Kalung dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel disebut aguk. Pada zaman sekarang ini kalung berfungsi sebagai hiasan leher yang lajim dikenakan oleh kaum wanita.
Tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk memamerkan kekayaan. Di Kalsel, wanita Banjar yang kaya raya tidak segan-segan mengenakan beberapa untai kalung yang dibuat dari emas murni dengan berat keseluruhan antara 100-500 gram.
Kebiasaan ini sudah barang tentu mengundang bahaya. Beberapa orang di antara mereka ada yang tewas sebagai korban penjambretan di jalan raya dan beberapa orang lainnya lagi tewas secara mengenaskan sebagai korban perampokan ketika sedang berada sendrian di rumahnya.
Sungguh pun demikian, aksi pamer kekayaan sebagaimana layaknya toko emas berjalan ini hingga sekarang masih dilakoni oleh banyak wanita Banjar di Kalsel.
Tradisi mengenakan kalung di leher bukanlah tradisi baru di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Pada zaman dahulu kala, kalung tidak hanya berfungsi sebagai hiasan leher, tetapi juga difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya.
Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada 5 jenis kalung yang dikenakan di leher sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit, yakni aguk bigi sawan, aguk kawari, aguk picis, aguk samban, dan aguk sisik tanggiling.
AGUK BIGI SAWAN
Bahasa Banjar artinya kalung yang dibuat dari rangkaian biji sawan. Sawan adalah nama sejenis tanaman hutan. Dibuat dengan cara-cara tertentu, yakni dibuat sambil membacakan mantra-mantra penawar penyakit sawan. Aguk biji sawan termasuk jenis barang buatan manusia (barang hasil kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk bigi sawan difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit sawan yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit sawan adalah penyakit kulit, seperti biduran, gatal-gatal, bisulan, dan kulit bengkak-bengkak.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk biji sawan sebagai kalung di leher anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit sawan.
AGUK KAWARI
Bahasa Banjar artinya kalung kawari. Istilah kawari merujuk kepada tiruan alat vital laki-laki.. Terbuat dari kayu, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung.. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk kawari difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk kawari sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.
AGUK PICIS
Bahasa Banjar artinya kalung picis. Picis artinya uang logam kuno buatan Cina berbentuk pipih dan berlubang di bagian tengahnya. Terbuat dari tembaga. Termasuk jenis barang buatan pabrik. Dijadikan sebagai buah kalung yang dikalungkan di leher seorang anak balita.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk picis difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit ileran (mulut mengeluarkan air liur) yang diderita oleh seorang anak balita.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk picis sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit ileran.
AGUK SAMBAN
Bahasa Banjar artinya kalung samban. Istilah samban merujuk kepada tiruan alat vital wanita. Dibuat dari tembaga, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk samban difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk samban sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin wanita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.
AGUK SISIK TANGGILING
Bahasa Banjar artinya kalung sisik trenggiling. Aguk sisik tanggiling merujuk kepada buah kalung yang dibuat dari beberapa keping sisik tanggiling. Tanggiling sejenis binatang liar pemakan semut yang hidup di balik semak-semak bambu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk sisik tanggiling difungsikan sebagai sarana untuk melindungi anak balita dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala).
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk sisik tanggiling sebagai kalung di leher anak balita sebagai penangkal gangguan makhluk gaib yang berwatak jahat.
Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (51 tahun). Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel.
Jika berminat siapa saja boleh mengutip tulisan ini dengan saya meminta izin melalui pos komentar. Terima kasih
Rabu, 23 Maret 2011
BATU BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL
Batu dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel juga disebut batu. Batu merupakan benda padat yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Jenisnya juga sangat beragam mulai dari batu gunung, batu bara, hingga batu permata yang berharga mahal.
Jenis batu lain yang juga dikenal luas di kalangan etnis Banjar adalah batu fosil yang dalam bahasa Banjar disebut buntat. Buntat merupakan batu fosil yang selalu dikaitkan orang dengan tuah magis tertentu dalam sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel
Dari sekian banyak jenis batu yang ada di Kalsel ini ada sejumlah batu yang menurut sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel mengandung tuah magis tertentu yang dapat difungsikan untuk tujuan-tujuan magis yang tertnetu pula.
Berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan, batu-batu bertuah magis tersebut setidak-tidaknya ada 10 jenis, yaitu batu jilatan, batu kacubung, batu pipisan, buntat banyu, buntat barang-barang, buntat haliling, buntat halilipan, buntat kalabuai, buntat kalulut, dan buntat ular.
BATU JILATAN
Bahasa Banjar artinya batu yang dijilati binatang. Istilah batu jilatan merujuk kepada batu alam yang pada mulanya berada di suatu tempat di tengah hutan lebat. Tempat di mana batu jilatan berada adalah di tepi sungai di dekat sumber mata air alami (hulu sungai).
Pada malam hari sumber mata air di tengah hutan lebat ini penuh sesak dengan kumpulan bintang hutan yang ingin melepaskan dahaganya di sana. Setelah minum, semua binatang yang datang ke tempat itu akan menuju ke satu titik yang sama untuk menjilatkan lidahnya secara bergantian ke sebiji batu alam yang ada di tempat itu.
Batu alam itulah yang kemudian disebut sebagai batu jilatan. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu jilatan difungsikan sebagai sarana untuk memikat selera orang untuk memakan masakan (gulai, sayur mayur, kuah, lauk pauk) yang disuguhkan di sebuah rumah makan.
Setelah merasakan kelezatan masakan pada kali yang pertama, maka sejak itu orang tersebut menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi pelanggan tetap rumah makan dimaksud.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu jilatan ke dalam tempat persediaan air yang akan digunakan untuk memasak gulai, sayur mayur, kuah, dan lauk pauk yang disuguhkan kepada para pelanggan rumah makan yang bersangkutan.
BATU KACUBUNG
Bahasa Banjar artinya batu Kecubung. Batu Kacubung adalah sejenis batu alam berwarna ungu. Termasuk barang hasil tambang yang banyak ditemukan di perut bumi daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu kacubung difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai mata cincin (laki-laki) atau buah kalung (wanita).
BATU PIPISAN
Bahasa Banjar artinya batu cowek untuk mengulek sambal. Batu pipisan juga disebut batu cubik dalam bahasa Banjar. Dibuat dari batu. Ternasuk jenis barang buatan tangan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel batu pipisan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal masuknya makhluk gaib yang berwatak jahat ke dalam ayunan seorang anak balita yang tidak sedang digunakan.
Ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan tidak boleh dibiarkan kosong melompong. Konon, jika dibiarkan kosong melompong maka ayunan anak balita itu akan ditempati oleh makhluk gaib yang berwatak jahat.
Makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala) ini akan mengganggu anak balita yang kemudian dimasukkan ke dalam ayunan yang sudah dikuasainya itu.
Anak balita itu tidak akan nyenyak tidurnya, bahkan lama kelamaan akan jatuh sakit (tubuhnya kejang-kejang, stuip) akibat ulah nakal makhluk gaib yang berwatak jahat tersebut.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu pipisan ke dalam ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan.
BUNTAT BANYU
Bahasa Banjar artinya batu fosil batu air.. Buntat air sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna bening seperti es batu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat banyu difungsikan sebagai sarana magis untuk menghentikan kucuran darah yang mengalir dari kulit tubuh manusia yang terluka parah.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara berulang kali mengusapkan buntat banyu ke arah mata luka.
BUNTAT BARANG-BARANG
Bahasa Banjar artinya batu fosil berang-berang.. Buntat barang-barang sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna hitam legam.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat barang-barang difungsikan sebagai jimat supaya dapat menyelam dalam tempo lama di dalam air.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menjadikan buntat barang-barang sebagai jimat yang dibawa serta ketika menyelam ke dalam air.
BUNTAT HALILING
Bahasa Banjar artinya batu fosil haliling. Haliling, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar kelereng. Buntat Haliling sejenis batu berbentuk haliling.yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat haliling difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat haliling disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat haliling. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat haliling akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT HALILIPAN
Bahasa Banjar artinya batu fosil lipan. Buntat Halilipan sejenis batu berbentuk lipan.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat halilipan difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat halilipan disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat halilipan. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat halilipan akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT KALAMBUAI
Bahasa Banjar artinya batu fosil kalambuai. Kalambuai, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar buah sawo. Buntat kalambuai sejenis batu berbentuk kalambuai yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalambuai difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat kalambuai disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat kalambuai. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat kalambuai akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT KALULUT
Bahasa Banjar artinya batu Kalulut. Kalulut adalah sejenis lebah madu berukuran sangat kecil yang biasa bersarang di batang-batang pohon, atau di tiang-tiang rumah.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalulut difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai jimat pekasih.
BUNTAT ULAR
Bahasa Banjar artinya batu fosil ular. Buntat ular sejenis batu berbentuk telur ular.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat ular difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya tidak akan dipatuk ular. Selain itu, buntat ular juga difungsikan untuk menolong seseorang yang dipatuk ular agar tidak tewas akibat bisa yang menjalar di dalam aliran darahnya.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan air rendaman buntat ular kepada orang yang dipatuk ular tersebut.
Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel
Jenis batu lain yang juga dikenal luas di kalangan etnis Banjar adalah batu fosil yang dalam bahasa Banjar disebut buntat. Buntat merupakan batu fosil yang selalu dikaitkan orang dengan tuah magis tertentu dalam sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel
Dari sekian banyak jenis batu yang ada di Kalsel ini ada sejumlah batu yang menurut sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel mengandung tuah magis tertentu yang dapat difungsikan untuk tujuan-tujuan magis yang tertnetu pula.
Berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan, batu-batu bertuah magis tersebut setidak-tidaknya ada 10 jenis, yaitu batu jilatan, batu kacubung, batu pipisan, buntat banyu, buntat barang-barang, buntat haliling, buntat halilipan, buntat kalabuai, buntat kalulut, dan buntat ular.
BATU JILATAN
Bahasa Banjar artinya batu yang dijilati binatang. Istilah batu jilatan merujuk kepada batu alam yang pada mulanya berada di suatu tempat di tengah hutan lebat. Tempat di mana batu jilatan berada adalah di tepi sungai di dekat sumber mata air alami (hulu sungai).
Pada malam hari sumber mata air di tengah hutan lebat ini penuh sesak dengan kumpulan bintang hutan yang ingin melepaskan dahaganya di sana. Setelah minum, semua binatang yang datang ke tempat itu akan menuju ke satu titik yang sama untuk menjilatkan lidahnya secara bergantian ke sebiji batu alam yang ada di tempat itu.
Batu alam itulah yang kemudian disebut sebagai batu jilatan. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu jilatan difungsikan sebagai sarana untuk memikat selera orang untuk memakan masakan (gulai, sayur mayur, kuah, lauk pauk) yang disuguhkan di sebuah rumah makan.
Setelah merasakan kelezatan masakan pada kali yang pertama, maka sejak itu orang tersebut menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi pelanggan tetap rumah makan dimaksud.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu jilatan ke dalam tempat persediaan air yang akan digunakan untuk memasak gulai, sayur mayur, kuah, dan lauk pauk yang disuguhkan kepada para pelanggan rumah makan yang bersangkutan.
BATU KACUBUNG
Bahasa Banjar artinya batu Kecubung. Batu Kacubung adalah sejenis batu alam berwarna ungu. Termasuk barang hasil tambang yang banyak ditemukan di perut bumi daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu kacubung difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai mata cincin (laki-laki) atau buah kalung (wanita).
BATU PIPISAN
Bahasa Banjar artinya batu cowek untuk mengulek sambal. Batu pipisan juga disebut batu cubik dalam bahasa Banjar. Dibuat dari batu. Ternasuk jenis barang buatan tangan manusia (barang kerajinan tangan).
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel batu pipisan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal masuknya makhluk gaib yang berwatak jahat ke dalam ayunan seorang anak balita yang tidak sedang digunakan.
Ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan tidak boleh dibiarkan kosong melompong. Konon, jika dibiarkan kosong melompong maka ayunan anak balita itu akan ditempati oleh makhluk gaib yang berwatak jahat.
Makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala) ini akan mengganggu anak balita yang kemudian dimasukkan ke dalam ayunan yang sudah dikuasainya itu.
Anak balita itu tidak akan nyenyak tidurnya, bahkan lama kelamaan akan jatuh sakit (tubuhnya kejang-kejang, stuip) akibat ulah nakal makhluk gaib yang berwatak jahat tersebut.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu pipisan ke dalam ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan.
BUNTAT BANYU
Bahasa Banjar artinya batu fosil batu air.. Buntat air sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna bening seperti es batu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat banyu difungsikan sebagai sarana magis untuk menghentikan kucuran darah yang mengalir dari kulit tubuh manusia yang terluka parah.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara berulang kali mengusapkan buntat banyu ke arah mata luka.
BUNTAT BARANG-BARANG
Bahasa Banjar artinya batu fosil berang-berang.. Buntat barang-barang sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna hitam legam.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat barang-barang difungsikan sebagai jimat supaya dapat menyelam dalam tempo lama di dalam air.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menjadikan buntat barang-barang sebagai jimat yang dibawa serta ketika menyelam ke dalam air.
BUNTAT HALILING
Bahasa Banjar artinya batu fosil haliling. Haliling, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar kelereng. Buntat Haliling sejenis batu berbentuk haliling.yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat haliling difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat haliling disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat haliling. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat haliling akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT HALILIPAN
Bahasa Banjar artinya batu fosil lipan. Buntat Halilipan sejenis batu berbentuk lipan.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat halilipan difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat halilipan disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat halilipan. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat halilipan akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT KALAMBUAI
Bahasa Banjar artinya batu fosil kalambuai. Kalambuai, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar buah sawo. Buntat kalambuai sejenis batu berbentuk kalambuai yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalambuai difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat kalambuai disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya.
Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat kalambuai. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat kalambuai akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan.
BUNTAT KALULUT
Bahasa Banjar artinya batu Kalulut. Kalulut adalah sejenis lebah madu berukuran sangat kecil yang biasa bersarang di batang-batang pohon, atau di tiang-tiang rumah.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalulut difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya.
Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai jimat pekasih.
BUNTAT ULAR
Bahasa Banjar artinya batu fosil ular. Buntat ular sejenis batu berbentuk telur ular.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat ular difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya tidak akan dipatuk ular. Selain itu, buntat ular juga difungsikan untuk menolong seseorang yang dipatuk ular agar tidak tewas akibat bisa yang menjalar di dalam aliran darahnya.
Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan air rendaman buntat ular kepada orang yang dipatuk ular tersebut.
Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel
Senin, 14 Februari 2011
AKU DAN EKO SURYADI WS
Tahun 1980, aku pindah dari Banjarbaru ke Banjarmasin. Aku diterima bekerja sebagai PNS di Kantor Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin. Ketika itu namanya disingkat menjadi Kantor Ditjen Bina Guna Tenaga Kerja.
Pada mulanya aku agak ragu tinggal di Banjarmasin, karena selama ini memang tak pernah hidup mandiri pisah dari orang tua dan saudara-saudara. Tapi tak ada pilihan lain. Sebagai PNS baru bagaimana mungkin aku harus menolak penugasan ini?
Aku bisa saja tetap tinggal di Banjarbaru, tapi biayanya terlalu mahal jika harus bolak-balik naik taksi colt dari Banjarbaru ke Banjarmasin setiap hari. Tarif taksi colt Banjarbaru Banjarmasin ketika itu Rp. 300,- Sementara gajiku cuma Rp. 16.000,-
Begitulah, akhirnya aku memilih menyewa kamar di sebuah rumah di bilangan Jalan Kacapiring VII, tak jauh dari tempat kerjaku yang ketika itu terletak di bilangan Jalan Cempaka I Banjarmasin.
Wow, ternyata kepindahanku ke Banjarmasin membuatku semakin leluasa melampiaskan hobby bacaku dan semakin leluasa pula menekuni hobbyku sebagai penulis karya sastra.
Di kota Banjarmasin aku bisa melampiaskan hobby bacaku di perpustakaan daerah yang ketika itu gedungnya masih terletak di bilangan Jalan Kapten Piere Tendeaan. Di kota Banjarbaru ketika itu belum ada fasilitas umum untuk baca dan pinjam buku gratis seperti ini.
Berkaitan dengan hobbyku sebagai penulis karya sastra, aku bisa ikut baca puisi dalam acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (disingkat UMSIS) di RRI Nusantara III Banjarmasin setiap malam Rabu. Ketika tinggal di Banjarbaru, aku cuma bisa mengikuti siarannya melalui pesawat radio saja. Kini, aku bisa bertatap muka langsung dengan pengasuhnya Bapak Haji Hijaz Yamani almarhum.
Boleh jadi pada kesempatan berbaur ria di RRI Nusantara III Banjarmasin inilah aku berkenalan dengan Eko Suryadi WS (ESWS). Hampir semua penyair muda Banjarmasin ketika itu saling berkenalan di tempat ini. Hal ini mengingat RRI Nusantara III Banjarmasin ketika merupakan pusat pergaulan para penyair muda Banjarmasin. Ketika itu RRI Nusantara III Banjarmasin masih terletak di bilangan Jalan Lambung Mangkurat (gedung dimaksud sudah dibongkar dan diubah menjadi taman).
ESWS ketika itu kukenal sebagai teman sejawat Micky Hidayat di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin. Selain itu ESWS juga kukenal sebagai salah seorang penyair Banjarmasin yang berasal dari Kotabaru. Ada beberapa kawan penyair lain yang juga berasal dari Kotabaru, yakni Syamsuddin J, Muhammad Haderani Thalib, Soeparto JS, dan Bayhaqi Hasyim.
Selain aktif menulis dan baca puisi di RRI Nusantara III Banjarmasin, aku, ESWS, dan para penyair Banjarmasin seangkatan juga aktif menulis puisi dan karya sastra lainnya di rubrik Dahaga SKH Banjarmasin Post (asuhan Drs. Hj. Yustan Aziddin alm, H. Hijaz Yamani alm, dan D. Zauhidhie alm).
Tahun 1980-1985, jagat sastra Kalsel tak bisa dipisahkan dari rubrik Dahaga B. Post (begitulah kami sering menyingkatnya). ESWS ketika itu termasuk penyair Kalsel yang produktif memublikasikan puisi-puisinya di Dahaga B. Post.
Aku sendiri tidak produktif menulis puisi, aku lebih banyak menulis esei sastra dan kritik sastra. Objek kritik sastraku ketika itu adalah puisi-puisi karangan teman-teman sastrawan Kalsel lainnya.
Ketika itu aku bisa dengan entengnya memvonis puisi A, B, C, dan D berbobot dan selebihnya tidak. Vonis itu kuungkapkan secara terbuka di koran (duh, nekadnya diriku ketika itu).
Boleh jadi, saking jengkelnya ada sastrawan Kalsel yang menulis puisi khusus dengan ungkapan sebagai berikut.
Kau tambal kau sulam
Baju kawan-kawan
Bajumu sendiri
sudah kau apakan?
Seingatku aku pernah menulis sejumlah catatan atas puisi-puisi ESWS. Namun, khusus untuk puisi-puisi ESWS isi tulisanku tak ada yang negatif.
Peristiwa lain yang masih kuingat, suatu ketika ESWS membeli hampir semua buku sastra koleksiku. Inilah, kali pertama aku menjual buku-buku sastra koleksiku.
Aku katakan pertama kali, karena sesudah itu aku masih sering menjual koleksi buku-buku sastraku kepada berapa orang sastrawan Kalsel lainnya.
Bukan apa-apa, aku sering kesulitan mengurus koleksi buku-buku sastra dimaksud. Selain tempat tinggalku yang begitu sempit (cuma sebuah kamar kost), juga aku sering pindah-pindah rumah.
Tidak berapa lama terbetik berita ESWS pindah tugas ke Kotabaru. Setelah itu, aku dan ESWS jarang bertemu.
21 Juni 1981, berdirilah Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Ketika itu Tarman Effendi Tarsyad dipilih sebagai Ketua, Micky Hidayat sebagai Wakil Ketua, aku sebagai Sekretaris, dan Sri Supeni alm sebagai Bendaharawan.
Tidak lama kemudian, yakni 18-19 September 1982, HPMB menggelar acara Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel bertempat di Balai Wartawan Banjarmasin. Panitia pelaksana forum ini diketuai oleh Micky Hidayat. Sesuai dengan tempat domisilinya, ESWS ketika itu tampil di forum sebagai wakil Kotabaru.
Setelah itu, aku dan ESWS lama tak saling bertemu. Sayang sekali, ketika ESWS dan kawan-kawan menyelenggarakan Aruh Sastra, aku tak bisa datang ke Kotabaru.
Tahun 2009, aku berkesempatan datang ke Kotabaru memenuhi undangan ceramah sastra di hadapan siswa-siswi SMKN I Kotabaru. Beruntunglah, kali ini aku bisa bertemu ESWS.
Meskipun tinggal berjauhan, aku masih bisa mengikuti perkembangan kepenyairan ESWS. ESWS merupakan salah satu sastrawan Kalsel generasi 1980-1989 yang hingga sekarang ini masih tetap konsisten mempertahankan gairah kepenyairannya.
Terakhir aku mendapat kiriman bukunya berjudul Di Batas Laut. Isi buku ini kemudian kuulas dalam salah satu tulisan yang dimuat di SKH Kalimantan Pos Banjarmasin.
Salah seorang mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin tertarik untuk menulis skripsi tentang metafora laut berdasarkan buku yang ada padaku itu.
Ketika M, Rifani Djamhari meninggal dunia, ESWS kebetulan sedang berada di Banjarmasin. Aku dan ESWS bertemu di rumah duka.
“Habis ini siapa kira-kira yang dipanggil-Nya. Din?”
“Aku berharap bukan aku, Ko. Jika boleh meminta aku ingin dipanggil paling akhir.”
“Mengapa begitu, Din.”
“Di antara kita sesama sastrawan Kalsel generasi 1980-1989, cuma aku yang mengambil peran sebagai penulis buku Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel, maka wajar jika aku dipanggil-Nya paling akhir. Jika aku dipanggil duluan, maka penulisan buku dimaksud akan terbengkalai.”
“Hahaha, bisa aje.”
“Insya Allah do’aku terkabul.
“Amin”.
Pada mulanya aku agak ragu tinggal di Banjarmasin, karena selama ini memang tak pernah hidup mandiri pisah dari orang tua dan saudara-saudara. Tapi tak ada pilihan lain. Sebagai PNS baru bagaimana mungkin aku harus menolak penugasan ini?
Aku bisa saja tetap tinggal di Banjarbaru, tapi biayanya terlalu mahal jika harus bolak-balik naik taksi colt dari Banjarbaru ke Banjarmasin setiap hari. Tarif taksi colt Banjarbaru Banjarmasin ketika itu Rp. 300,- Sementara gajiku cuma Rp. 16.000,-
Begitulah, akhirnya aku memilih menyewa kamar di sebuah rumah di bilangan Jalan Kacapiring VII, tak jauh dari tempat kerjaku yang ketika itu terletak di bilangan Jalan Cempaka I Banjarmasin.
Wow, ternyata kepindahanku ke Banjarmasin membuatku semakin leluasa melampiaskan hobby bacaku dan semakin leluasa pula menekuni hobbyku sebagai penulis karya sastra.
Di kota Banjarmasin aku bisa melampiaskan hobby bacaku di perpustakaan daerah yang ketika itu gedungnya masih terletak di bilangan Jalan Kapten Piere Tendeaan. Di kota Banjarbaru ketika itu belum ada fasilitas umum untuk baca dan pinjam buku gratis seperti ini.
Berkaitan dengan hobbyku sebagai penulis karya sastra, aku bisa ikut baca puisi dalam acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (disingkat UMSIS) di RRI Nusantara III Banjarmasin setiap malam Rabu. Ketika tinggal di Banjarbaru, aku cuma bisa mengikuti siarannya melalui pesawat radio saja. Kini, aku bisa bertatap muka langsung dengan pengasuhnya Bapak Haji Hijaz Yamani almarhum.
Boleh jadi pada kesempatan berbaur ria di RRI Nusantara III Banjarmasin inilah aku berkenalan dengan Eko Suryadi WS (ESWS). Hampir semua penyair muda Banjarmasin ketika itu saling berkenalan di tempat ini. Hal ini mengingat RRI Nusantara III Banjarmasin ketika merupakan pusat pergaulan para penyair muda Banjarmasin. Ketika itu RRI Nusantara III Banjarmasin masih terletak di bilangan Jalan Lambung Mangkurat (gedung dimaksud sudah dibongkar dan diubah menjadi taman).
ESWS ketika itu kukenal sebagai teman sejawat Micky Hidayat di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin. Selain itu ESWS juga kukenal sebagai salah seorang penyair Banjarmasin yang berasal dari Kotabaru. Ada beberapa kawan penyair lain yang juga berasal dari Kotabaru, yakni Syamsuddin J, Muhammad Haderani Thalib, Soeparto JS, dan Bayhaqi Hasyim.
Selain aktif menulis dan baca puisi di RRI Nusantara III Banjarmasin, aku, ESWS, dan para penyair Banjarmasin seangkatan juga aktif menulis puisi dan karya sastra lainnya di rubrik Dahaga SKH Banjarmasin Post (asuhan Drs. Hj. Yustan Aziddin alm, H. Hijaz Yamani alm, dan D. Zauhidhie alm).
Tahun 1980-1985, jagat sastra Kalsel tak bisa dipisahkan dari rubrik Dahaga B. Post (begitulah kami sering menyingkatnya). ESWS ketika itu termasuk penyair Kalsel yang produktif memublikasikan puisi-puisinya di Dahaga B. Post.
Aku sendiri tidak produktif menulis puisi, aku lebih banyak menulis esei sastra dan kritik sastra. Objek kritik sastraku ketika itu adalah puisi-puisi karangan teman-teman sastrawan Kalsel lainnya.
Ketika itu aku bisa dengan entengnya memvonis puisi A, B, C, dan D berbobot dan selebihnya tidak. Vonis itu kuungkapkan secara terbuka di koran (duh, nekadnya diriku ketika itu).
Boleh jadi, saking jengkelnya ada sastrawan Kalsel yang menulis puisi khusus dengan ungkapan sebagai berikut.
Kau tambal kau sulam
Baju kawan-kawan
Bajumu sendiri
sudah kau apakan?
Seingatku aku pernah menulis sejumlah catatan atas puisi-puisi ESWS. Namun, khusus untuk puisi-puisi ESWS isi tulisanku tak ada yang negatif.
Peristiwa lain yang masih kuingat, suatu ketika ESWS membeli hampir semua buku sastra koleksiku. Inilah, kali pertama aku menjual buku-buku sastra koleksiku.
Aku katakan pertama kali, karena sesudah itu aku masih sering menjual koleksi buku-buku sastraku kepada berapa orang sastrawan Kalsel lainnya.
Bukan apa-apa, aku sering kesulitan mengurus koleksi buku-buku sastra dimaksud. Selain tempat tinggalku yang begitu sempit (cuma sebuah kamar kost), juga aku sering pindah-pindah rumah.
Tidak berapa lama terbetik berita ESWS pindah tugas ke Kotabaru. Setelah itu, aku dan ESWS jarang bertemu.
21 Juni 1981, berdirilah Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Ketika itu Tarman Effendi Tarsyad dipilih sebagai Ketua, Micky Hidayat sebagai Wakil Ketua, aku sebagai Sekretaris, dan Sri Supeni alm sebagai Bendaharawan.
Tidak lama kemudian, yakni 18-19 September 1982, HPMB menggelar acara Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel bertempat di Balai Wartawan Banjarmasin. Panitia pelaksana forum ini diketuai oleh Micky Hidayat. Sesuai dengan tempat domisilinya, ESWS ketika itu tampil di forum sebagai wakil Kotabaru.
Setelah itu, aku dan ESWS lama tak saling bertemu. Sayang sekali, ketika ESWS dan kawan-kawan menyelenggarakan Aruh Sastra, aku tak bisa datang ke Kotabaru.
Tahun 2009, aku berkesempatan datang ke Kotabaru memenuhi undangan ceramah sastra di hadapan siswa-siswi SMKN I Kotabaru. Beruntunglah, kali ini aku bisa bertemu ESWS.
Meskipun tinggal berjauhan, aku masih bisa mengikuti perkembangan kepenyairan ESWS. ESWS merupakan salah satu sastrawan Kalsel generasi 1980-1989 yang hingga sekarang ini masih tetap konsisten mempertahankan gairah kepenyairannya.
Terakhir aku mendapat kiriman bukunya berjudul Di Batas Laut. Isi buku ini kemudian kuulas dalam salah satu tulisan yang dimuat di SKH Kalimantan Pos Banjarmasin.
Salah seorang mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin tertarik untuk menulis skripsi tentang metafora laut berdasarkan buku yang ada padaku itu.
Ketika M, Rifani Djamhari meninggal dunia, ESWS kebetulan sedang berada di Banjarmasin. Aku dan ESWS bertemu di rumah duka.
“Habis ini siapa kira-kira yang dipanggil-Nya. Din?”
“Aku berharap bukan aku, Ko. Jika boleh meminta aku ingin dipanggil paling akhir.”
“Mengapa begitu, Din.”
“Di antara kita sesama sastrawan Kalsel generasi 1980-1989, cuma aku yang mengambil peran sebagai penulis buku Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel, maka wajar jika aku dipanggil-Nya paling akhir. Jika aku dipanggil duluan, maka penulisan buku dimaksud akan terbengkalai.”
“Hahaha, bisa aje.”
“Insya Allah do’aku terkabul.
“Amin”.
Kamis, 03 Februari 2011
SASTRAWAN KALSEL DIUNDANG KIRIM KARYA SASTRA KE SAMARINDA
Berkenaan dengan akan diselenggarakannya acara Dialog Borneo Kalimantan di Samarinda pada bulan April 2011 yang akan datang, Korrie Layun Rampan (KRL) berencana untuk menyusun dan menerbitkan dua buku kumpulan karya sastra yang melibatkan semua sastrawan Indonesia yang tinggal di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan dalam Puisi Indonesia dan Kalimantan dalam Prosa Indonesia. Sehubungan dengan rencana tersebut, KRL melalui Tajuddin Noor Ganie (TNG) mengundang semua sastrawan Kalsel (tanpa kecuali) untuk mengirimkan cerpen, esei sastra, kritik sastra, naskah drama, dan puisi-puisinya ke email korrie.layun.rampan@gmail.com.
Melalui siaran pers yang dimuat di SKH Media Kalimantan (5 dan 6 Febrauri 2011), SKH Mata Banua (5 Februari 2011), dan SKH Radar Banjarmasin (6 Februari 2011), TNG menginformasikan bahwa buku kumpulan karya sastra dimaksud akan diluncurkan oleh Gubernur Kaltim pada bulan April 2011 berkenaan dengan acara Dialog Borneo Kalimantan di kota Samarinda. Pada saat yang sama juga akan diluncurkan 6 judul buku kumpulan karya sastra lainnya, salah satu di antaranya adalah buku Kaltim dalam Sastra Indonesia. Buku setebal 1.500 halaman ini sudah selesai disusun oleh Korrie Layun Rampan selaku editornya.
Sehubungan dengan undangan ini, Tajuddin Noor Ganie mengimbau agar para sastrawan Kalsel yang berminat bersegera mengirimkan karya sastranya. Hal ini mengingat waktu yang tersedia bagi editor relatif singkat, cuma dua bulan.
Menurut KRL, karya sastra yang dikirimkan tidak mesti karya baru, karya lama juga tak apa. TNG menambahkan, “yang penting karya sendiri bukan saduran apalagi jiplakan.”
Selanjutnya, segala sesuatu yang masih belum jelas berkenaan dengan undangan pengiriman karya sastra ini, menurut TNG dapat ditanyakan langsung kepada Korrie Layun Rampan melalui email beliau.
Melalui siaran pers yang dimuat di SKH Media Kalimantan (5 dan 6 Febrauri 2011), SKH Mata Banua (5 Februari 2011), dan SKH Radar Banjarmasin (6 Februari 2011), TNG menginformasikan bahwa buku kumpulan karya sastra dimaksud akan diluncurkan oleh Gubernur Kaltim pada bulan April 2011 berkenaan dengan acara Dialog Borneo Kalimantan di kota Samarinda. Pada saat yang sama juga akan diluncurkan 6 judul buku kumpulan karya sastra lainnya, salah satu di antaranya adalah buku Kaltim dalam Sastra Indonesia. Buku setebal 1.500 halaman ini sudah selesai disusun oleh Korrie Layun Rampan selaku editornya.
Sehubungan dengan undangan ini, Tajuddin Noor Ganie mengimbau agar para sastrawan Kalsel yang berminat bersegera mengirimkan karya sastranya. Hal ini mengingat waktu yang tersedia bagi editor relatif singkat, cuma dua bulan.
Menurut KRL, karya sastra yang dikirimkan tidak mesti karya baru, karya lama juga tak apa. TNG menambahkan, “yang penting karya sendiri bukan saduran apalagi jiplakan.”
Selanjutnya, segala sesuatu yang masih belum jelas berkenaan dengan undangan pengiriman karya sastra ini, menurut TNG dapat ditanyakan langsung kepada Korrie Layun Rampan melalui email beliau.
Minggu, 23 Januari 2011
NOTA TAJUDDIN NOOR GANIE UNTUK PANITIA ARUH SASTRA KALSEL PADA MASA-MASA MENDATANG
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama,dalam lomba cerpen berbahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung tempo hari terdapat satu judul cerpen bermasalah yang terlanjur ditetapkan oleh dewan juri sebagai Pemenang Harapan II.
Mengingat masalahnya begitu serius, maka banyak pihak yang berharap agar masalah seperti ini tidak terjadi lagi pada aruh-aruh sastra yang bakal digelar di Kalsel pada tahun-tahun mendatang.
Sehubungan dengan itu, maka semua pihak yang berkepentingan dengan aruh sastra Kalsel yang tinggi martabatnya, saya kira harus menyiapkan langkah-langkah antisipasi sebagai upaya penangkalannya.
Berikut ini adalah langkah-langkah antispasi yang saya sarankan.
(1) Sebelum dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba tulis karya sastra, maka karya sastra yang masuk nominasi finalis harus dipublikasikan lebih dulu di sebuah koran terbitan Banjarmasin. Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran tidak dilakukan secara gratis, tapi dilakukan dengan cara membeli kolom koran dimaksud. Konsekwensi logisnya, panitia aruh sastra harus menganggarkan dana untuk membayar biaya pemuatan semua karya sastra finalis di sebuah koran. Koran yang memuatnya adalah koran yang berhasil memenangkan tender yang sengaja dilakukan untuk itu. Setahu saya, cara ini pernah dilakukan oleh ANTEVE Jakarta ketika menyelenggarakan lomba tulis puisi narasi beberapa tahun yang silam.
(2) Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran terbitan Banjarmasin dilakukan dengan maksud agar orang-orang yang bukan anggota dewan juri bisa memberikan tanggapannya jika di antara karya sastra finalis dimaksud ada yang bermasalah (saduran, jiplakan, atau sudah pernah dipublikasikan sebelumnya). Tanggapan dimaksud harus disampaikan secara tertulis melalui surat, email, dan atau dimuat di koran yang sama atau di koran lainnya. Semua tanggapan yang masuk harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan diuji kebenarannya oleh dewan juri. Sudah barang tentu, penulis yang karya sastranya ditanggapi orang harus diberi kesempatan pertama untuk menulis tanggapan balik di koran yang sama atau koran lainnya sebagai upaya pembelaan diri. Terhadap karya sastra finalis yang terbukti bermasalah, dewan juri berhak untuk mengesampingkannya atau menggugurkannya sebagai calon pemenang lomba.
(3) Setelah melewati masa-masa uji publik selama 1-2 minggu barulah dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba karya sastra. Nah, ketetapan dewan juri kali ini benar-benar bersifat final alias tidak dapat diganggu gugat lagi oleh siapapun juga. Meskipun misalnya di kemudian terbukti secara sah dan meyakinkan ada karya sastra bermasalah dalam deretan pemenang lomba yang ditetapkan dewan juri. Bahkan, keputusan dewan juri tetap tidak boleh diganggu gugat lagi meskipun di antara pemenang lomba ada yang mengaku telah melakukan penyaduran, penjiplakan, atau dituliskan oleh orang lain (ghost writer).
--------
Terus terang judul tulisan ini saya
jiplak dari istilah Nota Rinkes.
Mengingat masalahnya begitu serius, maka banyak pihak yang berharap agar masalah seperti ini tidak terjadi lagi pada aruh-aruh sastra yang bakal digelar di Kalsel pada tahun-tahun mendatang.
Sehubungan dengan itu, maka semua pihak yang berkepentingan dengan aruh sastra Kalsel yang tinggi martabatnya, saya kira harus menyiapkan langkah-langkah antisipasi sebagai upaya penangkalannya.
Berikut ini adalah langkah-langkah antispasi yang saya sarankan.
(1) Sebelum dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba tulis karya sastra, maka karya sastra yang masuk nominasi finalis harus dipublikasikan lebih dulu di sebuah koran terbitan Banjarmasin. Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran tidak dilakukan secara gratis, tapi dilakukan dengan cara membeli kolom koran dimaksud. Konsekwensi logisnya, panitia aruh sastra harus menganggarkan dana untuk membayar biaya pemuatan semua karya sastra finalis di sebuah koran. Koran yang memuatnya adalah koran yang berhasil memenangkan tender yang sengaja dilakukan untuk itu. Setahu saya, cara ini pernah dilakukan oleh ANTEVE Jakarta ketika menyelenggarakan lomba tulis puisi narasi beberapa tahun yang silam.
(2) Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran terbitan Banjarmasin dilakukan dengan maksud agar orang-orang yang bukan anggota dewan juri bisa memberikan tanggapannya jika di antara karya sastra finalis dimaksud ada yang bermasalah (saduran, jiplakan, atau sudah pernah dipublikasikan sebelumnya). Tanggapan dimaksud harus disampaikan secara tertulis melalui surat, email, dan atau dimuat di koran yang sama atau di koran lainnya. Semua tanggapan yang masuk harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan diuji kebenarannya oleh dewan juri. Sudah barang tentu, penulis yang karya sastranya ditanggapi orang harus diberi kesempatan pertama untuk menulis tanggapan balik di koran yang sama atau koran lainnya sebagai upaya pembelaan diri. Terhadap karya sastra finalis yang terbukti bermasalah, dewan juri berhak untuk mengesampingkannya atau menggugurkannya sebagai calon pemenang lomba.
(3) Setelah melewati masa-masa uji publik selama 1-2 minggu barulah dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba karya sastra. Nah, ketetapan dewan juri kali ini benar-benar bersifat final alias tidak dapat diganggu gugat lagi oleh siapapun juga. Meskipun misalnya di kemudian terbukti secara sah dan meyakinkan ada karya sastra bermasalah dalam deretan pemenang lomba yang ditetapkan dewan juri. Bahkan, keputusan dewan juri tetap tidak boleh diganggu gugat lagi meskipun di antara pemenang lomba ada yang mengaku telah melakukan penyaduran, penjiplakan, atau dituliskan oleh orang lain (ghost writer).
--------
Terus terang judul tulisan ini saya
jiplak dari istilah Nota Rinkes.
Kamis, 20 Januari 2011
SIMBIOSIS MUTULIS ANTARA SASTRAWAN KALSEL DAN PARA PEMILIK KIOS KORAN DI BANJARMASIN
Ketika fenomena sastra koran masih menggejala sekitar tiga puluh tahun yang lalu, para sastrawan Kalsel telah dikondisikan sedemikian rupa untuk selalu dekat dengan koran.
Kehidupan keseharian para sastrawan ketika itu (tahun 1980-an)begitu tergantung pada koran, baik dalam konteksnya sebagai tempat untuk memublikasikan karya sastranya atau sebagai tempatnya untuk mencari nafkah tambahan.
Para sastrawan harus membeli beberapa koran yang berbeda pada setiap hari Minggu, karena hampir semua koran terbitan lokal (kota-kota besar di berbagai daerah) dan nasional (Jakarta) membuka rubrik sastra pada setiap hari Minggu, terutama sekali rubrik cerpen.
Dulu, di tahun 1980-1989, para sastrawan harus membeli koran yang berbeda-beda pada hari-hari yang juga berbeda. Hari Selasa membeli SKH Berita Buana Jakarta untuk memantau rubrik Dialog Sastra budaya yang diasuh oleh Abdul Hadi WM. Hari Rabu membeli SKH Pelita Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh HS Djurtatap.
Selanjutnya, hari Sabtu membeli SKH Suara Karya Jakarta untuk memantau rubrik Pendakian yang diasuh oleh Susiana K. Darmawi, dan SKH Terbit Jakarta untuk memantau rubrik yang diasuh oleh Nurinwa Ki S. Herndrowinoto. Hari Minggu membeli SKH Merdeka Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh Neta S’Pane, dan SKM Swadesi Jakarta untuk memantau rubrik Arena Budaya yang diasuh oleh Mbak Diah Hadaning.
Dulu, di tahun 1980-1989, koran-koran hanya dijual di kios-kios yang ada di pasar koran saja, tidak seperti sekarang kios koran ada di mana-mana, di sepanjang tepi jalan raya atau di hampir setiap mulut gang. Para sastrawan dengan sendirinya harus meluangkan waktunya untuk datang ke pasar koran pada hari-hari yang telah saya sebutkan di atas.
Situasi dan kondisi dimaksud kemudian menimbulkan fenomena di mana para sastrawan kemudian menjalin persahabatan dengan para pemilik kios koran di sekitar tempat tinggalnya masing-masing. Persahabatan terjadi karena para sastrawan dimaksud telah menjadi langganan tetap yang potensial bagi para pemilik kios koran.
Di kota Banjarmasin, pasar koran mula-mula berlokasi di sepanjang Jalan Hasanuddin HM (di seberang bekas gedung bioskop Ria). Kemudian pindah ke dekat bundaran air mancur Hasanuddin HM. Ada 4 kios koran yang menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan Kalsel, yakni Kios Thambrin, Stand 13 Ian Arbi, Stand 14 Ipriyadi, dan Stand 15 Syaiful Alam.
Kedudukan pasar koran pada kurun waktu 1980-1989, boleh jadi sama pentingnya dengan kedudukan Pasar Senen bagi para seniman Jakarta di era 1950-1959 sebagaimana yang digambarkan oleh Misbach Jusa Biran dalam kumpulan cerpennya Keajaiban di Pasar Senen (PT Pustaka Jaya Jakarta, 1971).
Selain merupakan tempat untuk memantau publikasi karya sastranya, pasar koran Banjarmasin telah menjadi tempat diskusi sastra tidak resmi bagi sastrawan Banjarmasin. Di tempat inilah mereka saling berdebat membahas isu-isu mutakhir di seputar dunia sastra yang mereka geluti.
Tidak jarang diskusi sastra tidak resmi ini berlanjut sampai ke rumah saya di bilangan Jalan Kacapiring VII (Kompleks Mawar) atau ke rumah Micky Hidayat di bilangan Jalan Cempaka XI. Dari pasar koran kami jalan kaki sejauh 2 kilometer sambil berdiskusi menuju ke rumah yang dituju.
Pada zamannya, pasar koran pernah menjadi tempat berkumpul yang paling ideal bagi sastrawan Banjarmasin. Posisinya sangat strategis karena hampir semua taksi kota yang datang dari arah Barat dan Utara kota Banjarmasin pasti melewati pasar koran.
Kehidupan keseharian para sastrawan ketika itu (tahun 1980-an)begitu tergantung pada koran, baik dalam konteksnya sebagai tempat untuk memublikasikan karya sastranya atau sebagai tempatnya untuk mencari nafkah tambahan.
Para sastrawan harus membeli beberapa koran yang berbeda pada setiap hari Minggu, karena hampir semua koran terbitan lokal (kota-kota besar di berbagai daerah) dan nasional (Jakarta) membuka rubrik sastra pada setiap hari Minggu, terutama sekali rubrik cerpen.
Dulu, di tahun 1980-1989, para sastrawan harus membeli koran yang berbeda-beda pada hari-hari yang juga berbeda. Hari Selasa membeli SKH Berita Buana Jakarta untuk memantau rubrik Dialog Sastra budaya yang diasuh oleh Abdul Hadi WM. Hari Rabu membeli SKH Pelita Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh HS Djurtatap.
Selanjutnya, hari Sabtu membeli SKH Suara Karya Jakarta untuk memantau rubrik Pendakian yang diasuh oleh Susiana K. Darmawi, dan SKH Terbit Jakarta untuk memantau rubrik yang diasuh oleh Nurinwa Ki S. Herndrowinoto. Hari Minggu membeli SKH Merdeka Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh Neta S’Pane, dan SKM Swadesi Jakarta untuk memantau rubrik Arena Budaya yang diasuh oleh Mbak Diah Hadaning.
Dulu, di tahun 1980-1989, koran-koran hanya dijual di kios-kios yang ada di pasar koran saja, tidak seperti sekarang kios koran ada di mana-mana, di sepanjang tepi jalan raya atau di hampir setiap mulut gang. Para sastrawan dengan sendirinya harus meluangkan waktunya untuk datang ke pasar koran pada hari-hari yang telah saya sebutkan di atas.
Situasi dan kondisi dimaksud kemudian menimbulkan fenomena di mana para sastrawan kemudian menjalin persahabatan dengan para pemilik kios koran di sekitar tempat tinggalnya masing-masing. Persahabatan terjadi karena para sastrawan dimaksud telah menjadi langganan tetap yang potensial bagi para pemilik kios koran.
Di kota Banjarmasin, pasar koran mula-mula berlokasi di sepanjang Jalan Hasanuddin HM (di seberang bekas gedung bioskop Ria). Kemudian pindah ke dekat bundaran air mancur Hasanuddin HM. Ada 4 kios koran yang menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan Kalsel, yakni Kios Thambrin, Stand 13 Ian Arbi, Stand 14 Ipriyadi, dan Stand 15 Syaiful Alam.
Kedudukan pasar koran pada kurun waktu 1980-1989, boleh jadi sama pentingnya dengan kedudukan Pasar Senen bagi para seniman Jakarta di era 1950-1959 sebagaimana yang digambarkan oleh Misbach Jusa Biran dalam kumpulan cerpennya Keajaiban di Pasar Senen (PT Pustaka Jaya Jakarta, 1971).
Selain merupakan tempat untuk memantau publikasi karya sastranya, pasar koran Banjarmasin telah menjadi tempat diskusi sastra tidak resmi bagi sastrawan Banjarmasin. Di tempat inilah mereka saling berdebat membahas isu-isu mutakhir di seputar dunia sastra yang mereka geluti.
Tidak jarang diskusi sastra tidak resmi ini berlanjut sampai ke rumah saya di bilangan Jalan Kacapiring VII (Kompleks Mawar) atau ke rumah Micky Hidayat di bilangan Jalan Cempaka XI. Dari pasar koran kami jalan kaki sejauh 2 kilometer sambil berdiskusi menuju ke rumah yang dituju.
Pada zamannya, pasar koran pernah menjadi tempat berkumpul yang paling ideal bagi sastrawan Banjarmasin. Posisinya sangat strategis karena hampir semua taksi kota yang datang dari arah Barat dan Utara kota Banjarmasin pasti melewati pasar koran.
KAMUS PERIBAHASA BANJAR EDISI 2011
Judul Buku : Kamus Peribahasa Banjar
Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar
Tempat Tahun : Banjarmasin, Edisi 2011
Tebal : 1.539+L halaman
Peresensi : Salbiah
Peribahasa Banjar merupakan ragam/jenis folklor Banjar yang sesungguhnya sangat familiar di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Hampir semua kegiatan berbahasa yang berlangsung secara formal dan informal di kalangan etnis Banjar di Kalsel selalu diselipi dengan peribahasa Banjar sebagai sarana retorikanya. Meskipun demikian para intelektual kampus yang berasal dari kalangan etnis Banjar sendiri masih belum banyak yang tertarik untuk menjadikan peribahasa Banjar sebagai sumber data untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasinya.
Tajuddin Noor Ganie, penyusun Kamus Peribahasa Banjar (KPB) ini, merupakan orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar. Syukurlah, yang bersangkutan ternyata adalah orang Banjar. Jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing, maka ghirah semua orang Banjar di seluruh dunia akan cidera karenanya. Tentunya, sangat ironis jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing sebagaimana yang terjadi dalam kasus penulisan buku Jukung Banjar oleh orang Kanada bernama Erick Petersen tempo hari.
KPB ini sendiri sesungguhnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari tesis Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar (2005). Tidak semua paparan yang ada di dalam tesisnya dimuat kembali di dalam KPB. Hanya paparan teoretis tentang karakteristik bentuk, makna, fungsi, dan nilai peribahasa Banjar yang tetap dimasukkannya.
Pertama kali diterbitkan dalam bentuk kamus pada tahun 2006. KPB Edisi 2006 hanya memuat paparan menyangkut 1.538 buah peribahasa Banjar yang sudah dikenal luas sebagai kekayaan milik bersama etnis Banjar di Kalsel. Paparan untuk setiap entri peribahasa Banjar tidak dilakukan secara mendalam sebagaimana yang ada di dalam teks asli tesisnya. Masing-masing peribahasa Banjar itu dipaparkan secara ringkas dengan gaya bahasa yang ringan (populer).
Perubahan gaya bahasa dimaksud dilakukan berdasarkan pertimbangan para pembaca kamus berbeda seleranya dengan para pembaca tesis. Masyarakat awam yang menjadi sasaran penerbitan kamus akan merasa bosan jika peribahasa Banjar dimaksud dipaparkan dengan gaya bahasa tesis. Di dalam kamus ini setiap entri peribahasa Banjar cuma dipaparkan dalam 5-10 baris saja, sementara di dalam tesis dipaparkan dalam 6-8 halaman.
KPB 2011 merupakan pengembangan lebih lanjut dari KPB 2006. Didalamnya dimuat 8.216 entri/lema dengan jumlah halaman 1.358+L halaman. Menurut TNG, entri/lema KPB akan terus diperbanyak dari edisi ke edisi. Hampir setiap hari ia bergiat mencari dan mencatat peribahasa Banjar yang belum masuk ke dalam KPB. TNG yakin, masih banyak peribahasa Banjar yang belum berhasil diinventasikan, didokumentasikan, dan dikaji secara mendalam. Diharapkan, dengan adanya KPB maka upaya-upaya para pihak untuk mengembalikan vitalitas peribahasa Banjar akan menjadi semakin mudah. Insya Allah.
Penerbitan buku-buku local genius sebagaimana yang dilakukan Tajuddin Noor Ganie dengan kamusnya ini harus semakin digiatkan pada masa-masa yang akan datang. Masih banyak kekayaan local genius kita yang terancam punah, sehingga harus segera diinventarisasikan, didokumentasikan, dan direvitalisasikan. Jika tidak, kekayaan local genius itu akan menjadi kekayaan budaya yang keberadaannya akan diabaikan oleh generasi muda etnis Banjar di Kalsel.
Fakta menunjukkan, di kalangan etnis Banjar sendiri belum banyak mereka yang kafasitasnya memenuhi kriteria sebagai ahli waris yang pasif atas kekayaan local genius itu, apalagi ahli waris yang aktif. Dalam hal ini yang paling dominan adalah mereka yang sama sekali tidak tahu, tidak tahu menahu, dan tidak mau tahu tentang kekayaan local genius yang sesungguhnya harus mereka warisi dan lestarikan itu.
Hal ini mengingat semua kekayaan local genius itu sengaja diciptakan sebagai bagian dari kegiatan kolektif yang berhubungan dengan hal-hal seperti adat-istiadat, ajaran moral normatif, sosial ekonomi, estetika, etika, filsafat, norma-norma politik, dan sejarah lokal. Semua aspek sosial budaya di atas merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel.
Khusus menyangkut kekayaan local genius berbentuk peribahasa Banjar, sejak awal diciptakan sudah mengemban fungsi sosial sebagai wahana pewarisan dan pemahaman gagasan tata nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak hanya itu, melalui peribahasa Banjar sebagai medianya, etnis Banjar di Kalsel dapat mengungkapkan alam pikiran, sikap hidup, dan sistem sosial budaya mereka.
Sehubungan dengan itu, tidak dapat dipungkiri peribahasa Banjar memiliki arti penting, setidak-tidaknya ada 3 fakta empirik yang menjadi dasar rasionalnya, yakni : (1) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang bersifat intersubjektif, dalam arti bukan sekadar artefak atau fakta kebendaan saja; (2) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang diwujudkan dalam bentuk wacana atau inskripsi dengan kandungan 3 gugus fakta sekaligus, yakni fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran budaya milik bersama, dan fakta sosial (sociofact) dari etnis Banjar; dan (3) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang berhubungan dengan dunia gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan tentang konstruksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya etnis Banjar.
Dalam kedudukannya sebagai kekayaan budaya milik bersama, etnis Banjar dapat mempergunakan peribahasa Banjar sebagai media untuk mengekspresikan atau merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya yang khas suku bangsa mereka. Melalui peribahasa Banjar sebagai media komunikasinya, generasi tua etnis Banjar dapat menyampaikan semua ajaran, informasi, nasihat, dan semua kearifan lokal lainnya kepada generasi penerusnya, sehingga kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional berbahasa Banjar ini tetap lestari dari generasi ke generasi.
Selain itu, peribahasa Banjar juga menampilkan gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan mereka sebagai suku bangsa. Bahkan, peribahasa Banjar juga dapat dipandang sebagai wacana, sekaligus juga inskripsi, yang merepresentasikan proses dialektika yang berkembang dalam konteks konstruksi realitas budaya etnis Banjar. Ironis, fakta empirik peribahasa Banjar yang begitu istimewa, ternyata tidak diimbangi dengan fakta historis peribahasa Banjar yang terbilang istimewa juga.
Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar
Tempat Tahun : Banjarmasin, Edisi 2011
Tebal : 1.539+L halaman
Peresensi : Salbiah
Peribahasa Banjar merupakan ragam/jenis folklor Banjar yang sesungguhnya sangat familiar di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Hampir semua kegiatan berbahasa yang berlangsung secara formal dan informal di kalangan etnis Banjar di Kalsel selalu diselipi dengan peribahasa Banjar sebagai sarana retorikanya. Meskipun demikian para intelektual kampus yang berasal dari kalangan etnis Banjar sendiri masih belum banyak yang tertarik untuk menjadikan peribahasa Banjar sebagai sumber data untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasinya.
Tajuddin Noor Ganie, penyusun Kamus Peribahasa Banjar (KPB) ini, merupakan orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar. Syukurlah, yang bersangkutan ternyata adalah orang Banjar. Jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing, maka ghirah semua orang Banjar di seluruh dunia akan cidera karenanya. Tentunya, sangat ironis jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing sebagaimana yang terjadi dalam kasus penulisan buku Jukung Banjar oleh orang Kanada bernama Erick Petersen tempo hari.
KPB ini sendiri sesungguhnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari tesis Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar (2005). Tidak semua paparan yang ada di dalam tesisnya dimuat kembali di dalam KPB. Hanya paparan teoretis tentang karakteristik bentuk, makna, fungsi, dan nilai peribahasa Banjar yang tetap dimasukkannya.
Pertama kali diterbitkan dalam bentuk kamus pada tahun 2006. KPB Edisi 2006 hanya memuat paparan menyangkut 1.538 buah peribahasa Banjar yang sudah dikenal luas sebagai kekayaan milik bersama etnis Banjar di Kalsel. Paparan untuk setiap entri peribahasa Banjar tidak dilakukan secara mendalam sebagaimana yang ada di dalam teks asli tesisnya. Masing-masing peribahasa Banjar itu dipaparkan secara ringkas dengan gaya bahasa yang ringan (populer).
Perubahan gaya bahasa dimaksud dilakukan berdasarkan pertimbangan para pembaca kamus berbeda seleranya dengan para pembaca tesis. Masyarakat awam yang menjadi sasaran penerbitan kamus akan merasa bosan jika peribahasa Banjar dimaksud dipaparkan dengan gaya bahasa tesis. Di dalam kamus ini setiap entri peribahasa Banjar cuma dipaparkan dalam 5-10 baris saja, sementara di dalam tesis dipaparkan dalam 6-8 halaman.
KPB 2011 merupakan pengembangan lebih lanjut dari KPB 2006. Didalamnya dimuat 8.216 entri/lema dengan jumlah halaman 1.358+L halaman. Menurut TNG, entri/lema KPB akan terus diperbanyak dari edisi ke edisi. Hampir setiap hari ia bergiat mencari dan mencatat peribahasa Banjar yang belum masuk ke dalam KPB. TNG yakin, masih banyak peribahasa Banjar yang belum berhasil diinventasikan, didokumentasikan, dan dikaji secara mendalam. Diharapkan, dengan adanya KPB maka upaya-upaya para pihak untuk mengembalikan vitalitas peribahasa Banjar akan menjadi semakin mudah. Insya Allah.
Penerbitan buku-buku local genius sebagaimana yang dilakukan Tajuddin Noor Ganie dengan kamusnya ini harus semakin digiatkan pada masa-masa yang akan datang. Masih banyak kekayaan local genius kita yang terancam punah, sehingga harus segera diinventarisasikan, didokumentasikan, dan direvitalisasikan. Jika tidak, kekayaan local genius itu akan menjadi kekayaan budaya yang keberadaannya akan diabaikan oleh generasi muda etnis Banjar di Kalsel.
Fakta menunjukkan, di kalangan etnis Banjar sendiri belum banyak mereka yang kafasitasnya memenuhi kriteria sebagai ahli waris yang pasif atas kekayaan local genius itu, apalagi ahli waris yang aktif. Dalam hal ini yang paling dominan adalah mereka yang sama sekali tidak tahu, tidak tahu menahu, dan tidak mau tahu tentang kekayaan local genius yang sesungguhnya harus mereka warisi dan lestarikan itu.
Hal ini mengingat semua kekayaan local genius itu sengaja diciptakan sebagai bagian dari kegiatan kolektif yang berhubungan dengan hal-hal seperti adat-istiadat, ajaran moral normatif, sosial ekonomi, estetika, etika, filsafat, norma-norma politik, dan sejarah lokal. Semua aspek sosial budaya di atas merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel.
Khusus menyangkut kekayaan local genius berbentuk peribahasa Banjar, sejak awal diciptakan sudah mengemban fungsi sosial sebagai wahana pewarisan dan pemahaman gagasan tata nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak hanya itu, melalui peribahasa Banjar sebagai medianya, etnis Banjar di Kalsel dapat mengungkapkan alam pikiran, sikap hidup, dan sistem sosial budaya mereka.
Sehubungan dengan itu, tidak dapat dipungkiri peribahasa Banjar memiliki arti penting, setidak-tidaknya ada 3 fakta empirik yang menjadi dasar rasionalnya, yakni : (1) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang bersifat intersubjektif, dalam arti bukan sekadar artefak atau fakta kebendaan saja; (2) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang diwujudkan dalam bentuk wacana atau inskripsi dengan kandungan 3 gugus fakta sekaligus, yakni fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran budaya milik bersama, dan fakta sosial (sociofact) dari etnis Banjar; dan (3) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang berhubungan dengan dunia gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan tentang konstruksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya etnis Banjar.
Dalam kedudukannya sebagai kekayaan budaya milik bersama, etnis Banjar dapat mempergunakan peribahasa Banjar sebagai media untuk mengekspresikan atau merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya yang khas suku bangsa mereka. Melalui peribahasa Banjar sebagai media komunikasinya, generasi tua etnis Banjar dapat menyampaikan semua ajaran, informasi, nasihat, dan semua kearifan lokal lainnya kepada generasi penerusnya, sehingga kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional berbahasa Banjar ini tetap lestari dari generasi ke generasi.
Selain itu, peribahasa Banjar juga menampilkan gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan mereka sebagai suku bangsa. Bahkan, peribahasa Banjar juga dapat dipandang sebagai wacana, sekaligus juga inskripsi, yang merepresentasikan proses dialektika yang berkembang dalam konteks konstruksi realitas budaya etnis Banjar. Ironis, fakta empirik peribahasa Banjar yang begitu istimewa, ternyata tidak diimbangi dengan fakta historis peribahasa Banjar yang terbilang istimewa juga.
Langganan:
Postingan (Atom)