sosiologi sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.

Kegiatan lain yang juga ditekuninya secara serius adalah sebagai Pengelola Harian Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar di Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel.

Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan kepada masyarakat umum dan para mahasiwa yang sedang menulis skripsi mengenai masalah-masalah sastra Indonesia, sastra Banjar, dan Folklor Banjar.

Mulai merintis karier sebagai penulis karya sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya, meliputi puisi, cerpen dan esei sastra. Buletin/jurnal/ koran/majalah yang pernah memuat karya tulisnyanya antara lain: Buletin Antara Spektrum LKBN Antara, SKH Berita Buana, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik. Majalah Misteri, SKH Media Indonesia, Majalah Warnasari, Majalah Intisari, Jurnal Kebudayaan (jurnal imiah Depdikbud), Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Kalimantan Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua, dan SKM Orbit Post (semuanya terbitan Banjarmasin).
Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data : Google/Tajuddin Noor Ganie atau Yaaho/Tajuddin Noor Ganie. Email : tajuddinnoorganie@Yahoo. com

Antologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982),

Sedangkan antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain : Antologi Puisi ASEAN (Denpasar, 1982), Puisi Indonesia (Jakarta, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, 1989), Festival Puisi XII (Surabaya, 1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi (Jakarta, 1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995).

Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, antara lain : Dahaga-B.Post 1981 (1982), Banjarmasin Kota Kita (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), dan Festival Puisi Kalimantan (1992),

Buku sastra hasil karya TNG yang lainnya yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain adalah : Penyair Kalsel Terkemuka Selepas Tahun 1980 (1992), Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1995), Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985), Ensiklopedi Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (Edisi 1995) (naskah aslinya disimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, dan telah pula dimuat secara bersambung di SKM Media Masyarakat Banjarmasin, 1995-1996), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Banjarmasin, 2001), Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 (berasal dari naskah Skripsi S1, PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, 2002), Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (berasal dari tesis S2, PBSID FKIP Unlam Banjarmasin, 2005), dan Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, 2006)

Buku kumpulan cerpennya berjudul Nyanyian Alam Pedalaman (bersama dengan Hadian Noor) telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta pada tahun 1999.

Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen hasil karya sastrawan Kalsel yang pertama kali diterbitkan di luar daerah Kalsel.

Novelnya berjudul Tegaknya Masjid Kami telah dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin (2005).

Pada tahun 2005, menjadi anggota tim penulis Riwayat Hidup Walikota Banjarmasin H. Midfai Yabani berjudul Perjalanan Seorang Wali Kelas Menjadi Walikota

Sejumlah cerpennya juga sudah dijadikan sebagai objek penelitian untuk penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, antara lain : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Profil Tokoh Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), Analisis Tema dan Penokohan Dalam Kumpulan Cerpen Karya Tajuddin Noor Ganie (Noorhidayat, 2003), Cerita Rakyat Etnis Banjar Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertektualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, 2005), dan Gambaran Manusia Banjar dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie di Majalah Idola Jakarta (Miftahul Jannah, 2009), Citraan dalam Antologi Puisi Bulu Tangan Karangan Tajuddin Noor Ganie (Mukhlis, 2010), dan Profil Tokoh Pendulang Intan dalam Cerpen-cerpen Karangan Para Cerpenis Kalsel (Raya Saidyah, 2010).

Forum sastra dan budaya yang pernah diikutinya antara lain : Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel, (Banjarmasin, 1982), Apresiasi Puncak Penyair ASEAN (Denpasar, 1983), Siklus Lima Penyair Kalsel, (Banjarmasin, 1983). Festival Puisi XII (Surabaya, (1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Hari Sastera X (Shah Alam, Selangor, Malaysia, 1993), Festival Puisi XIV (Surabaya, 1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995), Temu Penyair Nasional (Tasikmalaya, 1999), dan Dialog Borneo VII (Banjarmasin, 2003)

Berkaitan prestasi, reputasi dan dedikasinya sebagai sastrawan TNG telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain : Penulis Esai Sastra dalam Rangka Bulan Bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Jakarta, 1985), Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman, 1998), Penulis Naskah Fiksi Keagamaan dari Menteri Agama (Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, (2002).

Biografi kesastrawanan TNG ikut dimuat dalam sejumlah buku referensi antara lain : Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, Penerbit Djambatan Jakarta, 1990:186), Leksikon Kesusastraan (Suhendra Yusuf MA, Bandung, 1995:97), Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna, Penerbit Yayasan Pustaka Adikarya, Jakarta, 2000), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS dkk, Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), Melayu Online, dan Wikipedia Indonesia (ensiklopedi dunia maya berkaitan dengan statusnya sebagai seorang budayawan Banjar).

Alamat Rumah :
Jalan Mayjen Soetoyo S,
Gang Sepakat RT 13 Nomor 30,
Banjarmasin, 70119
Telepon Rumah (0511) 4424304
Telepon Selular : 08195188521
Email : tajuddinnoorganie@yahoo. co.id
Facebook : tajuddinnoorganie

DAFTAR BUKU
TAJUDDIN NOOR GANIE

1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel
2. Asal-usul Orang Banjar
3. Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi
4. Jatidiri Puisi Indonesia
5. Kajian Puisi
6. Kamus Mimpi Orang Banjar
7. Kamus Peribahasa Banjar
8. Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar
9. Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung
10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan
11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka
12. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin
13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra
14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun
15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa
16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair
17. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar
18. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi
19. Sejarah Nasional Cerpen Indonesia 1920-2009
20. Sejarah Nasional Drama Indonesia 1920-2009
21. Sejarah Nasional Kesusastraan Indonesia 1920-2009
22. Sejarah Nasional Puisi Indonesia 1920-2009
23. Sejarah Nasional Roman/Novel Indonesia 1920-2009
24. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009
25. Tegaknya Masjid Kami (Novel)
26. Tengah Malam di Kuala Lumpur
27. Teori dan Praktek Menulis Cerpen
28. Teori dan Praktik Menulis Puisi
29. Teori dan Praktik Penelitian Sastra
30. Teori Sastra
31. Tragedi Intan Trisakti

Rabu, 23 Maret 2011

AIR BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ORANG BANJAR DI KALSEL

Air dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel disebut banyu. Air merupakan benda cair yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Julukan daerah Kalsel sebagai negeri seribu sungai sudah menggambarkan dengan tegas topografi daerah Kalsel sebagai daerah yang akrab dengan air.
Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi, cuci, dan kakus, air juga lajim digunakan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya. Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan setidak-tidaknya ada 5 jenis air yang digunakan sebagai sarana pengobatan atas suatu jenis penyakit, yakni banyu burdah, banyu buyu, banyu pilungsur, banyu pidara, banyu safar, banyu singgugut, banyu wafak tampurung nyiur, dan banyu Yaasin.

BANYU BURDAH
Bahasa Banjar artinya air Burdah. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Syair Burdah. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Burdah difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasi, hantu sangkala). Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Burdah dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).

BANYU BUYU
Bahasa Banjar artinya air buyu. Buyu adalah nama sejenis siluman ular pengisap darah yang berasal dari alam gaib. Selain itu, buyu merujuk kepada kulit ular puraca yang terlepas setelah terjadinya proses ganti kulit (bahasa Banjar, baganti salumur ular).
Banyu buyu adalah air rendaman kulit ular puraca. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu buyu difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diisap buyu yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit diisap buyu adalah penyakit dengan gejala tubuh kurus kering, bola mata melorot ke dalam, dan perut buncit (seperti orang kurang gizi).
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit diisap buyu dengan air rendaman kulit ular puraca.



BANYU PALUNGSUR
Bahasa Banjar artinya air pelancar persalinan. Banyu palungsur dibuat oleh seorang bidan kampung dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu palungsur difungsikan sebagai sarana untuk memperlancar proses persalinan seorang wanita yang sempat terhambat selama beberapa saat. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu palungsur kepada wanita yang mengalami kesulitan dalam proses persalinannya.

BANYU PIDARA
Bahasa Banjar artinya air antipidara. Banyu pidara dibuat dari seember air tawar yang dicampur dengan rendaman beberapa lembar daun pidara. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pidara difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kapidaraan (sakit panas) yang diderita oleh seorang anak balita.
Penyakit kapidaraan adalah penyakit yang berasal dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala, roh para leluhur). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang bersangkutan dengan banyu pidara.

BANYU SAPAR
Bahasa Banjar artinya air Safar. Banyu Sapar adalah air tawar yang diberi bacaan doa penolak bala (mantra penolak bala). Pembuatannya dilakukan menjelang tibanya hari Rabu terakhir di bulan Safar (Arba Musthamir atau Rabu Wekasan).
Di kalangan masyarakat Banjar di Kalsel ada semacam keyakinan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari yang paling berbahaya. Pada hari itu, para pemilik ilmu hitam akan melepaskan ilmu hitamnya untuk mencari mangsa di alam bebas.
Sehubungan dengan itu, maka setiap orang harus melakukan segala cara agar terhindar diri dan keluarganya dari segala marabahaya. Salah satu upaya di antaranya adalah membuat banyu Sapar. Banyu Sapar diminum bersama oleh segenap anggota keluarga pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Banyu Sapar difungsikan sebagai sarana imunasi untuk menambah kekebalan tubuh peminumnya supaya tidak jatuh sakit jika sekali waktu terlanjur memakan makanan atau meminum minuman yang sengaja dibubuhi atau ditaburi orang dengan racun pujaan (racun magis milik para penganut ilmu hitam). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminum banyu Sapar




BANYU SINGGUGUT
Bahasa Banjar artinya air singgugut. Banyu singgugut dibuat oleh seorang juru sembuh dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu.
Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak. Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu singgugut difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu singgugut kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut. Tidak lama setelah meminum banyu singgugut maka singgugut yang sudah mati akan keluar darah berbentuk cecak dari rahim wanita yang bersangkutan (bercampur dengan darah haid).

BANYU WAPAK TAMPURUNG NYIUR
Bahasa Banjar artinya air wafak tempurung kelapa. Wapak (wafak) merujuk kepada daun, kain, kertas, kulit buah-buahan, kulit hewan, logam pipih, tempurung kelapa, dan aneka jenis media lainnya, yang .ditulisi atau dirajah dengan teks-teks doa atau mantra tertentu dalam bahasa, huruf, dan angka Arab.
Wapak tampurung nyiur merujuk kepada tempurung kelapa yang diberi tulisan atau rajahan teks doa atau mantra dalam bahasa, huruf, dan angka Arab. Air tawar yang dituangkan ke dalam tempurung kelapa semacam ini disebut banyu wapak tampurung nyiur.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai obat penyembuh penyakit singgugut. Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak.
Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul. Banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu wapak tampurung nyiur kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut.

BANYU YAASIN
Bahasa Banjar artinya air Yaasin. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Surah Yaasin.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Yaasin difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala).
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Yaasin dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).

AIR BERTUAH MAGIS JENIS LAIN
Masih ada air bertuah magis lain yang dikenal dalam tradisi etnis Banjar di Kalsel. Hanya saja air bertuah magis jenis lai ini tidak difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif, tetapi digunakan sebagai sarana untuk meyuburkan tanaman padi (disebut banyu randaman amas, dan banyu randaman pirak), dan untuk menangkal gangguan roh jahat pada saat orang-orang menanak nasi dalam jumlah besar untuk keperluan konsumsi pesta perkawinan (air jenis ini disebut banyu pangawahan).

BANYU RANDAMAN AMAS
Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman emas. Banyu randaman amas dibuat dengan cara merendam perhiasan emas ke dalam seember air tawar.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman amas difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman amas ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

BANYU RANDAMAN PIRAK
Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman perak. Banyu randaman pirak dibuat dengan cara merendam perhiasan perak ke dalam seember air tawar.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman pirak difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman pirak ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

BANYU PANGAWAHAN
Bahasa Banjar artinya air juru masak. Kawah, bahasa Banjar artinya wajan besar untuk keperluan menanak nasi, memasak sayur mayur, atau lauk pauk dalam jumlah banyak.
Pangawahan adalah istilah untuk menyebut orang-orang yang bertugas sebagai juru masak di dapur umum pada saat diselenggarakannya pesta perkawinan atau perhelatan besar lainnya.
Banyu pangawahan dibuat oleh seorang ulama dari air putih yang kemudian diberi kekuatan tuah magis tertentu dengan cara membacakan doa-doa tertentu, antara lain Ayat Seribu Dinar (teks doa yang terdapat dalam buku Senjata Mukmin karangan Husin Qadri Martapura).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pangawahan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal kedatangan makhluk gaib yang berwatak jahat ke lokasi dapur umum. Jika tidak ditangkal maka makhluk gaib yang berwatak jahat itu akan berbuat onar di dapur umum.
Mereka akan ikut memakan nasi, sayur-mayur, dan lauk pauk yang sedang ditanak atau dimasak di dapur umum itu. Akibatnya fatal, para tamu undangan banyak yang tidak kebagian makanan, karena persediaan makanan di dapur umum akan habis dalam waktu yang relatif singkat.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memasukkan banyu pangawahan ke tempat persediaan air yang akan digunakan untuk menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk.
Kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk dalam jumlah banyak memang sangat riskan (penuh risiko). Sehingga untuk menyukseskannya perlu dilakukan upaya-upaya penangkalan tertentu.
Tujuannya supaya kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk di dapur umur dapat berjalan dengan lancar tidak mengalami hambatan apa-apa. Nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang ditanak atau dimasak akan mencukupi untuk dihidangkan kepada para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan itu (berkecukupan, tidak kurang, apa lagi habis) (bahasa Banjar, harakat).
Tanpa campuran banyu pangawahan, bisa saja terjadi, nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang disediakan dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah, ketika ditanak dan dimasak ternyata malah tidak cukup untuk menjamu para tamu undangan yang datang.
Hal itu bisa saja terjadi jika di antara para tamu yang datang, banyak di antaranya adalah tamu tak diundang yakni makhluk gaib yang datang secara berbondong-bondong dari alam gaib sana.

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel

KALUNG BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL

Kalung dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel disebut aguk. Pada zaman sekarang ini kalung berfungsi sebagai hiasan leher yang lajim dikenakan oleh kaum wanita.
Tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk memamerkan kekayaan. Di Kalsel, wanita Banjar yang kaya raya tidak segan-segan mengenakan beberapa untai kalung yang dibuat dari emas murni dengan berat keseluruhan antara 100-500 gram.
Kebiasaan ini sudah barang tentu mengundang bahaya. Beberapa orang di antara mereka ada yang tewas sebagai korban penjambretan di jalan raya dan beberapa orang lainnya lagi tewas secara mengenaskan sebagai korban perampokan ketika sedang berada sendrian di rumahnya.
Sungguh pun demikian, aksi pamer kekayaan sebagaimana layaknya toko emas berjalan ini hingga sekarang masih dilakoni oleh banyak wanita Banjar di Kalsel.
Tradisi mengenakan kalung di leher bukanlah tradisi baru di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Pada zaman dahulu kala, kalung tidak hanya berfungsi sebagai hiasan leher, tetapi juga difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya.
Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada 5 jenis kalung yang dikenakan di leher sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit, yakni aguk bigi sawan, aguk kawari, aguk picis, aguk samban, dan aguk sisik tanggiling.

AGUK BIGI SAWAN
Bahasa Banjar artinya kalung yang dibuat dari rangkaian biji sawan. Sawan adalah nama sejenis tanaman hutan. Dibuat dengan cara-cara tertentu, yakni dibuat sambil membacakan mantra-mantra penawar penyakit sawan. Aguk biji sawan termasuk jenis barang buatan manusia (barang hasil kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk bigi sawan difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit sawan yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit sawan adalah penyakit kulit, seperti biduran, gatal-gatal, bisulan, dan kulit bengkak-bengkak.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk biji sawan sebagai kalung di leher anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit sawan.

AGUK KAWARI
Bahasa Banjar artinya kalung kawari. Istilah kawari merujuk kepada tiruan alat vital laki-laki.. Terbuat dari kayu, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung.. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk kawari difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk kawari sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.

AGUK PICIS
Bahasa Banjar artinya kalung picis. Picis artinya uang logam kuno buatan Cina berbentuk pipih dan berlubang di bagian tengahnya. Terbuat dari tembaga. Termasuk jenis barang buatan pabrik. Dijadikan sebagai buah kalung yang dikalungkan di leher seorang anak balita.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk picis difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit ileran (mulut mengeluarkan air liur) yang diderita oleh seorang anak balita.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk picis sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit ileran.

AGUK SAMBAN
Bahasa Banjar artinya kalung samban. Istilah samban merujuk kepada tiruan alat vital wanita. Dibuat dari tembaga, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk samban difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk samban sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin wanita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.

AGUK SISIK TANGGILING
Bahasa Banjar artinya kalung sisik trenggiling. Aguk sisik tanggiling merujuk kepada buah kalung yang dibuat dari beberapa keping sisik tanggiling. Tanggiling sejenis binatang liar pemakan semut yang hidup di balik semak-semak bambu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk sisik tanggiling difungsikan sebagai sarana untuk melindungi anak balita dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala).
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk sisik tanggiling sebagai kalung di leher anak balita sebagai penangkal gangguan makhluk gaib yang berwatak jahat.

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (51 tahun). Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel.

Jika berminat siapa saja boleh mengutip tulisan ini dengan saya meminta izin melalui pos komentar. Terima kasih

BATU BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL

Batu dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel juga disebut batu. Batu merupakan benda padat yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Jenisnya juga sangat beragam mulai dari batu gunung, batu bara, hingga batu permata yang berharga mahal.
Jenis batu lain yang juga dikenal luas di kalangan etnis Banjar adalah batu fosil yang dalam bahasa Banjar disebut buntat. Buntat merupakan batu fosil yang selalu dikaitkan orang dengan tuah magis tertentu dalam sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel
Dari sekian banyak jenis batu yang ada di Kalsel ini ada sejumlah batu yang menurut sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel mengandung tuah magis tertentu yang dapat difungsikan untuk tujuan-tujuan magis yang tertnetu pula.
Berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan, batu-batu bertuah magis tersebut setidak-tidaknya ada 10 jenis, yaitu batu jilatan, batu kacubung, batu pipisan, buntat banyu, buntat barang-barang, buntat haliling, buntat halilipan, buntat kalabuai, buntat kalulut, dan buntat ular.

BATU JILATAN
Bahasa Banjar artinya batu yang dijilati binatang. Istilah batu jilatan merujuk kepada batu alam yang pada mulanya berada di suatu tempat di tengah hutan lebat. Tempat di mana batu jilatan berada adalah di tepi sungai di dekat sumber mata air alami (hulu sungai).
Pada malam hari sumber mata air di tengah hutan lebat ini penuh sesak dengan kumpulan bintang hutan yang ingin melepaskan dahaganya di sana. Setelah minum, semua binatang yang datang ke tempat itu akan menuju ke satu titik yang sama untuk menjilatkan lidahnya secara bergantian ke sebiji batu alam yang ada di tempat itu.
Batu alam itulah yang kemudian disebut sebagai batu jilatan. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu jilatan difungsikan sebagai sarana untuk memikat selera orang untuk memakan masakan (gulai, sayur mayur, kuah, lauk pauk) yang disuguhkan di sebuah rumah makan.
Setelah merasakan kelezatan masakan pada kali yang pertama, maka sejak itu orang tersebut menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi pelanggan tetap rumah makan dimaksud.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu jilatan ke dalam tempat persediaan air yang akan digunakan untuk memasak gulai, sayur mayur, kuah, dan lauk pauk yang disuguhkan kepada para pelanggan rumah makan yang bersangkutan.


BATU KACUBUNG
Bahasa Banjar artinya batu Kecubung. Batu Kacubung adalah sejenis batu alam berwarna ungu. Termasuk barang hasil tambang yang banyak ditemukan di perut bumi daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu kacubung difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai mata cincin (laki-laki) atau buah kalung (wanita).

BATU PIPISAN
Bahasa Banjar artinya batu cowek untuk mengulek sambal. Batu pipisan juga disebut batu cubik dalam bahasa Banjar. Dibuat dari batu. Ternasuk jenis barang buatan tangan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel batu pipisan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal masuknya makhluk gaib yang berwatak jahat ke dalam ayunan seorang anak balita yang tidak sedang digunakan.
Ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan tidak boleh dibiarkan kosong melompong. Konon, jika dibiarkan kosong melompong maka ayunan anak balita itu akan ditempati oleh makhluk gaib yang berwatak jahat.
Makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala) ini akan mengganggu anak balita yang kemudian dimasukkan ke dalam ayunan yang sudah dikuasainya itu.
Anak balita itu tidak akan nyenyak tidurnya, bahkan lama kelamaan akan jatuh sakit (tubuhnya kejang-kejang, stuip) akibat ulah nakal makhluk gaib yang berwatak jahat tersebut.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu pipisan ke dalam ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan.

BUNTAT BANYU
Bahasa Banjar artinya batu fosil batu air.. Buntat air sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna bening seperti es batu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat banyu difungsikan sebagai sarana magis untuk menghentikan kucuran darah yang mengalir dari kulit tubuh manusia yang terluka parah.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara berulang kali mengusapkan buntat banyu ke arah mata luka.

BUNTAT BARANG-BARANG
Bahasa Banjar artinya batu fosil berang-berang.. Buntat barang-barang sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna hitam legam.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat barang-barang difungsikan sebagai jimat supaya dapat menyelam dalam tempo lama di dalam air.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menjadikan buntat barang-barang sebagai jimat yang dibawa serta ketika menyelam ke dalam air.

BUNTAT HALILING
Bahasa Banjar artinya batu fosil haliling. Haliling, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar kelereng. Buntat Haliling sejenis batu berbentuk haliling.yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat haliling difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat haliling disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat haliling. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat haliling akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.

BUNTAT HALILIPAN
Bahasa Banjar artinya batu fosil lipan. Buntat Halilipan sejenis batu berbentuk lipan.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat halilipan difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat halilipan disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat halilipan. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat halilipan akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.

BUNTAT KALAMBUAI
Bahasa Banjar artinya batu fosil kalambuai. Kalambuai, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar buah sawo. Buntat kalambuai sejenis batu berbentuk kalambuai yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalambuai difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat kalambuai disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat kalambuai. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat kalambuai akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.

BUNTAT KALULUT
Bahasa Banjar artinya batu Kalulut. Kalulut adalah sejenis lebah madu berukuran sangat kecil yang biasa bersarang di batang-batang pohon, atau di tiang-tiang rumah.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalulut difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai jimat pekasih.

BUNTAT ULAR
Bahasa Banjar artinya batu fosil ular. Buntat ular sejenis batu berbentuk telur ular.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat ular difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya tidak akan dipatuk ular. Selain itu, buntat ular juga difungsikan untuk menolong seseorang yang dipatuk ular agar tidak tewas akibat bisa yang menjalar di dalam aliran darahnya.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan air rendaman buntat ular kepada orang yang dipatuk ular tersebut.

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel