<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396</id><updated>2012-01-19T19:19:43.081-08:00</updated><title type='text'>TAJUDDIN NOOR GANIE</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-7510957623263810079</id><published>2012-01-19T19:16:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T19:19:43.091-08:00</updated><title type='text'>RESUFLE KABINET PEMPROV KALSEL</title><content type='html'>Surat Terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEJABAT ESELON IV &lt;br /&gt;BERPANGKAT III/B NON S.1 &lt;br /&gt;SEBAIKNYA IKUT DIRESUFEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut berita yang dilansir di beberapa koran terbitan Banjarmasin, sejak awal tahun 2012 yad, struktur organisasi Pemprov Kalsel akan dirampingkan, akibatnya ada sejumlah pejabat eselon IV yang bakal terkena resufel.&lt;br /&gt;Saya menyarankan agar para pejabat eselon IV yang terkena resufel dimaksud diprioritaskan untuk menduduki jabatan eselon IV di Dinas atau UPTD yang sekarang ini dijabat oleh PNS yang baru berpangkat III/b nonsarjana S.1.&lt;br /&gt;PNS yang baru berpangkat III/b nonsarjana S.1 itu saya kira wajar diresufel atau digusur dari jabatan eselon IV, karena penempatannya masih terlalu dini. Tunggu sampai PNS yang bersangkutan berpangkat III/d baru dipromosikan. Hal ini mengingat masih banyak PNS lain yang sudah lama menyandang pangkat III/d berpendidikan S.1 bahkan S.2, tetapi belum menduduki jabatan eselon IV.&lt;br /&gt;Kebijakan mengangkat PNS berpangkat III/b non S.1 sebagai pejabat eselon IV yang terjadi selama ini menimbulkan suasana kerja yang tidak kondusif, yakni menimbulkan kecemburuan sosial yang secara langsung mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas-tugas kedinasan.&lt;br /&gt;Banyak PNS berpangkat III/b non S.1 yang TMT pangkatnya lebih senior terpaksa harus menerima nasib buruk bekerja di bawah atasan langsung yang pangkatnya lebih yunior. Suasana kerja yang seperti ini jelas tidak sehat karena menimbulkan efek-efek psikologis tertentu.&lt;br /&gt;Demikian sekadar saran dari saya pribadi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hormat saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.&lt;br /&gt;Jalan Mayjen Soetoyo S, Gang Sepakat&lt;br /&gt;RT 9 Nomor 30, Banjarmasin, 70119&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-7510957623263810079?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/7510957623263810079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2012/01/resufle-kabinet-pemprov-kalsel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7510957623263810079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7510957623263810079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2012/01/resufle-kabinet-pemprov-kalsel.html' title='RESUFLE KABINET PEMPROV KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5102047420818343348</id><published>2012-01-19T19:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T19:16:19.400-08:00</updated><title type='text'>INTAN TRISAKTI</title><content type='html'>Berita&lt;br /&gt;TUAS MEDIA TERBITKAN&lt;br /&gt;BUKU TAJUDDIN NOOR GANIE&lt;br /&gt;TRAGEDI INTAN TRISAKTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 15 Desember 2011, Penerbit Tuas Media Kertak Hanyar mulai menyebar-luaskan buku Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Tragedi Intan Trisakti (TIT). Buku ini merupakan kumpulan naskah TNG yang telah dimuat di berbagai koran terbitan Banjarmasin, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Semua tulisan yang dikumpulkan di dalam buku ini bertemakan tentang kegiatan pendulangan intan di Kalsel.&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali, pemilik Tuas Media Kertak Hanyar, mengatakan pihaknya tertarik menerbitkan ulang buku TNG ini karena di dalamnya banyak dimuat data-data dan informasi yang terbilang penting menyangkut kegiatan pendulangan intan di Kalsel.  Sebelumnya (2010), buku ini diterbitkan oleh Puskajimastra Kalsel Banjarmasin dengan omset penjualan sangat menjanjikan. &lt;br /&gt;Selain memuat tulisan utama berjudul Tragedi Intan Trisakti, TIT juga memuat 4 judul tulisan TNG yang lain, yakni Profil 27 Butir Intan yang telah ditemukan orang di Kalsel, Daftar Rekor 27 Butir Intan Kalsel, dan Mendulang Intan Tak Lagi Menjanjikan.&lt;br /&gt;Melalui tulisannya berjudul TIT, TNG memaparkan nasib buruk para penemu intan Trisakti (1965) ketika mereka harus bernegoisasi dengan aparat pemerintah orde lama di tingkat lokal dan nasional. Para pihak yang berkuasa ketika itu secara sepihak menetapkan Intan Trisakti sebagai barang persembahan oleh para penemunya kepada pemerintah. Sehingga prosedur yang ditempuh bukanlah prosedur jual beli, tapi prosedur persembahan.&lt;br /&gt;Akibatnya para penemu Intan Trisakti menjadi pihak yang dirugikan. Para penemu Intan Trisakti cuma diberi penghargaan dalam bentuk uang yang secara keseluruhan berjumlah Rp. 3,5 juta. Uang itu menjadi tidak berarti karena tidak lama kemudian terjadi sanering. Uang Rp. 1000,- berubah nilainya menjadi Rp. 1,-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5102047420818343348?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5102047420818343348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2012/01/intan-trisakti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5102047420818343348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5102047420818343348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2012/01/intan-trisakti.html' title='INTAN TRISAKTI'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-7548643234312930633</id><published>2011-04-07T20:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T20:55:52.086-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BIOGRAFI TAJUDDIN NOOR GANIE&lt;br /&gt;(PEMILIK BLOG INI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. (TNG) dilahirkan di kota Banjarmasin, 1 Juli 1958. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus tahun 1971), kemudian melanjutkan ke SMEP Negeri Martapura (lulus tahun 1974), dan SMEAN Martapura (lulus tahun 1977). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (tahun 2002 diwisuda dengan predikat sebagai wisudawan terbaik). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sempat jeda barang sejenak, tahun 2003 TNG langsung melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana (S2) PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan). Tesisnya berjudul Karakteristik Paribasa : Kajian Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2006).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bahan kajian yang dikumpulkannya untuk keperluan menulis tesis ini pada tahun 2006 diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar (dengan jumlah entri/lema 1.538 buah, tahun 2007 sudah dicetak ulang),  pada tahun 2011 diterbitkan Kamus Peribahasa Banjar dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1979, bekerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bertugas di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kotamadya Banjarmasin (1978-1985), Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru (1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak tanggal 1 Juni 2006 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Banjarmasin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kajian prosa fiksi, kritik sastra, pendekatan struktural sastra, penelitian sastra dan pengajarannya, penulisan kreatif sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sastra Banjar, dan sosiologi sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan  lain yang juga ditekuninya secara serius adalah sebagai Pengelola Harian Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar di Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan kepada masyarakat umum dan para mahasiwa yang sedang menulis skripsi mengenai masalah-masalah sastra Indonesia, sastra Banjar, dan Folklor Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai merintis karier sebagai penulis karya sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya, meliputi puisi, cerpen dan esei sastra. Buletin/jurnal/ koran/majalah yang pernah memuat karya tulisnyanya antara lain: Buletin Antara Spektrum LKBN Antara, SKH Berita Buana, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik. Majalah Misteri, SKH Media Indonesia, Majalah Warnasari, Majalah Intisari, Jurnal Kebudayaan (jurnal imiah Depdikbud), Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Kalimantan Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua, dan SKM Orbit Post (semuanya terbitan Banjarmasin). &lt;br /&gt;Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data : Google/Tajuddin Noor Ganie atau Yaaho/Tajuddin Noor Ganie. Email : tajuddinnoorganie@Yahoo. com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain : Antologi Puisi ASEAN  (Denpasar, 1982), Puisi Indonesia  (Jakarta, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, 1989), Festival Puisi XII (Surabaya, 1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi  (Jakarta, 1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, antara lain : Dahaga-B.Post 1981 (1982), Banjarmasin Kota Kita (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), dan Festival Puisi Kalimantan (1992), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku sastra hasil  karya TNG yang lainnya yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain adalah : Penyair Kalsel Terkemuka Selepas Tahun 1980 (1992), Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan  (1995), Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985), Ensiklopedi Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (Edisi 1995) (naskah aslinya disimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, dan telah pula dimuat secara bersambung di SKM Media Masyarakat Banjarmasin, 1995-1996), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Banjarmasin, 2001), Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 (berasal dari naskah Skripsi S1, PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, 2002), Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (berasal dari tesis S2, PBSID FKIP Unlam Banjarmasin, 2005), dan Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kumpulan cerpennya berjudul Nyanyian Alam Pedalaman (bersama dengan Hadian Noor) telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta pada tahun 1999. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen hasil karya sastrawan Kalsel yang pertama kali diterbitkan di luar daerah Kalsel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya berjudul Tegaknya Masjid Kami telah dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin (2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2005, menjadi anggota tim penulis Riwayat Hidup Walikota Banjarmasin H. Midfai Yabani berjudul Perjalanan Seorang Wali Kelas Menjadi Walikota  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah cerpennya juga sudah dijadikan sebagai objek penelitian untuk penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, antara lain : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Profil Tokoh  Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), Analisis Tema dan Penokohan Dalam Kumpulan Cerpen Karya Tajuddin Noor Ganie (Noorhidayat, 2003), Cerita Rakyat Etnis Banjar  Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertektualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, 2005), dan Gambaran Manusia Banjar dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie di Majalah Idola Jakarta (Miftahul Jannah, 2009), Citraan dalam Antologi Puisi Bulu Tangan Karangan Tajuddin Noor Ganie (Mukhlis, 2010), dan Profil Tokoh Pendulang Intan dalam Cerpen-cerpen Karangan Para Cerpenis Kalsel (Raya Saidyah, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum sastra dan budaya yang pernah diikutinya antara lain : Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel, (Banjarmasin, 1982), Apresiasi Puncak Penyair ASEAN (Denpasar, 1983), Siklus Lima Penyair Kalsel, (Banjarmasin, 1983). Festival Puisi XII (Surabaya, (1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Hari Sastera X (Shah Alam, Selangor, Malaysia, 1993), Festival Puisi XIV (Surabaya, 1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995), Temu Penyair Nasional (Tasikmalaya, 1999), dan Dialog Borneo VII (Banjarmasin, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan prestasi, reputasi dan dedikasinya sebagai sastrawan TNG telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain : Penulis Esai Sastra dalam Rangka Bulan Bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Jakarta, 1985), Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman, 1998), Penulis Naskah Fiksi Keagamaan dari Menteri Agama (Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, (2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi kesastrawanan TNG ikut dimuat dalam sejumlah buku referensi antara lain : Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, Penerbit Djambatan Jakarta, 1990:186), Leksikon Kesusastraan (Suhendra Yusuf MA, Bandung, 1995:97), Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna, Penerbit Yayasan Pustaka Adikarya, Jakarta, 2000), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS dkk, Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), Melayu Online, dan Wikipedia Indonesia (ensiklopedi dunia maya berkaitan dengan statusnya sebagai seorang budayawan Banjar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat Rumah : &lt;br /&gt;Jalan Mayjen Soetoyo S, &lt;br /&gt;Gang Sepakat RT 13 Nomor 30, &lt;br /&gt;Banjarmasin, 70119&lt;br /&gt;Telepon Rumah (0511) 4424304&lt;br /&gt;Telepon Selular : 08195188521&lt;br /&gt;Email : tajuddinnoorganie@yahoo. co.id&lt;br /&gt;Facebook : tajuddinnoorganie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR BUKU&lt;br /&gt;TAJUDDIN NOOR GANIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel&lt;br /&gt;2. Asal-usul Orang Banjar&lt;br /&gt;3. Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi&lt;br /&gt;4. Jatidiri Puisi Indonesia&lt;br /&gt;5. Kajian Puisi&lt;br /&gt;6. Kamus Mimpi Orang Banjar&lt;br /&gt;7. Kamus Peribahasa Banjar&lt;br /&gt;8. Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar &lt;br /&gt;9. Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung&lt;br /&gt;10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka&lt;br /&gt;12. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin&lt;br /&gt;13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra&lt;br /&gt;14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun&lt;br /&gt;15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa&lt;br /&gt;16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair&lt;br /&gt;17. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar&lt;br /&gt;18. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi&lt;br /&gt;19. Sejarah Nasional Cerpen Indonesia 1920-2009&lt;br /&gt;20. Sejarah Nasional Drama Indonesia 1920-2009&lt;br /&gt;21. Sejarah Nasional Kesusastraan Indonesia 1920-2009&lt;br /&gt;22. Sejarah Nasional Puisi Indonesia 1920-2009&lt;br /&gt;23. Sejarah Nasional Roman/Novel Indonesia 1920-2009&lt;br /&gt;24. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009&lt;br /&gt;25. Tegaknya Masjid Kami (Novel)&lt;br /&gt;26. Tengah Malam di Kuala Lumpur&lt;br /&gt;27. Teori dan Praktek Menulis Cerpen&lt;br /&gt;28. Teori dan Praktik Menulis Puisi&lt;br /&gt;29. Teori dan Praktik Penelitian Sastra&lt;br /&gt;30. Teori Sastra&lt;br /&gt;31. Tragedi Intan Trisakti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-7548643234312930633?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/7548643234312930633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/04/biografi-tajuddin-noor-ganie-pemilik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7548643234312930633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7548643234312930633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/04/biografi-tajuddin-noor-ganie-pemilik.html' title=''/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5918179909499907629</id><published>2011-03-23T18:41:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T18:43:24.370-07:00</updated><title type='text'>AIR BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ORANG BANJAR DI KALSEL</title><content type='html'>Air dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel disebut banyu. Air merupakan benda cair yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Julukan daerah Kalsel sebagai negeri seribu sungai sudah menggambarkan dengan tegas topografi daerah Kalsel sebagai daerah yang akrab dengan air.&lt;br /&gt;Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi, cuci, dan kakus, air juga lajim digunakan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya. Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan setidak-tidaknya ada 5 jenis air yang digunakan sebagai sarana pengobatan atas suatu jenis penyakit, yakni banyu burdah, banyu buyu, banyu pilungsur, banyu pidara, banyu safar, banyu singgugut, banyu wafak tampurung nyiur, dan banyu Yaasin.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU BURDAH&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air Burdah. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Syair Burdah. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Burdah difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasi, hantu sangkala). Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Burdah dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU BUYU&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya air buyu. Buyu adalah nama sejenis siluman ular pengisap darah yang berasal dari alam gaib. Selain itu, buyu merujuk kepada kulit ular puraca yang terlepas setelah terjadinya proses ganti kulit (bahasa Banjar, baganti salumur ular). &lt;br /&gt;Banyu buyu adalah air rendaman kulit ular puraca. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu buyu difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diisap buyu yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit diisap buyu adalah penyakit dengan gejala tubuh kurus kering, bola mata melorot ke dalam, dan perut buncit (seperti orang kurang gizi). &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit diisap buyu dengan air rendaman kulit ular puraca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU PALUNGSUR&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air pelancar persalinan. Banyu palungsur dibuat oleh seorang bidan kampung dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu palungsur difungsikan sebagai sarana untuk memperlancar proses persalinan seorang wanita yang sempat terhambat selama beberapa saat. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu palungsur kepada wanita yang mengalami kesulitan dalam proses persalinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU PIDARA&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air antipidara. Banyu pidara dibuat dari seember air tawar yang dicampur dengan rendaman beberapa lembar daun pidara. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pidara difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kapidaraan (sakit panas) yang diderita oleh seorang anak balita. &lt;br /&gt;Penyakit kapidaraan adalah penyakit yang  berasal dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala, roh para leluhur). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang bersangkutan dengan banyu pidara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU SAPAR&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air Safar. Banyu Sapar adalah air tawar yang diberi bacaan doa penolak bala (mantra penolak bala). Pembuatannya dilakukan menjelang tibanya hari Rabu terakhir di bulan Safar (Arba Musthamir atau Rabu Wekasan). &lt;br /&gt;Di kalangan masyarakat Banjar di Kalsel ada semacam keyakinan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari yang paling berbahaya. Pada hari itu, para pemilik ilmu hitam akan melepaskan ilmu hitamnya untuk mencari mangsa di alam bebas. &lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, maka setiap orang harus melakukan segala cara agar terhindar diri dan keluarganya dari segala marabahaya. Salah satu upaya di antaranya adalah membuat banyu Sapar. Banyu Sapar diminum bersama oleh segenap anggota keluarga pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. &lt;br /&gt;Banyu Sapar difungsikan sebagai sarana imunasi untuk menambah kekebalan tubuh peminumnya supaya tidak jatuh sakit jika sekali waktu terlanjur memakan makanan atau meminum minuman yang sengaja dibubuhi atau ditaburi orang dengan racun pujaan (racun magis milik para penganut ilmu hitam). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminum banyu Sapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU SINGGUGUT&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air singgugut. Banyu singgugut dibuat oleh seorang juru sembuh dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu.  &lt;br /&gt;Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak. Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu singgugut difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu singgugut kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut. Tidak lama setelah meminum banyu singgugut maka singgugut yang sudah mati akan keluar darah berbentuk cecak dari rahim wanita yang bersangkutan (bercampur dengan darah haid). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU WAPAK TAMPURUNG  NYIUR&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air wafak tempurung kelapa. Wapak (wafak) merujuk kepada daun, kain, kertas, kulit buah-buahan, kulit hewan, logam pipih, tempurung kelapa, dan aneka jenis media lainnya, yang .ditulisi atau dirajah dengan teks-teks doa atau mantra tertentu dalam bahasa, huruf, dan angka Arab. &lt;br /&gt;Wapak tampurung nyiur merujuk kepada tempurung kelapa yang diberi tulisan atau rajahan teks doa atau mantra dalam bahasa, huruf, dan angka Arab. Air tawar yang dituangkan ke dalam tempurung kelapa semacam ini disebut  banyu wapak tampurung nyiur. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai obat penyembuh penyakit singgugut. Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak. &lt;br /&gt;Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul. Banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu wapak tampurung nyiur kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU YAASIN&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya air Yaasin. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Surah Yaasin. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Yaasin difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala). &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Yaasin dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIR BERTUAH MAGIS JENIS LAIN&lt;br /&gt;Masih ada air bertuah magis lain yang dikenal dalam tradisi etnis Banjar di Kalsel. Hanya saja air bertuah magis jenis lai ini tidak difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif, tetapi digunakan sebagai sarana untuk meyuburkan tanaman padi (disebut banyu randaman amas, dan banyu randaman pirak), dan untuk menangkal gangguan roh jahat pada saat orang-orang menanak nasi dalam jumlah besar untuk keperluan konsumsi pesta perkawinan (air jenis ini disebut banyu pangawahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU RANDAMAN AMAS&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman emas. Banyu randaman amas dibuat dengan cara merendam perhiasan emas ke dalam seember air tawar. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman amas difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman amas ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU RANDAMAN PIRAK&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman perak. Banyu randaman pirak dibuat dengan cara merendam perhiasan perak ke dalam seember air tawar. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman pirak difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman pirak ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYU PANGAWAHAN&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya air juru masak. Kawah, bahasa Banjar artinya wajan besar untuk keperluan menanak nasi, memasak sayur mayur, atau lauk pauk dalam jumlah banyak. &lt;br /&gt;Pangawahan adalah istilah untuk menyebut orang-orang yang bertugas sebagai juru masak di dapur umum pada saat diselenggarakannya pesta perkawinan atau perhelatan besar lainnya. &lt;br /&gt;Banyu pangawahan dibuat oleh seorang ulama dari air putih yang kemudian diberi kekuatan tuah magis tertentu dengan cara membacakan doa-doa tertentu, antara lain Ayat Seribu Dinar (teks doa yang terdapat dalam buku Senjata Mukmin karangan Husin Qadri Martapura).  &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pangawahan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal kedatangan makhluk gaib yang berwatak jahat ke lokasi dapur umum. Jika tidak ditangkal maka makhluk gaib yang berwatak jahat itu akan berbuat onar di dapur umum. &lt;br /&gt;Mereka akan ikut memakan nasi, sayur-mayur, dan lauk pauk yang sedang ditanak atau dimasak di dapur umum itu. Akibatnya fatal, para tamu undangan banyak yang tidak kebagian makanan, karena persediaan makanan di dapur umum akan habis dalam waktu yang relatif singkat. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memasukkan banyu pangawahan ke tempat persediaan air yang akan digunakan untuk menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk. &lt;br /&gt;Kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk dalam jumlah banyak memang sangat riskan (penuh risiko). Sehingga untuk menyukseskannya perlu dilakukan upaya-upaya penangkalan tertentu. &lt;br /&gt;Tujuannya supaya kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk di dapur umur dapat berjalan dengan lancar tidak mengalami hambatan apa-apa. Nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang ditanak atau dimasak akan mencukupi untuk dihidangkan kepada para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan itu (berkecukupan, tidak kurang, apa lagi habis) (bahasa Banjar, harakat). &lt;br /&gt;Tanpa campuran banyu pangawahan, bisa saja terjadi, nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang disediakan dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah, ketika ditanak dan dimasak ternyata malah tidak cukup untuk menjamu para tamu undangan yang datang. &lt;br /&gt;Hal itu bisa saja terjadi jika di antara para tamu yang datang, banyak di antaranya adalah tamu tak diundang yakni makhluk gaib yang datang secara berbondong-bondong dari alam gaib sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5918179909499907629?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5918179909499907629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/air-bertuah-magis-dalam-sistem.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5918179909499907629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5918179909499907629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/air-bertuah-magis-dalam-sistem.html' title='AIR BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ORANG BANJAR DI KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5134608419280635918</id><published>2011-03-23T18:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T18:39:18.058-07:00</updated><title type='text'>KALUNG BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL</title><content type='html'>Kalung dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel disebut aguk. Pada zaman sekarang ini kalung berfungsi sebagai hiasan leher yang lajim dikenakan oleh kaum wanita. &lt;br /&gt;Tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk memamerkan kekayaan. Di Kalsel, wanita Banjar yang kaya raya tidak segan-segan mengenakan beberapa untai kalung yang dibuat dari emas murni dengan berat keseluruhan antara 100-500 gram. &lt;br /&gt;Kebiasaan ini sudah barang tentu mengundang bahaya. Beberapa orang di antara mereka ada yang tewas sebagai korban penjambretan di jalan raya dan beberapa orang lainnya lagi tewas secara mengenaskan sebagai korban perampokan ketika sedang berada sendrian di rumahnya. &lt;br /&gt;Sungguh pun demikian, aksi pamer kekayaan sebagaimana layaknya toko emas berjalan ini hingga sekarang masih dilakoni oleh banyak wanita Banjar di Kalsel.&lt;br /&gt;Tradisi mengenakan kalung di leher bukanlah tradisi baru di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Pada zaman dahulu kala, kalung tidak hanya berfungsi sebagai hiasan leher, tetapi juga difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya. &lt;br /&gt;Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada 5 jenis kalung yang dikenakan di leher sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit, yakni aguk bigi sawan, aguk kawari, aguk picis, aguk samban, dan aguk sisik tanggiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGUK BIGI SAWAN &lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya kalung yang dibuat dari rangkaian biji sawan. Sawan adalah nama sejenis tanaman hutan. Dibuat dengan cara-cara tertentu, yakni dibuat sambil membacakan mantra-mantra penawar penyakit sawan. Aguk biji sawan termasuk jenis barang buatan manusia (barang hasil kerajinan tangan). &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk bigi sawan difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit sawan yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit sawan adalah penyakit kulit, seperti biduran, gatal-gatal, bisulan, dan kulit bengkak-bengkak. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk biji sawan sebagai kalung di leher anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit sawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGUK KAWARI &lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya kalung kawari. Istilah kawari merujuk kepada tiruan alat vital laki-laki.. Terbuat dari kayu, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung.. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan). &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk kawari difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk kawari sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGUK PICIS&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya kalung picis. Picis artinya uang logam kuno buatan Cina berbentuk pipih dan berlubang di bagian tengahnya. Terbuat dari tembaga. Termasuk jenis barang buatan pabrik. Dijadikan sebagai buah kalung yang dikalungkan di leher seorang anak balita. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk picis difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit ileran (mulut mengeluarkan air liur) yang diderita oleh seorang anak balita. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk picis sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin laki-laki yang didiagnosa sedang mengidap penyakit ileran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGUK SAMBAN&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya kalung samban. Istilah samban merujuk kepada tiruan alat vital wanita. Dibuat dari tembaga, perak, atau emas (tergantung kemampuan), dan dijadikan sebagai buah kalung. Termasuk jenis barang buatan manusia (barang kerajinan tangan). &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk samban difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit beser (sering kencing) yang diderita oleh seorang anak balita berjenis kelamin laki-laki. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk samban sebagai kalung di leher anak balita berjenis kelamin wanita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit beser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGUK SISIK TANGGILING&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya kalung sisik trenggiling. Aguk sisik tanggiling merujuk kepada buah kalung yang dibuat dari beberapa keping sisik tanggiling. Tanggiling sejenis binatang liar pemakan semut yang hidup di balik semak-semak bambu. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, aguk sisik tanggiling difungsikan sebagai sarana untuk melindungi anak balita dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala). &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikan aguk sisik tanggiling sebagai kalung di leher anak balita sebagai penangkal gangguan makhluk gaib yang berwatak jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (51 tahun). Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berminat siapa saja boleh mengutip tulisan ini dengan saya meminta izin melalui pos komentar. Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5134608419280635918?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5134608419280635918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/kalung-bertuah-magis-dalam-sistem.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5134608419280635918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5134608419280635918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/kalung-bertuah-magis-dalam-sistem.html' title='KALUNG BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-7741495119205794971</id><published>2011-03-23T18:27:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T18:29:23.961-07:00</updated><title type='text'>BATU BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL</title><content type='html'>Batu dalam bahasa bahasa Banjar di Kalsel juga disebut batu. Batu merupakan benda padat yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Jenisnya juga sangat beragam mulai dari batu gunung, batu bara, hingga batu permata yang berharga mahal.&lt;br /&gt;Jenis batu lain yang juga dikenal luas di kalangan etnis Banjar adalah batu fosil yang dalam bahasa Banjar disebut buntat. Buntat merupakan batu fosil yang selalu dikaitkan orang dengan tuah magis tertentu dalam sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel&lt;br /&gt;Dari sekian banyak jenis batu yang ada di Kalsel ini ada sejumlah batu yang menurut sistem kepercayaan etnis Banjar di Kalsel mengandung tuah magis tertentu yang dapat difungsikan untuk tujuan-tujuan magis yang tertnetu pula.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan, batu-batu bertuah magis tersebut setidak-tidaknya ada 10 jenis, yaitu batu jilatan, batu kacubung, batu pipisan, buntat banyu, buntat barang-barang, buntat haliling, buntat halilipan, buntat kalabuai, buntat kalulut, dan buntat ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATU JILATAN&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya batu yang dijilati binatang. Istilah batu jilatan merujuk kepada batu alam yang pada mulanya berada di suatu tempat di tengah hutan lebat. Tempat di mana batu jilatan berada adalah di tepi sungai di dekat sumber mata air alami (hulu sungai). &lt;br /&gt;Pada malam hari sumber mata air di tengah hutan lebat ini penuh sesak dengan kumpulan bintang hutan yang ingin melepaskan dahaganya di sana. Setelah minum, semua binatang yang datang ke tempat itu akan menuju ke satu titik yang sama untuk menjilatkan lidahnya secara bergantian ke sebiji batu alam yang ada di tempat itu. &lt;br /&gt;Batu alam itulah yang kemudian disebut sebagai batu jilatan. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu jilatan difungsikan sebagai sarana untuk memikat selera orang untuk memakan masakan (gulai, sayur mayur, kuah, lauk pauk) yang disuguhkan di sebuah rumah makan. &lt;br /&gt;Setelah merasakan kelezatan masakan pada kali yang pertama, maka sejak itu orang tersebut menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi pelanggan tetap rumah makan dimaksud. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu jilatan ke dalam tempat persediaan air yang akan digunakan untuk memasak gulai, sayur mayur, kuah, dan lauk pauk yang disuguhkan kepada para pelanggan rumah makan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATU KACUBUNG&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya batu Kecubung. Batu Kacubung adalah sejenis batu alam berwarna ungu. Termasuk barang hasil tambang yang banyak ditemukan di perut bumi daerah Kalsel. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, batu kacubung difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai mata cincin (laki-laki) atau buah kalung (wanita). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATU PIPISAN&lt;br /&gt; Bahasa Banjar artinya batu cowek untuk mengulek sambal. Batu pipisan juga disebut batu cubik dalam bahasa Banjar. Dibuat dari batu. Ternasuk jenis barang buatan tangan manusia (barang kerajinan tangan). &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel batu pipisan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal masuknya makhluk gaib yang berwatak jahat ke dalam ayunan seorang anak balita yang tidak sedang digunakan. &lt;br /&gt;Ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan tidak boleh dibiarkan kosong melompong. Konon, jika dibiarkan kosong melompong maka ayunan anak balita itu akan ditempati oleh makhluk gaib yang berwatak jahat. &lt;br /&gt;Makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala) ini akan mengganggu anak balita yang kemudian dimasukkan ke dalam ayunan yang sudah dikuasainya itu. &lt;br /&gt;Anak balita itu tidak akan nyenyak tidurnya, bahkan lama kelamaan akan jatuh sakit (tubuhnya kejang-kejang, stuip) akibat ulah nakal makhluk gaib yang berwatak jahat tersebut. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menempatkan batu pipisan ke dalam ayunan anak balita yang tidak sedang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT BANYU&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil batu air.. Buntat air sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna bening seperti es batu. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat banyu difungsikan sebagai sarana magis untuk menghentikan kucuran darah yang mengalir dari kulit tubuh manusia yang terluka parah. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara berulang kali mengusapkan buntat banyu ke arah mata luka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT BARANG-BARANG&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil berang-berang.. Buntat barang-barang  sejenis batu berbentuk seperti kelereng berwarna hitam legam. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat barang-barang difungsikan sebagai jimat supaya dapat menyelam dalam tempo lama di dalam air. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara menjadikan buntat barang-barang sebagai jimat yang dibawa serta ketika menyelam ke dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT HALILING&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil haliling. Haliling, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar kelereng. Buntat Haliling sejenis batu berbentuk haliling.yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat haliling difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat haliling disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya. &lt;br /&gt;Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat haliling. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat haliling akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT HALILIPAN&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil lipan. Buntat Halilipan sejenis batu berbentuk lipan. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat halilipan difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat halilipan disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya. &lt;br /&gt;Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat halilipan. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat halilipan akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT KALAMBUAI&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil kalambuai. Kalambuai, sejenis siput rawa yang ukuran fisiknya sebesar buah sawo. Buntat kalambuai sejenis batu berbentuk kalambuai yang banyak ditemukan di tanah rawa-rawa di seantero daerah Kalsel. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalambuai difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya dapat meraih kemenangan dalam arena judi dadu. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan oleh seorang penjudi dadu dengan cara membawanya ke tengah arena judi dadu. Buntat kalambuai disimpannya sedemikian rupa di dalam saku baju atau celananya. &lt;br /&gt;Sebelum memasang uang taruhan, penjudi dadu yang bersangkutan terlebih dahulu menggengam buntat kalambuai. Jika angka dadu yang ditebaknya sudah tepat, maka Buntat kalambuai akan memberikan isyarat dalam bentuk gigitan kecil pada genggaman tangan penjudi dadu yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT KALULUT&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu Kalulut. Kalulut adalah sejenis lebah madu berukuran sangat kecil yang biasa bersarang di batang-batang pohon, atau di tiang-tiang rumah. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat kalulut difungsikan sebagai sarana untuk merangsang timbulnya perasaan cinta dan kasih sayang orang lain kepada pemiliknya. &lt;br /&gt;Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai jimat pekasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNTAT ULAR&lt;br /&gt;Bahasa Banjar artinya batu fosil ular. Buntat ular sejenis batu berbentuk telur ular. &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, buntat ular difungsikan sebagai jimat pendukung yang membuat pemiliknya tidak akan dipatuk ular. Selain itu, buntat ular juga difungsikan untuk menolong seseorang yang dipatuk ular agar tidak tewas akibat bisa yang menjalar di dalam aliran darahnya. &lt;br /&gt;Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan air rendaman buntat ular kepada orang yang dipatuk ular tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-7741495119205794971?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/7741495119205794971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/batu-bertuah-magis-dalam-sistem.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7741495119205794971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7741495119205794971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/03/batu-bertuah-magis-dalam-sistem.html' title='BATU BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN NENEK MOYANG ETNIS BANJAR DI KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2874399624660171267</id><published>2011-02-14T00:28:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T00:29:44.093-08:00</updated><title type='text'>AKU DAN EKO SURYADI WS</title><content type='html'>Tahun 1980, aku pindah dari Banjarbaru ke Banjarmasin. Aku diterima bekerja sebagai PNS di Kantor Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin. Ketika itu namanya disingkat menjadi Kantor Ditjen Bina Guna Tenaga Kerja.&lt;br /&gt;Pada mulanya aku agak ragu tinggal di Banjarmasin, karena selama ini memang tak pernah hidup mandiri pisah dari orang tua dan saudara-saudara. Tapi tak ada pilihan lain. Sebagai PNS baru bagaimana mungkin aku harus menolak penugasan ini?&lt;br /&gt;Aku bisa saja tetap tinggal di Banjarbaru, tapi biayanya terlalu mahal jika harus bolak-balik naik taksi colt dari Banjarbaru ke Banjarmasin setiap hari. Tarif taksi colt Banjarbaru Banjarmasin ketika itu Rp. 300,- Sementara gajiku cuma Rp. 16.000,-&lt;br /&gt;Begitulah, akhirnya aku memilih menyewa kamar di sebuah rumah di bilangan Jalan Kacapiring VII, tak jauh dari tempat kerjaku yang ketika itu terletak di bilangan Jalan Cempaka I Banjarmasin.&lt;br /&gt;Wow, ternyata kepindahanku ke Banjarmasin membuatku semakin leluasa melampiaskan hobby bacaku dan semakin leluasa pula menekuni hobbyku sebagai penulis karya sastra.&lt;br /&gt;Di kota Banjarmasin aku bisa melampiaskan hobby bacaku di perpustakaan daerah yang ketika itu gedungnya masih terletak di bilangan Jalan Kapten Piere Tendeaan. Di kota Banjarbaru ketika itu belum ada fasilitas umum untuk baca dan pinjam buku gratis seperti ini.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hobbyku sebagai penulis karya sastra, aku bisa ikut baca puisi dalam acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (disingkat UMSIS) di RRI Nusantara III Banjarmasin setiap malam Rabu. Ketika tinggal di Banjarbaru, aku cuma bisa mengikuti siarannya melalui pesawat radio saja. Kini, aku bisa bertatap muka langsung dengan pengasuhnya Bapak Haji Hijaz Yamani almarhum.&lt;br /&gt;Boleh jadi pada kesempatan berbaur ria di RRI Nusantara III Banjarmasin inilah aku berkenalan dengan Eko Suryadi WS (ESWS). Hampir semua penyair muda Banjarmasin ketika itu saling berkenalan di tempat ini. Hal ini mengingat RRI Nusantara III Banjarmasin ketika merupakan pusat pergaulan para penyair muda Banjarmasin. Ketika itu RRI Nusantara III Banjarmasin masih terletak di bilangan Jalan Lambung Mangkurat (gedung dimaksud sudah dibongkar dan diubah menjadi taman).&lt;br /&gt;ESWS ketika itu kukenal sebagai teman sejawat Micky Hidayat di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin. Selain itu ESWS juga kukenal sebagai salah seorang penyair Banjarmasin yang berasal dari Kotabaru. Ada beberapa kawan penyair lain yang juga berasal dari Kotabaru, yakni Syamsuddin J, Muhammad Haderani Thalib, Soeparto JS, dan Bayhaqi Hasyim. &lt;br /&gt;  Selain aktif menulis dan baca puisi di RRI Nusantara III Banjarmasin, aku, ESWS, dan para penyair Banjarmasin seangkatan juga aktif menulis puisi dan karya sastra lainnya di rubrik Dahaga SKH Banjarmasin Post (asuhan Drs. Hj. Yustan Aziddin alm, H. Hijaz Yamani alm, dan D. Zauhidhie alm).&lt;br /&gt;Tahun 1980-1985, jagat sastra Kalsel tak bisa dipisahkan dari rubrik Dahaga B. Post (begitulah kami sering menyingkatnya). ESWS ketika itu termasuk penyair Kalsel yang produktif memublikasikan puisi-puisinya di Dahaga B. Post. &lt;br /&gt;Aku sendiri tidak produktif menulis puisi, aku lebih banyak menulis esei sastra dan kritik sastra. Objek kritik sastraku ketika itu adalah puisi-puisi karangan teman-teman sastrawan Kalsel lainnya. &lt;br /&gt;Ketika itu aku bisa dengan entengnya memvonis puisi A, B, C, dan D berbobot dan selebihnya tidak. Vonis itu kuungkapkan secara terbuka di koran (duh, nekadnya diriku ketika itu). &lt;br /&gt;Boleh jadi, saking jengkelnya ada sastrawan Kalsel yang menulis puisi khusus dengan ungkapan sebagai berikut.&lt;br /&gt;Kau tambal kau sulam&lt;br /&gt;Baju kawan-kawan&lt;br /&gt;Bajumu sendiri &lt;br /&gt;sudah kau apakan?&lt;br /&gt;Seingatku aku pernah menulis sejumlah catatan atas puisi-puisi ESWS. Namun, khusus untuk puisi-puisi ESWS isi tulisanku tak ada yang negatif. &lt;br /&gt;Peristiwa lain yang masih kuingat, suatu ketika ESWS membeli hampir semua buku sastra koleksiku. Inilah, kali pertama aku menjual buku-buku sastra koleksiku. &lt;br /&gt;Aku katakan pertama kali, karena sesudah itu aku masih sering menjual koleksi buku-buku sastraku kepada berapa orang sastrawan Kalsel lainnya. &lt;br /&gt;Bukan apa-apa, aku sering kesulitan mengurus koleksi buku-buku sastra dimaksud. Selain tempat tinggalku yang begitu sempit (cuma sebuah kamar kost), juga aku sering pindah-pindah rumah.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama terbetik berita ESWS pindah tugas ke Kotabaru. Setelah itu, aku dan ESWS jarang bertemu.       &lt;br /&gt;21 Juni 1981, berdirilah Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Ketika itu Tarman Effendi Tarsyad dipilih sebagai Ketua, Micky Hidayat sebagai Wakil Ketua, aku sebagai Sekretaris, dan Sri Supeni alm sebagai Bendaharawan. &lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, yakni 18-19 September 1982, HPMB menggelar acara Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel bertempat di Balai Wartawan Banjarmasin. Panitia pelaksana forum ini diketuai oleh Micky Hidayat. Sesuai dengan tempat domisilinya, ESWS  ketika itu tampil di forum sebagai wakil Kotabaru.&lt;br /&gt;Setelah itu, aku dan ESWS lama tak saling bertemu. Sayang sekali, ketika ESWS dan kawan-kawan menyelenggarakan Aruh Sastra, aku tak bisa datang ke Kotabaru. &lt;br /&gt;Tahun 2009, aku berkesempatan datang ke Kotabaru memenuhi undangan ceramah sastra di hadapan siswa-siswi SMKN I Kotabaru. Beruntunglah, kali ini aku bisa bertemu ESWS.&lt;br /&gt;Meskipun tinggal berjauhan, aku masih bisa mengikuti perkembangan kepenyairan ESWS. ESWS merupakan salah satu sastrawan Kalsel generasi 1980-1989 yang hingga sekarang ini masih tetap konsisten mempertahankan gairah kepenyairannya.  &lt;br /&gt;Terakhir aku mendapat kiriman bukunya berjudul Di Batas Laut. Isi buku ini kemudian kuulas dalam salah satu tulisan yang dimuat di SKH Kalimantan Pos Banjarmasin. &lt;br /&gt;Salah seorang mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin tertarik untuk menulis skripsi tentang metafora laut berdasarkan buku yang ada padaku itu.&lt;br /&gt;Ketika M, Rifani Djamhari meninggal dunia, ESWS kebetulan sedang berada di Banjarmasin. Aku dan ESWS bertemu di rumah duka.&lt;br /&gt;“Habis ini siapa kira-kira yang dipanggil-Nya. Din?”&lt;br /&gt;“Aku berharap bukan aku, Ko. Jika boleh meminta aku ingin dipanggil paling akhir.”&lt;br /&gt;“Mengapa begitu, Din.”&lt;br /&gt;“Di antara kita sesama sastrawan Kalsel generasi 1980-1989, cuma aku yang mengambil peran sebagai penulis buku Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel, maka wajar jika aku dipanggil-Nya paling akhir. Jika aku dipanggil duluan, maka penulisan buku dimaksud akan terbengkalai.”&lt;br /&gt;“Hahaha, bisa aje.”&lt;br /&gt;“Insya Allah do’aku terkabul.&lt;br /&gt;“Amin”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2874399624660171267?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2874399624660171267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/02/aku-dan-eko-suryadi-ws.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2874399624660171267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2874399624660171267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/02/aku-dan-eko-suryadi-ws.html' title='AKU DAN EKO SURYADI WS'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-11260719826526048</id><published>2011-02-03T18:27:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T21:35:03.055-08:00</updated><title type='text'>SASTRAWAN KALSEL DIUNDANG KIRIM KARYA SASTRA KE SAMARINDA</title><content type='html'>Berkenaan dengan akan diselenggarakannya acara Dialog Borneo Kalimantan di Samarinda pada bulan April 2011 yang akan datang, Korrie Layun Rampan (KRL) berencana untuk menyusun dan menerbitkan dua buku kumpulan karya sastra yang melibatkan semua sastrawan Indonesia yang tinggal di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan dalam Puisi Indonesia dan Kalimantan dalam Prosa Indonesia. Sehubungan dengan rencana tersebut, KRL melalui Tajuddin Noor Ganie (TNG) mengundang semua sastrawan Kalsel (tanpa kecuali) untuk mengirimkan cerpen, esei sastra, kritik sastra, naskah drama, dan puisi-puisinya ke email korrie.layun.rampan@gmail.com.&lt;br /&gt;Melalui siaran pers yang dimuat di SKH Media Kalimantan (5 dan 6 Febrauri 2011), SKH Mata Banua (5 Februari 2011), dan SKH Radar Banjarmasin (6 Februari 2011), TNG menginformasikan bahwa buku kumpulan karya sastra dimaksud akan diluncurkan oleh Gubernur Kaltim pada bulan April 2011 berkenaan dengan acara Dialog Borneo Kalimantan di kota Samarinda. Pada saat yang sama juga akan diluncurkan 6 judul buku kumpulan karya sastra lainnya, salah satu di antaranya adalah buku Kaltim dalam Sastra Indonesia. Buku setebal 1.500 halaman ini sudah selesai disusun oleh Korrie Layun Rampan selaku editornya.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan undangan ini, Tajuddin Noor Ganie mengimbau agar para sastrawan Kalsel yang berminat bersegera mengirimkan karya sastranya. Hal ini mengingat waktu yang tersedia bagi editor relatif singkat, cuma dua bulan. &lt;br /&gt;Menurut KRL, karya sastra yang dikirimkan tidak mesti karya baru, karya lama juga tak apa. TNG menambahkan, “yang penting karya sendiri bukan saduran apalagi jiplakan.” &lt;br /&gt;Selanjutnya, segala sesuatu yang masih belum jelas berkenaan dengan undangan pengiriman karya sastra ini, menurut TNG dapat ditanyakan langsung kepada Korrie Layun Rampan melalui email beliau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-11260719826526048?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/11260719826526048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/02/sastrawan-kalsel-diundang-kirim-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/11260719826526048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/11260719826526048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/02/sastrawan-kalsel-diundang-kirim-karya.html' title='SASTRAWAN KALSEL DIUNDANG KIRIM KARYA SASTRA KE SAMARINDA'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2419525844797386183</id><published>2011-01-23T19:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T19:55:05.782-08:00</updated><title type='text'>NOTA TAJUDDIN NOOR GANIE UNTUK PANITIA  ARUH SASTRA KALSEL PADA MASA-MASA MENDATANG</title><content type='html'>Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama,dalam lomba cerpen berbahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung tempo hari terdapat satu judul cerpen bermasalah yang terlanjur ditetapkan oleh dewan juri sebagai Pemenang Harapan II.&lt;br /&gt;Mengingat masalahnya begitu serius, maka banyak pihak yang berharap agar masalah seperti ini tidak terjadi lagi pada aruh-aruh sastra yang bakal digelar di Kalsel pada tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, maka semua pihak yang berkepentingan dengan aruh sastra Kalsel yang tinggi martabatnya, saya kira harus menyiapkan langkah-langkah antisipasi sebagai upaya penangkalannya.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah langkah-langkah antispasi yang saya sarankan.&lt;br /&gt;(1) Sebelum dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba tulis karya sastra, maka karya sastra yang masuk nominasi finalis harus dipublikasikan lebih dulu di sebuah koran terbitan Banjarmasin. Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran tidak dilakukan secara gratis, tapi dilakukan dengan cara membeli kolom koran dimaksud. Konsekwensi logisnya, panitia aruh sastra harus menganggarkan dana untuk membayar biaya pemuatan semua karya sastra finalis di sebuah koran. Koran yang memuatnya adalah koran yang berhasil memenangkan tender yang sengaja dilakukan untuk itu. Setahu saya, cara ini pernah dilakukan oleh ANTEVE Jakarta ketika menyelenggarakan lomba tulis puisi narasi beberapa tahun yang silam.&lt;br /&gt;(2) Publikasi karya sastra finalis di sebuah koran terbitan Banjarmasin dilakukan dengan maksud agar orang-orang yang bukan anggota dewan juri bisa memberikan tanggapannya jika di antara karya sastra finalis dimaksud ada yang bermasalah (saduran, jiplakan, atau sudah pernah dipublikasikan sebelumnya). Tanggapan dimaksud harus disampaikan secara tertulis melalui surat, email, dan atau dimuat di koran yang sama atau di koran lainnya. Semua tanggapan yang masuk harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan diuji kebenarannya oleh dewan juri. Sudah barang tentu, penulis yang karya sastranya ditanggapi orang harus diberi kesempatan pertama untuk menulis tanggapan balik di koran yang sama atau koran lainnya sebagai upaya pembelaan diri. Terhadap karya sastra finalis yang terbukti bermasalah, dewan juri berhak untuk mengesampingkannya atau menggugurkannya sebagai calon pemenang lomba. &lt;br /&gt;(3) Setelah melewati masa-masa uji publik selama 1-2 minggu barulah dewan juri bersidang untuk menetapkan para pemenang lomba karya sastra. Nah, ketetapan dewan juri kali ini benar-benar bersifat final alias tidak dapat diganggu gugat lagi oleh siapapun juga. Meskipun misalnya di kemudian terbukti secara sah dan meyakinkan ada karya sastra bermasalah dalam deretan pemenang lomba yang ditetapkan dewan juri. Bahkan, keputusan dewan juri tetap tidak boleh diganggu gugat lagi meskipun di antara pemenang lomba ada yang mengaku telah melakukan penyaduran, penjiplakan, atau dituliskan oleh orang lain (ghost writer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;Terus terang judul tulisan ini saya &lt;br /&gt;jiplak dari istilah Nota Rinkes.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2419525844797386183?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2419525844797386183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/nota-ganie-untuk-panitia-dan-para-juri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2419525844797386183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2419525844797386183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/nota-ganie-untuk-panitia-dan-para-juri.html' title='NOTA TAJUDDIN NOOR GANIE UNTUK PANITIA  ARUH SASTRA KALSEL PADA MASA-MASA MENDATANG'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6751473043761152952</id><published>2011-01-20T20:21:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T20:33:31.201-08:00</updated><title type='text'>SIMBIOSIS MUTULIS ANTARA SASTRAWAN KALSEL DAN PARA PEMILIK KIOS KORAN DI BANJARMASIN</title><content type='html'>Ketika fenomena sastra koran masih menggejala sekitar tiga puluh tahun yang lalu, para sastrawan Kalsel telah dikondisikan sedemikian rupa untuk selalu dekat dengan koran. &lt;br /&gt;Kehidupan keseharian para sastrawan ketika itu (tahun 1980-an)begitu tergantung pada koran, baik dalam konteksnya sebagai tempat untuk memublikasikan karya sastranya atau sebagai tempatnya untuk mencari nafkah tambahan.&lt;br /&gt;Para sastrawan harus membeli beberapa koran yang berbeda pada setiap hari Minggu, karena hampir semua koran terbitan lokal (kota-kota besar di berbagai daerah) dan nasional (Jakarta) membuka rubrik sastra pada setiap hari Minggu, terutama sekali rubrik cerpen. &lt;br /&gt;Dulu, di tahun 1980-1989, para sastrawan harus membeli koran yang berbeda-beda pada hari-hari yang juga berbeda. Hari Selasa membeli SKH Berita Buana Jakarta untuk memantau rubrik Dialog Sastra budaya yang diasuh oleh Abdul Hadi WM. Hari Rabu membeli SKH Pelita Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh HS Djurtatap. &lt;br /&gt;Selanjutnya, hari Sabtu membeli SKH Suara Karya Jakarta untuk memantau rubrik Pendakian yang diasuh oleh Susiana K. Darmawi, dan SKH Terbit Jakarta untuk memantau rubrik yang diasuh oleh Nurinwa Ki S. Herndrowinoto. Hari Minggu membeli SKH Merdeka Jakarta untuk memantau rubrik Seni Budaya yang diasuh oleh Neta S’Pane, dan SKM Swadesi Jakarta untuk memantau rubrik Arena Budaya yang diasuh oleh Mbak Diah Hadaning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di tahun 1980-1989, koran-koran hanya dijual di kios-kios yang ada di pasar koran saja, tidak seperti sekarang kios koran ada di mana-mana, di sepanjang tepi jalan raya atau di hampir setiap mulut gang. Para sastrawan dengan sendirinya harus meluangkan waktunya untuk datang ke pasar koran pada hari-hari yang telah saya sebutkan di atas.&lt;br /&gt;Situasi dan kondisi dimaksud kemudian menimbulkan fenomena di mana para sastrawan kemudian menjalin persahabatan dengan para pemilik kios koran di sekitar tempat tinggalnya masing-masing. Persahabatan terjadi karena para sastrawan dimaksud telah menjadi langganan tetap yang potensial bagi para pemilik kios koran.&lt;br /&gt;Di kota Banjarmasin, pasar koran mula-mula berlokasi di sepanjang Jalan Hasanuddin HM (di seberang bekas gedung bioskop Ria). Kemudian pindah ke dekat bundaran air mancur Hasanuddin HM. Ada 4 kios koran yang menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan Kalsel, yakni Kios Thambrin, Stand 13 Ian Arbi, Stand 14 Ipriyadi, dan Stand 15 Syaiful Alam. &lt;br /&gt;Kedudukan pasar koran pada kurun waktu 1980-1989, boleh jadi sama pentingnya dengan kedudukan Pasar Senen bagi para seniman Jakarta di era 1950-1959 sebagaimana yang digambarkan oleh Misbach Jusa Biran dalam kumpulan cerpennya Keajaiban di Pasar Senen (PT Pustaka Jaya Jakarta, 1971).&lt;br /&gt;Selain merupakan tempat untuk memantau publikasi karya sastranya, pasar koran Banjarmasin telah menjadi tempat diskusi sastra tidak resmi bagi sastrawan Banjarmasin. Di tempat inilah mereka saling berdebat membahas isu-isu mutakhir di seputar dunia sastra yang mereka geluti.&lt;br /&gt;Tidak jarang diskusi sastra tidak resmi ini berlanjut sampai ke rumah saya di bilangan Jalan Kacapiring VII (Kompleks Mawar) atau ke rumah Micky Hidayat di bilangan Jalan Cempaka XI. Dari pasar koran kami jalan kaki sejauh 2 kilometer sambil berdiskusi menuju ke rumah yang dituju.&lt;br /&gt;Pada zamannya, pasar koran pernah menjadi tempat berkumpul yang paling ideal bagi sastrawan Banjarmasin. Posisinya sangat strategis karena hampir semua taksi kota yang datang dari arah Barat dan Utara kota Banjarmasin pasti melewati pasar koran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-6751473043761152952?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/6751473043761152952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/simbiosis-mutulis-antara-sastrawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6751473043761152952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6751473043761152952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/simbiosis-mutulis-antara-sastrawan.html' title='SIMBIOSIS MUTULIS ANTARA SASTRAWAN KALSEL DAN PARA PEMILIK KIOS KORAN DI BANJARMASIN'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2742594079814716946</id><published>2011-01-20T19:59:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T20:02:50.189-08:00</updated><title type='text'>KAMUS PERIBAHASA BANJAR EDISI 2011</title><content type='html'>Judul Buku : Kamus Peribahasa Banjar&lt;br /&gt;Pengarang  :  Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.&lt;br /&gt;Penerbit  :  Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tempat Tahun  :  Banjarmasin, Edisi 2011&lt;br /&gt;Tebal          :  1.539+L halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Salbiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa Banjar merupakan ragam/jenis folklor Banjar yang sesungguhnya sangat familiar di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Hampir semua kegiatan berbahasa yang berlangsung secara formal dan informal di kalangan etnis Banjar di Kalsel selalu diselipi dengan peribahasa Banjar sebagai sarana retorikanya. Meskipun demikian para intelektual kampus yang berasal dari kalangan etnis Banjar sendiri masih belum banyak yang tertarik untuk menjadikan peribahasa Banjar sebagai sumber data untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasinya.&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, penyusun Kamus Peribahasa Banjar (KPB) ini,  merupakan orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar. Syukurlah, yang bersangkutan ternyata adalah orang Banjar. Jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing, maka ghirah semua orang Banjar di seluruh dunia akan cidera karenanya. Tentunya, sangat ironis jika orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar adalah orang asing sebagaimana yang terjadi dalam kasus penulisan buku Jukung Banjar oleh orang Kanada bernama Erick Petersen tempo hari.&lt;br /&gt;KPB ini sendiri sesungguhnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari tesis Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar (2005). Tidak semua paparan yang ada di dalam tesisnya dimuat kembali di dalam KPB. Hanya paparan teoretis tentang karakteristik bentuk, makna, fungsi, dan nilai peribahasa Banjar yang tetap dimasukkannya.&lt;br /&gt;Pertama kali diterbitkan dalam bentuk kamus pada tahun 2006. KPB Edisi 2006 hanya memuat paparan menyangkut 1.538 buah peribahasa Banjar yang sudah dikenal luas sebagai kekayaan milik bersama etnis Banjar di Kalsel. Paparan untuk setiap entri peribahasa Banjar tidak dilakukan secara mendalam sebagaimana yang ada di dalam teks asli tesisnya. Masing-masing peribahasa Banjar itu dipaparkan secara ringkas dengan gaya bahasa yang ringan (populer).&lt;br /&gt;Perubahan gaya bahasa dimaksud dilakukan berdasarkan pertimbangan para pembaca kamus berbeda seleranya dengan para pembaca tesis. Masyarakat awam yang menjadi sasaran penerbitan kamus akan merasa bosan jika peribahasa Banjar dimaksud dipaparkan dengan gaya bahasa tesis. Di dalam kamus ini setiap entri peribahasa Banjar cuma dipaparkan dalam 5-10 baris saja, sementara di dalam tesis dipaparkan dalam 6-8 halaman.&lt;br /&gt;KPB 2011 merupakan pengembangan lebih lanjut dari KPB 2006. Didalamnya dimuat 8.216 entri/lema dengan jumlah halaman 1.358+L halaman. Menurut TNG, entri/lema KPB akan terus diperbanyak dari edisi ke edisi. Hampir setiap hari ia bergiat mencari dan mencatat  peribahasa Banjar yang belum masuk ke dalam KPB. TNG yakin, masih banyak peribahasa Banjar yang belum berhasil diinventasikan, didokumentasikan, dan dikaji secara mendalam. Diharapkan, dengan adanya KPB maka upaya-upaya para pihak untuk mengembalikan vitalitas peribahasa Banjar akan menjadi semakin mudah. Insya Allah.&lt;br /&gt;Penerbitan buku-buku local genius sebagaimana yang dilakukan Tajuddin Noor Ganie dengan kamusnya ini harus semakin digiatkan pada masa-masa yang akan datang. Masih banyak kekayaan local genius kita yang terancam punah, sehingga harus segera diinventarisasikan, didokumentasikan, dan direvitalisasikan. Jika tidak, kekayaan local genius itu akan menjadi kekayaan budaya yang keberadaannya akan diabaikan oleh generasi muda etnis Banjar di Kalsel.&lt;br /&gt;Fakta menunjukkan, di kalangan etnis Banjar sendiri belum banyak mereka yang kafasitasnya memenuhi kriteria sebagai ahli waris yang pasif atas kekayaan local genius itu, apalagi ahli waris yang aktif. Dalam hal ini yang paling dominan adalah mereka yang sama sekali tidak tahu, tidak tahu menahu, dan tidak mau tahu tentang kekayaan local genius yang sesungguhnya harus mereka warisi dan lestarikan itu. &lt;br /&gt;Hal ini mengingat semua kekayaan local genius itu sengaja diciptakan sebagai bagian dari kegiatan kolektif yang berhubungan dengan hal-hal seperti adat-istiadat, ajaran moral normatif, sosial ekonomi, estetika, etika, filsafat, norma-norma politik, dan sejarah lokal. Semua aspek sosial budaya di atas merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel. &lt;br /&gt;Khusus menyangkut kekayaan local genius berbentuk peribahasa Banjar, sejak awal diciptakan sudah mengemban fungsi sosial sebagai wahana pewarisan dan pemahaman gagasan tata nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak hanya itu, melalui  peribahasa Banjar sebagai medianya, etnis Banjar di Kalsel dapat mengungkapkan alam pikiran, sikap hidup, dan sistem sosial budaya mereka.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, tidak dapat dipungkiri peribahasa Banjar memiliki arti penting, setidak-tidaknya ada 3 fakta empirik yang menjadi dasar rasionalnya, yakni : (1) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang bersifat intersubjektif, dalam arti bukan sekadar artefak atau fakta kebendaan saja; (2) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang diwujudkan dalam bentuk wacana atau inskripsi dengan kandungan 3 gugus fakta sekaligus, yakni fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran budaya milik bersama, dan fakta sosial (sociofact) dari etnis Banjar; dan (3) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang berhubungan dengan dunia gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan tentang konstruksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya etnis Banjar.&lt;br /&gt;Dalam kedudukannya sebagai kekayaan budaya milik bersama, etnis Banjar dapat mempergunakan peribahasa Banjar sebagai media untuk mengekspresikan atau merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya yang khas suku bangsa mereka. Melalui peribahasa Banjar sebagai media komunikasinya, generasi tua etnis Banjar dapat menyampaikan semua ajaran, informasi, nasihat, dan semua kearifan lokal lainnya kepada generasi penerusnya, sehingga kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional berbahasa Banjar ini tetap lestari dari generasi ke generasi. &lt;br /&gt;Selain itu, peribahasa Banjar juga menampilkan gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan mereka sebagai suku bangsa. Bahkan, peribahasa Banjar juga dapat dipandang sebagai wacana, sekaligus juga inskripsi, yang merepresentasikan proses dialektika yang berkembang dalam konteks konstruksi realitas budaya etnis Banjar. Ironis, fakta empirik peribahasa Banjar yang begitu istimewa, ternyata tidak diimbangi dengan fakta historis peribahasa Banjar yang terbilang istimewa juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2742594079814716946?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2742594079814716946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kamus-peribahasa-banjar-edisi-2011.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2742594079814716946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2742594079814716946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kamus-peribahasa-banjar-edisi-2011.html' title='KAMUS PERIBAHASA BANJAR EDISI 2011'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3536759893433542086</id><published>2011-01-20T19:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T19:48:41.962-08:00</updated><title type='text'>DAFTAR PUBLIKASI BERITA, CERPEN, ESEI SASTRA DAN PUISI KARANGAN TAJUDDIN NOOR GANIE DI BERBAGAI KORAN/MAJALAH SEPANJANG TAHUN 2010</title><content type='html'>1.Datung Gariwai Kawin dengan Puteri Kerajaan Babi Siluman, Majalah Misteri,  Jakarta, Nomor  480/Edisi  05–19 Januari 2010.&lt;br /&gt;2.Batu Bertuah Magis dalam Sistem Kepercayaan Tradisional Etnis Banjar di Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 16 Januari 2010&lt;br /&gt;3.Kalung Bertuah Magis dalam Sistem Kepercayaan Tradisional Etnis Banjar di Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 23 Januari 2010&lt;br /&gt;4.Air Bertuah Magis dalam Sistem Kepercayaan Tradisional Etnis Banjar di Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 30 Januari 2010&lt;br /&gt;5.Pengalaman Pribadi sebagai Pendulang Intan, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 6 dan 8 Februari 2010.&lt;br /&gt;6.Tragedi Intan Trisakti, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 13 dan 15 Februari 2010&lt;br /&gt;7.Telah lahir 152 Sastrawan Baru di Kalsel Selama 10 Tahun Terakhir, SKH Barito Post, Banjarmasin, Selasa, 16 Februari 2010&lt;br /&gt;8.Kamus Profil 27 Butir Intan Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 20 Februari 2010&lt;br /&gt;9.Pohon Pulantan Kiriman dari Langit, Majalah Misteri, Jakarta, Nomor 483/Edisi 20 Februari – 04 Maret 2010.&lt;br /&gt;10.Berbagai Pantangan di Lokasi Pendulangan Intan, Majalah Misteri, Jakarta, Nomor 484/Edisi 05 Maret – 19 Maret 2010.&lt;br /&gt;11.Intan Kerajaan Banjar Dirampok Belanda, Majalah Misteri, Jakarta, Nomor 484/Edisi 05–19 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Tengah Malam di Kuala Lumpur, SKH Banjarmasin Post, Banjarmasin, Minggu, 21 Februari 2010&lt;br /&gt;13.Legenda Awi tadung dan Ular Buntung, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 28 Februari 2010.&lt;br /&gt;14.Daftar Rekor Fisik 27 Butir Intan Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 27 Februari dan Senin 1 Maret 2010&lt;br /&gt;15.Sejarah Eksploitasi Intan Placer di Kalsel, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 6, Senin 8, dan Selasa 9 Maret 2010&lt;br /&gt;16.Kain Sasirangan dan Mitos Tolak Bala, SKH Media Indonesia, Jakarta, Sabtu, 20 Maret 2010&lt;br /&gt;17.Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair Tasawuf, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 3 dan Senin 5 April  2010&lt;br /&gt;18.Sejarah Eksploitasi Intan di Kalsel, Majalah Misteri, Jakarta, Nomor 486/Edisi 05-19 April  2010&lt;br /&gt;19.Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair Agama, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 10 dan 12 April  2010&lt;br /&gt;20.Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair Asmara, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 17 dan Senin 19 April  2010&lt;br /&gt;21.Tragedi Intan Trisakti, Majalah Misteri, Jakarta, Nomor 487/Edisi 20 April – 04 Mei 2010&lt;br /&gt;22.Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair Tasawuf, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 1 dan Senin, 3 Mei  2010&lt;br /&gt;23.Metafora Laut Dibatas Laut, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 8 Mei  2010&lt;br /&gt;24.Kisah Bidan Unah di Sungai Paring, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 15 Mei  2010&lt;br /&gt;25.Batatamba, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 22 Mei 2010&lt;br /&gt;26.Sumpah Sarapah Pengusir Kuyang, Majalah Misteri, Jakarta, Edisi 491/20 Juni – 04 Juli 2010&lt;br /&gt;27.Bapa Urang Pahuma, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 29 Mei 2010&lt;br /&gt;28.Sekilas Tentang Diksi Puisi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 5 Juni 2010&lt;br /&gt;29.Teori Diksi Puisi M Atar Semi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 19 Juni 2010&lt;br /&gt;30.Teori Diksi Puisi Kinayanti Djojosuroto, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 12 Juni 2010&lt;br /&gt;31.Teori Diksi Puisi Rachmat Djoko Pradopo, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 26 Juni 2010&lt;br /&gt;32.Jagat Sastra Kalsel 2000-2009, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 4 Juli 2010&lt;br /&gt;33.Teori Struktur Puisi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 3 Juli 2010&lt;br /&gt;34.Teori Genre/Jenis Puisi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 17 Juli dan Senin 19 Juli 2010&lt;br /&gt;35.Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 24 dan Senin 26 Juli 2010&lt;br /&gt;36.Teori Diksi Puisi Wahyudi Siswanto, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 31 Juli 2010&lt;br /&gt;37.Etimologi dan Definisi Puisi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 7, Senin, 9, dan Selasa 10 Agustus  2010&lt;br /&gt;38.Teori Bahasa Berkias Abdul Rozak Zaidan dan Kawan-kawan, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 14 Agustus  2010&lt;br /&gt;39.Teori Bahasa Berkias M Atar Semi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 21 Agustus  2010&lt;br /&gt;40.Teori Bahasa Berkias Supratman Abdul Rani, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 28 Agustus  2010&lt;br /&gt;41.Selamat Jalan Dosen dan Sahabatku, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 5 September 2010&lt;br /&gt;42.Teori Bahasa Berkias Wahyudi Siswanto, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 18 September  2010&lt;br /&gt;43.Bumburaya, Hantu Pemakan Mayat, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 19 September 2010&lt;br /&gt;44.Teori Bahasa Berkias Kinayanti Djojosuroto, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 25 September  2010&lt;br /&gt;45.Review Buku-buku Tajuddin Noor Ganie, SKH Barito Post, Banjarmasin, Sabtu, 25 September 2010&lt;br /&gt;46.Antologi Biografi 543 Sastrawan Kalsel, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 26 September 2010 dan 03 Oktober 2010&lt;br /&gt;47.Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi, dan Nilai Peribahasa Banjar, SKH Barito Post, Banjarmasin, Sabtu, 27 September 2010&lt;br /&gt;48.Memulihkan Fungsi Sosial Peribahasa Banjar, SKH Media Kalimantan, Banjarmasin, Minggu, 28 September 2010&lt;br /&gt;49.Teori Bahasa Berkias Hasanuddin WS dan kawan-kawan, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 2 Oktober  2010&lt;br /&gt;50.Upaya untuk Memulihkan Fungsi Sosial Peribahasa Banjar, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 9 Oktober  2010&lt;br /&gt;51.Kamus Mimpi Orang Banjar, SKH Media Kalimantan, Banjarmasin, Minggu, 13 Oktober 2010&lt;br /&gt;52.Mendulang Intan di Cempaka Tak Lagi Menjanjikan, SKH Media Kalimantan, Banjarmasin, Minggu, 13 Oktober 2010&lt;br /&gt;53.Mengkritisi Lima Definisi Sastra Banjar, SKH Barito Post, Banjarmasin, Minggu, 14 Oktober 2010&lt;br /&gt;54.Tragedi Intan Trisakti, SKH Barito Post, Banjarmasin, Sabtu, 17, Senin, 18, dan Selasa, 19 Oktober 2010&lt;br /&gt;55.Teori Bahasa Puisi Bersajak Berirama Abdul Rozak Zaidan dan Supratman Abdul Rani, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 16 Oktober  2010&lt;br /&gt;56.Kamus Peribahasa Banjar, SKH Barito Post, Banjarmasin, Selasa, 19 Oktober 2010&lt;br /&gt;57.Sastrawan Kalsel Siapa Dia, SKH Barito Post, Banjarmasin, Kamis, 21 Oktober 2010&lt;br /&gt;58.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Merayu Sukma, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 23 Oktober  2010&lt;br /&gt;59.Fungsi Magis Kain Sasirangan, SKH Banjarmasin Post, Banjarmasin, Sabtu, 23 Oktober 2010&lt;br /&gt;60.Definisi Sastrawan Kalsel : Jawaban untuk Sainul Hermawan, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 24 Oktober 2010&lt;br /&gt;61.Profil 27 Butir Intan Kalsel, SKH Barito Post, Banjarmasin, Kamis, 28 Oktober 2010&lt;br /&gt;62.Teori Bahasa Puisi Bersajak Berirama M Atar Semi, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 30 Oktober  2010&lt;br /&gt;63.Calo Tiket Kapal Laut, SKH Media Kalimantan, Banjarmasin, Minggu, 31 Oktober 2010&lt;br /&gt;64.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Merah Johansyah, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 6 November  2010&lt;br /&gt;65.Teori Bahasa Puisi Bersajak Berirama Wahyudi Siswanto, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 13 November  2010&lt;br /&gt;66.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Kasyful Anwar, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 27 November  2010&lt;br /&gt;67.Nazar, SKH Banjarmasin Post, Banjarmasin, Minggu, 28 November 2010&lt;br /&gt;68.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Abdul Muin Cuty, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 4 Desember  2010&lt;br /&gt;69.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Abdul Jabbar, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 11 Desember  2010&lt;br /&gt;70.Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Hadharyah M Sulaiman, SKH Kalimantan Post, Banjarmasin, Sabtu, 18 Desember  2010&lt;br /&gt;71.Upaya untuk Menghargai Pluralitas Sastrawan Kalsel, SKH Radar Banjarmasin, Banjarmasin, Minggu, 19 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3536759893433542086?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3536759893433542086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/daftar-publikasi-berita-cerpen-esei.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3536759893433542086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3536759893433542086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/daftar-publikasi-berita-cerpen-esei.html' title='DAFTAR PUBLIKASI BERITA, CERPEN, ESEI SASTRA DAN PUISI KARANGAN TAJUDDIN NOOR GANIE DI BERBAGAI KORAN/MAJALAH SEPANJANG TAHUN 2010'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5319314990836907694</id><published>2011-01-03T19:00:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T19:10:00.509-08:00</updated><title type='text'>KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SEJUMLAH EVEN PENTING SELAMA TAHUN  2010</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd&lt;br /&gt;Pengelola dan Pemilik Pusat Pengkajian Masalah Sastra&lt;br /&gt;(Puskajimastra) Kalsel di Banjarmasin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU, 21 AGUSTUS 2010&lt;br /&gt;Dewan Kesenian Kota Banjarbaru menyelenggarakan acara Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastrawan VII di Taman Air Mancur DAWN van der Vijl, Minggu Raya, Banjarbaru. Tema yang diusung dalam acara ini adalah Capita Selekta Kepenyairan Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 6 SEPTEMBER 2010&lt;br /&gt;Di kota Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, diselenggarakan acara Malam Anugerah Seni dan Tadarus Puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM’AT, 26 NOVEMBER 2010&lt;br /&gt;Aruh Sastra Kalsel VII digelar selama 3 hari di kota Tanjung. Panitia pelaksana menerbitkan 2 judul buku sekaligus, yakni antologi puisi bersama Menyampir Bumi Leluhur dan antologi puisi dan cerpen bersama Manyanggar Banua.&lt;br /&gt;Erika Adriani memborong dua gelar supremasi yang diperebutkan dalam lomba menulis puisi dan cerpen berbahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung ini, yakni sebagai pemenang pertama. Peristiwa ini merupakan peristiwa pertama di mana seorang sastrawan Kalsel berhasil meraih dua gelar sekaligus dalam ajang Aruh Sastra Kalsel. &lt;br /&gt;Erika Adriani, lahir di Banjarmasin, Kalsel, 18 Agustus 1982. Sarjana S.1 Bahasa Inggeris di STKIP PGRI Banjarmasin (2006). Sejak tahun 2008 bekerja sebagai PNS Guru di SMP Negeri Batu Mandi, Kabupaten Balangan, Kalsel. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi dan cerpen sejak tahun 2000-an. Publikasi puisinya antara lain di SKH Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, dan Kalteng Post Palangka Raya. Puisinya ikut dimuat dalam antologi puisi dan cerpen bersama Darah Penanda (Ali Syamsuddin Arsi, 2008. Banjarbaru), dan Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah (Marabahan, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 20 DESEMBER 2010&lt;br /&gt;Diskusi sastra membahas antologi cerpen Sainul Hermawan berjudul Pelajaran Bahasa (Pustaka Prima Bantul, Yogyakarta) diselenggarakan di Gedung Pusat Perpustakaan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Diskusi sastra diselenggarakan berkenaan dengan peluncuran antologi cerpen dimaksud. Tampil sebagai pembicara adalah M. Zainal Arifin Anis, Nailiya Nikmah, Nachdiansyah Abdi, dan Noor Cahaya.&lt;br /&gt;Sainul Hermawan, lahir di Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, 13 Maret 1973. Sarjana S.1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggeris FKIP Universitas Islam Malang, dan Sarjana S.2 Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Gadjahmada Yogyakarta (wisuda, 2003). &lt;br /&gt;Sejak Pebruari 2005, diangkat sebagai Dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Sejak itu pula mulai dikenal luas sebagai sastrawan, pengamat sastra, dan kritikus sastra di Kalsel. &lt;br /&gt;Publikasi  karya sastranya antara lain di SKH Malang Post, SKH Posinfo Malang, SKH Warta Malang, SKH Pendidikan Malang, SKH Metro Pos Malang, SKH Kompas Jatim Malang, SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin, Jurnal Pendar Solo, Jurnal Kandil Banjarmasin, Jurnal Metafor Banjarmasin, dan Jurnal Wiramartas Banjarmasin.&lt;br /&gt;Bukunya yang sudah terbit antara lkain Tionghoa dalam Sastra Indonesia (2005), Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2005-2007 (Tahura Media Banjarmasin, 2007), Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis (PBS FLIP, Banjarmasin, 2006),  Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel (Tahura Media Banjarmasin, 2009), dan Sastra Banjar Kontekstual (antologi esei bersama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS, 30 DESEMBER 2010&lt;br /&gt;Surat Kabar Radar Banjarmasin menggelar acara bertajuk Refleksi Akhir Tahun 2010 bertempat di Taman Air Mancur DAWN van der Vijl, Minggu Raya, Banjarbaru. Pada kesempatan itu juga diserahkan Award Radar Banjarmasin kepada Sainul Hermawan (sebagai penulis esai sastra) dan M. Fuad Rahman (sebagai cerpenis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5319314990836907694?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5319314990836907694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010-sejumlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5319314990836907694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5319314990836907694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010-sejumlah.html' title='KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SEJUMLAH EVEN PENTING SELAMA TAHUN  2010'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5230445251814903526</id><published>2011-01-03T18:53:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T18:58:10.020-08:00</updated><title type='text'>KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SASTRAWAN KALSEL YANG MENINGGAL DUNIA TAHUN 2010:</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd&lt;br /&gt;Pengelola dan Pemilik Pusat Pengkajian Masalah Sastra&lt;br /&gt;(Puskajimastra Kalsel) di Banjarmasin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM’AT, 27 AGUSTUS 2010&lt;br /&gt;Drs. Jarkasi M.Pd, sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1980-1989, pukul 21.30 Wita meninggal dunia di Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, pada usia 50 tahun. Jarkasi lahir di Kertak Hanyar, 30 Mei 1960. Sarjana S.1 dan S.2 PBS FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Bekerja sebagai PNS, dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak tahun 1980-an. Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya Publikasi puisinya antara lain di SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita Banjarmasin, SKH Radar Banjarmasin, Tabloid Wanyi Banjarmasin, dan Tabloid Jendela Serawak, Malaysia. &lt;br /&gt;Antologi cerpennya Suara Suara Burung. Buku-bukunya antara lain Struktur Lamut (1996), Karakter Tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern (1999), Kajian Prosa Fiksi dan Drama (1999), Retorika Pantun dalam Sistem Kritik Masyarakat Banjar (2001), dan Mamanda, Dari Tradisional ke Kesenian Populer (2004). &lt;br /&gt;Hasil pemikirannya tentang sastra Banjar ikut dimuat dalam buku berjudul Sastra Banjar Kontekstual (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU, 3 OKTOBER 2010&lt;br /&gt;H. Rizhanuddin Rangga, S.Pd, sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1970-1979, meninggal dunia di Marabahan pada usia 53 tahun. Lahir di Barito Utara, Kalteng, 10 November 1957. Sarjana S.1 PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (1994). Bekerja sebagai PNS, Guru SD (1978-2001), Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Barito Kuala di Marabahan (2001-2004), dan Dinas Sosial Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Barito Kuala di Marabahan (sejak 2004). &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi dan naskah drama sejak tahun 1970-an. Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Banjarmasin Post. Antologi puisi pribadinya lain Nyanyian Rindu Bagi Tanah Kelahiranku (Banjarmasin, 1982). &lt;br /&gt;Puisi-puisinya ikut dimuat dalam antologi puisi bersama Ampalas (Marabahan, 1974), Penjuru Angin (Marabahan, 1978), Riak Riak Barito (Marabahan, 1979), Kuala (Marabahan, 1984), Menatap Cermin (Marabahan, 1988), Tembang Sungai Lirik (Marabahan, 1993), Rimbun Tulang (Marabahan, 1994), Bahalap (Marabahan, 1995), Pelabuhan (Marabahan, 1996), Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006), dan Cinta Rakyat (Marabahan, 2007). &lt;br /&gt;Naskah drama yang sudah ditulisnya antara lain Yang Terlupakan (1978), Garis Garis Pelangi (1980), Raden Pengantin (1981), Ketika Padi Dituai (Sendratari, 1981), Pelangi di Rembang Petang (1984), Ada Fajar di Bola Matanya (1987), dan Mencari Fajar (1987). &lt;br /&gt;Tahun 2000, menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalsel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU, 28 NOVEMBER 2010, &lt;br /&gt;H. Ahmad Safwani Ibahy (ASI) bin Ismail Bakri, sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde lama 1960-1969, meninggal dunia di RS Pelni Jakarta dalam usia 69 tahun dan dimakamkan di Banjarmasin, Senin, 29 November 2010 (SKH Banjarmasin Post, Selasa, 30 November 2010).&lt;br /&gt;Lahir di Muara Teweh, Barito Utara, Kalteng, 28 November 1941. Bekerja sebagai wartawan. Tahun 1979-1987 menjadi Kepala Cabang Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Cabang Banjarmasin. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi sejak tahun 1960-an. Publikasi puisinya antara lain di Majalah Sastra Jakarta (Jiwa Kami, Edisi 4,5,6 April, Mei, Juni 1962), Majalah Budaya Yogyakarta, dan SKH Banjarmasin Post (1971-1989). &lt;br /&gt;Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain Perkenalan di Dalam Sajak (Banjarmasin, 1963), dan Dengarlah Bicara Kami (Banjarmasin, 1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5230445251814903526?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5230445251814903526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010_03.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5230445251814903526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5230445251814903526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010_03.html' title='KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SASTRAWAN KALSEL YANG MENINGGAL DUNIA TAHUN 2010:'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6121419969209713547</id><published>2011-01-03T18:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T18:50:10.840-08:00</updated><title type='text'>KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SASTRAWAN KALSEL YANG MENERBITKAN BUKU SASTRA TAHUN 2010</title><content type='html'>Tajuddin Noor Ganie, M. Pd&lt;br /&gt;Pengelola dan Pemilik Pusat Pengkajian Masalah Sastra &lt;br /&gt;(PUSKAJIMASTRA) Kalimantan Selatan di Banjarmasin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 4 JANUARI 2010&lt;br /&gt;Puskajimastra Kalsel mulai menyebar-luaskan buku Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Antologi Biografi Sastrawan Kalsel (ABSKS) dan Sejarah Lokal Kesuastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009 (SLKIKS 1930-2009) &lt;br /&gt;ABSKS memuat profil apa dan siapa 543 sastrawan Kalsel yang terbilang menonjol prestasi, reputasi, dan dedikasi kesastrawanannya (tebal 413+26 halaman). Sedangkan SLKI-KS merupakan salah satu dari sejumlah versi sejarah lokal kesuastraan Indonesia di Kalsel. Isi kedua buku ini bersifat saling melengkapi satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Menurut versi Tajuddin Noor Ganie, sejarah lokal kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009 terdiri atas 9 kelompok generasi. Setiap kelompok generasi sastrawan Kalsel memiliki fenomena sastra pers, sastra buku, dan wawasan estetik karya sastra yang berbeda satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Buku SLKI-KS 2009 merupakan pengembangan lebih lanjut dari buku berjudul sama yang telah diterbitkan secara terbatas pada tahun 1995. Tujuan penerbitan buku SLKI-KS 2009 adalah untuk menampung data-data mutakhir yang berhasil dikumpulkan penulisnya pada tahun 1996-2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 1 MARET 2010&lt;br /&gt;Penerbit Atria Jakarta menerbitkan novel karangan Farah Hidayati berjudul Loversus.&lt;br /&gt;Farah Hidayati, lahir di Banjarmasin, Kalsel, 1981. Sarjana S.1 PTN di Bandung. Mulai menulis cerpen dan novel sejak tahun 1990-an. &lt;br /&gt;Tahun 2005, meraih prestasi sebagai pemenang pertama dalam lomba menulis novel remaja yang diselenggarakan oleh PT Grasindo Jakarta. Judul novelnya Rumah Tumbuh, tahun 2005 itu juga diterbitkan oleh PT Grasindo Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS, 1 APRIL 2010&lt;br /&gt;Penerbit Frame Publisihing Yogyakarta menerbitkan buku kumpulan guman karangan Ali Syamsuddin Arsi berjudul Istana Daun Retak. &lt;br /&gt;Ali Syamsuddin Arsi, lahir di Barabai, Kalsel, 5 Juni 1964. Namun, tempat dan tanggal lahirnya yang benar menurutnya adalah di Tubau, Kecamatan Labuhan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, 23 Desember 1963. ASA sendiri cuma nama pena sebagai sastrawan saja, nama resmi yang dipergunakannya di dalam surat-surat penting miliknya adalah Syamsuddin. Ketika tinggal di Yogyakarta (1981-1984), ASA bahkan pernah mempergunakan nama pena Jack Udon (JU). &lt;br /&gt;Lulusan SD Pancasila Murung Pudak (lulus, 1977), SMP Patra Dharma Tanjung (lulus, 1980), SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (lulus, 1984), Diploma 3 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di P3TK Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin (wisuda, 1987), dan Sarjana S.1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Terbuka UPBJJ Banjarmasin (wisuda, 2001). Bekerja sebagai PNS, sejak tahun 1988 menjadi guru SMPN Sebamban, Tanah Bumbu. Tahun 2001, ASA pindah bekerja sebagai guru di SMPN XIII Banjarbaru. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi puisinya di RRI Banjarmasin, SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita Banjarmasin, SKH Radar Banjarmasin, Tabloid Wanyi Banjarmasin, SKH Surya Surabaya, SKH Masa Kini Yogyakarta, Majalah Kuntum Yogyakarta, Jurnal Cerpen Borneo Banjarmasin, Majalah Kerabat Banjarmasin, Tabloid Jendela Serawak (Malaysia), dan Majalah Bahana Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam). &lt;br /&gt;Tahun 1987, puisinya berjudul Seribu Ranting Satu Daun pernah dimuat secara bersambung setiap hari di rubrik Dahaga-B.Post. &lt;br /&gt;Antologi puisinya antara lain Asa (Banjarmasin, 1986), Seribu Ranting Satu Daun (Banjarmasin, 1987), Tafsir Rindu (Banjarmasin, 1992), Anak Bawang (Banjarbaru, 2004), Bayang Bayang Hilang (Banjarbaru, 2004), Pesan Luka Indonesiaku (Banjarbaru, 2005), dan Bukit Bukit Retak (Banjarbaru, 2006). &lt;br /&gt;Puisinya ikut dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain Banjarmasin (Banjarmasin, 1986), Bias Puisi dalam Al Qur’an (Banjarmasin, 1987), Banjarmasin dalam Puisi (Banjarmasin, 1987), Tamu Malam (Banjarmasin, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Tajuddin Noor Ganie, Banjarmasin, 1992), Jendela Tanah Air (Banjarmasin, 1995), Kesaksian (Banjarmasin, 1998), dan Wasi (Banjarmasin, 1999).&lt;br /&gt;Tahun 2001-2005, puisi-puisinya ikut dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain Bahana (Banjarbaru, 2001), Narasi Matahari (Banjarbaru, 2002), Reportase (Banjarbaru, 2004), Air Mata Malam Malam (Banjarbaru, 2004), Mendulang Cahaya Bulan (Banjarbaru, 2005), Dimensi (Banjarbaru, 2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005).&lt;br /&gt;Tahun 2006-2007, puisi-puisinya ikut dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain Menadah Turunan Hujan (Banjarbaru, 2006), Antologi Puisi Penyair Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan (Banjarbaru, 2006), Taman Banjarbaru (Banjarbaru, 2006), Membilas Miang Kabut (Banjarbaru, 2006), Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006), Ronce Bunga Bunga Mekar (2007).&lt;br /&gt;Tahun 2008-2009, puisi-puisinya ikut dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain Kenduri Puisi, Buah Hati untuk Diah Hadaning (2008), Tanah Pilih (2008), Tarian Cahaya Bumi Sanggam (Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008), Bertahan di Bukit Akhir (Barabai, 2008), Komunitas Sastra Indonesia (Catatan Perjalanan, Penerbit KSI Tangerang, 2008), Kenduri Puisi (Buah Hati untuk Diah Hadaning, Penerbit Ombak Jakarta, 2008), Tanah Pilih (Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi, 2008), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Antologi Puisi Bersama Temu Sastrawan Indonesia II, Bangka Belitung, 2009), dan Mengalir Oase (Editor H. Shobir, Penerbit KSI Tangerang, 2010)). &lt;br /&gt;Tahun 1998-2000, ASA menjadi anggota bidang sastra di Dewan Kesenian Kotabaru. Tahun 1999, ASA menerima hadiah seni bidang sastra dari Bupati Kotabaru (MBA Bektam). Tahun 2000, ASA ikut mendirikan Forum Taman Hati Banjarbaru. Tahun 2001, ASA menjadi Ketua Bidang Sastra di Dewan Kesenian Banjarbaru. &lt;br /&gt;Tahun 2005 menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Rudy Ariffin MM). Biografi kesastrawannya ikut dimuat dalam Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (Balai Bahasa Banjarmasin, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU, 1 MEI 2010&lt;br /&gt;Penerbit Araska Publisher Yogyakarta menerbitkan buku kumpulan cerpen karangan Mahmud Ali Jauhari berjudul Imanku Tertelungkup di Kakinya.&lt;br /&gt;Majmud Jauhari Ali, lahir di Banjarmasin, 15 Januari 1982. Sejak tahun 2004 bekerja sebagai PNS dengan jabatan fungsional sebagai peneliti di Balai Bahasa Palangka Raya. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak tahun 2000-an. Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua Banjarmasin, Tabloid Spirit Kalsel Banjarmasin, Tabloid Serambi Ummah Banjarmasin, dan Majalah Nawala (terbitan Pusat Bahasa Jakarta).&lt;br /&gt;Buku sastranya yang sudah diterbitkan antara lain Kupu Kupu Kuning (antologi puisi, Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar, 2008), Menanti Tamu Lebaran (antologi cerpen, Komunitas Sastra Kertak Hanyar, 2008), dan Lingkaran Kata (antologi esei sastra, Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar, 2008). Puisinya ikut dimuat dalam antologi bersama Do’a Pelangi di Tahun Emas (Marabahan, 2009) dan Manyampir (Tanjung, 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELASA, 1 JUNI 2010&lt;br /&gt;Tahura Media Banjarmasin menerbitkan antologi cerpen karangan M. Hasbi Salim berjudul Magnet Baitullah.&lt;br /&gt;M. Hasbi Salim, lahir di Rumpiang, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar, 26 Juli 1963. Sarjana S.1 Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin. Bekerja sebagai PNS, Guru SMA Negeri I Amuntai, dan Dosen STIQ Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi dan cerpen  sejak tahun 1990-an. Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Banjarmasin Post, Tabloid Serambi Ummah Banjarmasin, SKH Radar Banjarmasin, Majalah Al Kisah Jakarta, Majalah Kartini Jakarta, Majalah Kiblat Jakarta, SKH Kompas Jakarta, dan Majalah Mentari Surabaya. &lt;br /&gt;Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006), dan Do’a Pelangi di Tahun Emas (Marabahan, 2009). &lt;br /&gt;Antologi cerita anak-anak karangannya yang sudah diterbitkan antara lain Putri Sasirangan (2006), Misteri Pohon Kasturi (Widya Duta Bandung, 2007), dan Dunia Sahabat (Zikrul Hakim Jakarta, 2007). &lt;br /&gt;Antologi cerpennya yang sudah terbit adalah Magnet Baitullah (Tahura Media Banjarmasin, 2010). &lt;br /&gt;Bersama Harun Al Rasyid menerbitkan buku kumpulan cerita rakyat berjudul Kambang Barenteng (Adicita Yogyakarta, 2004). &lt;br /&gt;Bukunya yang lain Pesona Bunga Banjar (1999), Maangkat Kuitan dan Badangsanakan, Kiat Harmonis Masyarakat Banjar (2000), Beternak Itik Alabio (2004), dan Bunga Rampai Haji dan Umrah (Jakarta, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS, 1 JULI 2010&lt;br /&gt;Puskajimastra Kalsel mulai menyebar-luaskan buku kumpulan cerpen Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Tengah Malam di Kuala Lumpur. Didalamnya dimuat cerpen-cerpen TNG yang ditokohi oleh para tokoh dengan ciri-ciri sosiologis dan psikologis khas orang Banjar di Kalsel. Begitu pula halnya dengan latar tempatnya, juga merujuk kepada pelukisan alam yang khas daerah Kalsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS, 8 JULI 2010&lt;br /&gt;Tahura Media Banjarmasin menerbitkan buku kumpulan puisi karangan Hajriansyah berjudul 99 Puisi Hajri.&lt;br /&gt;Hajriansyah, lahir di Banjarmasin, 10 Oktober 1979. Alumnus Pondok Pesantren Darul Hijriah Banjarbaru, Modern School of Design Yogyakarta, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi sejak tahun 2000-an. Publikasi puisinya antara lain di SKH Radar Banjarmasin dan SKH Media Kalimantan Banjarmasin. &lt;br /&gt;Antologi puisi prbadinya adalah Jejak Air (Banjarmasin, 2007). Puisi-puisinya ikut dimuat dalam antologi puisi bersama Jejak Jejak Angin (M. Nahdiansyah Abdi, 2007), dan Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (Paringin, 2008). &lt;br /&gt;Antologi cerpen pribadinya yang sudah diterbitkan adalah Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Tahura Media Banjarmasin, 2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS, 15 JULI 2010&lt;br /&gt;Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Banjarmasin menerbitkan buku kumpulan cerpen karangan Nailiya Nikmah JKF berjudul Rindu Rumpun Ilalang.&lt;br /&gt;Nailiya Nikmah JKF, lahir di Banjarmasin, 9 Desember 1980. Sarjana S.1 dan S.2 PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Tinggal di Banjarmasin. Bekerja sebagai PNS Dosen Politeknik Negeri Banjarmasin. &lt;br /&gt;Mulai menulis cerpen dan esei sastra sejak tahun 2000-an. Cerpennya ikut dimuat dalam antologi cerpen bersama Nyanyian Tanpa Nyanyian (2009). Aktif bergabung dalam organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Kalsel, dan Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM’AT, 1 OKTOBER 2010&lt;br /&gt;Tahura Media Banjarmasin menerbitkan antologi cerpen karangan Aliansyah Jumbawuya berjudul Rahasia Perkawinan Sang Bintang.&lt;br /&gt;Aliansyah Jumbawuya, lahir di Desa Jumba, Amuntai, 3 Juni 1973. Nama aslinya Aliansyah. Sarjana S.1 Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Bekerja sebagai wartawan. Tinggal di Banjarbaru. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra  sejak tahun 1990-an. Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Banjarmasin Post,SKH Dinamika Berita Banjarmasin, Tabloid Serambi Ummah Banjarmasin, dan SKH Radar Banjarmasin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM’AT, 8 OKTOBER 2010&lt;br /&gt;Penerbit AKAR Yogyakarta menerbitkan buku kajian puisi karangan Jamal T. Suryanata berjudul Tragika Sang Pecinta : Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani.&lt;br /&gt;Jamal T. Suryanata, lahir di Desa Taniran Selatan, Hulu Sungai Selatan, 1 September 1966. Nama aslinya Jamaluddin. Sarjana S.1 PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (1999), dan Sarjana S.2 PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin (2003). Bekerja sebagai PNS, pernah cukup lama menjadi guru di SDN Batu Ampar, Tanah Laut. Kemudian mutasi ke Dinas Pendidikan Tanah Laut di Pelaihari. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, novel, dan esei sastra sejak tahun 1990-an. Publikasi karya sastranya antara lain di Majalah Basis Yogyakarta, Majalah Gong Yogyakarta, Majalah Horison Jakarta, SKH Kompas Jakarta, SKH Koran Tempo Jakarta, SKH Republika Jakarta, Majalah Matabaca Jakarta, Majalah Matra Jakarta, Majalah On/Off, Majalah Suara GuruSKM Swadesi Jakarta, Majalah Al Zaytun, SKH Bali Post Denpasar, SKH Surya Surabaya, SKH Banjarmasin Post, SKM Media Masyarakat Banjarmasin, SKH Dinamika Berita Banjarmasin, Tabloid Wanyi Banjarmasin, SKH Radar Banjarmasin, Jurnal Kandil Banjarmasin, dan Majalah Dewan Sastra Kuala Lumpur Malaysia. &lt;br /&gt;Antologi puisinya yang sudah diterbitkan antara lain Sel (Pelaihari, 1990), Sajak Sepanjang Trotoar (Pelaihari, 1992), dan Topeng Kota Pendaki (Pelaihari, 1992). &lt;br /&gt;Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain Festival Puisi Kalimantan (Tajuddin Noor Ganie, Banjarmasin, 1992), Tamu Malam (Banjarmasin, 1992), Bosnia dan Flores (Banjarmasin, 1993), Batu Beramal II (Batu, Malang, 1995), Kebangkitan Nusantara II (Batu, Malang, 1995), Serayu (1995), Jendela Tanah Air (Banjarmasin, 1995), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ TIM Jakarta, 1996), Wasi (Banjarmasin, 1999), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Jakarta, 2000), La Ventre de Kandangan (Kandangan, 2004), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), Dian Sastro for President (2005), Perkawinan Batu (DKJ TIM Jakarta, 2005), dan Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006). Antologi cerpennya yang sudah terbit antara lain Galuh (Banjarmasin, 2005), dan Bulan di Pucuk Cemara (Banjarmasin, 2006). &lt;br /&gt;Novelnya yang sudah diterbitkan antara lain Untuk Sebuah Pengabdian (Balai Pustaka Jakarta, 1995), Di Bawah Matahari Terminal (Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2001), Boneka untuk Brenda (Jakarta, 2005), dan Penyesalan Sang Pemburu (Pabelan Cerdas Nusantara Jakarta, 2005). &lt;br /&gt;Esei sastranya ikut dimuat di dalam buku berjudul Jendela Terbuka Antologi Esai Mastera (Pusat Bahasa Jakarta, 2005). &lt;br /&gt;Buku JTS yang lain Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Adicita Karya Nusa, 1998), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Adicita Karya Nusa Jakarta, 2003). &lt;br /&gt;Hasil pemikirannya tentang sastra Banjar ikut dimuat dalam buku Sastra Banjar Kontekstual (Banjarmasin, 2006). &lt;br /&gt;Forum sastra yang pernah diikutinya antara lain Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Mimbar Penyair Abad 21 (Jakarta, 1996), Program Penulisan Esai Mastera (Jakarta, 1999), Dialog Borneo Kalimantan VIII (Banjarmasin, 2003), Ubud Writers and Readers Festival (Ubud Bali, 2004), Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara (Jakarta, 2004), Aruh Sastra Kalsel I (Kandangan, 2004), Aruh Sastra Kalsel II (Pagatan, 2005), Cakrawala Sastra Indonesia (DKJ TIM Jakarta, 2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (Pekanbaru, 2005), Aruh Sastra III (Kotabaru, 2006), Festival Kesenian Yogyakarta (2007), Kongres Cerpen V (Banjarmasin, 2007), dan Aruh Sastra Kalsel V (Amuntai, 2007). &lt;br /&gt;Analisis ilmiah atas cerpen berbahasa Banjar karangan JTS dilakukan oleh (1) Henny Armilawati (2006) dalam skripsinya berjudul Kajian Aspek Moral dalam Kumpulan Kisdap Banjar Karya Jamal T Suryanata (Banjarmasin : STKIP PGRI), dan (2) Riska Fuady (2009) dalam skripsinya berjudul Nilai Budaya dan Unsur Mitos dalam Sakindit Kisdap Galuh Karya Jamal T. Suryanata. &lt;br /&gt;Tahun 2006, JTS menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalsel. &lt;br /&gt;Biografi  kesastrawanannya ikut dimuat di dalam Leksikon Susastra Indonesia (Korie Layun Rampan, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Jakarta, 2001), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie, Balai Bahasa Banjarmasin, 2001), dan Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS, Bandung, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 1 NOVEMBER 2010&lt;br /&gt;Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala menerbitkan buku syair karangan H. Rock Syamsuri Sabri berjudul Syair Rumah.&lt;br /&gt;H. Rock Syamsuri Sabri, lahir di Banjarmasin, 11 Juni 1949. Nama aslinya H. Syamsuri (HS). RSS juga sering mempergunakan nama pena S. Bud. Lulusan SD Negeri Banjarbaru (1963), SMP Negeri Banjarbaru (1966), SMA Negeri Banjarbaru (1969), dan PPSDA Banjarbaru (1972). &lt;br /&gt;Sejak tahun 1973 bekerja sebagai PNS di Kantor Wilayah Departemen Penerangan Kalimantan Selatan di Banjarbaru, kemudian sejak tahun 1974 dipindah-tugaskan ke Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Barito Kuala di Marabahan. &lt;br /&gt;Tahun 1997-1999, RSS menjadi anggota DPRD Barito Kuala. Tahun 1999-2004, terpilih kembali menjadi anggota DPRD Barito Kuala. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, esei sastra, dan naskah drama sejak tahun 1970-an. Publikasi karya sastranya antara lain di SKH Banjarmasin Post. &lt;br /&gt;Antologi puisi pribadin antara lain Tembang Buat Ida (), Nyanyian Kuala (Marabahan, 2002), Jajarat dan Kariau (puisi berbahasa Banjar, Marabahan, 2003), dan Rumah Anakku (Marabahan, 2004). &lt;br /&gt;Puisinya ikut dimuat dalam antologi puisi bersama Banjarbaru Kotaku (1974), Riak Riak Barito (Marabahan, 1979), Tujuh Penyair Marabahan (Marabahan, 1984), Gardu (Marabahan, 1998), Rimbun Tulang (Marabahan, 1994), Bunga Api (Banjarbaru, 1994), Bahalap (Marabahan, 1995), Pelabuhan (Marabahan, 1996), Rumah Sungai (Marabahan, 1997), Jembatan Asap (Marabahan, 1998), Nyanyi Sunyi Tsunami (Medan, 2002), Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006), Cinta Rakyat (Marabahan, 2007), Do’a Pelangi di Tahun Emas (Marabahan, 2009), dan Ije Jela Bersastra di Tahun Emas (Marabahan, 2009). &lt;br /&gt;Naskah drama yang sudah ditulisnya antara lain Prahara di Tanjung Puting, Misteri Mutiara Pantai Pasir Putih, Malam yang Sunyi, Perjuangan Perang Banjar, Bara di Meratus, Kilat Mandau di Balik Bukit, Tumenggung Tali Wangsa (Waja Sampai Ka Puting), dan Kembang Kuning Teluk Jului. &lt;br /&gt;Tahun 1997, menerima hadiah seni bidang teater dari Gubernur Kalsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM’AT, 26 NOVEMBER 2010&lt;br /&gt;Berkenaan dengan diselenggarakannya Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung. Panitia pelaksana menerbitkan 2 judul buku sekaligus, yakni antologi puisi bersama Menyampir Bumi Leluhur dan antologi puisi dan cerpen bersama Manyanggar Banua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN, 20 DESEMBER 2010&lt;br /&gt;Pustaka Prima Bantul (Yogyakarta) menerbitkan antologi cerpen Sainul Hermawan berjudul Pelajaran Bahasa diluncurkan. &lt;br /&gt;Sainul Hermawan, lahir di Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, 13 Maret 1973. Sarjana S.1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggeris FKIP Universitas Islam Malang, dan Sarjana S.2 Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Gadjahmada Yogyakarta (wisuda, 2003). &lt;br /&gt;Sejak Pebruari 2005, diangkat sebagai Dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Sejak itu pula mulai dikenal luas sebagai sastrawan, pengamat sastra, dan kritikus sastra di Kalsel. &lt;br /&gt;Publikasi  karya sastranya antara lain di SKH Malang Post, SKH Posinfo Malang, SKH Warta Malang, SKH Pendidikan Malang, SKH Metro Pos Malang, SKH Kompas Jatim Malang, SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin, Jurnal Pendar Solo, Jurnal Kandil Banjarmasin, Jurnal Metafor Banjarmasin, dan Jurnal Wiramartas Banjarmasin.&lt;br /&gt;Bukunya yang sudah terbit antara lkain Tionghoa dalam Sastra Indonesia (2005), Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2005-2007 (Tahura Media Banjarmasin, 2007), Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis (PBS FLIP, Banjarmasin, 2006),  Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel (Tahura Media Banjarmasin, 2009), dan Sastra Banjar Kontekstual (antologi esei bersama).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-6121419969209713547?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/6121419969209713547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6121419969209713547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6121419969209713547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2011/01/kaleidoskop-sastra-kalsel-2010.html' title='KALEIDOSKOP SASTRA KALSEL 2010 : SASTRAWAN KALSEL YANG MENERBITKAN BUKU SASTRA TAHUN 2010'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-4706352690638363298</id><published>2010-12-30T21:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:30:13.321-08:00</updated><title type='text'>TRAGEDI INTAN TRISAKTI</title><content type='html'>Judul Buku : Tragedi Intan Trisakti&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tahun    : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intan Trisakti adalah nama sebutir intan sebesar 166,75 karat. Intan ini ditemukan pada tanggal 26 Agustus 1965 oleh sekelompok pendulang intan dibawah pimpinan H. Madslam dkk (24 orang). Lokasi penemuannya adalah di pendulangan intan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar (sekarang Kota Banjarbaru), Kalsel. Nama Intan Trisakti (IT) diberikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 September 1965. &lt;br /&gt;Menurut versi piagam yang diberikan oleh Menteri Pertambangan Republik Indonesia (Armunanto), IT tidak dijual oleh para penemunya tetapi dipersembahkan kepada Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno (Majalah Sarinah Jakarta). Atas jasa bakti persembahan itu pemerintah berjanji akan memberikan balas jasa yang sepadan kepada para H. Madslam dkk.&lt;br /&gt;Balas jasa memang diberikan dalam bentuk ongkos naik haji untuk para penemu intan ditambah dengan sanak keluarganya, dan para pejabat yang terlibat. Jika dihitung secara keseluruhan, akumulasi uang balas jasa yang diberikan pemerintah kepada H. Madslam dkk ketika itu tercatat sebesar Rp. 3,5 milyar uang lama (sebelum sanering 1965) atau Rp. 3,5 juta uang baru (setelah sanering 1965). Padahal, konon menurut taksiran kasar, harga yang pantas untuk IT ketika itu adalah Rp. 10 trilyun uang lama atau Rp. 10 milyar uang baru.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan masalah uang balas jasa yang tidak sepadan itu, maka pihak penemu IT telah berusaha untuk meminta tambahan uang balas jasa kepada pemerintah. Tapi hasilnya nihil, dan keberadaan IT sendiri sudah tidak dapat diketahui lagi dengan pasti. Hingga sekarang masih diliputi kabut misteri. Tidak ada seorang pun yang mengetauhi dengan pasti di mana IT berada sekarang ini. Nasibnya berbeda dengan Intan Koh I Noor atau Intan Putri Malu yang masih dapat dilacak keberadaannya hingga sekarang ini&lt;br /&gt;Selain memaparkan informasi tentang nasib buruk yang dialami oleh para penemu intan Trisakti, Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG) juga memaparkan informasi tentang (1) Sejarah Eksploitasi Intan Placer di Kalsel, (2) Catatan Kronologis Penemuan 27 Butir Intan Besar di Kalsel 1809-2009, (3) Daftar Rekor Fisik 27 Intan kalsel, (4) Kamus Profil 27 Butir Intan Kalsel, (5) Pengalaman Pribadi sebagai Pendulang Intan, dan (6) Mendulang Intan Tak Lagi Menjanjikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-4706352690638363298?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/4706352690638363298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/tragedi-intan-trisakti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4706352690638363298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4706352690638363298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/tragedi-intan-trisakti.html' title='TRAGEDI INTAN TRISAKTI'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3578909095964771010</id><published>2010-12-30T21:26:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:28:28.057-08:00</updated><title type='text'>TENGAH MALAM DI KUALA LUMPUR</title><content type='html'>Judul Buku : Tengah Malam di Kula Lumpur&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Puskajimastra Kalsel Banjarmasin&lt;br /&gt;Tahun         : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra berbentuk cerpen tidak semata-mata ditulis sebagai hasil permainan imajinasi dan fantasi pribadi para cerpenisnya saja. Tetapi dapat saja merupakan rekaman dokumentasi tertulis menyangkut situasi sosial yang dialami, atau bisa juga merupakan perwujudan dari suatu corak berpikir tertentu yang dikukuhi oleh sekelompok orang yang tinggal di suatu tempat pada kurun waktu tertentu. &lt;br /&gt;Semuanya itu, dapat saja terjadi karena para cerpenis pada umumnya juga mempunyai kecenderungan untuk selalu berusaha menyesuaikan semua unsur intrinsik karya cerpennya dengan selera mayoritas calon pembaca cerpen yang digagasnya. &lt;br /&gt;Proses kreatif penulisan cerpen tidak jarang dipengaruhi oleh faktor genetik yang melekat pada orang yang menjadi penulisnya. Sudah merupakan kelajiman jika seorang cerpenis berdarah Banjar menulis cerpen dengan unsur-unsur intrinsik yang khas orang Banjar. Para tokoh ceritanya digambarkan sebagai tokoh dengan ciri-ciri sosiologis dan psikologis tertentu yang khas orang Banjar. Latar tempat yang dipilihnya adalah latar tempat yang khas alam Tanah Banjar juga.&lt;br /&gt;Latar belakang suku bangsa dan tempat tinggal cerpenis yang mempengaruhi proses kreatif penulisan cerpennya semacam ini lajim disebut sebagai unsur ekstrinsik yang mempengaruhi unsur instrinsik. &lt;br /&gt;Unsur intrinsik yang dipengaruhi oleh unsur ekstrinsik dalam kaitannya dengan latar belakang suku bangsa dan tempat tinggal cerpenis ini tidak hanya unsur tokoh dan latar saja, tetapi juga unsur bahasa. &lt;br /&gt;Sudah lajim jika di dalam cerpen yang ditulis oleh seorang cerpenis Banjar ditemukan istilah-istilah lokal yang harus diberi catatan kaki. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan struktur bahasa Indonesia yang digunakannya merujuk kepada struktur bahasa yang lajim berlaku dalam struktur bahasa Banjar.&lt;br /&gt;Gejala-gejala itulah yang tampaknya terjadi dalam proses kreatif penulisan cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG) yang dikumpulkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul Tengah Malam di Kuala Lumpur (Rumah Pustaka Karya Sastra, Banjarmasin, 2010) ini. Hampir semua tokoh ceritanya dilekati TNG dengan ciri-ciri sosiologis dan psikologis yang khas orang Banjar di Kalsel. Begitu pula halnya dengan latar tempatnya, juga merujuk kepada pelukisan alam yang khas daerah Kalsel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3578909095964771010?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3578909095964771010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/tengah-malam-di-kuala-lumpur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3578909095964771010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3578909095964771010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/tengah-malam-di-kuala-lumpur.html' title='TENGAH MALAM DI KUALA LUMPUR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3254823481502607965</id><published>2010-12-30T21:25:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:26:38.985-08:00</updated><title type='text'>NOVEL TEGAKNYA MASJID KAMI</title><content type='html'>Judul Buku : Tegaknya Masjid Kami&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Puskajimastra Kalsel Banjarmasin&lt;br /&gt;Tahun    : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Tegaknya Masjid Kami (TMK) karangan Tajuddin Noor Ganie (TNG) sebelumnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah surat kabar terbitan Banjarmasin pada tahun 2004 yl.&lt;br /&gt;Sambutan pembaca atas pemuatan cerita bersambung TMK ketika itu sangatlah menggembirakan. Tidak hanya itu, para sastrawan Kalsel juga menyambutnya dengan antusias. Pada tanggal 22 Februari 2004, novel TMK dibahas secara khusus dalam sebuah forum diskusi yang sengaja digelar untuk itu.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan peringatan 483 tahun Kota Banjarmasin, 24 Septemer 2010 ybl, TMK diterbitkan dalam bentuk buku oleh Pusat Pengkajian Masalah sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel Banjarmasin.&lt;br /&gt;TMK bercerita tentang perjuangan Sultan Suriansyah ketika mendirikan Kerajaan Banjar pada tahun 1520-1526. Kerajaan Banjar baru bisa didirikan setelah Sultan Suriansyah berhasil tampil sebagai pemenang dalam perang saudara melawan pamannya Pangeran Temenggung yang ketika itu menjadi rajan secara tidak sah di Kerajaan Negara Daha.&lt;br /&gt;Kerajaan Banjar adalah kerajaan pertama di Pulau Kalimantan yang menjadikan ajaran Islam sebagai ideologi negara menggantikan ajaran nenek moyang yang selama ini menjadi ideologi Kerajaan Negara Daha.&lt;br /&gt;Masjid merupakan simbol yang paling utama dari sebuah kerajaan Islam. Namun, meskipun berstatus sebagai raja yang berkuasa penuh di seantero wilayah kerajaannya, Sultan Suriansyah harus berjuang keras untuk mendirikan masjid pertama di kota Banjarmasin.&lt;br /&gt;Tantangan tidak hanya datang dari para pihak yang selama ini menjadi musuh laten negaranya, tetapi juga datang dari lingkaran dalam istana (ring 1). Persoalan menjadi sangat serius karena para pihak yang menentangnya kali ini adalah para petinggi militer Kerajaan Banjar yang masih tetap kukuh menganut agama nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;Intrik-intrik politik tingkat tinggi inilah yang antara lain diceritakan oleh TNG dalam TMK. Cerita lain yang juga mendominasi adalah cerita tentang kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para peserta sayembara pencarian 4 batang tiang ulin untuk sokoguru masjid. Setiap peserta diceritakan mengalami peristiwa dahsyad di tempat-tempat di mana mereka menebang pohon ulin dimaksud.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3254823481502607965?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3254823481502607965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/novel-tegaknya-masjid-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3254823481502607965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3254823481502607965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/novel-tegaknya-masjid-kami.html' title='NOVEL TEGAKNYA MASJID KAMI'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-1713626357828558396</id><published>2010-12-30T21:22:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:51:09.393-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH LOKAL KESUSASTRAAN INDONESIA DI KALIMANTAN SELATAN 1930-2009</title><content type='html'>Judul Buku : Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009 &lt;br /&gt;Pengarang  : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit   : Puskajimastra Kalsel Banjarmasin&lt;br /&gt;Tahun      : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009 (SLKI KS 1930-2009) ini pada mulanya adalah naskah hasil kaji pustaka yang dilakukan penulisnya terhadap manuskrip, kliping koran/majalah, buku-buku sastra, dan hasil wawancara informal dengan sejumlah narasumber. &lt;br /&gt;Menurut versi buku ini, sejarah lokal kesusastraan Indonesia di Kalsel dimulai sejak tahun 1930, yakni sejak diterbitkannya koran-koran milik para wartawan pribumi, seperti SK Suara Kalimantan,  SK Bintang Borneo, Majalah Malam Jum’at, Majalah Canang, dan Majalah Semarak.&lt;br /&gt;Sejak tahun-tahun pertama penerbitannya koran-koran terbitan Banjarmasin ini sudah memuat karya sastra bergenre modern dalam bahasa Melayu Banjar (bahasa Indonesia ketika itu belum ada). &lt;br /&gt;Karya sastra yang dimuat di berbagai koran/majalah terbitan Banjarmasin pada tahun 1930-1942 inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal fenomena sastra pers di daerah Kalsel (ketika itu namanya masih Zuider Afdeling van Borneo).&lt;br /&gt;Hampir bersamaan waktunya, sejumlah sastrawan Kalsel juga menerbitkan roman/novelnya di berbagai tempat di Kalsel. Roman/novel awal dimaksud Percintaan Yang Membawa Maut (Abdurrahman Karim, Kotabaru, 1937), dan puluhan roman/novel karangan Merayu Sukma yang sangat fenomenal di zamannya itu.&lt;br /&gt;Selama kurun waktu 1930-2009, sejarah lokal kesuastraan Indonesia di Kalsel telah melahirkan 543 orang sastrawan Kalsel yang terbilang menonjol prestasi, reputasi, dan dedikasi kesastrawanannya. &lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie memilah-milah 543 orang sastrawan Kalsel dimaksud ke dalam 9 kelompok generasi menurut babakan sejarahnya masing-masing. Setiap kelompok generasi sastrawan Kalsel memiliki fenomena sastra pers, sastra buku, dan wawasan estetik karya sastra yang berbeda satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Buku ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari buku berjudul sama yang telah diterbitkan secara terbatas pada tahun 1995. Buku Edisi 1995 itu sudah kadaluarsa, sehingga perlu diterbitkan buku baru Edisi 2010 ini untuk menampung data-data mutakhir yang berhasil dikumpulkan selama 15 tahun terakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-1713626357828558396?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/1713626357828558396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/sejarah-lokal-kesusastraan-indonesia-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/1713626357828558396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/1713626357828558396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/sejarah-lokal-kesusastraan-indonesia-di.html' title='SEJARAH LOKAL KESUSASTRAAN INDONESIA DI KALIMANTAN SELATAN 1930-2009'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5088130003924774462</id><published>2010-12-30T21:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:21:54.687-08:00</updated><title type='text'>PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK SYAIR</title><content type='html'>Judul Buku : Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tahun    : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah syair tidak ada padanannya dalam bahasa Banjar, sehubungan dengan itu maka istilah syair langsung diadopsi oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd (TNG) sebagai nama untuk fenomena yang sama yang ditemukannya dalam khasanah puisi rakyat berbahasa Banjar. Sesuai dengan sistem pembentukan istilah yang berlaku dalam bahasa Banjar, istilah syair dinaturalisasikannya menjadi sair. &lt;br /&gt;Definisi syair Banjar menurut versi TNG adalah puisi rakyat bertipe hiburan anonim atau bukan anonim yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khasanah folklor Banjar.&lt;br /&gt;Konvensi bentuk fisik syair Banjar yang berlaku khusus dalam khasanah folklor Banjar meliputi 5 unsur fisik, yakni : (1) Bahasa ungkapnya khusus bahasa Banjar, (2) Tipografi audio-visualnya bersifat khusus, (3) Kata nyatanya bersifat khusus, (4) Rimanya bersifat khusus, dan (5) Iramanya bersifat khusus. &lt;br /&gt;Sementara konvensi bentuk mental pantun Banjar yang berlaku khusus dalam khasanah folklor Banjar meliputi 6 unsur mental, yakni : (1) Temanya bersifat khusus, (2) Perasaannya bersifat khusus, (3) Nadanya bersifat khusus, (4) Amanatnya bersifat khusus, (5) Imajinya bersifat khusus, dan (6) Majasnya bersifat khusus.&lt;br /&gt;Pengertian sifat khusus pada konvensi umum bentuk mental syair di atas merujuk kepada segala sesuatu yang identik dengan alam pikiran dan perasaan yang khas orang Banjar di Kalsel.&lt;br /&gt;Paparan informasi lebih lengkap tentang syair Banjar bisa dibaca lebih lanjut dalam buku karangan TNG. Buku ini sendiri berasal dari bahan kuliah Sastra Banjar yang diberikan oleh TNG kepada para mahasiswanya di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin sejak tahun 1997 yang lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5088130003924774462?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5088130003924774462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-syair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5088130003924774462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5088130003924774462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-syair.html' title='PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK SYAIR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2247291855684193983</id><published>2010-12-30T21:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:19:55.556-08:00</updated><title type='text'>PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK PANTUN</title><content type='html'>Judul Buku : Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tahun    : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah pantun tidak ada padanannya dalam bahasa Banjar, sehubungan dengan itu maka istilah ini langsung diadopsi sebagai nama untuk  fenomena yang sama yang ada di dalam khasanah puisi Banjar genre lama ini. Dalam definisi yang sederhana pantun Banjar adalah pantun yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. &lt;br /&gt;Definisi pantun Banjar menurut versi Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG) adalah puisi rakyat bertipe hiburan anonim atau nonanonim yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan merujuk kepada konvensi umum menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental pantun yang berlaku khusus di kalangan para penggubah puisi Banjar genre lama.&lt;br /&gt;Sesuai dengan asal-usul etimologisnya yang demikian itu, maka pantun memang identik dengan seperangkat kosa-kata yang disusun sedemikian rupa dengan merujuk kepada sejumlah kriteria konvensional menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental puisi rakyat anonim. &lt;br /&gt;Khusus untuk pantun Banjar, sajak akhirnya tidak hanya berpola a/b/a/b sebagaimana yang berlaku pada pantun Melayu, tetapi juga berpola a/a (untuk pantun kilat atau pantun 2 baris), a/a/a/a, a/a/b/b, a/b/a/b, dan a/b/b/a (untuk pantun biasa dan pantun berkait atau pantun 4 baris).&lt;br /&gt;Paparan informasi lebih lengkap tentang pantun Banjar bisa dibaca lebih lanjut dalam buku karangan TNG. Buku ini sendiri berasal dari bahan kuliah Sastra Banjar yang diberikan oleh TNG kepada para mahasiswanya di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin sejak tahun 1997 yang lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2247291855684193983?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2247291855684193983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-pantun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2247291855684193983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2247291855684193983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-pantun.html' title='PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK PANTUN'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-4876890241840659246</id><published>2010-12-30T21:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:17:48.076-08:00</updated><title type='text'>PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK MANTRA</title><content type='html'>Judul Buku : Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tahun         : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengertian yang sederhana mantra Banjar adalah mantra berbahasa Banjar. Etnis Banjar di Kalsel menyebutnya bacaan atau kata. Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG) mendefinisikan mantra Banjar sebagai puisi rakyat anonim bertipe magis yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar seutuhnya atau bercampur dengan bahasa lainnya yang dibuat untuk tujuan-tujuan fungsional yang bersifat magis (supranatural).&lt;br /&gt;Pemasukan mantra Banjar ke dalam kelompok puisi rakyat bertipe magis menurut TNG didasarkan pada 2 ciri, yakni (1)  Tipografi visualnya merujuk kepada bentuk fisik puisi pada umumnya, yakni identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi), dan (2) Fungsi sosialnya merujuk kepada sistem kepercayaan rakyat yang bersifat supertitious (noon agama samawi), yakni sebagai sarana untuk menambah kekuatan supranatural bagi para pelisannya.   &lt;br /&gt;Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, mantra Banjar tidak boleh dilisankan pada sembarang waktu, tempat dan kesempatan. Pelisanan mantra Banjar normatif yang dilakukan secara sembarangan tanpa mengindahkan prosedur yang disyaratkan akan membuatnya menjadi ruah (tidak bertuah lagi). &lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu, teks mantra Banjar biasanya diperlakukan sebagai pusaka yang sangat dirahasiakan oleh para pemiliknya (pewarisnya). Pemilikan (pewarisannya) selalu dilakukan dengan pendekatan nepotisme, hanya anggota terdekat saja yang diperkenankan untuk memilikinya (mewarisinya).  &lt;br /&gt;Kekuatan magis atau tuah dalam sebuah mantra Banjar konon berasal dari getaran energi bunyi vokal atau konsonan yang disusun sedemikian rupa sehingga saling bersajak satu sama lainnya. Pola larik mantra Banjar merujuk kepada 3 pola, yakni : sajak awal, sajak dalam, dan sajak akhir. &lt;br /&gt;Demi memenuhi kriteria sajak awal, sajak dalam, dan sajak akhir ini, para anonim pada zaman dahulu kala tidak jarang juga memasukan kosa-kata asing (Arab, Sanksekerta, dll dst) atau bahkan kosa-kata nonsen yang tidak ada rujukannya dalam kamus bahasa manapun juga.&lt;br /&gt;Pemilihan atau pemasukan kosa-kata dalam mantra Banjar tidak didasarkan pada kepentingan pemaknaan tetapi lebih didasarkan pada kepentingan untuk menciptakan gaya bahasa perulangan (repitisi) sebagai sarana untuk membuat getaran energi magis yang dapat menambah kekuatan supranatural para pelisannya. &lt;br /&gt;Paparan informasi lebih lengkap tentang Mantra Banjar bisa dibaca lebih lanjut dalam buku karangan TNG. Buku ini sendiri berasal dari bahan kuliah Sastra Banjar yang diberikan oleh TNG kepada para mahasiswanya di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin sejak tahun 1997 yang lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-4876890241840659246?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/4876890241840659246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-mantra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4876890241840659246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4876890241840659246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak-mantra.html' title='PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK MANTRA'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-4332577704833390401</id><published>2010-12-30T21:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:15:18.054-08:00</updated><title type='text'>PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK MADIHIN</title><content type='html'>Judul Buku : Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tahun    : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madihin berasal dari kata madah artinya syair-syair yang dinyanyikan. Istilah madah dalam khasanah puisi Indonesia lama merujuk kepada sejenis puisi yang penuturannya dilakukan dengan cara dinyanyikan. &lt;br /&gt;Berdasarkan fakta historis ini, Madihin dapat saja diartikan sebagai pengembangan lebih lanjut dari syair.&lt;br /&gt;Selain itu, masih ada 2 pendapat lain tentang asal-usul kata Madihin, yakni (1) Madah dalam bahasa Arab artinya kata-kata yang berisi pujian (puisi pujian), dan (2) Padah dalam bahasa Banjar yang sudah mengalami pergeseran konsonan menjadi papadah (nasihat), mamadahi (menasihati), papadah mamadihi (nasihat yang pedih, artinya nasihat keras atau kritik pedas yang membuat hati pedih), dan akhirnya madihin artinya kata-kata yang berisi nasihat (puisi nasihat). &lt;br /&gt;Definisi Madihin menurut versi Tajuddin Noor Ganie, M. Pd (TNG) adalah puisi rakyat bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khasanah folklor Banjar.&lt;br /&gt;Tradisi penuturan syair Madihin (bahasa Banjar, bamadihinan) di kalangan etnis Banjar diperkirakan sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar  pada tahun 1526. &lt;br /&gt;Menurut pendapat sebagian orang, Madihin berasal dari Kampung Tawia, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Para seniman penutur syair Madihin (bahasa Banjar, pamadihinan) yang terkemuka di Kalsel pada umumnya berasal dari Kampung Tawia ini. &lt;br /&gt;Salah seorang di antaranya adalah Dullah Nyangnyang yang di kemudian hari pindah bermukim ke kota Paringin, ibukota Kabupaten  Balangan sekarang ini (Thaha, 1996:6, dalam Tabloid Wanyi Banjarmasin). &lt;br /&gt;Mat Nyarang almarhum (lahir di Alabio, HSU, 1930 dan meninggal dunia di Sungai Tabuk, Banjar, 21 Mei 2009), yang semasa hidupnya pernah menjadi pamadihinan paling mumpuni di Kalsel mengaku pernah berguru ke Kampung Tawia ini (Aliansyah, 2003:9, dalam Tabloid Serambi Ummah Banjarmasin). &lt;br /&gt;Paparan informasi lebih lengkap tentang Madihin bisa dibaca lebih lanjut dalam buku karangan TNG. Buku ini sendiri berasal dari bahan kuliah Sastra Banjar yang diberikan oleh TNG kepada para mahasiswanya di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin sejak tahun 1997 yang lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-4332577704833390401?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/4332577704833390401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4332577704833390401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4332577704833390401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puisi-banjar-genre-lama-bercorak.html' title='PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK MADIHIN'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-9164738487271908267</id><published>2010-12-30T21:05:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:12:21.688-08:00</updated><title type='text'>MENGENAL BENDA-BENDA BERDIMENSI MAGIS DALAM RELIGI ENDEMIK ORANG BANJAR DI KALSEL</title><content type='html'>Judul Buku : Mengenal Benda-benda Berdimensi Magis dalam Relig                  &lt;br /&gt;Pengarang  : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit   : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tebal Buku : 142+XXIX halaman&lt;br /&gt;Tahun      : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan menyangkut adanya dimensi magis pada benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, dan binatang termasuk dalam lingkup kepercayaan lingkungan. Kepercayaan lingkungan adalah kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan di sekitarnya. &lt;br /&gt;Sumber informasi mengenai adanya dimensi magis pada benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, dan binatang adalah para tabib, dan orang-orang yang sudah berusia tua yang tinggal di dalam atau di luar lingkungan alam yang ditafsirkannya (diolah kembali berdasarkan paparan  Daud, 1997:8).&lt;br /&gt;Selain itu, masih ada sumber informasi lain, yakni cerita mitologi, legenda, dan dongeng purba yang sudah disakralkan oleh kalangan masyarakat Banjar di Kalsel sejak zaman nenek moyang dahulu kala (diolah kembali berdasarkan paparan Daud, 1997:550).&lt;br /&gt;Dimensi magis dipercaya ada pada atau ada di dalam benda-benda tertentu, benda-benda tertentu yang sengaja dibuat untuk itu, bagian-bagian tertentu dari tubuh binatang-binatang tertentu, hasil produksi tertentu dari binatang-binatang tertentu, bagian-bagian tertentu dari rumbuh-tumbuhan tertentu, dan hasil produksi tertentu dari tumbuh-tumbuhan tertentu. &lt;br /&gt;Dimensi magis yang melekat pada benda-benda tersebut, tanpa kecuali, diyakini dapat difungsikan untuk tujuan magis tertentu pula. Benda-benda magis yang demikian itu disebut sebagai benda-benda yang memiliki tuah.&lt;br /&gt;Tuah magis benda-benda tersebut ada yang berlaku umum, tetapi ada juga yang berlaku khusus (terbatas pada orang-orang tertentu yang berjodoh saja) (diolah kembali berdasarkan paparan Daud, 1997:9).&lt;br /&gt;Melalui buku setebal  142+xxix ini Tajuddin Noor Ganie, M. Pd (TNG) memaparkan satu demi satu benda-benda yang oleh nenek moyang orang Banjar dahulu diyakini mengandung dimensi magis atau tuah. Paparan disusun sedemikian rupa sebagaimana lajimnya ensiklopedi.&lt;br /&gt;Sekadar menyebut beberapa di antaranya adalah aguk samban, banyu safar, banyu singgugut,  bubur habang, bubur putih, bubur gayam, buluh parindu, buntat banyu, buntat kalulut, cacak burung, galang buyu, karis hampatung, karis naga runting, kawari, kumala naga, minyak bintang, minyak bubut, minyak gajah, minyak kijang putih, minyak kukang, minyak kuyang, minyak rangka irang, minyak wayang, parang maya, picis mimang, rantai babi, samban, sirih basampuk urat, tali mubin, ulin manang, wapak tampurung, wapak tirak, dan wasi kuning,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-9164738487271908267?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/9164738487271908267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/menegenal-benda-benda-berdimensi-magis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/9164738487271908267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/9164738487271908267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/menegenal-benda-benda-berdimensi-magis.html' title='MENGENAL BENDA-BENDA BERDIMENSI MAGIS DALAM RELIGI ENDEMIK ORANG BANJAR DI KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2387116694906000703</id><published>2010-12-30T21:03:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:05:14.039-08:00</updated><title type='text'>LEGENDA AWI TADUNG DAN ULAR BUNTUNG</title><content type='html'>Judul Buku : Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : RumahPustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tebal Buku : halaman&lt;br /&gt;Tahun         : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek moyang etnis Banjar di Kalsel dikenal sebagai suku bangsa yang kreatif dalam mengolah cerita rakyat. Terbukti khasanah cerita rakyat etnis Banjar sangat banyak jumlahnya dan sangat beragam genre/jenisnya (mitologi, legenda, dongeng, dan kisah pelipur lara.&lt;br /&gt;Tidak jarang, cerita rakyat dimaksud menjadi sumber inspirasi (hypogram) yang berharga bagi sastrawan Kalsel dalam mengolah karya sastra mereka. Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG) merupakan salah seorang sastrawan Kalsel yang cukup banyak mengambil inspirasi dari cerita rakyat warisan nenek moyangnya itu.&lt;br /&gt;Cerita rakyat gubahan TNG yang dimuat dalam buku ini ada 9 judul, yakni .(1) Legenda Asal-usul Kerbau Rawa  di Tanah Banjar, (2) Legenda Tiga Macan Siluman di Gunung Maratus, (3) Legenda Ular Suruhan, (4) Legenda Pohon Pulantan dari Langit, (5) Legenda Bumbu Raya Hantu Pemakan Mayat, (6) Legenda Datung Gariwai, (7) Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung, (8) Legenda Jin Kembar Penunggu Pulau Kaget, dan (9) Legenda Ning Kurungan.  &lt;br /&gt;Semua cerita rakyat yang dimuat dalam buku ini sudah teruji kualitasnya, karena semuanya telah berhasil menembus seleksi ketat yang dilakukan oleh para redaktur di berbagai majalah terbitan Jakarta, yakni Majalah Senang, Majalah Idola, dan Majalah Misteri. &lt;br /&gt;Tidak hanya itu, semua judul cerita rakyat dimaksud juga sudah berulang kali dijadikan sebagai sumber data penelitian untuk penulisan tugas kuliah dan  skripsi oleh para mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2387116694906000703?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2387116694906000703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/legenda-awi-tadung-dan-ular-buntung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2387116694906000703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2387116694906000703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/legenda-awi-tadung-dan-ular-buntung.html' title='LEGENDA AWI TADUNG DAN ULAR BUNTUNG'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3390380622065525529</id><published>2010-12-30T20:59:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T21:02:33.694-08:00</updated><title type='text'>KAREKTERISTIK BENTUK, FUNGSI, MAKNA, DAN NILAI PERIBAHASA BANJAR</title><content type='html'>Judul Buku : Karakteristik Bentuk, Fungsi,Makna, dan Nilai Peribahasa  Banjar&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tebal Buku : 954+XXIII halaman&lt;br /&gt;Tahun         : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuddin Noor Ganie, M. Pd (TNG) adalah orang pertama di dunia yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar (PB). Sehubungan dengan itu tidaklah berlebihan jika Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai Peribahasa Banjar (KBFM&amp;NPB) disebut-sebut sebagai buku ilmiah pertama tentang peribahasa Banjar (PB).&lt;br /&gt;Buku ini memang berasal dari tesis TNG di Program Magister PBSID FKIP Unlam Banjarmasin (2002). Para penguji ketika itu memberikan nilai A untuk tesis ini. Nilai ini merupakan jaminan bahwa tesis ini sangat tinggi kualitasnya sehingga layak untuk dirujuk oleh siapa saja yang ingin menulis tesis tentang peribahasa suku bangsa lainnya .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3390380622065525529?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3390380622065525529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/karekteristik-bentuk-fungsi-makna-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3390380622065525529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3390380622065525529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/karekteristik-bentuk-fungsi-makna-dan.html' title='KAREKTERISTIK BENTUK, FUNGSI, MAKNA, DAN NILAI PERIBAHASA BANJAR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6962612206369633550</id><published>2010-12-30T20:56:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T18:36:30.960-08:00</updated><title type='text'>KAMUS MIMPI ORANG BANJAR</title><content type='html'>Judul Buku : Kamus Mimpi Orang Banjar&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar&lt;br /&gt;Tebal Buku : 605+V halaman&lt;br /&gt;Tahun     : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tajuddin Noor Ganie, M. Pd (TNG), KMOB merupakan hasil sampingan dari kegiatannya mengumpulkan bahan pustaka untuk menulis buku berjudul Folklor Banjar. Perlu dijelaskan, salah satu subjudul buku dimaksud membahas aspek-aspek mistik dalam sistem kepercayaan rakyat etnis Banjar di Kalsel. Tafsir mimpi merupakan salah satu klasifikasi yang ada dalam sistem kepercayaan rakyat etnis Banjar.&lt;br /&gt;Namun, agar tidak menimbulkan tafsiran yang bukan-bukan, TNG sejak dini menegaskan bahwa posisinya dalam buku ini cuma sebagai pengumpul bukan sebagai penafsir, sehingga TNG tidak berani menjamin tafsiran mimpi yang ada di dalam KMOB akan tepat 100 %. KMOB merupakan salah satu bahan referensi yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk memahami alam pikiran nenek moyang orang Banjar di masa lalu.&lt;br /&gt;Jumlah mimpi yang ditafsirkan dalam KMOB tidak kurang dari 5.000 buah. KMOB merupakan buku yang unik karena ditulis dalam bahasa Banjar yang mudah dimengerti. Orang-orang yang belum fasih berbahasa Banjar dianjurkan untuk menjadikan KMOB sebagai sarana untuk belajar bahasa Banjar secara fasip. Jauh lebih efektif dibandingkan dengan belajar bahasa Banjar dengan cara membaca kamus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-6962612206369633550?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/6962612206369633550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/kamus-mimpiorang-banjar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6962612206369633550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6962612206369633550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/kamus-mimpiorang-banjar.html' title='KAMUS MIMPI ORANG BANJAR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6326443220244621066</id><published>2010-12-30T20:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T20:56:07.671-08:00</updated><title type='text'>ANTOLOGI BIOGRAFI 543 SASTRAWAN KALSEL</title><content type='html'>Judul Buku :  Antologi Biografi 543 Sastrawan Kalsel&lt;br /&gt;Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;Penerbit :  Puskajimastra Kalsel&lt;br /&gt;Tebal Buku : 413+XXVI halaman&lt;br /&gt;Tahun Terbit :  2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan Kalsel adalah sastrawan yang lahir di Kalsel atau pernah tinggal di Kalsel. Hanya itu, tidak ada kriteria lain yang bersifat eksklusif secara sosial politik.&lt;br /&gt;Sastrawan Kalsel adalah siapa saja yang ketika tinggal di Kalsel dikenal luas sebagai penulis karya sastra bergenre modern dalam bahasa Indonesia di berbagai koran/majalah dan buku-buku sastra.&lt;br /&gt;Tidak ada pembatasan dalam hal kurun waktu kelahirannya, tempat kelahiran, latar belakang suku bangsa, agama, ras, golongan, asal daerah, dan tempat tinggalnya setelah dikenal luas sebagai sastrawan. &lt;br /&gt;Selama kurun waktu 1930-2009, sejarah lokal kesusastraan Indonesia di Kalsel telah melahirkan 543 orang sastrawan Kalsel yang terbilang menonjol prestasi, reputasi, dan dedikasi kesastrawanannya.&lt;br /&gt;Profil apa dan siapa 543 sastrawan Kalsel dimaksud dapat dibaca dalam buku yang setebal 413+26 halaman ini. Buku ini sangat sederhana namun isinya sangat fenomenal. Selain membaca buku ini anda juga disarankan untuk membaca buku TNG berjudul Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-6326443220244621066?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/6326443220244621066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/antologi-biografi-543-sastrawan-kalsel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6326443220244621066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6326443220244621066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/antologi-biografi-543-sastrawan-kalsel.html' title='ANTOLOGI BIOGRAFI 543 SASTRAWAN KALSEL'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-5096404906363538661</id><published>2010-12-30T20:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T20:53:54.334-08:00</updated><title type='text'>PUSKAJIMASTRA KALSEL GALAKKAN PENERBITAN BUKU-BUKU KARANGAN TAJUDDIN NOOR GANIE</title><content type='html'>Pusat Pengkajian Masalah Sastra Kalimantan Selatan (PUSKAJIMASTRA) Kalsel adalah sebuah lembaga yang didirikan khusus untuk mengumpulkan, melindungi, dan menyebar-luaskan semua karya seni dan karya intelektual yang telah dihasilkan oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (TNG).  &lt;br /&gt;Perlakukan khusus dimaksud sengaja diberikan kepada TNG karena semua biaya operasional PUSKAJIMASTRA Kalsel ditanggung sepenuhnya oleh TNG. Biaya operasional dimaksud pada umumnya berasal dari honorarium pemuatan tulisan TNG di berbagai koran/majalah, dan laba bersih hasil penjualan buku-buku TNG. &lt;br /&gt;Sepanjang tahun 2010, kegiatan penerbitan buku-buku TNG semakin digalakkan. Buku-buku yang diterbitkan sepanjang tahun 2010 adalah buku-buku kumpulan tulisan TNG yang sudah dipublikasikan di berbagai koran/majalah selama 30 tahun terakhir (1980-2009).&lt;br /&gt;Khusus untuk tulisan TNG yang dipublikasikan pada tahun 1980-1999 terpaksa diketik ulang secara bertahap oleh tim kerja yang sengaja dibentuk untuk itu. Hal ini mengingat arsip tulisan TNG dimaksud masih berupa ketikan mesin tik. &lt;br /&gt;Setelah selesai diketik ulang dengan komputer, semua tulisan dimaksud dikumpulkan jadi satu buku berdasarkan temanya. Sampai dengan akhir Agustus 2010 telah berhasil dirampungkan 25 judul buku, yakni &lt;br /&gt;1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel&lt;br /&gt;2.. Asal-usul Orang Banjar&lt;br /&gt;3.Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi&lt;br /&gt;4. Jatidiri Puisi Indonesia&lt;br /&gt;5. Kajian Puisi&lt;br /&gt;6.  Kamus Mimpi Orang Banjar&lt;br /&gt;7. Kamus Peribahasa Banjar&lt;br /&gt;8.  Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa                                        Banjar&lt;br /&gt;9.  Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung (Antologi Cerita Rajyat Tanah Banjar)&lt;br /&gt;10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka&lt;br /&gt;12. Praktek Menulis Cerpen&lt;br /&gt;13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin&lt;br /&gt;14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra&lt;br /&gt;15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun&lt;br /&gt;16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa&lt;br /&gt;17. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair&lt;br /&gt;18. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar&lt;br /&gt;19. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009&lt;br /&gt;20. Tegaknya Masjid Kami (Novel Sejarah Pembangunan Masjid Sultan Suriansyah)&lt;br /&gt;21. Tengah Malam di Kuala Lumpur (Antologi Cerpen Modern)&lt;br /&gt;22. Teori dan Praktik Menulis Puisi &lt;br /&gt;23. Teori Menulis Cerpen&lt;br /&gt;24. Teori Sastra&lt;br /&gt;25. Tragedi Intan Trisakti&lt;br /&gt;Semua buku di atas direproduksi dengan cara difoto-copy bukan dicetak sebagai mana lajimnya buku yang refresentatif. Teknik reproduksi dengan cara difoto-copy ini terpaksa dipilih karena kemampuan finansial PUSKAJIMASTRA Kalsel masih sangat terbatas. &lt;br /&gt;Jika tidak segera dikumpulkan, maka dikhawatirkan arsip tulisan TNG akan habis dimakan rayap atau akan sulit ditemukan lagi karena masih berserakan di sana-sini. Dalam hal ini yang penting adalah terkumpulnya sejumlah tulisan TNG yang masih tercerai-berai itu. Namun, jika prospek bisnisnya memungkinkan, maka untuk buku-buku tertentu akan diterbitkan secara tercetak.&lt;br /&gt;Pengumpulan sejumlah tulisan TNG dalam bentuk buku juga dimaksudkan untuk memudahkan penyebar-luasannya ke berbagai lembaga perpustakaan dan perorangan yang berminat mengoleksinya. Selama ini, PUSKAJIMASTRA Kalsel aktif mengirimkan buku-buku semacam ini ke berbagai perpustakaan, salah satunya di antaranya adalah ke Perpustakaan KITLV Leiden. Daftar buku TNG yang dikoleksi Perpustakaan KITLV Leiden bisa dilihat di google/tajuddinnoorganie/ book.&lt;br /&gt;Para kepala BAPUSTARDA di Kalsel, di luar Kalsel, atau perorangan yang berminat untuk membeli salah satu atau sejumlah buku di atas dipersilahkan menghubungi Tajuddin Noor Ganie melalui HP 0819 5188 521, email : tajuddinnoorganie@co.id, atau facebook tajuddinnoorganie.  &lt;br /&gt;Berkaitan dengan strategi kebudayaan, PUSKAJIMASTRA Kalsel menyarankan agar semua BAPUSTARDA di Kalsel menjadikan buku-buku muatan lokal karangan para penulis Kalsel sebagai koleksi unggulannya. Tujuannya agar setiap anggota masyarakat dapat dengan mudah mempelajari tentang keunggulan-keunggulan local genius suku bangsanya sendiri. &lt;br /&gt;Selain itu, agar BAPUSTARDA di Kalsel menjadi tempat tujuan utama bagi para peneliti asing yang berminat melakukan penelitian tentang apa saja di Kalsel. Sungguh ironis, karena selama ini tempat favorit bagi para peneliti asing yang ingin menulis tesis atau disertasi tentang etnis Banjar bukanlah lembaga  perpustakaan yang ada di daerah Kalsel, tetapi adalah Perpustakaan KITLV di Leiden, Belanda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-5096404906363538661?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/5096404906363538661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puskajimastra-kalsel-galakkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5096404906363538661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/5096404906363538661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/puskajimastra-kalsel-galakkan.html' title='PUSKAJIMASTRA KALSEL GALAKKAN PENERBITAN BUKU-BUKU KARANGAN TAJUDDIN NOOR GANIE'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6569476636765190875</id><published>2010-12-30T20:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T20:47:46.104-08:00</updated><title type='text'>ULAMA BANJAR PADA ZAMAN DAHULU KALA HARUS SAKTI MANDRAGUNA</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Banjar pada zaman dahulu kala harus sakti mandraguna itulah salah satu kesimpulan yang dapat dipetik jika kita membaca biografi para ulama Banjar yang hidup pada zaman dahulu kala. &lt;br /&gt;Selain mengusai ilmu-ilmu yang berhubungan erat dengan masalah-masalah keagamaan, mereka juga harus menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan erat dengan masalah-masalah kedigjayaan (memiliki karomah atau maunah). &lt;br /&gt;Ketika membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima Jakarta yang terlalu miring ke kiri, Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari harus memperlihatkan maunah atau karomahnya kepada para jemaah masjid setempat. &lt;br /&gt;Menurut ceritanya, beliau ketika itu mengacungkan tangannya dan para jemaah dapat melihat Ka’bah dari celah-celah lengan baju jubah beliau (Radar Banjarmasin, 18 Oktober 2007:7). &lt;br /&gt;Syeikh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung) diceritakan sebagai seorang ahli tasawuf yang memiliki kesaktian luar biasa. Menurut ceritanya, beliau ketika itu sedang bermasalah dengan Raja Banjar, ilmu tasawuf yang diajarkannya dinilai sesat dan menyesatkan. &lt;br /&gt;Beliau kemudian ditangkap oleh lasykar kerajaan, dimasukan ke dalam kerangkeng besi, dan kerangkeng besi itu kemudian ditenggelamkan ke dasar sungai. Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk membunuh Datu Abulung (jika benar demikian ceritanya, maka duh kejamnya Raja Banjar dimaksud, sama kejamnya dengan Firaun terhadap Nabi Musa). &lt;br /&gt;Tapi, beliau tidak mati lemas karenanya, bahkan setiap kali tiba waktu shalat fardhu, kerangkeng besi itu akan naik sendiri dan mengapung di atas permukaan sungai. Tanpa kesulitan berarti beliau dapat ke luar dari kerangkeng besi itu dan melaksanakan shalat fardhu di atasnya (Asmuni, 2002 : 12-15).&lt;br /&gt;Uniknya, meskipun sakti mandraguna seperti itu, Datu Abulung tidak pernah menjadikan kesaktiannya itu sebagai sarana untuk membela dirinya dari kezaliman Raja Banjar yang berkuasa ketika itu. &lt;br /&gt;Beliau pasrah saja menerima nasib buruk dihukum mati karena keyakinan tasawufnya yang tidak selaras dengan mainstream syariah Islam sezaman. Apa gunanya memiliki kesaktian jika kesaktian itu tidak dapat dipergunakan untuk membela diri dan keyakinan tasawufnya?&lt;br /&gt;Dalam biografi resmi mereka masing-masing, H. Muhammad Afif (Datu Landak) dan Datu Karipis diceritakan sebagai ulama Banjar yang mampu mencabut pohon langsung dengan akar-akarnya.&lt;br /&gt;Pohon yang dicabut H. Muhammad Afif adalah pohon ulin yang tumbuh di hulu sungai Barito. Pohon ulin itulah yang setelah diolah sedemikian rupa kemudian dipancangkan oleh H. Muhammad Afif sebagai tiang guru Masjid Al Qaromah Martapura (Asmuni, 2002:29). Sementara pohon yang dicabut Datu Karipis adalah pohon enau yang tumbuh di Kampung Muning, Tatakan, Tapin (Asmuni, 2002:86).   &lt;br /&gt;Beberapa orang tokoh ulama Banjar yang hidup pada zaman dahulu kala, diceritakan tidak hanya sakti mandraguna ketika masih hidup saja, tetapi juga tetap sakti mandraguna meskipun telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;Unjuk kesaktian dimaksud antara lain dilakukan oleh Haji Ahmad Balimau (Asmuni, 2002:.23) dan Datu Sulaiman (Asmuni, 2002:.112). Keduanya diceritakan mampu memindahkan makamnya ke lain tempat yang lebih sesuai dengan keinginan hatinya, meskipun dirinya telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;Berkat selalu membaca Al Qur’an Surah Al An’am ayat 103 sebanyak 129 kali setiap kali usai shalat fardhu, Haji Dullah diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang mampu menggaibkan dirinya sehingga tubuhnya tidak dapat dilihat oleh pasukan Belanda (bahasa Banjar mahalimunan)(Asmuni, 2002:). &lt;br /&gt;Sementara itu, Datu Murkat diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang sakti mandraguna. Beliau diceritakan dapat menaklukan lawannya yang sakti mandraguna hanya dengan bertepuk tangan saja (Asmuni, 2002:.87). &lt;br /&gt;Datu Insat lain lagi kesaktiannya, tokoh ini diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang sakti mandraguna. Beliau mampu menyembunyikan dirinya di dalam perut musuhnya (Asmuni, 2002:.120).&lt;br /&gt;Tokoh ulama Banjar yang juga memiliki kesaktian istimewa adalah Abdus Samad al Palembangi (Datu Sanggul). Datu Sanggul diceritakan sebagai tokoh yang acapkali melaksanakan shalat Jum’at di Mekkah (Asmuni, 2002:78).&lt;br /&gt;Para ulama Banjar yang hidup di zaman dahulu kala tampaknya memang harus sakti mandraguna. Jika tidak maka akan sulit bagi mereka untuk meyakinkan para jemaahnya. Hal ini sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya, orang-orang ketika itu sangat sulit diyakinkan jika hanya dicekoki dengan paparan-paparan ilmiah yang bersifat abstrak (teoritis) tanpa bukti visual yang meyakinkan (bukti kongkrit).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-6569476636765190875?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/6569476636765190875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/ulama-banjar-pada-zaman-dahulu-kala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6569476636765190875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/6569476636765190875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/ulama-banjar-pada-zaman-dahulu-kala.html' title='ULAMA BANJAR PADA ZAMAN DAHULU KALA HARUS SAKTI MANDRAGUNA'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3130372775071473752</id><published>2010-12-14T20:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T20:22:15.897-08:00</updated><title type='text'>DUA PULUH SATU PANTANGAN DI LOKASI PENDULANGAN INTAN DI DAERAH KALIMANTAN SELATAN</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil aku sudah akrab dengan lingkungan pendulangan intan. Kampung Guntung Lua, tempat tinggalku pada tahun 1969-1979, merupakan salah satu lokasi pendulangan intan yang terbilang penting di kota Banjarbaru.&lt;br /&gt;Kampung Guntung Lua terletak di tepi sungai Kemuning. Para pendulang intan yang aktif bekerja pada kurun waktu 1970-an pasti mempunyai kenangan tersendiri atas sungai Kemuning. Hal ini mengingat di tepi kiri dan kanan sungai Kemuning inilah mereka dulu bekerja mendulang intan. &lt;br /&gt;Lokasi pendulangan intan di kota Banjarbaru ketika itu terbentang sepanjang dua kilometer. Mulai dari kampung Karamunting di hulu sampai ke kampung Guntung Lua di hilir. Terkait dengan aktifitas pendulangan intan di sepanjang tepi kiri dan kanannya inilah maka air sungai Kemuning selalu keruh sepanjang hari. Uniknya, hingga sekarang air sungai Kemuning masih tetap keruh. Padahal, sudah puluhan tahun kegiatan pendulangan intan tidak lagi dilakukan orang di sini.&lt;br /&gt;Aku memulai karierku sebagai pendulang intan sejak tahun 1970. Usiaku ketika itu baru 12 tahun. Aku lahir di Banjarmasin pada tahun 1958. Namun sejak tahun 1960 aku sudah diboyong orang tuaku pindah ke kota Banjarbaru.&lt;br /&gt;Mula-mula aku ikut ayahku mendulang intan di kampung Guntung Lua tak jauh dari rumahku. Aku dan kakakku bertugas membawa batu dulangan dari tumpukannya di sekitar lokasi lubang galian ke lokasi pencuciannya di tepi sungai. Batu dulangan itu kami masukan ke dalam bakul purun lalu kami panggul sebakul demi sebakul ke lokasi pencuciannya. Jarak yang harus kami tempuh cukup jauh, sekitar 200 meter.&lt;br /&gt;Aku masih ingat, aku ketika itu sering ditegur ayahku karena selalu berkacak pinggang. Sekali waktu aku bahkan ditimpuk orang dengan sebutir batu kerikil oleh seorang pendulang intan lain yang marah karena aku bersiul-siul di lokasi pendulangan intan.Belakangan barulah aku mengetahui jika berkacak pinggang dan bersiul-siul di lokasi pendulangan intan sangat tabu dilakukan.&lt;br /&gt;Para pendulang intan membayangkan intan yang sedang mereka cari dengan susah payah itu ditaburkan oleh para gadis yang berasal dari alam gaib bawah tanah (bahasa Banjar alam subalah). Dua di antara gadis penabur intan itu konon bernama Siti Anggani dan Putri Sahanjani.&lt;br /&gt;Siang hari, ketika para pendulang intan sedang asyik bekerja, Siti Anggani, Putri Sahanjani, dan kawan-kawannya yang lain bekerja menaburkan butiran intan ke dalam lubang pendulangan yang sedang digali orang. Siti Anggani, Putri Hanjani dan kawan-kawan itu konon mondar-mandir kian ke mari dari lubang yang satu ke lubang yang lain. Mereka memilih lubang yang layak untuk ditaburi intan. Pemilik lubang yang mereka pilih untuk ditaburi intan adalah pendulang intan yang mereka nilai paling tertib. Dalam hal ini pendulang intan yang tidak pernah melanggar tabu-tabu yang berlaku. Konon, para gadis dari alam gaib yang bertugas menaburkan butiran intan ke dalam lubang galian itu akan segera lari bertemperasan begitu melihat ada orang berdiri sambil berkacak pinggang atau mendengar suara siulan. &lt;br /&gt;Rupa-rupanya, karena itulah maka ada pendulang intan lain yang tanpa segan-segan menimpukku dengan batu kerikil  begitu mengetahui akulah orang yang bersiul di lokasi pendulangan intan. Aku dengan refleks menoleh ke arah orang yang menimpukku. Orang itu menyeringai sambil memberi isyarat agar aku berhenti bersiul dengan cara menyilangkan jari telunjuk ke bibirnya. Tidak hanya itu, orang itu juga mengirimkan isyarat bernada ancaman, ia mengacungkan tinjunya ke arahku. Aku jadi keder, nyaliku langsung ciut karena para pendulang intan lainnya sepertinya berpihak kepada orang itu. Untunglah, ayahku tidak menyaksikan adegan panas itu, karena beliau ketika itu tengah berada di dalam lubang pendulangan. Beliau sedang asyik mengeruki batu dulangan yang menilik dari warna dan bentuk fisiknya diduga mengandung banyak intan.&lt;br /&gt;Semakin lama bekerja sebagai pendulang intan semakin banyak pula informasi mengenai pantangan-pantangan yang tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan. Setidak-tidaknya ada 21 pantangan yang sempat kucatat ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKACAK PINGGANG &lt;br /&gt;Berkacak pinggang tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan karena bagi para gadis dari alam gaib tsb (Siti Anggani, Putri Hanjani, dan kawan-kawannya), berkacak pinggang dianggap sebagai perilaku baru yang mencerminkan bahwa pelakunya adalah seorang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSIUL-SIUL &lt;br /&gt;Bersiul-siul tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan karena para gadis dari alam gaib tsb merasa dilecehkan. Mereka menuntut penghormatan yang setara dengan jasa mereka sebagai penabur intan yang tentunya identik dengan status sebagai pemberi rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYALAKAN API&lt;br /&gt;Menyalakan api tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan, karena kulit tubuh para gadis dari alam gaib tsb sangat sensitif dengan api. Maklumlah, sebagai makhluk berjenis jin tubuh mereka diciptakan Tuhan dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBAWA AYAM&lt;br /&gt;Membawa ayam tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan karena para gadis dari alam gaib sangat alergi dengan ayam. Bagi mereka ayam merupakan binatang yang sangat menakutkan. Sama seperti halnya tikus bagi sebagian besar &lt;br /&gt;kaum wanita dari kalangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELENGGAK-LENGGOKKAN BADAN&lt;br /&gt;Melenggang-lenggokkan badan dengan gerakan yang tidak karuan (tidak senonoh) tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan karena para gadis dari alam gaib merasa dilecehkan dengan perbuatan itu. Mereka menuntut penghormatan yang setara dengan jasa mereka sebagai penabur intan yang tentunya identik dengan status sebagai pemberi rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERPAKAIAN SEKSI&lt;br /&gt;Berpakaian seksi yang dapat merangsang nafsi birahi lawan jenis tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan karena para gadis dari alam gaib merasa dilecehkan dengan perbuatan itu. Mereka menuntut penghormatan yang setara dengan jasa mereka sebagai penabur intan yang tentunya identik dengan status sebagai pemberi rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENUNJUK-NUNJUK SESUATU &lt;br /&gt;Menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan. Segala sesuatu yang ada di lokasi pendulangan intan harus ditunjuk dengan menggunakan jari jempol. &lt;br /&gt;Hal ini berkaitan dengan etika kesopanan. Konon, para gadis dari alam gaib yang bertugas sebagai penabur intan tidak suka melihat orang menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya. Orang seperti itu dinilai sebagai orang sombong yang tidak tahu etika sopan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKAN NASI &lt;br /&gt;Memakan  nasi di dalam lubang pendulangan tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan. Kegiatan makan siang harus dilakukan jauh dari lubang pendulangan, karena dikhawatirkan ada remah nasi yang tanpa sengaja masuk ke dalam lubang pendulangan. &lt;br /&gt;Para gadis dari alam gaib itu konon  sangat benci dengan nasi. Hal ini berkaitan dengan trauma masa purba sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah legenda. &lt;br /&gt;Pada zaman dahulu kala padi dan intan pernah bersaing dalam merebut perhatian manusia. Ternyata manusia ketika itu memilih padi dan mengesampingkan intan. &lt;br /&gt;Sejak itu intan melesak jauh ke dalam perut bumi sehingga sulit sekali dicari. Intan baru dapat diperoleh jika ada orang gaib bawah tanah berkenan membawakannya dari dalam perut bumi ke atas permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGGALI LUBANG PENDULANGAN DI AREAL PERSAWAHAN&lt;br /&gt;Masih berkaitan dengan legenda purba di atas, seorang pendulang intan juga ditabukan menggali lubang pendulangan di areal persawahan. &lt;br /&gt;Begitu tabu itu dilanggar, maka areal persawahan itu akan berubah menjadi tanah walang (mandul) yang tidak dapat lagi ditanami padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSIN&lt;br /&gt;Bersin di lubang pendulangan. Hal ini tabu dilakukan karena para gadis dari alam gaib akan terkejut mendengarnya dan mereka akan langsung pulang kembali ke alam bawah tanah tempatnya bermukim selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENTUT&lt;br /&gt;Kentut di lubang pendulangan. Hal ini ditabukan karena para gadis dari alam gaib sangat sensitif dengan bunyi kentut dan bau busuk yang menyebar setelah itu. &lt;br /&gt;Sesungguhnya, tidak hanya para gadis dari alam gaib saja yang sensitif dengan bau kentut. Para gadis dari alam nyata juga tidak kalah sensitifnya jika mencium bau kentut beraroma telur asin, jengkol, petai, iwak wadi, atau pakasam.  &lt;br /&gt;Tidak percaya? &lt;br /&gt;Silakan dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKAN JENGKOL ATAU PETAI&lt;br /&gt;Masih berkaitan dengan bau busuk, para pendulang intan juga ditabukan untuk makan nasi dengan lalapan atau lauk pauk berupa telur asin, jengkol, petai.  iwak wadi, dan pakasam. &lt;br /&gt;Dapat dipastikan mulut yang bersangkutan akan menyebarkan bau busuk yang menusuk hidung jika nekad makan nasi dengan lalapan atau lauk pauk yang disebutkan di atas. &lt;br /&gt;Para gadis dari alam gaib diikhawatirkan tidak akan sanggup bertahan lama jika bau busuk bertebaran di seantero lokasi pendulangan intan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GULAI BUMBU BALI&lt;br /&gt;Selain ditabukan makan berlalap dan berlauk telur asin, jengkol, petai, iwak wadi, atau pakasam. Seorang pendulang intan juga ditabukan membawa lauk pauk yang digulai dengan bumbu Bali yang identik dengan lombok merah (bahasa Banjar, masak habang). &lt;br /&gt;Konon para gadis dari alam gaib sangat takut dengan darah. Mereka mengira semua yang berwarna merah sudah pasti adalah darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKELAHI&lt;br /&gt;Berkelahi di pendulangan intan, apalagi sampai menumpahkan darah sangat tabu dilakukan di pendulangan intan. Para gadis dari alam gaib itu sangat takut menyaksikan orang berkelahi.&lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;MENSTRUASI&lt;br /&gt;Masih berkaitan dengan darah. Wanita yang sedang mensturasi ditabukan untuk berada di lokasi pendulangan intan. Bagi para gadis dari alam gaib itu, lokasi pendulangan itu adalah tempat suci yang tidak boleh dinodai dengan segala sesuatu yang berbau darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENCING, BERAK, DAN MELUDAH&lt;br /&gt;Jika bersin dan kentut saja ditabukan, maka sudah barang tentu kencing, berak, dan meludah di dalam lubang pendulangan jauh lebih tabu lagi. Hal ini berkaitan dengan pandangan bahwa lokasi pendulangan intan merupakan tempat yang harus selalu dijaga kesuciannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGIBAS-NGIBASKAN PAKAIAN &lt;br /&gt;Mengibas-ngibaskan pakaian. Hal ini ditabukan karena perbuatan dimaksud bisa disalah-tafsirkan oleh para gadis dari alam gaib sebagai isyarat pengusiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYENTUHKAN RAMBUT PADA ALAT KERJA &lt;br /&gt;Menyentuhkan rambut dengan sengaja pada semua alat kerja mendulang intan, terutama sekali linggangan sangat ditabukan, karena hal itu dianggap merusak kesucian alat-alat kerja untuk mendulang intan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGUCAPKAN KATA INTAN&lt;br /&gt;Mengucapkan kata intan selama berada di lokasi pendulangan intan. Kata ganti untuk itu adalah galuh. Konon, para gadis dari alam gaib sangat marah mendengar ada orang yang berani menyebut kata intan tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;Hal itu dianggap melanggar etika kesopanan. Sama tidak sopannya dengan seorang anak yang begitu berani memanggil orang lain yang usianya lebih tua dengan cara langsung menyebut namanya tanpa embel-embel sama sekali (bahasa Banjar, basisi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGUCAPKAN KATA-KATA JOROK&lt;br /&gt;Mengucapkan kata-kata jorok yang berkonotasi pada alat perkelaminan (porno) sangat tabu dilakukan di lokasi pendulangan intan.  Sama tabunya dengan mengucapkan kata intan. Hal ini berkaitan dengan etika kesopanan. Para gadis dari alam gaib itu akan merasa dilecehkan jika ada pendulang intan yang mengucapkannya dengan sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGUCAPKAN KATA-KATA TERTENTU&lt;br /&gt;Selain kata intan dan kata-kata berkonotasi porno, masih ada sejumlah kata lain yang juga tabu untuk diucapkan dan harus harus diganti dengan kata lain. &lt;br /&gt;Contoh, bulik (bahasa Banjar, artinya pulang harus diganti dengan mara). Dapat (bahasa Banjar, artinya memperoleh diganti dengan pakulih). Hujan (runtuh). Makan (muat). Nasi (biji). Sial (licung). Tulak (bahasa Banjar artinya pergi, harus diganti menjadi para). Turun (bahasa Banjar, artinya  masuk ke dalam lubang galian, harus diganti menjadi mara), dan ular (akar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini dan sejumlah naskah lain akan dikumpulkan dalam buku berjudul Tragedi Intan Trisakti oleh Rumah Pustakan Folklor Banjart&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3130372775071473752?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3130372775071473752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/dua-puluh-pantangan-di-pendulangan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3130372775071473752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3130372775071473752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/dua-puluh-pantangan-di-pendulangan.html' title='DUA PULUH SATU PANTANGAN DI LOKASI PENDULANGAN INTAN DI DAERAH KALIMANTAN SELATAN'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-1673658179351809057</id><published>2010-12-14T20:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T20:14:55.356-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar.  &lt;br /&gt;Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. &lt;br /&gt;Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl.&lt;br /&gt;Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4 Februari 2000). &lt;br /&gt;Sejak zaman prasejarah dahulu suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongoloid)(Sulaksono, 2004:2).&lt;br /&gt;Namun, ini bukan berarti suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongolid) yang tinggal di Pulau Kalimantan pada zaman prasejarah ini berasal dari komunitas suku bangsa Melayu yang dulu melakukan migrasi dari Pulau Sumatera (1025-1026) atau dari Semenanjung Melayu ke Pulau Kalimantan (1511).  &lt;br /&gt;Menurut Maunati (2004:60), suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan pada masa prasejarah itu sesungguhnya berasal dari satu tempat yang sama, yaitu : Propinsi Yunan di Republik Rakyat Cina sekarang ini. &lt;br /&gt;Bahasa yang mereka pergunakan sebagai bahasa pergaulan (liungua franca) juga berasal dari bahasa yang bersifat semula jadi yang dipelajari nenek moyang mereka ketika masih tinggal di Yunan dahulu. &lt;br /&gt;Sudah barang tentu bahasa dimaksud sudah dikembangkan di sana-sini sehingga menjadi bahasa yang layak sebagai sarana komunikasi lisan dan tulisan.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kesamaan dalam hal bahasa pergaulan (lingua franca) yang digunakannya, maka suku bangsa yang tinggal di Pulau Sumatera atau di Semenanjung Melayu pada zaman prasejarah diduga juga berasal dari tempat yang sama.   &lt;br /&gt;Meskipun nenek moyang suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan pada zaman prasejarah dulu sama-sama berasal dari satu yang yang sama. Namun, begitu menetap di pulau Kalimantan mereka menjadi terpecah-pecah, baik karena proses geografi, maupun karena proses demografi yang berlangsung selama lebih dari seribu tahun.&lt;br /&gt;Klaim mereka sebagai penduduk asli pulau Kalimantan didasarkan pada fakta arkeologis bahwa meskipun mereka adalah pendatang yang berasal dari Propinsi Yunan, namun mereka sudah menetap di tempat ini sejak zaman Paleolitik, yakni sejak 13 ribu tahun yang lalu atau bahkan sejak 900 ribu tahun yang lalu. &lt;br /&gt;Ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya (Palembang) melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan pada tahun 1025-1026, Pulau Kalimantan (setidak-tidaknya daerah Kalsel sekarang ini), sudah menjadi tempat pemukiman yang padat setidak-tidaknya sejak 10 ribu tahun yang lalu (8.000 SM). &lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu dapat dipahami jika pengaruh sosial politik dan sosial budaya suku bangsa Melayu yang datang dari Pulau Sumatera itu tidaklah signifikan. Hal ini mengingat situasi sosial politik dan sosial budaya di Pulau Kalimantan ketika itu sudah mapan semapan-mapannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAJAAN NAN SARUNAI, 242 SM-1362 M&lt;br /&gt;Gua Batu Babi, tempat ditemukannya fosil manusia purba itu terletak tidak jauh dari pusat Kerajaan Nan Sarunai (Kerajaan Tanjung Puri) yang terletak di Kahuripan (nama purba kota Tanjung sekarang ini). &lt;br /&gt;Namun, manusia purba dimaksud bukanlah warga negara Kerajaan Nan Sarunai, karena Kerajaan Hindu ini sendiri baru berdiri pada 242-226 SM.&lt;br /&gt;Ihwal mengenai keberadaan Kerajaan Nan Sarunai  ini banyak diceritakan dalam mitologi Maanyan. Konon, wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir, dan Tanah Gerogot sekarang ini.&lt;br /&gt;Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai, tak pelak lagi merupakan petunjuk pertama bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini.  &lt;br /&gt;Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di pinggiran kota Amuntai sekarang ini. &lt;br /&gt;Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20).&lt;br /&gt;Menilik dari angka tahun dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura yang terletak tidak jauh dari Kahuripan, yakni di daerah Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. &lt;br /&gt;Menurut salah satu prasasti Yupa yang ditemukan di situs Muara Kaman, Kerajaan Kutai Martapura baru ada pada tahun 400 M.&lt;br /&gt;Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan besar yang rakyatnya hidup makmur, terutama sekali  pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. &lt;br /&gt;Tahun 400 M, Raja Mulawarman diberitakan telah memberikan hadiah berupa emas dan sapi dalam jumlah begitu banyak kepada para Brahmana. &lt;br /&gt;Di mana di dalam salah satu prasasti Yupa disebutkan jumlah sapi yang dipersembahkan Raja Mulawarman ada sebanyak 20.000 ribu ekor.&lt;br /&gt;Sungguhpun letaknya saling berdekatan, namun Kerajaan Nan Sarunai sama sekali tidak tersentuh oleh kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura.&lt;br /&gt;Pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai inilah suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan (1025-1026).&lt;br /&gt;Mereka diterima dengan baik sebagai tamu yang sedang mencari suaka politik. Kerajaan Sriwijaya ketika itu porak poranda akibat diserbu bala tentara Cola Mandala (India).&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan jika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya itu memilih Kerajaan Nan Sarunai sebagai tempat tujuan migrasinya. &lt;br /&gt;Menurut Babe Kuden dalam tulisannya berjudul Pangeran Samudra Dari Dayak Maanyan? (SKH Banjarmasin Post (Rabu, 21 September 2005, hal 20), Lokasi yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pada mulanya bernama Lili Kumeah. &lt;br /&gt;Lili Kumeah didirikan oleh Datu Sialing dan Damung Gamiluk Langit. Mereka berdua memimpin sekelompok anggota masyarakat etnis Maanyan mencari tempat pemukiman baru yang lebih menjanjikan sebagai tempat penghidupan. &lt;br /&gt;Konon, semua anggota kelompok masyarakat etnis Maanyan pada mulanya tinggal di satu tempat pemukiman yang sama, yakni Pupur Purumatung. Pupur Purumatung adalah tempat pemukiman terakhir yang didiami bersama oleh nenek moyang etnis Maanyan. Setelah itu, setiap kepala keluarga etnis Maanyan  memimpin anggota keluarganya masing-masing mengembara mencari tempat pemukiman baru yang lebih baik.&lt;br /&gt;Masih menurut Babe Kuden, sebelum tinggal di Purumatung, nenek moyang etnis Maanyan tinggal di Margoni, sebuah tempat pemukiman yang selalu diliputi awan (simbol negeri khayangan atau setidak-tidaknya simbol negeri yang berada di atas gunung). &lt;br /&gt;Setelah cukup lama tinggal di Margoni, etnis Maanyan kemudian berturut-turut pindah ke Sinobala, Lalung Kawung, Lalung Nyawung, Sidamatung, Etuh Bariungan, dan terakhir di Pupur Purumatung. &lt;br /&gt;Tujuh tahun setelah tinggal bersama di Pupur Purumatung, sejumlah kepala keluarga nenek moyang etnis Maanyan memutuskan untuk membawa anggota keluarganya masing-masing mengembara mencari tempat pemukiman yang baru. Hanya keluarga Datu Gilangan Langit yang memilih tetap tinggal di Pupur Purumatung.    &lt;br /&gt;Lama kelamaan, Lili Kumeah berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pelabuhan Teluk Sarunai menjadi tempat persinggahan yang ramai bagi perahu dagang yang datang dari berbagai penjuru negeri. Selanjutnya, Lili Kumeah semakin berkembang, hingga akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang gilang gemilang.&lt;br /&gt;Pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai inilah suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan (1025-1026). Mereka diterima dengan baik sebagai tamu yang sedang mencari suaka politik. Kerajaan Sriwijaya ketika itu porak poranda akibat diserbu bala tentara Cola Mandala (India). &lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan jika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya itu memilih Kerajaan Nan Sarunai sebagai tempat tujuan migrasinya. Kerajaan Nan Sarunai ketika itu sudah menjadi negara yang kaya raya yang rakyatnya hidup makmur tiada kurang suatu apa. Tempat yang ideal untuk mencari penghidupan baru ketika itu. &lt;br /&gt;Namun, akibat kekayaannya yang melimpah ruah itu pula, maka banyak kerajaan lain yang ada di sekitarnya tergiur untuk menyerbunya dan menjadikannya sebagai negara jajahannya. Pada tahun 1355, Raja Hayam Wuruk memerintahkan Empu Jatmika untuk memimpin armada pasukan perang Kerajaan Majapahit menyerbu ke Kerajaan Nan Sarunai. &lt;br /&gt;Setelah terlibat pertempuran sengit yang banyak menimbulkan korban di ke dua belah pihak, maka pada tahun 1355 itu juga pasukan perang Empu Jatmika berhasil menaklukan Kerajaan Nan Sarunai dan menjadikannya sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit. &lt;br /&gt;Peristiwa penaklukan Kerajaan Nan Sarunai oleh Empu Jatmika pada tahun 1355 ini banyak diabadikan oleh para seniman lokal dalam tutur wadian gubahan mereka. Para seniman lokal itu meratapinya  sebagai peristiwa usak Jawa (penyerangan Kerajaan Jawa) yang sangat memilukan hati. Wadian adalah sejenis puisi ratapan (eligi) yang dilisankan dalam bahasa Maanyan.  &lt;br /&gt;Keberadaan wadian berbahasa Maanyan di atas, tak pelak lagi merupakan petunjuk ke dua bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAJAAN NEGARA DIPA, 1362-1448&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana yang sudah digagas oleh Raja Hayam Wuruk, orang yang bakal menjadi raja di bekas wilayah Kerajaan Nan Sarunai itu adalah putranya Pangeran Surianata.&lt;br /&gt;Tahun 1632, Empu Jatmika mulai mempersiapkan prosesi penjemputan Pangeran Surianata dari Kerajaan Majapahit. Tapi, Empu Jatmika tiba-tiba jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tugas penjemputan itu diambil alih oleh anaknya Lambung Mangkurat. &lt;br /&gt;Sejak tahun 1362 ini Pangeran Surianata berkuasa di bekas wilayah Kerajaan Nan Sarunai. Ia menobatkan dirinya sebagai raja di Kerajaan Negara Dipa. Nama ini berasal dari bahasa Maanyan dipah ten, artinya kerajaan di seberang situ. &lt;br /&gt;Pemakaian kosa-kata bahasa Maanyan dipah ten muntuk menyebut nama Kerajaan Negara Dipa yang didirikan oleh Pangeran Surianata, tak pelak lagi merupakan petunjuk ke tiga bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini.  &lt;br /&gt;Pangeran Surianata memusatkan pemerintahannya di sekitar kota Amuntai sekarang ini, tepatnya di pertemuan antara sungai Tabalong dengan sungai Balangan, tak jauh dari lokasi berdirinya Candi Agung sekarang ini. &lt;br /&gt;Pasca runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai etnis Maanyan masih mempunyai tokoh pemersatu, yakni Putri Junjung Buih, anak sulung dari raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai. &lt;br /&gt;Tidak lama berkuasa, Pangeran Surianata menikahi Putri Junjung Buih Sejak itu, tidak ada lagi konplik politik antara orang Jawa sebagai suku bangsa pendatang versus orang Maanyan (berikut suku bangsa lainnya) sebagai suku bangsa penduduk asli di daerah ini.  &lt;br /&gt;Selama keberadaannya, Kerajaan Negara Dipa diperintah oleh 5 orang raja, yaitu : Pangeran Surianata (1362-1385), Pangeran Surya Gangga Wangsa (1385-1421), Raden Carang Lalean (1421-1436), Putri Kalungsu (1436-1448), dan Raden Sari Kaburangan (Raden Sekar Sungsang)(1448). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAJAAN NEGARA DAHA, 1448-1526&lt;br /&gt;Setelah dinobatkan sebagai raja baru, Raden Sari Kaburangan memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Muara Hulak (kota Negara sekarang ini). Tidak hanya itu, Raden Sari Kaburangan juga mengganti nama kerajaannya menjadi Kerajaan Negara Daha. &lt;br /&gt;Tampilnya Raden Sari Kaburangan sebagai raja di Kerajaan Negara Daha merupakan peristiwa yang menandai pulihnya kembali hegemoni etnis Maanyan sebagai penguasa di tanah leluhurnya sendiri, sama seperti yang berlaku pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai dahulu.  &lt;br /&gt;Memang, di dalam tubuh Raden Sari Kaburangan mengalir darah Jawa yang diwarisinya dari kakek buyutnya Pangeran Surianata. Namun, darah Jawa itu sudah semakin tawar karena Raden Sari Kaburangan merupakan generasi ke empat (buyut). Ini berarti, secara genetik darah yang mengalir di dalam tubuhnya didominasi oleh darah Maanyan.&lt;br /&gt;Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman Kerajaan Negara Daha adalah Candi Laras yang terletak di pinggiran kota Margasari, Tapin. Pengujian C-14 yang dilakukan terhadap tiang bangunan Candi Laras menghasilkan angka tahun dengan kisaran 1240-1426 M (Wasita dkk, 2000:12-13).&lt;br /&gt;Selama keberadaannya, Kerajaan Negara Daha diperintah oleh empat orang raja beragama Budha sebagaimana yang tercermin dari Candi Laras yang merujuk kepada ciri-ciri candi Budha, yaitu : Raden Sari Kaburangan (1448-1486), Maharaja Sukarama (1486-1525), Arya Mangkubumi (1525), dan Pangeran Tumanggung (1525-1526). &lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Maharaja Sukarama, yakni pada tahun 1511, Kerajaan Negara Daha menerima kedatangan suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Melaka yang terpaksa melakukan migrasi massal ke mana-mana menyusul jatuhnya Kerajaan Melaka ke tangan penguasa kolonial Portugis.&lt;br /&gt;Mereka kemudian tinggal menetap di tepi kiri dan kanan Sungai Kuin (sekarang termasuk dalam wilayah kota Banjarmasin) bergabung dengan suku bangsa Melayu di bawah pimpinan Patih Masih yang sudah lama menetap di sana. &lt;br /&gt;Pada tahun (1415) terjadi kemelut politik di Kerajaan Negara Daha. Maharaja Sukarama mengeluarkan sabda pandita ratu yang berisi wasiat agar yang dinobatkan sebagai raja baru sepeninggalnya nanti adalah cucunya Pangeran Samudra, bukan anaknya yang tertua Arya Mangkubumi atau anaknya yang ke dua Pangeran Tumanggung.&lt;br /&gt;Namun, wasiat tinggal wasiat, ketika Maharaja Sukarama mangkat, Arya Mangkubumi segera mengambil alih kekuasaan (1416). Tapi, tidak lama kemudian ia tewas terbunuh di tangan Sa’ban seorang pembunuh bayaran yang setia kepada Pangeran Tumanggung (1519). Setelah membunuh Sa’ban, Pangeran Tumanggung menobatkan dirinya sebagai raja yang baru (1519).&lt;br /&gt;Pangeran Samudra yang ketika itu masih muda belia segera mengungsi menyelamatkan dirinya ke daerah Muara Kuin, Banjarmasin. Di sini ia ditampung dan dilindungi oleh Patih Masih seorang penguasa setempat. Patih Masih kemudian menobatkan Pangeran Samudra sebagai raja di Muara Kuin (1524) untuk menandingi kekuasaan Pangeran Tumanggung.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian terjadilah perang saudara yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak. Pangeran Samudra kemudian meminta bantuan pasukan perang kepada Sultan Trenggono yang ketika itu berkuasa di Kerajaan Demak. Bantuan diberikan dengan syarat Pangeran Samudra harus memeluk agama Islam jika berhasil mengalahkan Pangeran Tumanggung dalam perang saudara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAJAAN BANJAR, 1526-1905&lt;br /&gt;Pangeran Samudra tampil sebagai pemenang. Pada tanggal 25 September 1526 ia resmi menjadi penguasa tunggal di bekas wilayah Kerajaan Negara Daha (meliputi daerah Kalsel, Kalteng, Kaltim, dan sebagian daerah di Kalbar sekarang ini). &lt;br /&gt;Sejak itu Kerajaan Negara Daha berganti nama menjadi Kerajaan Banjar. Pangeran Samudra menobatkan dirinya sebagai raja di raja dengan gelar Sultan Suriansyah. Pusat pemerintahannya berada di Banjarmasin. &lt;br /&gt;Kerajaan Banjar merupakan kerajaan pertama yang berideologi Islam di daerah ini. Sebelumnya, kerajaan yang berdiri di daerah ini berideologi Kaharingan (Kerajaan Nan Sarunai), Hindu (Kerajaan Negara Dipa), dan Budha (Kerajaan Negara Daha).  &lt;br /&gt;Seiring dengan dijadikannya kota Banjarmasin sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Banjar, maka sebagian besar warga negara yang selama ini tinggal di daerah hulu sungai melakukan eksodus besar-besaran  ke kota Banjarmasin.&lt;br /&gt;Selama keberadaannya, Kerajaan Banjar diperintah oleh 19 orang raja, yaitu : &lt;br /&gt;1. Sultan Suriansyah (1526-1545), &lt;br /&gt;2. Sultan Rahmatullah (1545-1570), &lt;br /&gt;3. Sultan Hidayatullah (1570-1695), &lt;br /&gt;4.Sultan Mustakimbillah (1595-1620)&lt;br /&gt;5. Sultan Inayatullah (1620-1637), &lt;br /&gt;6. Sultan Saidulllah (1637-1642), &lt;br /&gt;7. Sultan Rakyat Allah (1642-1660), &lt;br /&gt;8. Sultan Amrullah Bagus Kesuma (1660-1663), &lt;br /&gt;9. Sultan Agung (1663-1679),  &lt;br /&gt;--. Sultan Amrulllah Bagus Kusuma (1680-1700), &lt;br /&gt;10. Sultan Hamidullah (1700-1734), &lt;br /&gt;11. Sultan Tamjiddullah (1734-1759), &lt;br /&gt;12. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (1759-1761)&lt;br /&gt;13. Sultan Tahmidullah (1761-1801), &lt;br /&gt;14. Sultan Sulaiman (1801-1825)&lt;br /&gt;15. Sultan  Adam Al Wasyibillah (1825 -1857)&lt;br /&gt;16. Pangeran Tamjidillah (1857-1859)&lt;br /&gt;17. Pangeran Hidayatullah (1859-1862)&lt;br /&gt;18. Pangeran Antasari gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (1862), dan &lt;br /&gt;19. Sultan Muhammad Seman (1862-1905) &lt;br /&gt;(Usman, 1994:302-304). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDENTITAS GENETIK, RELIGI, BAHASA, &lt;br /&gt;DAN BUDAYA ETNIS BANJAR &lt;br /&gt;Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara genetik etnis Banjar adalah orang Dayak (Balangan, Bakumpai, Barito, Dusun, Halong, Maanyan, Lawangan, Maratus, Ngaju, Ot Danum, Siang, dan suku bangsa lainnya), yang memilih agama Islam sebagai agama anutannya.&lt;br /&gt;Masih berdasarkan paparan di atas, para raja yang berkuasa di Kerajaan Nan Sarunai, Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Banjar, semuanya berdarah Maanyan. &lt;br /&gt;Demi memperkokoh identitasnya sebagai kolektif suku bangsa yang baru, maka selain dilekati dengan identitas genetika (orang Dayak) dan identitas religi (penganut agama Islam), orang Banjar juga mulai dilekati dengan 2 identitas lain, yakni  identitas bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulan (lingua franca), dan identitas budaya sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Genetik&lt;br /&gt;Identitas religi sebagai penganut agama Islam yang saleh mulai dilekatkan sebagai identitas baru kepada penduduk asli Pulau Kalimantan sejak tahun 1526, yakni sejak Sultan Suriansyah memegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Banjar yang berideologi ajaran agama Islam. &lt;br /&gt;Konsekwensi logis akibat ditetapkannya ajaran agama Islam sebagai ideologi negara adalah ditempatkannya agama Islam sebagai agama resmi di Kerajaan Banjar. &lt;br /&gt;Politik religius ini sudah barang tentu akan menempatkan warga negara Kerajaan Banjar yang beragama Islam sebagai warga negara kelas satu. &lt;br /&gt;Tertarik dengan ajaran agama Islam yang begitu istimewa berikut status sosial politik yang juga istimewa, maka semakin hari semakin banyak saja warga negara Kerajaan Banjar yang melepaskan keyakinan lamanya untuk kemudian memeluk agam Islam.&lt;br /&gt;Penetapan agama Islam sebagai agama resmi atau ideologi negara di Kerajaan Banjar bukannya tanpa masalah, warga negara Kerajaan Banjar yang beragama Hindu, Budha, Kaharingan, dan penganut agama yang lainnya memilih pindah menjauhi pusat pemerintahan. &lt;br /&gt;Warga negara Kerajaan Banjar yang tidak memeluk agama Islam inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal suku bangsa Balangan, Barito, Dusun, Lawangan, Maratus, Halong, Ngaju, Ot Danum, Siang, dan suku bangsa lainnya. &lt;br /&gt;Pada tahun 1895, Dr. August Kaderland memperkenalkan istilah etnis Dayak untuk menyebut semua kolektif suku bangsa penduduk asli Pulau Kalimantan yang belum memeluk agama Islam (Maunati, 2004:59).&lt;br /&gt;Pasca runtuhnya Kerajaan Banjar pada tahun 1905, istilah orang Banjar tidak lagi dipahami sebagai istilah kesatuan politik (warga negara Kerajaan Banjar), tetapi sudah mengalami pengerucutan sebagai istilah kesatuan suku bangsa (etnis Banjar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Religi&lt;br /&gt;Agama merupakan penanda identitas yang bersifat situasional yang dengan sadar dapat dilekatkan pada suatu kolektif suku bangsa tertentu, baik oleh suku bangsa itu sendiri, maupun oleh suku bangsa lainnya. &lt;br /&gt;Pada kasus-kasus tertentu, seseorang atau sekelompok orang yang pindah agama tidak saja berakibat pada terjadinya perubahan dalam hal identitas agamanya, tetapi juga dapat berakibat pada terjadinya perubahan dalam hal identitas suku bangsanya.&lt;br /&gt;Perubahan identitas suku bangsa dimaksud terjadi pada kasus masuk Islamnya suku bangsa Balangan, Barito, Dusun, Lawangan, Maanyan, Maratus, Halong, Ngaju, Ot Danum, dan Siang sejak tahun 1526. Begitu yang bersangkutan pindah keyakinan menjadi pemeluk agama Islam maka identitas suku bangsanya secara praktis akan berubah menjadi orang Banjar.&lt;br /&gt;Daud (1997:5) memaparkan bahwa orang Dayak yang memeluk agama Islam akan dikatakan sebagai telah menjadi orang Banjar. Ini berarti, secara genetik orang Banjar adalah orang Dayak yang memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;Menurut Mahin, orang Dayak yang  memeluk agama Islam disebut Hakey (Banjarmasin Post, Sabtu 24 Desember 2005:20). Orang Maanyan yang memeluk agama Islam disebut Matanu atau Mangantis. &lt;br /&gt;Kasus semacam ini sudah lama ditemukan dan dipaparkan oleh Saleh dkk (1978), King (1982), Coomans (1987), dan Winzelar (1997). &lt;br /&gt;Saleh dkk (1978:13-15) memaparkan bahwa pada zaman Kerajaan Banjar (1524-1905) dahulu, orang-orang Dayak yang memeluk agama Kaharingan atau memeluk agama Kristen akan tetap menyebut diri mereka sebagai orang Dayak. Sedangkan orang Dayak yang memeluk agama Islam menyebut diri mereka orang Banjar. &lt;br /&gt;Pengecualian terjadi pada suku Bakumpai, Baraki, dan Barangas, yang meskipun sudah memeluk agama Islam dan mempergunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulannya, namun mereka tidak disebut orang Banjar, tetapi tetap disebut    orang Bakumpa, Baraki, dan Barangas.  &lt;br /&gt;King (1982:27 dan 38), sebagaimana yang dikutipkan Maunati (2004 :29) memaparkan bahwa orang Dayak Pagan dan orang Dayak Taman (Dayak Ma-loh) akan dianggap sebagai orang Melayu jika yang bersang-kutan memeluk agama Islam. &lt;br /&gt;Coomans (1987) sebagaimana yang juga dikutipkan oleh Maunati (2004:29) memaparkan bahwa keDayakan orang Dayak di Kaltim dikaitkan dengan agama Kristen, yakni agama yang dalam kasus ini saling dipertentangkan dengan agama Islam sebagai agama yang dominan di Indonesia. Bila seorang Dayak masuk Islam, mereka tidak lagi dianggap sebagai orang Dayak, tetapi justru menjadi orang Melayu. &lt;br /&gt;Proses pergeseran identitas etnisitas semacam ini juga ditemukan faktanya oleh Winzeler (1997:219). Dengan nada serupa Winzeler menengarai orang Dayak Bidayuh yang menjadi muslim tidak lagi diakui oleh suku bangsanya sebagai orang Dayak Bidayuh. &lt;br /&gt;Memang, pada tempat-tempat tertentu di Pulau Kalimantan, orang Dayak tidak dengan sendirinya berbeda jauh dari kelompok-kelompok suku bangsa di sekitarnya. &lt;br /&gt;Sehubungan dengan kasus-kasus semacam itu Maunati (2004:39) berpendapat sangatlah problematis jika harus menunjukan batasan yang saling membedakan antara orang Dayak di satu pihak dengan orang Melayu di pihak lain.&lt;br /&gt;Mengutip Said (1993:xxix), Maunati (2004:30) memaparkan bahwa kebertumpang-tindihan budaya semacam ini barangkali sudah menjadi aturan ketimbang perkecualian. &lt;br /&gt;Faktor kesamaan wilayah dapat membuat semua kebudayaan menjadi saling terkait, tidak ada yang tunggal dan murni, semuanya hybrid, heterogen, tidak monolitik, dan tidak ada yang luar biasa.       &lt;br /&gt;Kelompok Dayak yang menggunakan bahasa Banjar, beragama Islam dan saling bercampur darah karena kawin mawin dengan suku Melayu dan Jawa, lambat laun akan berubah identitas etnisnya menjadi orang Banjar.&lt;br /&gt;Identitas Bahasa&lt;br /&gt;Menurut hasil penelitian Wurm dan Willson (1975), hubungan kekerabatan (kognat) antara bahasa Banjar dengan bahasa Melayu menyentuh angka 85 persen (Jarkasi, 2002:13). &lt;br /&gt;Tapi, ini bukan berarti bahasa Melayu yang mempengaruhi bahasa Banjar, sebaliknya bahasa Banjar yang justru mempengaruhi bahasa Melayu. Banyak di antara kosa-kata bahasa Melayu itu yang berasal atau berakar dari bahasa Banjar. Bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Fakta sejarah menunjukkan bahwa suku bangsa Melayu tidak pernah mendominasi kehidupan sosial politik dan sosial budaya di wilayah tempat tinggal purba etnis Banjar (di zaman Kerajaan Nan Sarunai, Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Banjar).&lt;br /&gt;Ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi pada tahun 1025-1026, Kerajaan Nan Sarunai sudah menjadi negara yang mapan secara sosial politik dan sosial budaya.&lt;br /&gt;Begitu pula halnya yang terjadi ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Melaka melakukan migrasi pada tahun 1511, Kerajaan Negara Daha sudah menjadi negara yang mapan secara sosial politik dan sosial budaya. &lt;br /&gt;Sehingga bagaimana mungkin suku bangsa Melayu sebagai suku bangsa pendatang yang jumlahnya tidak begitu signifikan dapat melakukan penetrasi sosial budaya yang begitu telak ke jantung peradaban warga negara Kerajaan Nan Sarunai (1025-1026) atau Kerajaan Negara Daha (1511).&lt;br /&gt;Bahasa yang mereka pergunakan sebagai bahasa pergaulan (liungua franca) juga berasal dari bahasa yang bersifat semula jadi yang diwarisi oleh nenek moyang mereka ketika masih tinggal di Yunan dahulu. &lt;br /&gt;Teori lain yang juga relevan adalah teori Blust (1988), dan Adelaar (1992). Keduanya menolak hipotesis bahwa asal-usul orang Melayu adalah di Semenanjung Melayu (Malaysia dan Kepulauan Riau). &lt;br /&gt;Merujuk pada keyakinan Blust dan Adelaar, maka itu berarti bahasa Melayu purba juga tidak berasal dari Semenanjung Melayu  sebagaimana yang dulu pernah diyakini oleh para ahli bahasa. &lt;br /&gt;Melalui pendekatan keaneka-ragaman bahasa tertinggi (maximun diversity), Collins (1975), dan Notherper (1996) berpendapat bahwa asal-usul bahasa Melayu adalah di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalbar (Budhie, 2003:18, dan Mawardi, 2003:13).&lt;br /&gt;Bahasa Melayu purba merupakan bahasa yang terbentuk dari hasil kompilasi bahasa-bahasa yang ada di Pulau Kalimantan, seperti bahasa Banjar, Berau, Iban, Sambas,  Sarawak, Ketapang, dan Kutai.&lt;br /&gt;Selain berkognat dengan bahasa Melayu, bahasa Banjar juga berkognat dengan sejumlah bahasa lain di Kalsel dan Kalteng. Menurut Zaini HD (2000:4), bahasa Banjar berkognat dengan bahasa Maanyan (32 %), dan dengan bahasa Ngaju (39 %).&lt;br /&gt;Fakta ini semakin mengukuhkan premis atau hipotesis bahwa etnis Banjar di Kalsel sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan secara sosial genetika dan sosial budaya dengan suku bangsa Dayak Maanyan, Dayak Ngaju, dan lebih-lebih  lagi dengan Dayak Meratus. &lt;br /&gt;Menurut Daud (1997:25), bahasa Dayak Bukit (saudara kita ini lebih senang disapa Dayak Maratus, pen) tidak lain adalah bahasa Banjar yang agak kuno. &lt;br /&gt;Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hammer (dalam Cense dan Uhlenback, 1958:59), Adul (1975), Ismail, dkk. (1979), dan Radam (2001:103-104).&lt;br /&gt;Hammer (dalam Cense dan Uhlenback, 1958:59) merupakan peneliti pertama yang mengembangkan te-ori bahwa bahasa Bukit merupakan salah satu subdialek Bahasa Banjar Hulu. &lt;br /&gt;Adul (1975) berpendapat bahwa bahasa Bukit  lebih dekat hubungannya dengan Bahasa Banjar Hulu sehingga dapat saja disebut atau dianggap sebagai Bahasa Banjar purba (arkais). &lt;br /&gt;Ismail, dkk. (1979:7-12) juga berkesimpulan bahwa kosa kata, tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat bahasa Bukit lebih dekat dengan Bahasa Banjar Hulu. &lt;br /&gt;Selanjutnya, Radam (2001:103-104) semakin memperkokoh teori bahwa bahasa Bukit dan bahasa Banjar Hulu merupakan dua bahasa yang berasal dari satu rumpun yang sama. &lt;br /&gt;Berdasarkan argumen yang dipaparkan Daud (1997 :25), maka fakta keserumpunan bahasa ini juga dapat dijadikan sebagai bukti pendukung bahwa orang  Banjar sesungguhnya saling berkerabat secara genetika dan budaya dengan orang Dayak pada umumnya, setidak-tidaknya dengan orang Dayak Maratus. &lt;br /&gt;Asal-usul nenek-moyang orang Banjar sama dengan etnis Dayak pada umumnya, yakni ras Melayu Malayan Mongoloid yang berasal dari Propinsi Yunan di Republik Rakyat Cina sekarang ini. Bukan ras Melayu yang berasal dari Semenanjung Melayu, Kepulauan Riau, dan Sumatera Selatan. &lt;br /&gt;Selain itu, dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Maratus  juga ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Maratus. &lt;br /&gt;Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Maratus yang bernama Sandayuhan. &lt;br /&gt;Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi. &lt;br /&gt;Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Maratus.  &lt;br /&gt;Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. &lt;br /&gt;Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan (Tsing, 1998:78-79 dan 405).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Budaya Sungai&lt;br /&gt;Secara budaya, Idwar Saleh dkk (1978:2) dan Atmojo (dalam Kasnowihardjo, 2004:26) melekatkan identitas sebagai suku bangsa dengan kebudayaan berbasis sungai kepada etnis Banjar di Kalsel. &lt;br /&gt;Menurut Saleh dkk (1978:13), suku bangsa Banjar di Kalsel adalah hasil pembauran yang unik dari sejarah sungai-sungai Bahau, Barito, Martapura, dan Tabunio. Masih menurut Saleh dkk (1978:8), seluruh kehidupan manusia di daerah Kalsel, terutama suku Banjar, hampir 80%, sampai ke udik ditandai oleh suatu budaya yang khas, yang disebut kebudayaan sungai.&lt;br /&gt;Atmojo (2004:25-26, dalam Kasnowihardjo dkk), memaparkan bahwa sejak zaman purba hingga sampai saat ini sungai-sungai di Kalsel berfungsi sebagai tempat konsentrasi pemukiman penduduk dan menjadi prasarana lalu lintas yang menghubungkan daerah muara dengan pedalaman. &lt;br /&gt;Bagi etnis Banjar di Kalsel sungai adalah jantung kehidupan, karena kehidupan mereka sangat dekat dengan sungai. Antara masyarakat dengan sungainya saling berinteraksi, beradaptasi, dan saling isi mengisi. Bermula dari fakta inilah maka etnis Banjar di Kalsel dikenal luas sebagai suku bangsa yang identik dengan budaya sungai. &lt;br /&gt;Menurut Saleh dkk (1978:8-9), kampung, bandar, dan keraton yang menjadi tempat konsentrasi pemukiman di Kalsel memang selalu di bangun di muara sungai atau di persimpangan sungai. &lt;br /&gt;Selain menghasilkan air untuk minum, mandi, dan mengairi sawah pasang surut, sungai juga menjadi tempat yang ideal untuk ikan berkembang biak. &lt;br /&gt;Kampung-kampung di Kalsel dibuat dengan cara memanjang di sepanjang sungai, ada rumah yang dibangun di atas rakit dan ada pula rumah yang dibangun di atas tebing. &lt;br /&gt;Pada masa-masa yang telah lalu, di daerah-daerah seperti itulah penduduk di daerah setempat dan para pendatang dari luar daerah membangun pusat-pusat pemerintahan. &lt;br /&gt;Kriteria tempat tinggal ideal bagi suku bangsa yang mengakrabi budaya sungai ketika itu adalah tempat yang berdekatan dengan teluk yang dalam dan berair tenang atau tempat berdekatan dengan sungai besar berair dalam. &lt;br /&gt;Tapi, teluk atau sungai dimaksud harus terletak di daerah pedalaman, dalam hal ini daerah pedalaman yang mampu memasok air tawar, bahan makanan, dan komoditi perdagangan yang sangat dibutuhkan konsumen di luar negeri, seperti : damar, emas, intan, karet, kayu gaharu, kayu gelondongan, lada, madu, pangan, papan, rotan, sarang burung walet dan lain-lain. &lt;br /&gt;Hubungan perdagangan dengan luar negeri inilah yang menjadi faktor utama tumbuh pesatnya kota-kota pedalaman di tepi sungai dan teluk dimaksud.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSTRUKSI IDENTITAS &lt;br /&gt;KOLEKTIF ETNIS BANJAR&lt;br /&gt;Menurut Ericksen (1993), identitas suatu suku bangsa dapat saja dibangun ulang sesuai dengan situasi yang relevan.&lt;br /&gt;Konstruksi identitas agama yang terbentuk sebagai akibat dari terjadinya perpindahan agama dalam kasus orang Dayak memeluk agama Islam (Hakey) membuka peluang bagi terbentuknya konstruksi identitas orang Banjar yang lebih kontekstual.&lt;br /&gt;Beradasarkan paparan menyangkut identitas genetika, religi, bahasa, dan budaya di atas, maka identitas kontekstual etnis Banjar dapat dikonstruksikan dengan gambaran sebagai berikut. &lt;br /&gt;(1) Etnis Banjar merupakan suku bangsa asli pulau Kalimantan, &lt;br /&gt;(2) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki profil fisik yang khas identitas ras Melayu asal Propinsi Yunan (Malayan Mongoloid), &lt;br /&gt;(3) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas genetika sebagai suku bangsa berdarah Dayak &lt;br /&gt;(4) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas agama sebagai penganut agama Islam. &lt;br /&gt;(5) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas budaya sebagai pemakai bahasa Banjar dalam kehidupan kesehariannya (lingua franca), &lt;br /&gt;(6) Etnis Banjar adalah suku bangsa yang memiliki identitas budaya sebagai pengusung budaya sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POPULASI ORANG BANJAR&lt;br /&gt;Menurut sensus yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2000, jumlah populasi orang Banjar di Kalsel ada sebanyak 2.271.586 jiwa (Wikipedia Indonesia).&lt;br /&gt;Masih menurut sumber data yang sama orang Banjar juga ditemukan keberadaannnya dalam jumlah yang signifikan di Kalbar (24.117), Kalteng (435.758), dan Kaltim (340.381).&lt;br /&gt;Jumlah orang Banjar di Pulau Jawa, di DKI Jakarta (7.977), dan Jabar (5.923). Sayang sekali data-data populasi orang Banjar di Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jatim, Jateng, NTB, dan NTT tidak dicantumkan dalam sumber di atas. Padahal, jumlah populasi orang Banjar di daerah-daerah tersebut pastilah banyak sekali.&lt;br /&gt;Jumlah orang Banjar di Pulau Sumatera, Jambi (83.458), Nangroe Aceh Darussalam (1.726), Riau (179.380), Sumut (111.886), dan Sumsel (921). Sayang sekali data-data populasi orang Banjar di Bengkulu, Lampung, dan Sumbar tidak dicantumkan dalam sumber di atas. Padahal, jumlah populasi orang Banjar di daerah-daerah tersebut pastilah banyak sekali.&lt;br /&gt;Keberadaan orang Banjar di daerah-daerah di luar Kalsel sebagaimana yang ditunjukkan oleh data-data BPS tersebut di atas merupakan bukti bahwa orang Banjar termasuk suku bangsa yang suka merantau (bahasa Banjar, madam).&lt;br /&gt;Orang Banjar tidak hanya merantau di kawasan NKRI saja, tetapi juga ke luar negeri. Hanya saja datanya belum ada. Khusus populasi orang Banjar di Malaysia, menurut versi situs Joshua Project jumlahnya tidak kurang dari 519.000 orang.&lt;br /&gt;  Keberadaan orang di luar wilayah domestiknya (Kalsel) tidak hanya pada masa-masa sekarang ini, tetapi sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dahulu.&lt;br /&gt;Pada tahun 1930, pemerintah kolonial Belanda melakukan Volkstelling, hasilnya adalah data berikut ini. Jumlah orang Banjar di Pulau Sumatera (77.836 orang), Pulau Sulawesi (2.319 orang), Nusa Tenggara (151 orang), dan di Malaysia Barat (20.339). &lt;br /&gt;Sesungguhnya, jauh sebelum tahun 1930, orang Banjar sudah banyak yang pergi merantau ke luar daerah bahkan ke luar negeri.&lt;br /&gt;Fakta sejarah menunjukkan, di antara etnis Banjar yang tinggal di pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu, ada yang  merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar pada tahun 1780, 1862, dan 1905.&lt;br /&gt;Pada tahun 1780, terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni raja usurpatur Pangeran Tahmidullah. &lt;br /&gt;Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati, sehingga darah mereka sudah dihalalkan untuk ditumpahkan.&lt;br /&gt;Pada tahun 1862, terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali ini adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. &lt;br /&gt;Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka sudah terdesak sedemikian rupa. &lt;br /&gt;Pasukan Residen Belanda yang menjadi mus-uh mereka dalam Perang Banjar sudah berhasil menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. &lt;br /&gt;Pangeran Antasari sendiri sudah memindahkan pusat perlawanannya ke daerah Muara Teweh, Kalteng.&lt;br /&gt;Pada tahun 1905, etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke Pulau Sumatera. &lt;br /&gt;Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan pasukan militer Belanda. &lt;br /&gt;Sepeninggal Sultan Muhammad Seman, maka praktis mereka akan hidup sebagai warga negara tanpa kelas dari suatu negara yang dijajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN BACAAN&lt;br /&gt;Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Cetakan I &lt;br /&gt;Ganie, Tajuddin Noor. 1991:4, Migrasi Orang Banjar ke Sumatera. dalam SKH Surya Surabaya, 18 Maret 1991. &lt;br /&gt;Ismail, Abdurahman dkk. 1997. Bahasa Bukit. Jakarta : Pusat Bahasa. Cetakan I&lt;br /&gt;Kasnowihardjo dkk, H. Gunadi. 2004. Sungai dan Kehidupan Masyarakat di Kalimantan. Banjarbaru : Penerbit Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Kalimantan Selatan. Cetakan I.&lt;br /&gt;Kuden, Babe. 2005. Pangeran Samudra Dari Dayak Maanyan? SKH Banjarmasin Post, Rabu, 21 September 2005, hal 20&lt;br /&gt;Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak : Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta : Penerbit LKiS. Cetakan I.&lt;br /&gt;Radam, Noer’ied Haloi. 1994. Religi Orang Bukit. Yogyakarta : Penerbit Semesta. Cetakan I.&lt;br /&gt;Saleh, M. Idwar. 1978. Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta : Penerbit Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Cetakan I  &lt;br /&gt;Tsing, Anna Lowenhaupt. 1998. Di bawah Bayang-bayang Ratu Intan : Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat Terasing. Jakarta : Penerbit Yayasan Obor. Cetakan I.&lt;br /&gt;Usman, Gazali. 1994. Kerajaan Banjar : Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan, dan Agama Islam. Banjarmasin : Penerbit Lambung Mangkurat University Press. Cetakan I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-1673658179351809057?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/1673658179351809057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/sejarah-kehidupan-di-tanah-banjar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/1673658179351809057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/1673658179351809057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/sejarah-kehidupan-di-tanah-banjar.html' title='SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-4841756115271408321</id><published>2010-12-12T22:09:00.001-08:00</published><updated>2010-12-30T21:42:21.546-08:00</updated><title type='text'>MENGKRITISI LIMA DEFINISI SASTRA BANJAR YANG SUDAH DIWACANAKAN ORANG</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 10-13 Agustus 2000, di kota Banjarmasin berlangsung Musyawarah Besar Pembangunan Banua Banjar, salah satu hasilnya adalah rumusan tentang sastra Banjar yang berbunyi sebagai berikut : sastra Banjar adalah salah satu ciri sastra daerah yang hidup di Kalsel dengan ciri-ciri : (1) berbahasa Banjar, (2) bersifat lisan, (3) telah hidup dan berkembang selama 2 generasi, dan (4) berisi nilai-nilai lokal dan universal (Rumusan Komisi C Bidang Sosial Budaya).&lt;br /&gt;Definisi sastra Banjar yang demikian itu sesungguhnya sudah menjadi semacam pengetahuan umum yang sering diulang-ulang dalam banyak publikasi. Semua ciri yang disebutkan dalam definisi sastra Banjar di atas merujuk kepada identifikasi sastra Banjar sebagai karya sastra klasik yang bersifat lisan, seperti : andi-andi, bacaan (mantra), bapandung (monolog), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris), madihin (puisi), mamanda (teater), pantun, syair, dan surat tarasul (surat cinta yang dimuati dengan puisi puja-puji untuk kekasih hati). &lt;br /&gt;Topik mengenai sastra Banjar baru saja menjadi bahan perdebatan yang relatif hangat di SKH Radar Banjarmasin. Perdebatan berlangsung selama 6 bulan penuh, yakni pada bulan Juni sampai dengan Desember 2005. Mereka yang terlibat dalam perdebatan hangat dimaksud adalah para sastrawan dan akademisi terkemuka di daerah ini, yakni : Jamal T. Suryanata (7 judul tulisan), Sainul Hernawan (4), Jarkasi (3), Harie Insani Putra (1), Setia Budhi (1), Fatchul Muin (2), Burhanuddin Soebely (3), dan Tarman Effendi Tarsyad.(1). Semua tulisan dimaksud (22 judul), ditambah dengan Kata Pengantar (H. Rustam Effendi), Catatan Kritis (Prof. Dr. H. Djantera Kawi), Komentar (Agus R. Sardjono), Catatan Penyunting (Jarkasi dan Sainul Hernawan), dan Epilog (Syarifuddin R), telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Sastra Banjar Kontekstual (Penerbit IRCiSoD Yogyakarta, FKIP Unlam Press Banjarmasin, dan Forum Kajian Budaya Banjar Banjarmasin, 2006).&lt;br /&gt;Perdebatan disulut oleh Sainul Hernawan yang tidak setuju dengan definisi sastra Banjar yang dirumuskan oleh Jamal T. Suryanata yang membatasi sastra Banjar pada karya sastra berbahasa Banjar saja. Sainul Hernawan (dalam Jarkasi dan Hernawan, 2006 : 34) berpendapat jika identitifikasi sastra Banjar yang demikian itu dipaksakan maka sastra Banjar akan menjadi rumah yang eksklusif dan ngalih banar dimasuki oleh karya sastra berorientasi sosiokultural Banjar dan ditulis oleh warga Banjar dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Secara garis besar para sastrawan dan akademisi yang terlibat dalam perdebatan dimaksud terpolarisasi ke dalam dua kubu utama, yakni : (1) kubu yang mengusung pendapat bahwa bahasa Banjar merupakan ciri mutlak yang harus ada dalam sastra Banjar, tanpa bahasa Banjar berarti bukan sastra Banjar, posisi bahasa Banjar tidak dapat digantikan oleh bahasa lain  (Jamal T. Suryanata dkk), dan (2) kubu yang mengusung pendapat bahwa bahasa Banjar bukan merupakan ciri mutlak yang harus ada dalam sastra Banjar, sastra Banjar dapat saja ditulis dalam bahasa lain selain bahasa Banjar, posisi bahasa Banjar dapat saja digantikan oleh bahasa lain (Sainul Hernawan dkk).&lt;br /&gt;Jika definisi sastra Banjar diibaratkan sebagai pintu masuk ke dalam rumah pustaka sastra Banjar, maka sesungguhnya pintu masuknya tidak cuma 2, tetapi setidak-tidak ada 5 pintu. Tidak setiap pintu dapat dimasuki begitu saja tanpa pssword sama sekali, karena setiap pintu memiliki ketentuan yang mengatur siapa saja sastrawan yang dapat memasukinya, dan siapa saja sastrawan yang tidak dapat memasukinya. &lt;br /&gt;Lima pintu masuk atau definisi sastra Banjar yang saya maksudkan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1) Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar.&lt;br /&gt;(2) Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar. &lt;br /&gt;(3) Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar). &lt;br /&gt;(4) Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang apa saja (tidak mesti tentang etnis Banjar) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (bukan dalam bahasa lainnya) oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar).&lt;br /&gt;(5) Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar, dilisankan atau dituliskan oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar), dan dalam bahasa apa saja (tidak mesti dalam bahasa Banjar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINTU KESATU&lt;br /&gt;Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar. &lt;br /&gt;Sastra Banjar menurut definisi di atas merujuk kepada tiga ciri, yakni : (1) bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar (aspek sosio-kultural yang sudah ditentukan fokus dan lokusnya), (2) dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (aspek bahasa), dan (3) sastrawan yang melisankan atau menuliskannya berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar (faktor etnisitas yang fokus dan lokusnya sudah ditentukan). Karya sastra yang tidak memenuhi semua ciri yang disyaratkan tidak boleh dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. &lt;br /&gt;Menurut Suryanata (2006:38) definisi sastra Banjar yang ideal adalah definisi sastra Banjar yang mengintegrasikan tiga pilar sekaligus, yakni : aspek bahasa, sosio-kultural, dan etnisitas pengarangnya. Definisi sastra Banjar yang ditempelkan pada pintu kesatu ini saya rumuskan dengan cara mengintegrasikan tiga pilar yang dimaksudkan Suryanata, yakni aspek bahasa (dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar), aspek sosio-kultural (bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar), dan faktor etnisitas pengarangnya (sastrawan berdarah Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar).&lt;br /&gt;Pintu kesatu ini merupakan pintu masuk yang paling sempit (pintu eksklusif). Pintu ini hanya dapat dimasuki oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang nyata-nyata lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar saja (bukan sastrawan anonim). Saking sempitnya, sastrawan berdarah Banjar yang tinggal di Tanah Banjar saja belum tentu dapat memasuki pintu ini. Karya sastra berbahasa Banjar yang mereka lisankan atau tuliskan dalam bentuk sastra klasik atau sastra modern harus melewati uji materi atau uji publik, apakah isinya bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel, atau sebaliknya malah bercerita tentang masalah-masalah yang universal?&lt;br /&gt;Memang, tidak semua karya sastra berbahasa Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bentuk andi-andi, bacaan (mantra), bapandung (monolog), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris), madihin (puisi), mamanda (teater), pantun, syair, surat tarasul, hikayat (kisah panjang berbahasa Banjar : kisjang), kisdap  (kisah handap : cerpen berbahasa Banjar), puisi, dan drama, bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar.&lt;br /&gt;Syair-syair yang selama ini diakui secara luas sebagai bukti kekayaan khasanah sastra Banjar klasik yang asli, ternyata tidak dimuati dengan paparan menyangkut kode budaya dan warna lokal yang khas etnis Banjar sebagaimana yang mungkin dipersangkakan orang selama ini. Menurut Suryanata (h.148), Sair Siti Zubaidah, Sair Tija Diwa, Sair Ratu Kuripan, Sair Brahma Sahdan, Sair Madi Kancana, Sair Gunung Sari, dan Sair Ganda Kasuma, dan Sair Burung Karuang, sesungguhnya tidak sepenuhnya mencerminkan kode budaya dan warna sosio-kultural masyarakat Banjar. Sebaliknya, bahkan, sangat banyak mengungkapkan kode budaya dan nilai-nilai kultural yang sesungguhnya asing bagi masyarakat Banjar sendiri. &lt;br /&gt;Di sana-sini di dalam syair-syair dimaksud memang ditemukan sisipan sejumlah kosa-kata bahasa Banjar, nama-nama burung dalam bahasa Banjar, dan nama buah-buahan dalam bahasa Banjar. Tapi, apakah itu sudah cukup signifikan untuk dijadikan sebagai bukti menyangkut adanya kode budaya dan warna lokal dalam syair-syair dimaksud? &lt;br /&gt;Karya sastra berbahasa Banjar yang bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar yang tidak diketahui apa dan siapa pengarangnya (bersifat anonim) juga tidak dapat masuk ke dalam rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu kesatu ini. Terhadap para sastrawan anonim ini siapa yang dapat memastikan yang bersangkutan memang sastrawan berdarah Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar? Hikayat Banjar, Syair Abdul Muluk, Syair Perahu, Syair Kiamat, Syair Burung Jujuk termasuk karya sastra klasik berbahasa Banjar yang tidak dapat masuk ke rumah sastra Banjar karena faktor etnisitas pelisan atau penulisnya yang tidak jelas (orang Banjar atau orang asing). &lt;br /&gt;Fakta menunjukkan, hampir semua karya sastra klasik berbahasa Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bentuk andi-andi, bacaan (mantra), bapandung (monolog), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris), madihin (puisi), mamanda (teater), pantun, syair, dan surat tarasul, bersifat anonim atau tidak diketahui apa dan siapa pelisan atau penulisnya yang sejati (faktor etnisitas pengarangnya masih kabur). &lt;br /&gt;Sastrawan Banjar yang dipastikan sudah masuk ke dalam rumah sastra Banjar melalui pintu yang kesatu ini antara lain : (1) A. Rasyidi Umar (dengan cerpennya Lawang dan Pitua), (2) Abdus Syukur MH (Latupan Cabi dan Tambus Nang Manyamani), (3) Aria Patrajaya (Tihang Bamata Malingan), (4) Bachtiar Sanderta (Aluh Campaka, Jabakan Kopi Kamandrah, Kai Iyus, Pitua Ma Haji Banjar, dan Tuli Sarumahan), (5) Burhanuddin Soebely (Rak Rak Gui), (6) Hijaz Yamani (Luka Nang Kada Sing Baikan), (7) Ian Emti (Amun Tambus Hanyar Kawin), (8) Jamal T. Suryanata (Balah Saribu, Galuh, dan Kariwaya), (9) M. Fitran Salam (Daluyan, Fitnah Kuyang, Galuh di Subalah Widai, Kaluh, Kawal Bahari, Mangatam Pilu, dan Maundak Kalayangan), (10) M. Rifani Djamhari (Malam Kumpai Batu), (11) Noor Aini Cahya Khairani (Batandu), (12) Sabrie Hermantedo (Kambang Pambarian), dan (13) Tajuddin Noor Ganie (Uma Ulun Nang Bungas dan Utuh Abut wan Tadung Kutung). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINTU KEDUA&lt;br /&gt;Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar. &lt;br /&gt;Sastra Banjar menurut definisi di atas merujuk kepada tiga ciri, yakni : (1) bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar (aspek sosio-kultural), (2) dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (aspek bahasa), dan (3) sastrawan yang melisankan atau menuliskannya bukan sastrawan anonim, dalam hal ini sastrawan dengan faktor etnisitas yang jelas, yakni berasal dari kalangan etnis Banjar (faktor etnisitas). Karya sastra yang tidak memenuhi semua ciri yang disyaratkan tidak boleh dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. &lt;br /&gt;Pintu kedua ini dapat dimasuki oleh sastrawan Banjar yang tidak lahir, tidak tinggal, atau tidak pernah tinggal di Tanah Banjar, karena fokus dan lokusnya memang tidak dibatasi (tidak ditentukan). Sastrawan keturunan Banjar yang lahir atau tinggal di mana saja di muka bumi ini (Kalbar, Kalteng, Kaltim, Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Timur Tengah, dan lain-lain) boleh masuk melalui pintu yang ke dua ini. &lt;br /&gt;Syaratnya sastrawan Banjar yang bersangkutan dapat melisankan atau menuliskan karya sastra berbahasa Banjar yang bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di mana saja di muka bumi ini (tidak dibatasi fokus dan lokusnya). Sastrawan Malaysia keturunan Banjar seperti Abdul Majid bin Lajim, Asari bin Osman, dan Ismail bin Najar (yang sering mempublikasikan karya sastra berbahasa Banjar mereka di situs internet, yang beberapa judul di antaranya pernah dimuat di Tabloid Bandarmasih, Banjarmasin) dengan sendirinya dapat masuk ke rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu yang kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINTU KETIGA&lt;br /&gt;Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar).&lt;br /&gt;Sastra Banjar menurut definisi di atas merujuk kepada dua ciri, yakni : (1) bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar (aspek sosio-kultural), dan (2) dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (aspek bahasa). Karya sastra yang tidak memenuhi semua ciri yang disyaratkan tidak boleh dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. &lt;br /&gt;Implikasi yang ditimbulkan oleh rumusan definisi sastra Banjar di atas adalah terbukanya peluang bagi siapa saja yang berminat untuk melisankan atau menuliskan karya sastra berbahasa Banjar yang berisi cerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar, meskipun berdasarkan faktor etnisitasnya sastrawan yang bersangkutan tidak berdarah Banjar (bukan orang Banjar, tapi orang bersuku lain, atau bahkan orang asing sekalipun). Termasuk dalam kelompok ini adalah para sastrawan anonim (yang tidak jelas faktor etnisitasnya) yang telah melisankan atau menuliskan karya sastra berbahasa Banjar, baik dalam bentuk klasik maupun dalam bentuk modern.      &lt;br /&gt;Pintu ke tiga ini merupakan pintu masuk bagi para sastrawan yang tidak berdarah Banjar tetapi mampu melisankan atau menuliskan karya sastra berbahasa Banjar yang menceritakan tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di mana saja di muka bumi ini (tidak dibatasi fokus dan lokusnya). Mereka pada umumnya adalah sastrawan Kalsel yang tidak berdarah Banjar tapi fasih berbahasa Banjar karena memang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar dalam kurun waktu yang cukup lama (baca : sastrawan Kalsel keturunan Batak, Betawi, Bugis, Dayak, Jambi, Jawa, Madura, Mandar, Melayu, Minang, Sunda, dan lain-lain).&lt;br /&gt;PINTU KEEMPAT&lt;br /&gt;Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang apa saja (tidak mesti tentang etnis Banjar) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (bukan dalam bahasa lainnya) oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar).&lt;br /&gt;Sastra Banjar menurut definisi di atas merujuk kepada satu ciri, yakni karya sastra yang menjadikan bahasa Banjar sebagai media publikasinya, baik secara lisan maupun secara tertulis. Semua karya sastra yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (aspek bahasa), tanpa memandang apapun yang diceritakannya (aspek sosio-kultural), dan siapa pun yang melisankan atau menuliskannya (termasuk sastrawan anonim)(faktor etnisitas) sudah memenuhi kriteria untuk dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. &lt;br /&gt;Implikasi yang ditimbulkan oleh rumusan definisi sastra Banjar di atas adalah tidak berlakunya batasan etnisitas menyangkut apa dan siapa sastrawan yang boleh melisankan atau menuliskan karya sastra berbahasa Banjar. Dalam hal ini terbuka peluang bagi siapa saja untuk menulis karya sastra berbahasa Banjar, meskipun yang bersangkutan bukan orang Banjar, tetapi orang bersuku lain atau bahkan orang asing sekalipun (termasuk di dalamnya sastrawan anonim). Syaratnya, yang bersangkutan mampu melisankan atau menuliskan salah satu jenis karya sastra dalam bahasa Banjar.&lt;br /&gt;Definisi sastra Banjar yang ditempelkan di pintu ke empat rumah pustaka sastra Banjar ini dirumuskan berdasarkan definisi sastra Banjar yang dipublikasikan Jamal T. Suryanata melalui tulisannnya berjudul Sastra Banjar Modern : Secuil Harapan dan Segepok Persoalan (Jarkasi dan Hernawan, 2006 : 143-152). Menurutnya, sastra Banjar adalah seluruh karya sastra, apa pun bentuk dan genrenya, yang diungkapkan dalam bahasa Banjar. Masih menurut Suryanata (2006:38) definisi sastra Banjar yang hanya mengenakan syarat bahasa Banjar seperti ini merupakan definisi sastra Banjar yang normatif, masih ada definisi sastra Banjar yang lain, yakni definisi yang bersifat ideal, yakni definisi sastra Banjar yang mengintegrasikan aspek bahasa, sosio-kultural, dan etnisitas pengarangnya (ketiga pilar inilah yang mendasari terbentuknya definisi sastra Banjar yang ditempelkan pada pintu kesatu rumah pustaka sastra Banjar di atas, TNG).&lt;br /&gt;Bertolak dari definisi normatif yang menuntut dipergunakannya bahasa Banjar sebagai bahasa pengungkap karya sastranya, maka keberadaan karya sastra hasil karya sastrawan Kalsel (yang berdarah Banjar sekali pun, TNG) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Indonesia (bukan dalam bahasa Banjar, TNG), menurut Suryanata (2006:38), mau tidak mau harus dikesampingkan dari zona pembicaraan tentang sastra Banjar. Sebaliknya, siapa saja yang mampu memenuhi tuntutan normatif menyangkut penggunaan bahasa Banjar sebagai bahasa ungkap karya sastranya, tanpa kecuali (termasuk sastrawan anonim), dapat masuk ke dalam rumah sastra Banjar melalui pintu yang keempat ini. &lt;br /&gt;Pintu keempat ini juga merupakan pintu masuk untuk syair-syair berbahasa Banjar yang tidak dimuati dengan paparan menyangkut kode budaya atau warna lokal yang khas etnis Banjar termasuk karya sastra yang masuk ke rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu keempat ini. Syair-syair dimaksud antara lain, Syair Brahma Sahdan (H. Pangeran Musa), Syair Ganda Kasuma (Haji Pangeran Musa), Syair Mayat (Haji Pangeran Musa), Syair Roko Amberi (Kiai Mas Ahmad Dipura), Syair Ringgit (Hajjah Umi), Syair Siti Zubaidah, Syair Tija Diwa, Syair Ratu Kuripan, , Syair Madi Kancana, Syair Gunung Sari, dan Syair Burung Karuang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PINTU KELIMA&lt;br /&gt;Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar, dilisankan atau dituliskan oleh siapa saja (tidak mesti oleh orang Banjar), dan dalam bahasa apa saja (tidak mesti dalam bahasa Banjar). &lt;br /&gt;Sastra Banjar menurut definisi di atas merujuk kepada satu ciri, yakni bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar (aspek sosio-kultural). Lokus dan fokus etnis Banjar yang diceritakan di dalam karya sastranya tidak dibatasi pada etnis Banjar yang tinggal di Tanah Banjar saja, tetapi meliputi semua lokus dan fokus etnis Banjar yang ada di mana saja di muka bumi ini (Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi, Papua, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Timur Tengah, dan lain-lain).&lt;br /&gt;Implikasi yang ditimbulkan oleh rumusan definisi sastra Banjar di atas adalah semua jenis karya sastra yang bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di mana pun juga di muka bumi ini  (tidak dibatasi fokus dan lokusnya) termasuk dalam kelompok sastra Banjar. Tidak peduli apakah karya sastra dimaksud masih berbentuk sastra lisan atau sudah berbentuk sastra tulis?. Tidak peduli apakah karya sastra dimaksud dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar, bahasa lokal lainnya, bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa asing sekalipun? (aspek bahasa). Tidak peduli apa dan siapa sastrawan yang melisankan atau menuliskan karya sastra dimaksud? (termasuk sastrawan anonim) (aspek etnisitas).&lt;br /&gt;Mengingat bahasa Banjar bukan merupakan ciri yang dijadikan dasar penetapannya sebagai sastra Banjar, maka dapat saja terjadi karya sastra yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar sekali pun tidak memenuhi kriteria untuk dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar, karena yang diceritakan di dalamnya bukanlah kehidupan keseharian etnis Banjar sebagaimana yang disyaratkan dalam rumusan definisi sastra Banjar itu sendiri.&lt;br /&gt;Definisi sastra Banjar yang ditempelkan di pintu ke lima  rumah pustaka sastra Banjar ini dirumuskan berdasarkan definisi sastra Banjar yang dipublikasikan Tarman Effendi Tarsyad (TET) melalui tulisannnya berjudul Sastra Banjar : Definisi, Ciri, dan Karyanya (Jarkasi dan Hernawan, 2006 : 153-165). Menurutnya, sastra Banjar adalah semua bentuk karya sastra yang diekspresikan oleh siapa saja, baik dalam bahasa Banjar maupun dalam bahasa Indonesia, selama karya sastra itu isinya mengungkapkan (segala) sesuatu yang terkait dengan etnografi orang Banjar.&lt;br /&gt;Menurut TET, yang penting adalah isi karya sastranya, bukan asal-usul orang yang mengekspresikannya, dan bukan pula bahasa yang digunakan untuk mengekpresikannya. Sastrawan yang mengekspresikannya boleh siapa saja (bukan orang Banjar sekali pun), dan bahasa yang digunakannya boleh bahasa apa saja (tidak mesti bahasa Banjar), yang penting isi karya sastranya berkaitan dengan etnografi orang Banjar.&lt;br /&gt;Etnografi orang Banjar yang dimaksudkan Tarsyad merujuk kepada deskripsi kebudayaan orang Banjar yang meliputi 9 unsur kebudayaan, seperti : (1) lokasi, lingkungan, dan demografi, (2) asal mula dan sejarah suku bangsa, (3) bahasa, (4) sistem teknologi, (5) sistem mata pencaharian, (6) organisasi sosial, (7) sistem pengetahuan, (8) kesenian, dan (9) sistem religi.&lt;br /&gt;Meskipun diekspresikan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan Banjar, namun karena isinya bukan mengenai etnografi orang Banjar, maka karya sastra itu tidak dapat dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. Contohnya menurut Tarsyad adalah Tajabak Kabut (puisi : Eza Thabry Husano), Gunung Kidul (puisi : Hamamy Adaby), Sanja Luruh (puisi : Arsyad Indradi), Bulan Bulat Bulaling (cerpen : Jamal T. Suryanata), dan Dasi, Nasi, Basi (cerpen : Jamal T. Suryanata).  &lt;br /&gt;Sebaliknya, meskipun diekspresikan dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan yang bukan orang Banjar, namun karena isinya mengenai etnografi orang Banjar, maka karya sastra itu dapat saja dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar. Contohnya menurut Tarsyad adalah Sungai Martapura (puisi : Slamet Sukirnanto), Sajak Pagi Muara Kuwin (puisi : Diah Hadaning), Pulau Kembang (puisi : Bambang Widiatmoko), dan Pasar Lama (cerpen : Korrie Layun Rampan).&lt;br /&gt;Masih ada satu karya sastra lainnya yang juga dapat dimasukan ke dalam rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu kelima ini, yakni Syair Pangeran Syarif Hasyim gubahan Engku Raja al Haji Daud bin Engku Raja al Haji Ahmad. Meskipun syair ini ditulis dalam bahasa Melayu oleh sastrawan yang juga berdarah Melayu (Riau), namun isinya bercerita tentang pengalaman hidup Pangeran Syarif Hasyim ketika bertugas sebagai pejabat militer Belanda di wilayah Kerajaan Banjar pada saat meletusnya Perang Banjar.&lt;br /&gt;Fakta menunjukan, sastrawan Indonesia yang masuk ke rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu ke lima ini pada umumnya adalah sastrawan Indonesia asal daerah Kalsel juga, yaitu mereka yang menulis karya sastra tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Sekadar menyebut beberapa nama, sastrawan Kalsel yang masuk melalui pintu ke lima ini antara lain : (1) Merayu Sukma (dengan romannya berjudul Putera Mahkota yang Terbuang), (2) Hadharyah M. Sulaiman (Suasana Kalimantan), (3) Aliansyah Luji (Memperebutkan Mawar di Candi Agung dan Intan Berlumur Darah), (4) Goemberan Saleh (Affair di Tanjung Silat), (5) Bachtar Suryani (antologi puisi : Sketsa Banjarmasin), (6) Tajuddin Noor Ganie dan Hadian Noor (kumpulan cerpen : Nyanyian Alam Pedalaman), dan (7) Tajuddin Noor Ganie (cerbung : Tegaknya Masjid Kami).&lt;br /&gt;Meskipun pintu ke lima ini selalu terbuka untuk dimasuki oleh siapa saja, namun fakta menunjukan tidak banyak sastrawan dari luar daerah Kalsel atau luar etnis Banjar yang tertarik untuk memanfaatkan kesempatan itu. Sampai sejauh ini peluang itu hanya dimanfaatkan secara tidak sengaja, tanpa disadari, atau bahkan tanpa dikehendaki oleh Slamet Sukirnanto, Diah Hadaning, Bambang Widiatmoko, Korrie Layun Rampan, dan Engku Raja al Haji Daud bin Engku Raja al Haji Ahmad sendiri. Semua karya sastra dimaksud tidak mereka tulis dengan interes agar dapat masuk ke rumah pustaka sastra Banjar melalui pintu ke lima yang dibukakan oleh Tarman Effendi Tarsyad ini.  &lt;br /&gt;Definisi yang diajukan  TET khususnya menyangkut kebolehan memakai bahasa bukan bahasa Banjar patut dikritisi. Fakta menunjukkan unsur bahasa yang dimaksud sebagai salah satu dari sembilan unsur dalam deskripsi etnografi orang Banjar di atas tidak bisa tidak adalah bahasa Banjar. Teori etnografi yang dipaparkan oleh TET adalah teori Koentjaraningrat tentang 9 unsur kebudayaan lokal. Di mana, unsur bahasa yang dimaksudkan oleh Koentajaraningrat adalah bahasa lokal bukan bahasa yang lainnya.&lt;br /&gt;Selain itu, jika kita mengikuti definisi TET, maka tidak tertutup kemungkinan sejumlah cerpen karangan Umar Khayam berjudul Kunang-kunang di Manhattan dan novel karangan Budi Darma berjudul Orang-orang Bloomington dapat dimasukkan ke dalam sastra Amerika Serikat. Betapa tidak? Meskipun ditulis dalam bahasa Indonesia, cerpen dan novel dimaksud bercerita tentang etnografi orang Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang apakah peluang itu memang ada bagi Umar Khayam dan Budi Darma? Hanya TET yang bisa menjawab. TET kutunggu jawabmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN BACAAN&lt;br /&gt;Ganie, Tajuddin Noor. 1998. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan. Banjarmasin : Penerbit Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalimantan Selatan, Cetakan I.&lt;br /&gt;Jarkasi dan Sainul Hernawan. 2006. Sastra Banjar Kontekstual. Banjarmasin : Penerbit IRCiSoD Yogyakarta, FKIP Unlam Press Banjarmasin, dan Forum Kajian Budaya Banjar Banjarmasin, Cetakan I.&lt;br /&gt;Jarkasi dan Djantera Kawi. 2000. Kajian Seni : Karakter Tokoh-Tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern. Banjarmasin : Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Cetakan I.&lt;br /&gt;Taman Budaya Kalsel. 2004. Kompilasi Naskah Cerpen Banjar. Banjarmasin : Taman Budaya Kalsel, Cetakan I.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-4841756115271408321?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/4841756115271408321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/definisi-sastra-banjar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4841756115271408321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/4841756115271408321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/definisi-sastra-banjar.html' title='MENGKRITISI LIMA DEFINISI SASTRA BANJAR YANG SUDAH DIWACANAKAN ORANG'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3540280952820404083</id><published>2010-12-12T22:07:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T19:38:13.188-08:00</updated><title type='text'>PROBLEMA PENEGAKKAN EKSISTENSI SASTRA BANJAR</title><content type='html'>KHASANAH SASTRA BANJAR&lt;br /&gt;Etnis Banjar di Kalsel memang tidak memiliki sistem aksara sendiri, tetapi mereka sudah mengenal sistem aksara Arab setidak-tidaknya sejak tahun 1526. Meskipun demikian tidak banyak ditemukan peninggalan-peninggalan dalam bentuk informasi yang dituliskan dengan huruf Arab pada batu, kayu, daun, logam, dan kertas. Hikayat Banjar boleh jadi merupakan karya sastra berbahasa Banjar pertama yang dituliskan orang di Tanah Banjar. Menurut JJ Ras (1968:181) Hikayat Banjar selesai ditulis pada tahun 1728. &lt;br /&gt;Langkanya peninggalan lama berupa karya sastra berbahasa Banjar yang dituliskan dalam bentuk buku-buku merupakan petunjuk bahwa para sastrawan Banjar  sezaman lebih senang menjalani profesinya secara oralitas (sastrawan lisan) bukan secara literalitas (sastrawan tulis). Karya sastra berbentuk andi-andi, bacaan, dongeng Banjar, hikayat Banjar, kisah Banjar, lamut, legenda Banjar, madihin, mitologi Banjar, pandung, pantun, paribasa, syair, dan surat tarasul (surat cinta berbentuk puisi) langsung mereka bacakan di depan forum dengan mengandalkan kemampuan mereka dalam menghapal dan mengolah rangkaian kosa-kata dengan sistem formulaik yang dikuasainya. Apalagi terhadap karya sastra berbentuk bacaan (mantra Banjar), karya sastra semacam ini sangat tinggi kerahasiaannya sehingga sangat tabu diperbanyak dalam bentuk buku seperti halnya karya sastra Banjar lainnya. &lt;br /&gt;Meskipun tidak sepenuhnya ditulis dalam bahasa Banjar, namun karena di dalamnya ditemukan kosa-kata bahasa Banjar yang relatif banyak maka sejumlah syair klasik yang ditulis pada zaman dahulu kala dapat dimasukan ke dalam khasanah sastra Banjar. Syair-syair klasik berbahasa Banjar dimaksud antara lain : Syair Ibarat dan Khabar Hari Kiamat (Abdurrahman Sidik Al Banjari Tembilahan), Syair Brahma Sahdan (Gusti Ali Basyah Barabai), Syair Ganda Kasuma (Haji Pangeran Musa Martapura), Syair Mayat (Haji Pangeran Musa Martapura), Syair Roko Amberi (Kiai Mas Ahmad Dipura Martapura), Syair Tajul Muluk (Kiai Mas Ahmad Dipura Martapura), Syair Ringgit (Hajjah Umi Barabai), Syair Siti Zubaidah (Anang Ismail Kandangan), Syair Tija Diwa (Anang Mayur Babirik), Syair Nagananti (Anang Mayur Bairik), Syair Madi Kancana (Gusti Ali Basyah Barabai), Syair Abdul Muluk (Kiai Mas Ahmad Dipura Martapura), Syair Nur Muhammad (Gusti Zainal Marabahan), Syair Ratu Kuripan, Syair Gunung Sari, Syair Perang Banjarmasin, Syair Carang Kulina, Syair Perang Wangkang, Syair Hemop, Syair Perahu, Syair Burung Jujuk, dan Syair Burung Karuang.&lt;br /&gt;Kegiatan pelisanan dan penulisan andi-andi, bacaan, lamut, pandung, syair, dan surat tarasul pada kurun waktu 1980-2009 ini sudah relatif jarang dilakukan orang sekarang ini. Ada 3 bentuk karya sastra Banjar yang masih agak sering dilisankan orang, yakni madihin, pantun, dan paribasa. Kesenian madihin masih sering dipertunjukan orang dengan tokohnya yang paling populer Jon Tralala dan anaknya Hendra. Sementara kegiatan bertukar pantun masih sering dilakukan sebagai bagian dalam tradisi maatar patalian (mengantar barang pinengset untuk calon mempelai wanita). Sementara itu, paribasa (yang dimaksud dalam tulisan ini adalah paribasa yang berbasis puisi, yakni paribasa yang mengandung kosa-kata perulangan) masih sering dilisankan orang dalam percakapan-percakapan informal dan masih sering pula dikutip orang dalam sejumlah tulisan yang dipublikasikan untuk umum.  &lt;br /&gt;Namun, yang sangat menggembirakan adalah kegiatan penulisan cerita rakyat berbahasa Banjar dalam bentuk mitologi, legenda, hikayat, kisah, dan dongeng, hingga sekarang masih tetap semarak. Penyebabnya terletak pada bentuk fisik cerita rakyat berbahasa Banjar yang tak jauh berbeda dengan bentuk fisik cerpen modern berbahasa Indonesia. Tokoh penulisnya yang paling produktif di bidang ini Bapak Drs. H. Syamsiar Seman, puluhan judul buku beliau yang berisi 5-10 buah cerita rakyat berbahasa Banjar sedang merajai pasaran buku sastra Banjar sekarang ini. &lt;br /&gt;Masih ada satu fenonema lagi yang juga sangat menggembirakan, yakni digemarinya cerita humor berbahasa Banjar Si Palui yang dimuat secara lepas sejak tanggal 2 Agustus 1971 di SKH Banjarmasin Post. Tidak diketahui dengan pasti berapa ribu judul jumlahnya yang sudah dimuat, tapi jika setiap tahun dimuat rata-rata sekitar 200 judul saja, maka selama kurun waktu 35 tahun telah dimuat tidak kurang dari 7.000 judul. Mula-mula rubrik yang sangat digemari pembaca ini diisi oleh Drs. H. Yustan Aziddin (alm) (1971-1990), kemudian diisi oleh Mas Abikarsa (alm) (1990-1995), dan selanjutnya  diisi oleh M. Hoesni Thamrin (alm)(1995-2005).  &lt;br /&gt;Sepeninggal mereka bertiga, rubrik ini masih tetap dipertahankan, namun saya lihat cuma diisi dengan cerita-cerita reproduksi saja (memuat ulang cerita yang sudah pernah dimuat). Tapi ini bukan berarti tidak ada penulis lain yang mampu menulis cerita berbahasa Banjar Si Palui, terbukti jumlah peserta yang mengikuti Sayembara Penulisan Cerita Si Palui yang digelar SKH Banjarmasin Post beberapa waktu yang lalu sangatlah banyak (lebih dari 500 judul)(SKH Banjarmasin Post, 1 Agustus 2006, hal 24). &lt;br /&gt; Karya sastra berbahasa Banjar yang banyak ditulis orang pada kurun waktu 1980-2008 ini pada umumnya merujuk kepada karya sastra berbentuk modern seperti puisi, dan cerpen. Sedangkan karya sastra yang berbentuk roman/novel cuma 1 buah, yakni Bulan Sunyi Kambang Tarati (Burhanuddin Soebely, cerber di SKH Radar Banjarmasin, 2005). Para penulis karya sastra berbahasa Banjar pada kurun waktu 1980-2009 pada umumnya berasal dari kalangan sastrawan Kalsel sendiri, baik yang berdarah Banjar, maupun yang berdarah suku bangsa lainnya. &lt;br /&gt;Sekadar mengungkapkan sejumlah fakta. Di bidang penulisan puisi, telah diterbitkan sejumlah antologi puisi bersama, antara lain :  Baturai Sanja (Eza Thabry Husano, Hamamy Adaby, dan Arsyad Indradi, 2004), Garunum (Hamamy Adaby dkk, 2006), dan Kaduluran (Hamamy Adaby, 2006, antologi puisi pribadi). Sementara itu di bidang penulisan cerpen telah terbit 2 judul antologi kisah handap (kisdap), yakni : Galuh (Jamal T. Suryanata, Penerbit Radar Banjarmasin Press, Banjarmasin, 2005) dan Maundak Dandang (M. Fitran Salam, Penerbit Swa Kelola Satu Warna Press, Banjarbaru, 2006).&lt;br /&gt;Cerpen berbahasa Banjar yang belum dibukukan secara refresentatif sangat banyak jumlahnya, antara lain : Lawang (A. Rasyidi Umar), Pitua (A. Rasyidi Umar), Latupan Cabi (Abdus Syukur MH), Tambus Nang Manyamani (Abdus Syukur MH), (3) Tihang Bamata Malingan (Aria Patrajaya), Aluh Campaka (Bachtiar Sanderta), Jabakan Kopi Kamandrah (Bachtiar Sanderta), Kai Iyus (Bachtiar Sanderta), Pitua Ma Haji Banjar (Bachtiar Sanderta), Tuli Sarumahan (Bachtiar Sanderta), Rak Rak Gui (Burhanuddin Soebely), Luka Nang Kada Sing Baikan (Hijaz Yamani), Amun Tambus Hanyar Kawin (Ian Emti), Malam Kumpai Batu (M. Rifani Djamhari), Batandu (Noor Aini Cahya Khairani), Kambang Pambarian (Sabrie Hermantedo), Uma Ulun Nang Bungas (Tajuddin Noor Ganie),  dan Utuh Abut wan Tadung Kutung (Tajuddin Noor Ganie).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROBLEMA PENEGAKAN EKSISTENSI SASTRA BANJAR&lt;br /&gt;Bila dihitung berdasarkan kurun waktunya (1728-2009), kegiatan penulisan karya sastra berbahasa Banjar tidaklah mengembirakan secara kuantitatif, mestinya, selama kurun waktu 281 tahun, telah ditulis tidak kurang dari 2.372 judul buku, itupun dengan asumsi yang sangat tidak produktif, yakni cuma 1 judul buku per satu bulan. Fakta ini menunjukan adanya problema tertentu dalam upaya menegakkan eksistensi sastra Banjar di Tanah Banjar.&lt;br /&gt;Jamal T. Suryanata (dalam Jarkasi dan Hernawan, 2006:85) berpendapat setidak-tidaknya ada 4 persoalan yang dihadapi sastra Banjar, yakni : (1) pengarang, (2) pembaca, (3) media penerbitan, dan (4) kritik sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Dari Sisi Sastrawan Banjar&lt;br /&gt;Problema yang dihadapi sastra Banjar dari sisi pengarangnya, antara lain belum dikuasainya teknis penulisan karya sastra berbahasa Banjar oleh mayoritas sastrawan Kalsel sendiri. Terbukti dari jumlah 307 sastrawan Kalsel yang terdaftar dalam buku Sketsa sastrawan Kalimantan Selatan (Jarkasi dan Ganie, 2001), sekitar 40 orang saja yang pernah menulis karya sastra berbahasa Banjar. Padahal, para sastrawan Kalsel yang tinggal di Tanah Banjar inilah yang mestinya paling banyak menguasai jurus-jurus penulisan karya sastra berbahasa Banjar, karena mereka secara demografis tinggal di pusat kebudayaan Banjar.&lt;br /&gt;Memang, tidak semua sastrawan Kalsel, termasuk yang berdarah Banjar sekalipun, yang mampu bolak-balik dalam menulis karya sastra, sekali waktu menulis karya sastra berbahasa Indonesia dan pada kali yang lain menulis karya sastra berbahasa Banjar. Jamal T. Suryanata (Jarkasi dan Hernawan, 2006:36) memuji A. Rasyidi Umar, Bachtiar Sanderta, M. Rifani Djamhari, YS Agus Suseno, dan M. Fitran Salam sebagai sastrawan Kalsel (Indonesia) yang mampu melakukan proses kreatif bolak-balik dalam penulisan karya sastra berbahasa Indonesia dan Banjar.  &lt;br /&gt;Penulisan karya sastra berbahasa Banjar memang tidak dapat dilakukan dengan menerapkan teknik alih bahasa atau alih kode dengan cara menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia (atau bahasa lainnya). Hal ini mengingat, struktur konsep berpikir dalam bahasa Indonesia sama sekali berbeda secara alamiah dengan struktur konsep berpikir dalam bahasa Banjar. YS Agus Suseno seorang sastrawan Kalsel yang terkenal piawai menulis cerpen-cerpen Banjar modern bahkan menabukan teknik alih bahasa dan alih kode semacam itu dalam proses kreatif penulisan cerpen Banjar modern.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan problema yang dihadapi para sastrawan dalam konteks proses kreatif penulisan karya sastra berbahasa Banjar ini, Jamal T. Suryanata (Jarkasi dan Hernawan (2006:28-29) memberikan 5 kiat sukses, yakni :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Meningkatkan kemampuan pribadi dalam mempergunakan bahasa Banjar sebagai media komunikasi yang alami, karena karya sastra berbahasa Banjar yang tinggi mutunya sangat ditentukan oleh kemampuan sastrawannya mempergunakan bahasa Banjar sebagai media komunikasi yang alami, setidak-tidaknya dalam komunikasi pasif melalui tulisan. &lt;br /&gt;(2)  Meningkatkan kemampuan pribadi dalam menguasai kerangka berpikir menurut konsep berpikir yang berlaku dalam bahasa Banjar. Hal ini mengingat, bahasa Banjar juga memiliki seperangkat idiom atau ungkapan lokal yang khas yang tidak dapat diterjemahkan atau diekspresikan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya.  &lt;br /&gt; (3) Meningkatkan kemampuan pribadi dalam menguasai kosa-kata bahasa Banjar berikut jangkuan semantis untuk setiap kosa-kata bahasa Banjar itu sendiri. Kemampuan pribadi ini dapat diasah melalui pengalaman lingistik dalam pergaulan sehari-hari atau melalui kegiatan pembacaan atas Kamus Banjar Indonesia karangan Abdul Djebar Hapip.&lt;br /&gt;(4) Meningkat kemampuan pribadi dalam menguasai pengetahuan tentang tradisi lokal yang khas etnis Banjar, baik dengan cara bergaul langsung ke tengah-tengah masyarakat atau melalui proses pembacaan buku-buku yang berisi paparan menyangkut tema dimaksud. Pengetahuan tentang tradisi lokal yang khas etnis Banjar ini sangat membantu sastrawan yang bersangkutan dalam menggambarkan warna lokal budaya Banjar secara lebih alami dan meyakinkan yang dalam karya sastra berbahasa Banjar yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Meningkatkan pengetahuan tentang teknik-teknik penulisan karya sastra modern dengan cara mempelajari buku-buku teori penulisan karya sastra, kritik sastra, dan mempelajari karya sastra hasil karya para sastrawan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Dari Sisi Pembaca &lt;br /&gt;Karya Sastra Berbahasa Banjar&lt;br /&gt;Burhanuddin Soebely (Jarkasi dan Hernawan, 2006:119) bersaksi bahwa pada saat berlangsungnya sessi tanya jawab peluncuran antologi cerpen berbahasa Banjar (kisdap) Galuh karangan Jamal T. Suryanata,  seorang pelajar SMA dengan polos mengatakan bahwa ia kurang dapat mengapresiasi kisdap-kisdap yang dimuat di dalam Galuh karena bahasa Banjar yang  dipakai banyak yang tidak dimengerti. Dia kemudian memberikan solusi agar kisdap-kisdap itu diterjemahkan saja ke dalam bahasa Indonesia. Pokok soal kasus ini bukanlah keengganan mengapresiasi, melainkan pada bahasa. Logikanya, jika sastra Banjar diperkenalkan secara dini dan intensif, atau langkah programatis lainnya, maka jembatan apresiasi akan menjadikan sastra Banjar berumur panjang  &lt;br /&gt;Selain itu, dalam lingkup sosial yang lebih luas kasus ini merupakan petunjuk bahwa bahasa Banjar merupakan bahasa yang kurang begitu banyak dipergunakan di kalangan generasi penerus di Tanah Banjar yang notabene berstatus sebagai pusat kebudayaan Banjar di dunia ini. Jumlah kosa-kata bahasa Banjar yang dikuasai oleh masyarakat pembaca karya sastra di tingkat generasi penerus ini masih sangat kurang. Ini berarti harus ada upaya bersama atau semacam strategi budaya untuk menciptakan situasi kondusif yang memungkinkan bahasa Banjar tetap dipergunakan sebagai bahasa pergaulan yang fungsional di Tanah Banjar.&lt;br /&gt;Sastra Banjar di masa depan akan menghadapi masa-masa kekurangan pembaca jika semakin hari semakin sedikit saja generasi penerus di Tanah Banjar ini yang dapat mengerti bahasa Banjar. Padahal, sastra Banjar membutuhkan khalayak pembaca, tanpa khalayak pembaca yang memadai, sastra Banjar tidak akan dapat dimaknai secara sewajarnya bagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan jumlah pembaca yang relatif minim, sementara tingkat kesulitan dalam menuliskannya yang juga relatif tinggi, maka bukanlah hal yang kebetulan jika para sastrawan Kalsel yang tinggal di pusat kebudayaan Banjar ini sendiri lebih suka atau lebih tergoda untuk memilih menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia dari pada dalam bahasa Banjar.    &lt;br /&gt;Menurut Burhanuddin Soebely (Jarkasi dan Hernawan, 2006:100), menulis dalam bahasa Indonesia, selain dorongan dari dalam juga merupakan pilihan politis dan pilihan ekonomis. Pilihan politis, karena di situ merupakan wahana pengembangan bakat dan penegasan eksistensi dalam jagat Indonesia, sebab ternyata sastra nasional bukanlah puncak-puncak sastra daerah. Pilihan ekonomis, karena di situ terbuka banyak ruang untuk memuat karya dan mendapatkan konpensasi atawa honorarium. Sementara menulis dalam bahasa Banjar lebih pada pilihan historis dan pilihan kultural emosional agar tidak kehilangan akar sejarah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Dari Sisi Media Penerbitan &lt;br /&gt;Karya Sastra Berbahasa Banjar&lt;br /&gt;Bahasa Banjar tidak pernah menjadi bahasa pergaulan yang fungsional di tingkat koran/majalah. Sejak awal dimulainya sejarah penerbitan surat kabar di Kalsel pada tahun 1930, tidak pernah ada koran/majalah berbahasa Banjar. Beda misalnya dengan yang terjadi di Tanah Jawa atau Tatar Sunda, sampai sekarang masih ada koran.majalah berbahasa Jawa atau Sunda. Koran/majalah berbahasa Jawa dan Sunda inilah yang menjadi tempat publikasi utama karya sastra berbahasa Jawa dan Sunda.&lt;br /&gt;Fakta ini menunjukan sastra Banjar sampai sekarang masih belum memiliki rumah yang nyaman di tingkat koran/majalah. Kecuali cerita Si Palui yang sejak tahun 1971 sudah menempati rumah tinggal yang nyaman di SKH Banjarmasin Post, karya sastra Banjar lainnya masih harus disibukan oleh urusan mencari rumah tumpangan di berbagai koran/majalah yang terbit di Kalsel. Untunglah, sekarang ini masih ada SKH Radar Banjarmasin yang berkenan memberi tempat singgah bagi karya sastra berbahasa Banjar, jika tidak, ke mana lagi para sastrawan Banjar mempublikasikan karya sastranya (ke laut?).&lt;br /&gt;Belum adanya koran/majalah yang sepenuhnya berbahasa Banjar membuat para sastrawan Kalsel lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Karya sastra dalam bahasa Indonesia dapat dikirim ke mana saja ke seluruh Indonesia, bahkan juga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Bila nasib baik, karya sastra karangan mereka dimuat di berbagai koran/majalah terkemuka terbitan ibukota, dan selanjutnya karya sastranya dibicarakan dan dipuji oleh para kritikus sastra terkemuka. &lt;br /&gt;Tidak hanya itu, seiring dengan semakin tingginya reputasi kesastrawanannya, para penerbit berlomba-lomba untuk menerbitkan buku karya sastranya yang memang laku keras di pasaran, para penyelenggara forum sastra di tingkat nasional silih berganti mengundang kehadirannya, nama dan biografinya ikut dimuat dalam ensiklopedi sastra, buku pintar sastra, buku sejarah sastra, dan buku karya sastra karangannya diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Peluang untuk meraih reputasi semacam itu tidak mungkin dapat diraihnya melalui jalur penulisan karya sastra berbahasa Banjar.&lt;br /&gt;Karya sastra berbahasa Banjar dapat saja disebar-luaskan dalam bentuk buku seperti yang dilakukan oleh Jamal T. Suryanata dan M. Fitran Salam. Tapi risikonya besar sekali, modal besar yang ditanamkan untuk menerbitkan buku semacam itu belum tentu kembali dalam tempo setahun atau dua tahun. Para penerbit buku yang profit bisnis tentunya harus berpikir beberapa kali jika ingin menerbitkan buku-buku sastra berbahasa Banjar. Sampai sejauh ini, menulis karya sastra berbahasa Banjar masih merupakan proyek idealis yang identik dengan kerugian material.&lt;br /&gt;Sungguh, tidak pada tempatnya jika risiko kerugian material semacam itu masih harus ditanggung lagi oleh para sastrawan Banjar. Bayangkan, ketika masih dalam proses kreatif penulisannya tempo hari, sastrawan Banjar yang bersangkutan  sesungguhnya sudah mengorbankan waktu istirahatnya, waktunya untuk bercengkrama dengan anak-anak dan istrinya-istrinya (sebanyak 4 orang, hehehe), dan bahkan juga mengorbankan waktunya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Tetapi begitu selesai ditulis karya sastra berbahasa Banjar itu terpaksa dibukukan dengan biaya yang harus dikeluarkan dari kantong pribadi sastrawan Banjar yang bersangkutan. &lt;br /&gt;Mungkin sudah waktunya di Tanah Banjar ini ada semacam lembaga patron  yang berani mengambil alih risiko kerugian material berkaitan dengan penerbitan karya sastra berbahasa Banjar. Patron di sini bisa pemerintah daerah, bisa Dewan Kesenian Daerah, bisa Lembaga Budaya Banjar, bisa lembaga nirlaba kesusastraan Banjar, dan bisa pula perorangan yang banyak memiliki uang berlebih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Dari Sisi Kritik Sastra &lt;br /&gt;Terhadap Karya Sastra Berbahasa Banjar&lt;br /&gt;Tradisi kritik sastra terhadap karya sastra berbahasa Banjar belum terbentuk sebagaimana mestinya di Tanah Banjar. Puluhan atau bahkan ratusan karya sastra berbahasa Banjar yang sudah dipublikasikan di berbagai koran/majalah dan buku-buku sastra sampai sekarang ini belum pernah terkena sentuhan kritik para kritikus sastra. Sampai sejauh ini, karya kritik sastra semacam ini hanya ditulis oleh Jarkasi, M. Yusransyah, Tajuddin Noor Ganie, dean Sainul Hermawan saja. Kegiatan penulisan kritik sastra terhadap sastra Banjar di berbagai koran/majalah terbitan kota Banjarmasin tampaknya masih harus semakin digiatkan lagi. &lt;br /&gt;Fakta yang sama juga terjadi di bidang penerbitan buku teks dan kritik sastra terhadap sastra Banjar. Berikut ini adalah judul buku berkenaan dengan sastra Banjar yang saya ketahui : Sastra Lisan Banjar (Sunarti dkk, 1978), Pantun Banjar (Jarkasi, 1996), Struktur Mamanda (Jarkasi, 19976, Struktur Sastra Lisan Madihin (Jarkasi, 1997), Kajian Prosa Fiksi Drama (Jarkasi, 1999), Kajian Seni Karakter Tokoh Tokoh Idaman Dalam Cerpen Banjar Modern (Jarkasi dan Djantera Kawi, 2000),  Struktur Lamut (Jarkasi, 2000), Retorika Pantun Dalam Sistem Kritik Masyarakat Banjar (Jarkasi, 2001), dan Mamanda : Dari Realitas Tradisional ke Kesenian Populer (Jarkasi, 2002).&lt;br /&gt;Untunglah, para dosen yang menjadi membimbing penulisan skripsi di berbagai lembaga PTN/PTS di Banjarmasin tidak pernah bosan-bosannya menyarankan agar para mahasiswanya menulis skripsi tentang sastra Banjar. Jika tidak, maka tradisi kritik sastra akademik di PTN/PTS akan sama gersangnya dengan tradisi penulisan kritik sastra di berbagai koran/majalah terbitan Banjarmasin.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar skripsi tentang sastra Banjar yang tersimpan di Perpustakaan STKIP PGRI Banjarmasin yang sempat dicatat data-datanya oleh para mahasiswa yang saya tugaskan untuk itu (saya ucapkan terima kasih yang tulus untuk mereka semua), yakni (1) Analisis Struktur Sastra Cerpen Aluh Campaka (Radiana, 1992), (2) Analisis Unsur Magis Dalam Cerpen Lawang Karya A. Rasyidi Umar (Masliani, 1999), (3) Nilai Nilai Didaktis Dalam Cerpen Karindangan Karya Seroja Murni (Warnidah, 1999), (4) Peranan Peribahasa Banjar Sebagai Salah Satu Bentuk Karya Sastra Lama Dalam Pengajaran Sastra di SLTP (Masnah, 1999), (5) Unsur Pendidikan Dalam Cerpen Banjar (Farida, 1999), (6) Analisis Pendidikan Dalam Mamanda Lentera Hati Karya Jaka Mustika (Rahmaniyati, 1999), (7) Nilai Budaya Dalam Peribahasa Banjar, (Ruswatina, 1999), (9) Unsur Sosial Budaya Dalam Cerpen Banjar (Fahriansyah, 1999), dan (10) Unsur Pendidikan Dalam Cerpen Banjar (Muslimah Murni, 1999).&lt;br /&gt;Selanjutnya, (11) Aspek Aspek Sosial Kejiwaan dalam Cerita Pendek Racun Karya YS Agus Suseno (Siti Mulyani, 1999), (12) Nilai Budaya Dalam Cerpen Cerpen Banjar (Muslinawati Hana, 2000), (13) Unsur Religi Dalam Cerpen Bau Harum Matan Surga Karya Ahmad Fahrawi (Norol Hayati, 2000), (14) Nilai Pendidikan Dalam Cerpen Cerpen Banjar (Janiah, 2000), (15) Perbandingan Aspek Humor Dalam Cerpen Amun Tambus Hanyar Kawin dengan Si Jek Siup (Maryani, 2000), (16) Analisis Struktur Cerpen Racun Karya YS Agus Suseno (Maryani, 2000), (17) Unsur Humor dalam Cerpen bahasa Banjar Aluh Campaka Karya Bachtiar Sanderta (Maya, 2000),  (18) Tokoh Wanita Idaman Dalam Cerpen Cerpen Banjar (Supriyono, 2000), (19) Aspek Humor dalam Telaah Sastra Lisan Madihin (Hermani Yusuf, 2003), dan (20) Penggunaan Bahasa Banjar dalam Cerita si Palui pada Surat Kabar Banjarmasin Post (Norhamisah, 2004).&lt;br /&gt;Selanjutnya lagi, (21) Unsur Pendidikan dalam Pantun Banjar untuk Baantaran dalam Adat Orang Banjar (Rusmiati, 2004), (22) Peran Kesenian Tradisional Madihin Bagi Masyarakat Banjar (Fahrida Noor, 2004), (23) Konflik Internal Antara Tokoh Tokoh-tokoh dalam Cerpen Banjar (Mirajiah, 2004), (24) Nilai Moral dalam Pantun Banjar (Riwandi, 2005), (25) Nilai Sosial Budaya dalam Naskah Japin Carita Iluk si Walut Putih Karya YS Agus Suseno (Murni SB, 2006), (26), Kajian Aspek Moral dalam Kumpulan Kisdap Karya Jamal T. Suryanata (Henny Armilawati, 2006), (27) Pendeskripsian Tokoh-tokoh Pigura dalam Cerpen Banjar (A. Gazali Rahman, 2006), (28) Nilai-nilai Relegius dalam Kumpulan Cerita Datu-datu Banjar Karya Fahrurraji Asmuni (Muhammad Sadiq, 2007),  (29) Peran Moral dalam Pantun Banjar (Risnawati, 2007), dan (30) Kajian Semiotik Tokoh Putri Junjung Buih dalam Hikayat Banjar (Ansariansyah, 2007), (31) Profil Tokoh Protagonis dan Antagonis dalam Cerpen Banjar Kalimantan Selatan (Farah Mutia, 2008), dan (32) Analisis Pesan Moral dalam Syair Kesenian Madihin Karya Syamsiar Seman (Dini Amelia, 2008).   .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN RUJUKAN&lt;br /&gt;Ganie, Tajuddin Noor. 1998. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan. Banjarmasin : Penerbit Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalimantan Selatan, Cetakan I.&lt;br /&gt;Jarkasi dan Sainul Hernawan. 2006. Sastra Banjar Kontekstual. Banjarmasin : Penerbit IRCiSoD Yogyakarta, FKIP Unlam Press Banjarmasin, dan Forum Kajian Budaya Banjar Banjarmasin, Cetakan I.&lt;br /&gt;Jarkasi dan Djantera Kawi. 2000. Kajian Seni : Karakter Tokoh-Tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern. Banjarmasin : Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Cetakan I.&lt;br /&gt;Taman Budaya Kalsel. 2004. Kompilasi Naskah Cerpen Banjar. Banjarmasin : Taman Budaya Kalsel, Cetakan I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers Release&lt;br /&gt;EKSISTENSI SASTRA BANJAR&lt;br /&gt;TIDAK MUDAH DITEGAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Banjar tidak banyak yang tertarik menulis karya sastra berbahasa Banjar, akibatnya karya sastra berbahasa Banjar tetap menjadi karya sastra yang terpinggirkan dari zaman ke zaman. Idealnya, puisi, cerpen, novel dan esai sastra berbahasa Banjar menempati posisi yang hegemonik setidak-tidaknya di Kalsel, karena daerah Kalsel merupakan pusat kebudayaan Banjar di muka bumi ini. Keprihatinan di atas diungkapkan Tajuddin Noor Ganie ketika berbicara sebagai narasumber dalam seminar sastra bertajuk Eksistensi dan Kontribusi Sastra Banjar dalam mengungkap Budaya Lokal di Aula STKIP PGRI Banjarmasin, Sabtu &lt;br /&gt;(6 Juni 2009) ybl.&lt;br /&gt;Lebih jauh dikatakannya, dari 307 sastrawan yang berbahasa ibu bahasa Banjar, hanya 40 orang saja yang diketahuinya pernah menulis karya sastra berbahasa Banjar. Bagi mereka, menulis karya sastra berbahasa Banjar bukanlah pilihan yang strategis secara politis dan ekonomis. Selain lebih sulit ditulis, karya sastra berbahasa Banjar juga sulit dipublikasikan, karena di kota Banjarmasin tidak ada koran/majalah berbahasa Banjar. Akibatnya, tidak ada peluang bagi mereka untuk meraih penghasilan atau meraih reputasi melalui kegiatannya menulis karya sastra berbahasa Banjar. Karya sastra berbahasa Banjar hanya ditulis berdasarkan sintimen primordialistik, yakni keinginan untuk menegakan eksistensi sastra Banjar sejajar dengan sastra etnik lainnya di tanah air kita, seperti halnya sastra Jawa dan sastra Sunda.&lt;br /&gt;Selain faktor dari sisi sastrawan, masih ada faktor lain yang membuat sastra Banjar menjadi sastra yang marjinal, yakni faktor pembaca, faktor media, dan faktor kritik sastra. Dari sisi pembaca, problemnya menurut Tajuddin Noor Ganie terletak pada fakta tidak semua kosa kata bahasa Banjar dikenal dengan baik (familiar) oleh para pembaca dari kalangan generasi muda di Kalsel. Dari sisi media, sampai sejauh ini belum ada koran/majalah berbahasa Banjar yang dapat dijadikan sebagai media publikasi yang handal untuk menyebarkan luaskan karya sastra berbahasa Banjar. Dari sisi kritik sastra, sampai sejauh ini belum terbina tradisi kritik sastra yang memadai terhadap karya sastra berbahasa Banjar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3540280952820404083?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3540280952820404083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/problema-penegakkan-eksistensi-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3540280952820404083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3540280952820404083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/problema-penegakkan-eksistensi-sastra.html' title='PROBLEMA PENEGAKKAN EKSISTENSI SASTRA BANJAR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-3403205404955597937</id><published>2010-12-12T22:02:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T00:53:38.474-08:00</updated><title type='text'>JAGAT SASTRA KALSEL 2000-2009</title><content type='html'>Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA SASTRA PERS &lt;br /&gt;Selama kurun waktu 2000-2009, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastranya secara berkala, yakni&lt;br /&gt;Tabloid Mingguan Serambi Ummah (rubrik Cerpen,  terbit setiap hari Jum’at, sejak tahun 2000).&lt;br /&gt;SKH Radar Banjarmasin (rubrik Cakrawala Sastra dan Budaya (terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2001).&lt;br /&gt;SKH Banjarmasin Post (rubrik Dahaga, terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2007).&lt;br /&gt;Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009.&lt;br /&gt;Selain itu juga didukung oleh Jurnal Cerpen Borneo Banjarmasin, Jurnal Kandil Banjarmasin, dan Jurnal Sastral Kindai yang terbit tidak berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi pribadi karangan penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 55 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Epilog Hari Ini, Imraatul Jannah, 2000. Martapura&lt;br /&gt;2.Mimpi, M. Suriani Siddik, 2000. Jakarta&lt;br /&gt;3.Nyanyian Dusun, Maman S. Tawie, 2000. Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Dunia Telur, Hamami Adaby, 2001. Banjarbaru&lt;br /&gt;5.Debur Ombak Guruh Gelombang. Jamal T. Suryanata, 2002. Banjarmasin&lt;br /&gt;6.Kesumba, Hamami Adaby, 2002, Marabahan&lt;br /&gt;7.Nikah Zikir, M. Suriani Siddik, 2002. Jakarta&lt;br /&gt;8.Lajang, Hudan Nur, 2002, Banjarbaru&lt;br /&gt;9.Surat Ungu Buat Ersa, Hardiansyah Asmail, 2002&lt;br /&gt;10.Kemana Harus Menatap, Ismail Wahid, 2002, Barabai&lt;br /&gt;11.Tembang Buat Ida, Rock Syamsuri Sabri, 2002. Marabahan&lt;br /&gt;12.Bunga Angin, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;13.Jajarat dan Kariau, Rock Syamsuri Sabri, 2003, Marabahan (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;14. Silir Pulau Dewata, Akhmad Tajuddin. 2003. Tanjung&lt;br /&gt;15.Surat Dari Swiss, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;16.Tragedi 3 November, Hudan Nur, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;17.2x2=5?, Amir Husaini Zamzam, 2003. Amuntai&lt;br /&gt;18.Do’a Terakhir Ayahku, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;19.Pintu Ka’bah, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;20.Anak Bawang. Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;21.Bayang Bayang Hilang, Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;22.Dermaga Cinta, Hamami Adaby, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;23.Jalan Bersama, Eko Suryadi WS. 2004. Kotabaru&lt;br /&gt;24.Nyanyian Kuala. Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;25.Perempuan Perempuan yang Menatap Langit, Ismail Wahid, 2004, Barabai&lt;br /&gt;26.Rumah Anakku, Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;27.Sejarah Lari Tergesa. M. Fadjroel Rahman. 2004. Jakarta&lt;br /&gt;28.Sungai Hitam Semesta Berkabut. Noor Aini Cahya Khairani. 2004. Banjarmasin : Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;29.Surat Terbuka Seorang Lelaki dengan Vonis Mati, M. Rifani Djamhari, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;30.Langkah, Andi Amrullah. 2005. Pagatan&lt;br /&gt;31.Pesan Luka Indonesiaku, Ali Syamsuddin Arsy. 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;32.Tanah Perjanjian. Ajamuddin Tifani. 2005. Jakarta : Hasta Mitra&lt;br /&gt;33.Umai Bungas Banjarbaru, Hamami Adaby, 2005, Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;34.Bukit Bukit Retak, Ali Syamsuddin Arsy, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;35.Di Batas Laut. Eko Suryadi WS, 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;36.Kaduluran, Hamami Adaby, 2006. Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;37.Kalalatu, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;38.Narasi Musafir Gila, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;39.Nyanyian Seribu Burung, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;40.Romansya Setangkai Bunga, Arsyad Indradi, 2006. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;41.Kapal Lautku. Adjim Arijadi, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;42.Tahajud, Ismail Wahid, 2006. Barabai&lt;br /&gt;43.Aku dan Kau Sama Sama, Ismail Wahid. 2007. Barabai&lt;br /&gt;44.Dongeng Untuk Poppy. M. Fadjroel Rahman, 2007. Jakarta&lt;br /&gt;45.Jejak Air, Hajriansyah, 2007. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;46.Pistol Air, M. Nahdiansyah Abdi. 2008. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;47.Kupu Kupu Kuning, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;48.Lelaki Kembang Batu, Eza Thabry Husano. 2008. Banjarbaru&lt;br /&gt;49.Meditasi Rindu, Micky Hidayat. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;50.Di Kemayaan Ruang. A. Kusairi, 2008. Rantau&lt;br /&gt;51.Di Jari Manismu Ada Rindu, Hamami Adaby, 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru&lt;br /&gt;52.Anggur Duka. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru&lt;br /&gt;53.Burinik. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru. (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;54.Badai Gurun dalam Darah, Ibramsyah Amandit, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;55.Sebatung Melukis dalam Kaca, M Sulaiman Najam. 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi bersama karangan para penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 47 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Kasidah Kota, 2000. Banjarbaru&lt;br /&gt;2Potret Diri, 2000&lt;br /&gt;3Potret Tiga Warna, 2000&lt;br /&gt;4Cakrawala, 2000. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru&lt;br /&gt;5Meratus Berduka, 2001. Banjarmasin&lt;br /&gt;6Wasi, 2001. Banjarmasin : Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan. Antologi Puisi Bersama Penyair Nusantara&lt;br /&gt;7Bahana. Ali Syamsudin Arsi (Editor). 2001. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru &lt;br /&gt;8Taman Hati, 2001. Banjarbaru.  &lt;br /&gt;9Nyanyian Seribu Sungai, 2001. Marabahan&lt;br /&gt;10Narasi Matahari, 2002. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru&lt;br /&gt;11Sajadah Kata, 2002. Banjarbaru&lt;br /&gt;12Notasi Kota 24 Jam, 2003, Banjarbaru&lt;br /&gt;13Perjuangan, Perdamaian, dan Cinta. Zulkipli Musaba dan Sabhan Sabri. 2003. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;14Air Mata Malam Malam, Ali Syamsuddin Arsy dkk. 2004. Banjarbaru L@nting Publisher&lt;br /&gt;15Anak Zaman, 2004. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;16Baturai Sanja, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha (ditulis dalam bahasa Banjar)&lt;br /&gt;17Bumi Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;18Jembatan,  2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusantara &lt;br /&gt;19Mendulang Cahaya Bulan, 2004. Banjarbaru &lt;br /&gt;20Tiga Kutub Senja. Eza Thabry Husano,  Hamamy Adaby, dan Arsyad Indradi. 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;21Bulan Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru. Kilang Sastra Baru Karaha &lt;br /&gt;22Reportase, 2004. Kotabaru.  &lt;br /&gt;23Bumi Menggerutu,2005. Banjarbaru &lt;br /&gt;24Dimensi, 2005. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;25Menadah Turunan Hujan, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;26Stasiun Waktu Kilometer 55. 2005. Kotabaru&lt;br /&gt;27Sajak Sajak Bumi Selidah. 2005. Marabahan : Penerbit Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala dan Panitia Peringatan Hari Jadi ke 45 Kabupaten Barito Kuala&lt;br /&gt;28Membilas Miang Kabut, 2006, Banjarbaru&lt;br /&gt;29Kota Kita. 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;30Perkawinan Batu, 2006. Jakarta : DKJ TIM . Antologi Puisi Bersama&lt;br /&gt;31Ragam Jejak Tsunami. 2006. Medan : Balai Bahasa Sumut&lt;br /&gt;32Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan. Arsyad Indradi (Editor), 2006 (Cetakan I), 2007 (Cetakan II). Banjarbaru : Kalalatu Press Banjarbaru&lt;br /&gt;33Ronce Ronce Bunga Mekar, 2006. Tanjung&lt;br /&gt;34Sajak Sajak Kemerdekaan, 2006. Banjarmasin : Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;35Taman Banjarbaru. Ali Syamsuddin Arsi, M. Rifani Djamhari, dan Elang W. Kusuma (Editor). 2006. Yogyakarta : Gama Media&lt;br /&gt;36Melayat Langit, 2006. Banjarbaru. &lt;br /&gt;37Kugadaikan Luka, 2007, Shah Kalana al Laila Haji (Editor), Banjarbaru : Penerbit ruMahcerita&lt;br /&gt;38Cinta Rakyat, 2007. Marabahan&lt;br /&gt;39Jejak Jejak Angin, Hajriansyah dan M. Nadhdiansyah Abdi. 2007. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;40Seribu Sungai Paris Barantai. Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, dan M. Rifani Djamhari (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;41Mahligai Junjung Buih. Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan, 2007. Amuntai&lt;br /&gt;42Tarian Cahaya di Bumi Sanggam. Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V&lt;br /&gt;43Malaikat Hutan Bakau, Hudan Nur (Editor), 2008. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Banjarbaru. &lt;br /&gt;44Bertahan di Bukit Akhir. 2008. Barabai&lt;br /&gt;45Ije Jela Bersastra di Tahun Emas, 2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. &lt;br /&gt;46Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah. Bianglala Pemenang Lomba Cipta Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. 2009 Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;47Do’a Pelangi di Tahun Emas.2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen pribadi karangan penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 1 judul, yakni. Bintang Kecil di Langit yang Kelam. Jamal T. Suryanata, 2009.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen bersama karangan para penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 7 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Nawu Raha, 2002. Tanjung&lt;br /&gt;2.La Ventre de Kandangan : Mosaik Sastra HSS 1937-2003. Burhanuddin Soebely (penyunting), 2004. Kandangan : Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Hulu Sungai Selatan&lt;br /&gt;3.Raja Anum, 2006. Tanjung. &lt;br /&gt;4.Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab. Antologi Sastra Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Micky Hidayat (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;5.Ziarah Pelangi Balangan Menari. Bunga Rampai Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat, Burhanuddin Soebely, dan M Rifani Djamhari (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V.&lt;br /&gt;6.Di Merah Fajar Esok Pagi, Ganda Atmaja (Penyunting Akhir), 2008. Kertak Hanyar : KSI Kertak Hanyar. &lt;br /&gt;7.Darah Penanda, Ali Syamsuddin Arsi (Editor), 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen pribadi karangan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 9 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Galuh, Jamal T. Suryanata, 2005. Banjarmasin (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;2Maundak Dandang, M. Fitran Salam, 2005, Banjarbaru (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;3Kecoa, Zulfaisal Putera, 2005. Banjarmasin &lt;br /&gt;4Bulan di Pucuk Cemara. Jamal T. Suryanata. 2006. Banjarbaru : Penerbit Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan Banjarbaru&lt;br /&gt;5Gadis Dayak. Setia Budhi. 2006&lt;br /&gt;6Tahi Lalat di Punggung Istriku. Zulfaisal Putera, 2007. Banjarmasin&lt;br /&gt;7Dongeng Kesetiaan. Ratih Ayuningrum. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;8Menanti Tamu Lebaran, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;9Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, Hajriansyah, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen bersama karangan para cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 5 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Menapak Bumi Mahakam, Hadian Noor (Editor). 2002. Penerbit Andi Yogyakarta &lt;br /&gt;2.Bantu Saya Menikmati Cinta. Kuntum-kuntum Cerita Pendek Remaja. April dkk. 2006. Banjarmasin : Penerbit AWF Publisher&lt;br /&gt;3.Orkestra Wayang. 2007. Kandangan &lt;br /&gt;4.Perempuan yang Memburu Hujan, Harie Insani Putra dan Sandi Firly, 2008. Banjarmasin : Tahura Media &lt;br /&gt;5.Nyanyian Tanpa Nyanyian. Banjarmasin, 2009. Banjarmasin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ROMAN/NOVEL&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah roman/novel karangan romanis/novelis Kalsel yang  terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 24 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Rumah Tumbuh. Farah Hidayati, 2005. Jakarta&lt;br /&gt;2.Jingah, Iwan Yusi. 2000. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;3.Di Bawah Matahari Terminal. Jamal T. Suryanata, 2001. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;4.Puteri, Ian Emti, 2001. Banjarmasin : Persatuan Insan Film (PIF) Kalsel &lt;br /&gt;5.Lelehe, Djarani EM, 2002. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa  &lt;br /&gt;6.Kambang Barenteng, Harun Al Rasyid dan M Hasbi Salim, 2003&lt;br /&gt;7.Reinkarnasi, Lan Fang. 2003. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;8.Kantawan, Iwan Yusi. 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;9.Loksado, Iwan Yusi. 2004. Jakarta : PT Dian Ariesta&lt;br /&gt;10.Palas. Aliman Syahrani. 2004. Banjarmasin : Pustaka Banua&lt;br /&gt;11.Pay Yin, Lan Fang, 2004. Jakarta : Penerbit Gramedia.&lt;br /&gt;12.Pemberani Cilik dari Desa Lereng Bukit, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;13.Sindang Langit Tanah Air Mata, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;14.Bahara Mingsang Idang Siritan, Burhanuddin Soebely, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;15.Boneka Untuk Brenda. Jamal T. Suryanata, 2005&lt;br /&gt;16.Misteri Pohon Kasturi, M. Hasbi Salim, 2005&lt;br /&gt;17.Penyesalan Sang Pemburu, Jamal T. Suryanata, 2005. Jakarta : Pabelan Cerdas Nusantara  &lt;br /&gt;18.Tambalaras, novel. Iwan Yusi. 2005. Jakarta : PT Rineka Cipta&lt;br /&gt;19.Kembang Burung Purei, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;20.Laki Laki Yang Salah, Lan Fang. 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;21.Perempuan Kembang Jepun, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;22.Putri Sasirangan, M. Hasbi Salim, 2006 &lt;br /&gt;23.Tatangar. Iwan Yusi. 2006. Jakarta : Karya Mandiri Nusantara&lt;br /&gt;24.Jazirah Cinta, Randu Alamsyah, Jakarta : Penerbit Zahra, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra pribadi karangan eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 11 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Tionghoa dalam Sastra Indonesia, Sainul Hermawan, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;2.Maitihi Sastra Banjar, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;3.Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin : PBS FLIP&lt;br /&gt;4.Lingkaran Kata, antologi artikel Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;5.Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel, Sainul Hermawan, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Antologi Kritik Sastra   &lt;br /&gt;6.Peranan Sastra Dalam Pentas. Ian Emti, 2001. Banjarmasin : HIPSI Kalsel&lt;br /&gt;7.Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Jamal T. Suryanata, 2003. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa &lt;br /&gt;8.Negeri Benang Pada Sekeping Papan, Ali Syamsuddin Arsi, Banjarmasin : Penerbit Tahura Media. Antologi Gumam.&lt;br /&gt;9.Antologi Biografi Sastrawan Kalsel, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel.&lt;br /&gt;10.Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel&lt;br /&gt;11.Bahasa dan Gaya Puisi Sapardi Djoko Damono (Analisis Stilistika), Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Analis Puisi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA BERSAMA &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra bersama karangan para eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 4 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan. Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie. 2001. Banjarmasin : Balai Bahasa Banjarmasin  &lt;br /&gt;2.Sastra Banjar Kontekstual, Sainul Hermawan dan Jarkasi, 2006. Banjarmasin &lt;br /&gt;3.Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan Saepuddin, Dahliana, dan Siti Akbari (Editor), 2008. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Pengkajian Puisi : Teori dan Aplikasi, Endang Sulistyowati dan Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Buku Teks Perkuliahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR SASTRAWAN KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah  sastrawan Kalsel yang tercatat baru masuk ke dalam jagat sastra Kalsel selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 152 orang., yakni. &lt;br /&gt;1.AA Ajang &lt;br /&gt;2.Abdurrahman Al Hakim &lt;br /&gt;3.Abdurrahman El Husaini&lt;br /&gt;4.Ade Ahmad Rienanda&lt;br /&gt;5.Ahmad Fahriza Halis &lt;br /&gt;6.Ahmad Fitriadi F &lt;br /&gt;7.Akhmad Husaini&lt;br /&gt;8.Ani Agustina &lt;br /&gt;9.Ana Maulida Hidayah&lt;br /&gt;10.Anna Fajarona &lt;br /&gt;11.Annisa Destyaningrum S &lt;br /&gt;12.Annisa Nurul Huda&lt;br /&gt;13.Aprilia Norhayati&lt;br /&gt;14.Arief Arifany&lt;br /&gt;15.Aspihan N. Hidin &lt;br /&gt;16.Audi Anabela Veruci &lt;br /&gt;17.Bayu Yoga Dinata&lt;br /&gt;18.Bayu Saputra&lt;br /&gt;19.Claudia Mita Dimetri&lt;br /&gt;20.Devi Halim &lt;br /&gt;21.Dewi Alfianti&lt;br /&gt;22.Dewi Putri Ananda&lt;br /&gt;23.Dewi Upayani &lt;br /&gt;24.Diana Alice&lt;br /&gt;25.Diena Rasya Umami&lt;br /&gt;26.Dini A. Husna &lt;br /&gt;27.Edka Afdiana&lt;br /&gt;28.Edy Suroso&lt;br /&gt;29.Edya Rosyadi &lt;br /&gt;30.Eka Maryana Rukmana&lt;br /&gt;31.Endang Fitriani &lt;br /&gt;32.Erika Adriani&lt;br /&gt;33.Erma Ariyani&lt;br /&gt;34.Erma Normiyanti&lt;br /&gt;35.Eva Risky Ati&lt;br /&gt;36.Farah Hidayati&lt;br /&gt;37.Fahrul Anwar&lt;br /&gt;38.Fakrudin Arifin&lt;br /&gt;39.Fitriansyah&lt;br /&gt;40.Fitri Jamilah&lt;br /&gt;41.Fitryani&lt;br /&gt;42.Ganda Atmaja&lt;br /&gt;43.Gesit Aprianto&lt;br /&gt;44.Gusti Indra Setyawan&lt;br /&gt;45.Gunara &lt;br /&gt;46.Gutrah&lt;br /&gt;47.Hajriansyah&lt;br /&gt;48.Hana Novia Aulianti&lt;br /&gt;49.Harrie Insani Putra &lt;br /&gt;50.Helly Yulita &lt;br /&gt;51.Henny Marlinda&lt;br /&gt;52.Hendra Royadi&lt;br /&gt;53.Heri Sudiono &lt;br /&gt;54.Herry Rochniady&lt;br /&gt;55.Hudan Nur &lt;br /&gt;56.Ida Nurlainy&lt;br /&gt;57.Ida Royani Buldi &lt;br /&gt;58.Imraatul Jannah &lt;br /&gt;59.Ira Setiana Khairunnisa &lt;br /&gt;60.Isuur Loeweng&lt;br /&gt;61.Jauhar Yamani &lt;br /&gt;62.John S Fane &lt;br /&gt;63.Joni Wijaya&lt;br /&gt;64.Kasmudin&lt;br /&gt;65.Komariah Widya Astuti &lt;br /&gt;66.Listya Wulansari &lt;br /&gt;67.M. Aini Asmuni  &lt;br /&gt;68.M. Amin Mustika Muda &lt;br /&gt;69.M. Fuad Rahman &lt;br /&gt;70.M. Nahdiansyah Abdi &lt;br /&gt;71.M. Yandi&lt;br /&gt;72.M. Zakir  M &lt;br /&gt;73.Ma’mur Suryadilaga&lt;br /&gt;74.Mahdalia M. Amin &lt;br /&gt;75.Mahmud Shalihin&lt;br /&gt;76.Mahmud Jauhari Ali &lt;br /&gt;77.Masdulhaq Abdi &lt;br /&gt;78.Maya Fahrina Wardhani &lt;br /&gt;79.Megawati&lt;br /&gt;80.Meldawati&lt;br /&gt;81.Meylinda Mayangsari&lt;br /&gt;82.Mian Ayu Ratna Aisyah&lt;br /&gt;83.Miftahuddin Munidi&lt;br /&gt;84.Mirwan &lt;br /&gt;85.Muhammad Faried&lt;br /&gt;86.Muhammad Syahriadi HN&lt;br /&gt;87.Mutia Rahmah Albar &lt;br /&gt;88.Nanang Ramli&lt;br /&gt;89.Nani Retno Nurwardayaningsih &lt;br /&gt;90.Nafisah Zaini&lt;br /&gt;91.Nina Idhiana &lt;br /&gt;92.Ninin Susanti&lt;br /&gt;93.Nitia Desi Indrasari&lt;br /&gt;94.Noor Aida&lt;br /&gt;95.Norsya Elvira Damayanti &lt;br /&gt;96.Noryahman&lt;br /&gt;97.Nur Afifah&lt;br /&gt;98.Nur Hidayah &lt;br /&gt;99.Nurul Azmie LS&lt;br /&gt;100.Puspa Ramadyanti &lt;br /&gt;101.Puteri Gemala Sari &lt;br /&gt;102.Rahayu Rina Rahmawati &lt;br /&gt;103.Rahmah Wartania Putri &lt;br /&gt;104.Rahman Rijani&lt;br /&gt;105.Rahmatiah &lt;br /&gt;106.Rahmiyati&lt;br /&gt;107.Randu Alamsyah  &lt;br /&gt;108.Ratih Ayuningrum&lt;br /&gt;109.Reda Ari Yantie&lt;br /&gt;110.Redha Adharyan Ansyari&lt;br /&gt;111.Reza Anshari Azmi&lt;br /&gt;112.Riski Yunida &lt;br /&gt;113.Rismiyana  &lt;br /&gt;114.Rissari Yayuk &lt;br /&gt;115.Riznina Nur Rahmatya &lt;br /&gt;116.Rizqy Kurniawati &lt;br /&gt;117.Saidah &lt;br /&gt;118.Sainul Hermawan&lt;br /&gt;119.Salamiah&lt;br /&gt;120.Sigit Bagus Prabowo &lt;br /&gt;121.Siti Magfirah&lt;br /&gt;122.Siti Meidina Har Safitri&lt;br /&gt;123.Sri Normuliati&lt;br /&gt;124.Stefanus Yogi KA&lt;br /&gt;125.Sufyan Suri&lt;br /&gt;126.Suhaimi &lt;br /&gt;127.Suriansyah&lt;br /&gt;128.Suriyadi&lt;br /&gt;129.Sutrisno Watini&lt;br /&gt;130.Suyatno&lt;br /&gt;131.Syafiqatul Mahmudah &lt;br /&gt;132.Syarifuddin&lt;br /&gt;133.Tabri Lipani&lt;br /&gt;134.Tati Noor Rahmi&lt;br /&gt;135.Taufiq Ahmad &lt;br /&gt;136.Taufiq HT&lt;br /&gt;137.Taupiq&lt;br /&gt;138.Tri Restu Panie&lt;br /&gt;139.Tria Dewi Putri&lt;br /&gt;140.Turay Dendang Dirantawan&lt;br /&gt;141.Turmudi&lt;br /&gt;142.Wahyu Fitriani&lt;br /&gt;143.Wahyudi &lt;br /&gt;144.Warnita&lt;br /&gt;145.Wawan Setiawan&lt;br /&gt;146.Wayan Windre Semara&lt;br /&gt;147.Yaya Suyatno&lt;br /&gt;148.Yuliati Puspita Sari&lt;br /&gt;149.Yieni Firnawati Ma’ruf&lt;br /&gt;150.Zainal Mursalim&lt;br /&gt;151.Zayed Norwanto&lt;br /&gt;152.Zurriyati Rosyidah&lt;br /&gt;Dalam konteks Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009, semua sastrawan Kalsel di atas termasuk dalam kelompok generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009. &lt;br /&gt;Kepada mereka semua kami dari Puskajimastra Kalsel Banjarmasin mengucapkan selamat datang di jagat sastra Kalsel semoga tetap betah berada di dalamnya dari tahun ke tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAGAT SASTRA &lt;br /&gt;KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA SASTRA PERS &lt;br /&gt;Selama kurun waktu 2000-2009, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastranya secara berkala, yakni&lt;br /&gt;Tabloid Mingguan Serambi Ummah (rubrik Cerpen,  terbit setiap hari Jum’at, sejak tahun 2000).&lt;br /&gt;SKH Radar Banjarmasin (rubrik Cakrawala Sastra dan Budaya (terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2001).&lt;br /&gt;SKH Banjarmasin Post (rubrik Dahaga, terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2007).&lt;br /&gt;Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009.&lt;br /&gt;Selain itu juga didukung oleh Jurnal Cerpen Borneo Banjarmasin, Jurnal Kandil Banjarmasin, dan Jurnal Sastral Kindai yang terbit tidak berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi pribadi karangan penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 55 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Epilog Hari Ini, Imraatul Jannah, 2000. Martapura&lt;br /&gt;2.Mimpi, M. Suriani Siddik, 2000. Jakarta&lt;br /&gt;3.Nyanyian Dusun, Maman S. Tawie, 2000. Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Dunia Telur, Hamami Adaby, 2001. Banjarbaru&lt;br /&gt;5.Debur Ombak Guruh Gelombang. Jamal T. Suryanata, 2002. Banjarmasin&lt;br /&gt;6.Kesumba, Hamami Adaby, 2002, Marabahan&lt;br /&gt;7.Nikah Zikir, M. Suriani Siddik, 2002. Jakarta&lt;br /&gt;8.Lajang, Hudan Nur, 2002, Banjarbaru&lt;br /&gt;9.Surat Ungu Buat Ersa, Hardiansyah Asmail, 2002&lt;br /&gt;10.Kemana Harus Menatap, Ismail Wahid, 2002, Barabai&lt;br /&gt;11.Tembang Buat Ida, Rock Syamsuri Sabri, 2002. Marabahan&lt;br /&gt;12.Bunga Angin, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;13.Jajarat dan Kariau, Rock Syamsuri Sabri, 2003, Marabahan (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;14. Silir Pulau Dewata, Akhmad Tajuddin. 2003. Tanjung&lt;br /&gt;15.Surat Dari Swiss, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;16.Tragedi 3 November, Hudan Nur, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;17.2x2=5?, Amir Husaini Zamzam, 2003. Amuntai&lt;br /&gt;18.Do’a Terakhir Ayahku, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;19.Pintu Ka’bah, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;20.Anak Bawang. Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;21.Bayang Bayang Hilang, Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;22.Dermaga Cinta, Hamami Adaby, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;23.Jalan Bersama, Eko Suryadi WS. 2004. Kotabaru&lt;br /&gt;24.Nyanyian Kuala. Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;25.Perempuan Perempuan yang Menatap Langit, Ismail Wahid, 2004, Barabai&lt;br /&gt;26.Rumah Anakku, Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;27.Sejarah Lari Tergesa. M. Fadjroel Rahman. 2004. Jakarta&lt;br /&gt;28.Sungai Hitam Semesta Berkabut. Noor Aini Cahya Khairani. 2004. Banjarmasin : Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;29.Surat Terbuka Seorang Lelaki dengan Vonis Mati, M. Rifani Djamhari, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;30.Langkah, Andi Amrullah. 2005. Pagatan&lt;br /&gt;31.Pesan Luka Indonesiaku, Ali Syamsuddin Arsy. 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;32.Tanah Perjanjian. Ajamuddin Tifani. 2005. Jakarta : Hasta Mitra&lt;br /&gt;33.Umai Bungas Banjarbaru, Hamami Adaby, 2005, Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;34.Bukit Bukit Retak, Ali Syamsuddin Arsy, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;35.Di Batas Laut. Eko Suryadi WS, 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;36.Kaduluran, Hamami Adaby, 2006. Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;37.Kalalatu, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;38.Narasi Musafir Gila, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;39.Nyanyian Seribu Burung, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;40.Romansya Setangkai Bunga, Arsyad Indradi, 2006. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;41.Kapal Lautku. Adjim Arijadi, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;42.Tahajud, Ismail Wahid, 2006. Barabai&lt;br /&gt;43.Aku dan Kau Sama Sama, Ismail Wahid. 2007. Barabai&lt;br /&gt;44.Dongeng Untuk Poppy. M. Fadjroel Rahman, 2007. Jakarta&lt;br /&gt;45.Jejak Air, Hajriansyah, 2007. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;46.Pistol Air, M. Nahdiansyah Abdi. 2008. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;47.Kupu Kupu Kuning, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;48.Lelaki Kembang Batu, Eza Thabry Husano. 2008. Banjarbaru&lt;br /&gt;49.Meditasi Rindu, Micky Hidayat. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;50.Di Kemayaan Ruang. A. Kusairi, 2008. Rantau&lt;br /&gt;51.Di Jari Manismu Ada Rindu, Hamami Adaby, 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru&lt;br /&gt;52.Anggur Duka. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru&lt;br /&gt;53.Burinik. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru. (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;54.Badai Gurun dalam Darah, Ibramsyah Amandit, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;55.Sebatung Melukis dalam Kaca, M Sulaiman Najam. 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi bersama karangan para penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 47 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Kasidah Kota, 2000. Banjarbaru&lt;br /&gt;2Potret Diri, 2000&lt;br /&gt;3Potret Tiga Warna, 2000&lt;br /&gt;4Cakrawala, 2000. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru&lt;br /&gt;5Meratus Berduka, 2001. Banjarmasin&lt;br /&gt;6Wasi, 2001. Banjarmasin : Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan. Antologi Puisi Bersama Penyair Nusantara&lt;br /&gt;7Bahana. Ali Syamsudin Arsi (Editor). 2001. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru &lt;br /&gt;8Taman Hati, 2001. Banjarbaru.  &lt;br /&gt;9Nyanyian Seribu Sungai, 2001. Marabahan&lt;br /&gt;10Narasi Matahari, 2002. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru&lt;br /&gt;11Sajadah Kata, 2002. Banjarbaru&lt;br /&gt;12Notasi Kota 24 Jam, 2003, Banjarbaru&lt;br /&gt;13Perjuangan, Perdamaian, dan Cinta. Zulkipli Musaba dan Sabhan Sabri. 2003. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;14Air Mata Malam Malam, Ali Syamsuddin Arsy dkk. 2004. Banjarbaru L@nting Publisher&lt;br /&gt;15Anak Zaman, 2004. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;16Baturai Sanja, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha (ditulis dalam bahasa Banjar)&lt;br /&gt;17Bumi Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;18Jembatan,  2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusantara &lt;br /&gt;19Mendulang Cahaya Bulan, 2004. Banjarbaru &lt;br /&gt;20Tiga Kutub Senja. Eza Thabry Husano,  Hamamy Adaby, dan Arsyad Indradi. 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;21Bulan Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru. Kilang Sastra Baru Karaha &lt;br /&gt;22Reportase, 2004. Kotabaru.  &lt;br /&gt;23Bumi Menggerutu,2005. Banjarbaru &lt;br /&gt;24Dimensi, 2005. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;25Menadah Turunan Hujan, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;26Stasiun Waktu Kilometer 55. 2005. Kotabaru&lt;br /&gt;27Sajak Sajak Bumi Selidah. 2005. Marabahan : Penerbit Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala dan Panitia Peringatan Hari Jadi ke 45 Kabupaten Barito Kuala&lt;br /&gt;28Membilas Miang Kabut, 2006, Banjarbaru&lt;br /&gt;29Kota Kita. 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;30Perkawinan Batu, 2006. Jakarta : DKJ TIM . Antologi Puisi Bersama&lt;br /&gt;31Ragam Jejak Tsunami. 2006. Medan : Balai Bahasa Sumut&lt;br /&gt;32Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan. Arsyad Indradi (Editor), 2006 (Cetakan I), 2007 (Cetakan II). Banjarbaru : Kalalatu Press Banjarbaru&lt;br /&gt;33Ronce Ronce Bunga Mekar, 2006. Tanjung&lt;br /&gt;34Sajak Sajak Kemerdekaan, 2006. Banjarmasin : Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;35Taman Banjarbaru. Ali Syamsuddin Arsi, M. Rifani Djamhari, dan Elang W. Kusuma (Editor). 2006. Yogyakarta : Gama Media&lt;br /&gt;36Melayat Langit, 2006. Banjarbaru. &lt;br /&gt;37Kugadaikan Luka, 2007, Shah Kalana al Laila Haji (Editor), Banjarbaru : Penerbit ruMahcerita&lt;br /&gt;38Cinta Rakyat, 2007. Marabahan&lt;br /&gt;39Jejak Jejak Angin, Hajriansyah dan M. Nadhdiansyah Abdi. 2007. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;40Seribu Sungai Paris Barantai. Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, dan M. Rifani Djamhari (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;41Mahligai Junjung Buih. Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan, 2007. Amuntai&lt;br /&gt;42Tarian Cahaya di Bumi Sanggam. Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V&lt;br /&gt;43Malaikat Hutan Bakau, Hudan Nur (Editor), 2008. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Banjarbaru. &lt;br /&gt;44Bertahan di Bukit Akhir. 2008. Barabai&lt;br /&gt;45Ije Jela Bersastra di Tahun Emas, 2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. &lt;br /&gt;46Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah. Bianglala Pemenang Lomba Cipta Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. 2009 Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;47Do’a Pelangi di Tahun Emas.2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen pribadi karangan penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 1 judul, yakni. Bintang Kecil di Langit yang Kelam. Jamal T. Suryanata, 2009.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen bersama karangan para penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 7 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Nawu Raha, 2002. Tanjung&lt;br /&gt;2.La Ventre de Kandangan : Mosaik Sastra HSS 1937-2003. Burhanuddin Soebely (penyunting), 2004. Kandangan : Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Hulu Sungai Selatan&lt;br /&gt;3.Raja Anum, 2006. Tanjung. &lt;br /&gt;4.Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab. Antologi Sastra Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Micky Hidayat (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;5.Ziarah Pelangi Balangan Menari. Bunga Rampai Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat, Burhanuddin Soebely, dan M Rifani Djamhari (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V.&lt;br /&gt;6.Di Merah Fajar Esok Pagi, Ganda Atmaja (Penyunting Akhir), 2008. Kertak Hanyar : KSI Kertak Hanyar. &lt;br /&gt;7.Darah Penanda, Ali Syamsuddin Arsi (Editor), 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen pribadi karangan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 9 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Galuh, Jamal T. Suryanata, 2005. Banjarmasin (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;2Maundak Dandang, M. Fitran Salam, 2005, Banjarbaru (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;3Kecoa, Zulfaisal Putera, 2005. Banjarmasin &lt;br /&gt;4Bulan di Pucuk Cemara. Jamal T. Suryanata. 2006. Banjarbaru : Penerbit Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan Banjarbaru&lt;br /&gt;5Gadis Dayak. Setia Budhi. 2006&lt;br /&gt;6Tahi Lalat di Punggung Istriku. Zulfaisal Putera, 2007. Banjarmasin&lt;br /&gt;7Dongeng Kesetiaan. Ratih Ayuningrum. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;8Menanti Tamu Lebaran, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;9Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, Hajriansyah, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen bersama karangan para cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 5 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Menapak Bumi Mahakam, Hadian Noor (Editor). 2002. Penerbit Andi Yogyakarta &lt;br /&gt;2.Bantu Saya Menikmati Cinta. Kuntum-kuntum Cerita Pendek Remaja. April dkk. 2006. Banjarmasin : Penerbit AWF Publisher&lt;br /&gt;3.Orkestra Wayang. 2007. Kandangan &lt;br /&gt;4.Perempuan yang Memburu Hujan, Harie Insani Putra dan Sandi Firly, 2008. Banjarmasin : Tahura Media &lt;br /&gt;5.Nyanyian Tanpa Nyanyian. Banjarmasin, 2009. Banjarmasin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ROMAN/NOVEL&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah roman/novel karangan romanis/novelis Kalsel yang  terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 24 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Rumah Tumbuh. Farah Hidayati, 2005. Jakarta&lt;br /&gt;2.Jingah, Iwan Yusi. 2000. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;3.Di Bawah Matahari Terminal. Jamal T. Suryanata, 2001. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;4.Puteri, Ian Emti, 2001. Banjarmasin : Persatuan Insan Film (PIF) Kalsel &lt;br /&gt;5.Lelehe, Djarani EM, 2002. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa  &lt;br /&gt;6.Kambang Barenteng, Harun Al Rasyid dan M Hasbi Salim, 2003&lt;br /&gt;7.Reinkarnasi, Lan Fang. 2003. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;8.Kantawan, Iwan Yusi. 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;9.Loksado, Iwan Yusi. 2004. Jakarta : PT Dian Ariesta&lt;br /&gt;10.Palas. Aliman Syahrani. 2004. Banjarmasin : Pustaka Banua&lt;br /&gt;11.Pay Yin, Lan Fang, 2004. Jakarta : Penerbit Gramedia.&lt;br /&gt;12.Pemberani Cilik dari Desa Lereng Bukit, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;13.Sindang Langit Tanah Air Mata, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;14.Bahara Mingsang Idang Siritan, Burhanuddin Soebely, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;15.Boneka Untuk Brenda. Jamal T. Suryanata, 2005&lt;br /&gt;16.Misteri Pohon Kasturi, M. Hasbi Salim, 2005&lt;br /&gt;17.Penyesalan Sang Pemburu, Jamal T. Suryanata, 2005. Jakarta : Pabelan Cerdas Nusantara  &lt;br /&gt;18.Tambalaras, novel. Iwan Yusi. 2005. Jakarta : PT Rineka Cipta&lt;br /&gt;19.Kembang Burung Purei, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;20.Laki Laki Yang Salah, Lan Fang. 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;21.Perempuan Kembang Jepun, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;22.Putri Sasirangan, M. Hasbi Salim, 2006 &lt;br /&gt;23.Tatangar. Iwan Yusi. 2006. Jakarta : Karya Mandiri Nusantara&lt;br /&gt;24.Jazirah Cinta, Randu Alamsyah, Jakarta : Penerbit Zahra, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra pribadi karangan eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 11 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Tionghoa dalam Sastra Indonesia, Sainul Hermawan, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;2.Maitihi Sastra Banjar, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;3.Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin : PBS FLIP&lt;br /&gt;4.Lingkaran Kata, antologi artikel Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;5.Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel, Sainul Hermawan, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Antologi Kritik Sastra   &lt;br /&gt;6.Peranan Sastra Dalam Pentas. Ian Emti, 2001. Banjarmasin : HIPSI Kalsel&lt;br /&gt;7.Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Jamal T. Suryanata, 2003. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa &lt;br /&gt;8.Negeri Benang Pada Sekeping Papan, Ali Syamsuddin Arsi, Banjarmasin : Penerbit Tahura Media. Antologi Gumam.&lt;br /&gt;9.Antologi Biografi Sastrawan Kalsel, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel.&lt;br /&gt;10.Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel&lt;br /&gt;11.Bahasa dan Gaya Puisi Sapardi Djoko Damono (Analisis Stilistika), Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Analis Puisi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA BERSAMA &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra bersama karangan para eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 4 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan. Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie. 2001. Banjarmasin : Balai Bahasa Banjarmasin  &lt;br /&gt;2.Sastra Banjar Kontekstual, Sainul Hermawan dan Jarkasi, 2006. Banjarmasin &lt;br /&gt;3.Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan Saepuddin, Dahliana, dan Siti Akbari (Editor), 2008. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Pengkajian Puisi : Teori dan Aplikasi, Endang Sulistyowati dan Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Buku Teks Perkuliahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR SASTRAWAN KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah  sastrawan Kalsel yang tercatat baru masuk ke dalam jagat sastra Kalsel selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 152 orang., yakni. &lt;br /&gt;1.AA Ajang &lt;br /&gt;2.Abdurrahman El Hakim &lt;br /&gt;3.Abdurrahman El Husaini&lt;br /&gt;4.Ade Ahmad Rienanda&lt;br /&gt;5.Ahmad Fahriza Halis &lt;br /&gt;6.Ahmad Fitriadi F &lt;br /&gt;7.Akhmad Husaini&lt;br /&gt;8.Ani Agustina &lt;br /&gt;9.Ana Maulida Hidayah&lt;br /&gt;10.Anna Fajarona &lt;br /&gt;11.Annisa Destyaningrum S &lt;br /&gt;12.Annisa Nurul Huda&lt;br /&gt;13.Aprilia Norhayati&lt;br /&gt;14.Arief Arifany&lt;br /&gt;15.Aspihan N. Hidin &lt;br /&gt;16.Audi Anabela Veruci &lt;br /&gt;17.Bayu Yoga Dinata&lt;br /&gt;18.Bayu Saputra&lt;br /&gt;19.Claudia Mita Dimetri&lt;br /&gt;20.Devi Halim &lt;br /&gt;21.Dewi Alfianti&lt;br /&gt;22.Dewi Putri Ananda&lt;br /&gt;23.Dewi Upayani &lt;br /&gt;24.Diana Alice&lt;br /&gt;25.Diena Rasya Umami&lt;br /&gt;26.Dini A. Husna &lt;br /&gt;27.Edka Afdiana&lt;br /&gt;28.Edy Suroso&lt;br /&gt;29.Edya Rosyadi &lt;br /&gt;30.Eka Maryana Rukmana&lt;br /&gt;31.Endang Fitriani &lt;br /&gt;32.Erika Adriani&lt;br /&gt;33.Erma Ariyani&lt;br /&gt;34.Erma Normiyanti&lt;br /&gt;35.Eva Risky Ati&lt;br /&gt;36.Farah Hidayati&lt;br /&gt;37.Fahrul Anwar&lt;br /&gt;38.Fakrudin Arifin&lt;br /&gt;39.Fitriansyah&lt;br /&gt;40.Fitri Jamilah&lt;br /&gt;41.Fitryani&lt;br /&gt;42.Ganda Atmaja&lt;br /&gt;43.Gesit Aprianto&lt;br /&gt;44.Gusti Indra Setyawan&lt;br /&gt;45.Gunara &lt;br /&gt;46.Gutrah&lt;br /&gt;47.Hajriansyah&lt;br /&gt;48.Hana Novia Aulianti&lt;br /&gt;49.Harrie Insani Putra &lt;br /&gt;50.Helly Yulita &lt;br /&gt;51.Henny Marlinda&lt;br /&gt;52.Hendra Royadi&lt;br /&gt;53.Heri Sudiono &lt;br /&gt;54.Herry Rochniady&lt;br /&gt;55.Hudan Nur &lt;br /&gt;56.Ida Nurlainy&lt;br /&gt;57.Ida Royani Buldi &lt;br /&gt;58.Imraatul Jannah &lt;br /&gt;59.Ira Setiana Khairunnisa &lt;br /&gt;60.Isuur Loeweng&lt;br /&gt;61.Jauhar Yamani &lt;br /&gt;62.John S Fane &lt;br /&gt;63.Joni Wijaya&lt;br /&gt;64.Kasmudin&lt;br /&gt;65.Komariah Widya Astuti &lt;br /&gt;66.Listya Wulansari &lt;br /&gt;67.M. Aini Asmuni  &lt;br /&gt;68.M. Amin Mustika Muda &lt;br /&gt;69.M. Fuad Rahman &lt;br /&gt;70.M. Nahdiansyah Abdi &lt;br /&gt;71.M. Yandi&lt;br /&gt;72.M. Zakir  M &lt;br /&gt;73.Ma’mur Suryadilaga&lt;br /&gt;74.Mahdalia M. Amin &lt;br /&gt;75.Mahmud Shalihin&lt;br /&gt;76.Mahmud Jauhari Ali &lt;br /&gt;77.Masdulhaq Abdi &lt;br /&gt;78.Maya Fahrina Wardhani &lt;br /&gt;79.Megawati&lt;br /&gt;80.Meldawati&lt;br /&gt;81.Meylinda Mayangsari&lt;br /&gt;82.Mian Ayu Ratna Aisyah&lt;br /&gt;83.Miftahuddin Munidi&lt;br /&gt;84.Mirwan &lt;br /&gt;85.Muhammad Faried&lt;br /&gt;86.Muhammad Syahriadi HN&lt;br /&gt;87.Mutia Rahmah Albar &lt;br /&gt;88.Nanang Ramli&lt;br /&gt;89.Nani Retno Nurwardayaningsih &lt;br /&gt;90.Nafisah Zaini&lt;br /&gt;91.Nina Idhiana &lt;br /&gt;92.Ninin Susanti&lt;br /&gt;93.Nitia Desi Indrasari&lt;br /&gt;94.Noor Aida&lt;br /&gt;95.Norsya Elvira Damayanti &lt;br /&gt;96.Noryahman&lt;br /&gt;97.Nur Afifah&lt;br /&gt;98.Nur Hidayah &lt;br /&gt;99.Nurul Azmie LS&lt;br /&gt;100.Puspa Ramadyanti &lt;br /&gt;101.Puteri Gemala Sari &lt;br /&gt;102.Rahayu Rina Rahmawati &lt;br /&gt;103.Rahmah Wartania Putri &lt;br /&gt;104.Rahman Rijani&lt;br /&gt;105.Rahmatiah &lt;br /&gt;106.Rahmiyati&lt;br /&gt;107.Randu Alamsyah  &lt;br /&gt;108.Ratih Ayuningrum&lt;br /&gt;109.Reda Ari Yantie&lt;br /&gt;110.Redha Adharyan Ansyari&lt;br /&gt;111.Reza Anshari Azmi&lt;br /&gt;112.Riski Yunida &lt;br /&gt;113.Rismiyana  &lt;br /&gt;114.Rissari Yayuk &lt;br /&gt;115.Riznina Nur Rahmatya &lt;br /&gt;116.Rizqy Kurniawati &lt;br /&gt;117.Saidah &lt;br /&gt;118.Sainul Hermawan&lt;br /&gt;119.Salamiah&lt;br /&gt;120.Sigit Bagus Prabowo &lt;br /&gt;121.Siti Magfirah&lt;br /&gt;122.Siti Meidina Har Safitri&lt;br /&gt;123.Sri Normuliati&lt;br /&gt;124.Stefanus Yogi KA&lt;br /&gt;125.Sufyan Suri&lt;br /&gt;126.Suhaimi &lt;br /&gt;127.Suriansyah&lt;br /&gt;128.Suriyadi&lt;br /&gt;129.Sutrisno Watini&lt;br /&gt;130.Suyatno&lt;br /&gt;131.Syafiqatul Mahmudah &lt;br /&gt;132.Syarifuddin&lt;br /&gt;133.Tabri Lipani&lt;br /&gt;134.Tati Noor Rahmi&lt;br /&gt;135.Taufiq Ahmad &lt;br /&gt;136.Taufiq HT&lt;br /&gt;137.Taupiq&lt;br /&gt;138.Tri Restu Panie&lt;br /&gt;139.Tria Dewi Putri&lt;br /&gt;140.Turay Dendang Dirantawan&lt;br /&gt;141.Turmudi&lt;br /&gt;142.Wahyu Fitriani&lt;br /&gt;143.Wahyudi &lt;br /&gt;144.Warnita&lt;br /&gt;145.Wawan Setiawan&lt;br /&gt;146.Wayan Windre Semara&lt;br /&gt;147.Yaya Suyatno&lt;br /&gt;148.Yuliati Puspita Sari&lt;br /&gt;149.Yieni Firnawati Ma’ruf&lt;br /&gt;150.Zainal Mursalim&lt;br /&gt;151.Zayed Norwanto&lt;br /&gt;152.Zurriyati Rosyidah&lt;br /&gt;Dalam konteks Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009, semua sastrawan Kalsel di atas termasuk dalam kelompok generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009. &lt;br /&gt;Kepada mereka semua kami dari Puskajimastra Kalsel Banjarmasin mengucapkan selamat datang di jagat sastra Kalsel semoga tetap betah berada di dalamnya dari tahun ke tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAGAT SASTRA &lt;br /&gt;KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA SASTRA PERS &lt;br /&gt;Selama kurun waktu 2000-2009, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastranya secara berkala, yakni&lt;br /&gt;Tabloid Mingguan Serambi Ummah (rubrik Cerpen,  terbit setiap hari Jum’at, sejak tahun 2000).&lt;br /&gt;SKH Radar Banjarmasin (rubrik Cakrawala Sastra dan Budaya (terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2001).&lt;br /&gt;SKH Banjarmasin Post (rubrik Dahaga, terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2007).&lt;br /&gt;Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009.&lt;br /&gt;Selain itu juga didukung oleh Jurnal Cerpen Borneo Banjarmasin, Jurnal Kandil Banjarmasin, dan Jurnal Sastral Kindai yang terbit tidak berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi pribadi karangan penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 55 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Epilog Hari Ini, Imraatul Jannah, 2000. Martapura&lt;br /&gt;2.Mimpi, M. Suriani Siddik, 2000. Jakarta&lt;br /&gt;3.Nyanyian Dusun, Maman S. Tawie, 2000. Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Dunia Telur, Hamami Adaby, 2001. Banjarbaru&lt;br /&gt;5.Debur Ombak Guruh Gelombang. Jamal T. Suryanata, 2002. Banjarmasin&lt;br /&gt;6.Kesumba, Hamami Adaby, 2002, Marabahan&lt;br /&gt;7.Nikah Zikir, M. Suriani Siddik, 2002. Jakarta&lt;br /&gt;8.Lajang, Hudan Nur, 2002, Banjarbaru&lt;br /&gt;9.Surat Ungu Buat Ersa, Hardiansyah Asmail, 2002&lt;br /&gt;10.Kemana Harus Menatap, Ismail Wahid, 2002, Barabai&lt;br /&gt;11.Tembang Buat Ida, Rock Syamsuri Sabri, 2002. Marabahan&lt;br /&gt;12.Bunga Angin, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;13.Jajarat dan Kariau, Rock Syamsuri Sabri, 2003, Marabahan (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;14. Silir Pulau Dewata, Akhmad Tajuddin. 2003. Tanjung&lt;br /&gt;15.Surat Dari Swiss, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;16.Tragedi 3 November, Hudan Nur, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;17.2x2=5?, Amir Husaini Zamzam, 2003. Amuntai&lt;br /&gt;18.Do’a Terakhir Ayahku, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;19.Pintu Ka’bah, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;20.Anak Bawang. Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;21.Bayang Bayang Hilang, Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;22.Dermaga Cinta, Hamami Adaby, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;23.Jalan Bersama, Eko Suryadi WS. 2004. Kotabaru&lt;br /&gt;24.Nyanyian Kuala. Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;25.Perempuan Perempuan yang Menatap Langit, Ismail Wahid, 2004, Barabai&lt;br /&gt;26.Rumah Anakku, Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;27.Sejarah Lari Tergesa. M. Fadjroel Rahman. 2004. Jakarta&lt;br /&gt;28.Sungai Hitam Semesta Berkabut. Noor Aini Cahya Khairani. 2004. Banjarmasin : Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;29.Surat Terbuka Seorang Lelaki dengan Vonis Mati, M. Rifani Djamhari, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;30.Langkah, Andi Amrullah. 2005. Pagatan&lt;br /&gt;31.Pesan Luka Indonesiaku, Ali Syamsuddin Arsy. 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;32.Tanah Perjanjian. Ajamuddin Tifani. 2005. Jakarta : Hasta Mitra&lt;br /&gt;33.Umai Bungas Banjarbaru, Hamami Adaby, 2005, Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;34.Bukit Bukit Retak, Ali Syamsuddin Arsy, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;35.Di Batas Laut. Eko Suryadi WS, 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;36.Kaduluran, Hamami Adaby, 2006. Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;37.Kalalatu, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;38.Narasi Musafir Gila, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;39.Nyanyian Seribu Burung, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;40.Romansya Setangkai Bunga, Arsyad Indradi, 2006. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;41.Kapal Lautku. Adjim Arijadi, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;42.Tahajud, Ismail Wahid, 2006. Barabai&lt;br /&gt;43.Aku dan Kau Sama Sama, Ismail Wahid. 2007. Barabai&lt;br /&gt;44.Dongeng Untuk Poppy. M. Fadjroel Rahman, 2007. Jakarta&lt;br /&gt;45.Jejak Air, Hajriansyah, 2007. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;46.Pistol Air, M. Nahdiansyah Abdi. 2008. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;47.Kupu Kupu Kuning, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;48.Lelaki Kembang Batu, Eza Thabry Husano. 2008. Banjarbaru&lt;br /&gt;49.Meditasi Rindu, Micky Hidayat. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;50.Di Kemayaan Ruang. A. Kusairi, 2008. Rantau&lt;br /&gt;51.Di Jari Manismu Ada Rindu, Hamami Adaby, 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru&lt;br /&gt;52.Anggur Duka. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru&lt;br /&gt;53.Burinik. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru. (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;54.Badai Gurun dalam Darah, Ibramsyah Amandit, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;55.Sebatung Melukis dalam Kaca, M Sulaiman Najam. 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi bersama karangan para penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 47 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Kasidah Kota, 2000. Banjarbaru&lt;br /&gt;2Potret Diri, 2000&lt;br /&gt;3Potret Tiga Warna, 2000&lt;br /&gt;4Cakrawala, 2000. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru&lt;br /&gt;5Meratus Berduka, 2001. Banjarmasin&lt;br /&gt;6Wasi, 2001. Banjarmasin : Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan. Antologi Puisi Bersama Penyair Nusantara&lt;br /&gt;7Bahana. Ali Syamsudin Arsi (Editor). 2001. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru &lt;br /&gt;8Taman Hati, 2001. Banjarbaru.  &lt;br /&gt;9Nyanyian Seribu Sungai, 2001. Marabahan&lt;br /&gt;10Narasi Matahari, 2002. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru&lt;br /&gt;11Sajadah Kata, 2002. Banjarbaru&lt;br /&gt;12Notasi Kota 24 Jam, 2003, Banjarbaru&lt;br /&gt;13Perjuangan, Perdamaian, dan Cinta. Zulkipli Musaba dan Sabhan Sabri. 2003. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;14Air Mata Malam Malam, Ali Syamsuddin Arsy dkk. 2004. Banjarbaru L@nting Publisher&lt;br /&gt;15Anak Zaman, 2004. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;16Baturai Sanja, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha (ditulis dalam bahasa Banjar)&lt;br /&gt;17Bumi Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;18Jembatan,  2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusantara &lt;br /&gt;19Mendulang Cahaya Bulan, 2004. Banjarbaru &lt;br /&gt;20Tiga Kutub Senja. Eza Thabry Husano,  Hamamy Adaby, dan Arsyad Indradi. 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;21Bulan Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru. Kilang Sastra Baru Karaha &lt;br /&gt;22Reportase, 2004. Kotabaru.  &lt;br /&gt;23Bumi Menggerutu,2005. Banjarbaru &lt;br /&gt;24Dimensi, 2005. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;25Menadah Turunan Hujan, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;26Stasiun Waktu Kilometer 55. 2005. Kotabaru&lt;br /&gt;27Sajak Sajak Bumi Selidah. 2005. Marabahan : Penerbit Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala dan Panitia Peringatan Hari Jadi ke 45 Kabupaten Barito Kuala&lt;br /&gt;28Membilas Miang Kabut, 2006, Banjarbaru&lt;br /&gt;29Kota Kita. 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;30Perkawinan Batu, 2006. Jakarta : DKJ TIM . Antologi Puisi Bersama&lt;br /&gt;31Ragam Jejak Tsunami. 2006. Medan : Balai Bahasa Sumut&lt;br /&gt;32Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan. Arsyad Indradi (Editor), 2006 (Cetakan I), 2007 (Cetakan II). Banjarbaru : Kalalatu Press Banjarbaru&lt;br /&gt;33Ronce Ronce Bunga Mekar, 2006. Tanjung&lt;br /&gt;34Sajak Sajak Kemerdekaan, 2006. Banjarmasin : Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;35Taman Banjarbaru. Ali Syamsuddin Arsi, M. Rifani Djamhari, dan Elang W. Kusuma (Editor). 2006. Yogyakarta : Gama Media&lt;br /&gt;36Melayat Langit, 2006. Banjarbaru. &lt;br /&gt;37Kugadaikan Luka, 2007, Shah Kalana al Laila Haji (Editor), Banjarbaru : Penerbit ruMahcerita&lt;br /&gt;38Cinta Rakyat, 2007. Marabahan&lt;br /&gt;39Jejak Jejak Angin, Hajriansyah dan M. Nadhdiansyah Abdi. 2007. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;40Seribu Sungai Paris Barantai. Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, dan M. Rifani Djamhari (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;41Mahligai Junjung Buih. Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan, 2007. Amuntai&lt;br /&gt;42Tarian Cahaya di Bumi Sanggam. Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V&lt;br /&gt;43Malaikat Hutan Bakau, Hudan Nur (Editor), 2008. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Banjarbaru. &lt;br /&gt;44Bertahan di Bukit Akhir. 2008. Barabai&lt;br /&gt;45Ije Jela Bersastra di Tahun Emas, 2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. &lt;br /&gt;46Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah. Bianglala Pemenang Lomba Cipta Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. 2009 Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;47Do’a Pelangi di Tahun Emas.2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen pribadi karangan penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 1 judul, yakni. Bintang Kecil di Langit yang Kelam. Jamal T. Suryanata, 2009.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen bersama karangan para penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 7 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Nawu Raha, 2002. Tanjung&lt;br /&gt;2.La Ventre de Kandangan : Mosaik Sastra HSS 1937-2003. Burhanuddin Soebely (penyunting), 2004. Kandangan : Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Hulu Sungai Selatan&lt;br /&gt;3.Raja Anum, 2006. Tanjung. &lt;br /&gt;4.Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab. Antologi Sastra Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Micky Hidayat (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;5.Ziarah Pelangi Balangan Menari. Bunga Rampai Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat, Burhanuddin Soebely, dan M Rifani Djamhari (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V.&lt;br /&gt;6.Di Merah Fajar Esok Pagi, Ganda Atmaja (Penyunting Akhir), 2008. Kertak Hanyar : KSI Kertak Hanyar. &lt;br /&gt;7.Darah Penanda, Ali Syamsuddin Arsi (Editor), 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen pribadi karangan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 9 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Galuh, Jamal T. Suryanata, 2005. Banjarmasin (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;2Maundak Dandang, M. Fitran Salam, 2005, Banjarbaru (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;3Kecoa, Zulfaisal Putera, 2005. Banjarmasin &lt;br /&gt;4Bulan di Pucuk Cemara. Jamal T. Suryanata. 2006. Banjarbaru : Penerbit Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan Banjarbaru&lt;br /&gt;5Gadis Dayak. Setia Budhi. 2006&lt;br /&gt;6Tahi Lalat di Punggung Istriku. Zulfaisal Putera, 2007. Banjarmasin&lt;br /&gt;7Dongeng Kesetiaan. Ratih Ayuningrum. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;8Menanti Tamu Lebaran, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;9Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, Hajriansyah, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen bersama karangan para cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 5 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Menapak Bumi Mahakam, Hadian Noor (Editor). 2002. Penerbit Andi Yogyakarta &lt;br /&gt;2.Bantu Saya Menikmati Cinta. Kuntum-kuntum Cerita Pendek Remaja. April dkk. 2006. Banjarmasin : Penerbit AWF Publisher&lt;br /&gt;3.Orkestra Wayang. 2007. Kandangan &lt;br /&gt;4.Perempuan yang Memburu Hujan, Harie Insani Putra dan Sandi Firly, 2008. Banjarmasin : Tahura Media &lt;br /&gt;5.Nyanyian Tanpa Nyanyian. Banjarmasin, 2009. Banjarmasin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ROMAN/NOVEL&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah roman/novel karangan romanis/novelis Kalsel yang  terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 24 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Rumah Tumbuh. Farah Hidayati, 2005. Jakarta&lt;br /&gt;2.Jingah, Iwan Yusi. 2000. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;3.Di Bawah Matahari Terminal. Jamal T. Suryanata, 2001. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;4.Puteri, Ian Emti, 2001. Banjarmasin : Persatuan Insan Film (PIF) Kalsel &lt;br /&gt;5.Lelehe, Djarani EM, 2002. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa  &lt;br /&gt;6.Kambang Barenteng, Harun Al Rasyid dan M Hasbi Salim, 2003&lt;br /&gt;7.Reinkarnasi, Lan Fang. 2003. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;8.Kantawan, Iwan Yusi. 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;9.Loksado, Iwan Yusi. 2004. Jakarta : PT Dian Ariesta&lt;br /&gt;10.Palas. Aliman Syahrani. 2004. Banjarmasin : Pustaka Banua&lt;br /&gt;11.Pay Yin, Lan Fang, 2004. Jakarta : Penerbit Gramedia.&lt;br /&gt;12.Pemberani Cilik dari Desa Lereng Bukit, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;13.Sindang Langit Tanah Air Mata, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;14.Bahara Mingsang Idang Siritan, Burhanuddin Soebely, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;15.Boneka Untuk Brenda. Jamal T. Suryanata, 2005&lt;br /&gt;16.Misteri Pohon Kasturi, M. Hasbi Salim, 2005&lt;br /&gt;17.Penyesalan Sang Pemburu, Jamal T. Suryanata, 2005. Jakarta : Pabelan Cerdas Nusantara  &lt;br /&gt;18.Tambalaras, novel. Iwan Yusi. 2005. Jakarta : PT Rineka Cipta&lt;br /&gt;19.Kembang Burung Purei, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;20.Laki Laki Yang Salah, Lan Fang. 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;21.Perempuan Kembang Jepun, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;22.Putri Sasirangan, M. Hasbi Salim, 2006 &lt;br /&gt;23.Tatangar. Iwan Yusi. 2006. Jakarta : Karya Mandiri Nusantara&lt;br /&gt;24.Jazirah Cinta, Randu Alamsyah, Jakarta : Penerbit Zahra, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra pribadi karangan eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 11 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Tionghoa dalam Sastra Indonesia, Sainul Hermawan, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;2.Maitihi Sastra Banjar, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;3.Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin : PBS FLIP&lt;br /&gt;4.Lingkaran Kata, antologi artikel Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;5.Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel, Sainul Hermawan, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Antologi Kritik Sastra   &lt;br /&gt;6.Peranan Sastra Dalam Pentas. Ian Emti, 2001. Banjarmasin : HIPSI Kalsel&lt;br /&gt;7.Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Jamal T. Suryanata, 2003. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa &lt;br /&gt;8.Negeri Benang Pada Sekeping Papan, Ali Syamsuddin Arsi, Banjarmasin : Penerbit Tahura Media. Antologi Gumam.&lt;br /&gt;9.Antologi Biografi Sastrawan Kalsel, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel.&lt;br /&gt;10.Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel&lt;br /&gt;11.Bahasa dan Gaya Puisi Sapardi Djoko Damono (Analisis Stilistika), Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Analis Puisi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA BERSAMA &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra bersama karangan para eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 4 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan. Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie. 2001. Banjarmasin : Balai Bahasa Banjarmasin  &lt;br /&gt;2.Sastra Banjar Kontekstual, Sainul Hermawan dan Jarkasi, 2006. Banjarmasin &lt;br /&gt;3.Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan Saepuddin, Dahliana, dan Siti Akbari (Editor), 2008. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Pengkajian Puisi : Teori dan Aplikasi, Endang Sulistyowati dan Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Buku Teks Perkuliahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR SASTRAWAN KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah  sastrawan Kalsel yang tercatat baru masuk ke dalam jagat sastra Kalsel selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 152 orang., yakni. &lt;br /&gt;1.AA Ajang &lt;br /&gt;2.Abdurrahman El Hakim &lt;br /&gt;3.Abdurrahman El Husaini&lt;br /&gt;4.Ade Ahmad Rienanda&lt;br /&gt;5.Ahmad Fahriza Halis &lt;br /&gt;6.Ahmad Fitriadi F &lt;br /&gt;7.Akhmad Husaini&lt;br /&gt;8.Ani Agustina &lt;br /&gt;9.Ana Maulida Hidayah&lt;br /&gt;10.Anna Fajarona &lt;br /&gt;11.Annisa Destyaningrum S &lt;br /&gt;12.Annisa Nurul Huda&lt;br /&gt;13.Aprilia Norhayati&lt;br /&gt;14.Arief Arifany&lt;br /&gt;15.Aspihan N. Hidin &lt;br /&gt;16.Audi Anabela Veruci &lt;br /&gt;17.Bayu Yoga Dinata&lt;br /&gt;18.Bayu Saputra&lt;br /&gt;19.Claudia Mita Dimetri&lt;br /&gt;20.Devi Halim &lt;br /&gt;21.Dewi Alfianti&lt;br /&gt;22.Dewi Putri Ananda&lt;br /&gt;23.Dewi Upayani &lt;br /&gt;24.Diana Alice&lt;br /&gt;25.Diena Rasya Umami&lt;br /&gt;26.Dini A. Husna &lt;br /&gt;27.Edka Afdiana&lt;br /&gt;28.Edy Suroso&lt;br /&gt;29.Edya Rosyadi &lt;br /&gt;30.Eka Maryana Rukmana&lt;br /&gt;31.Endang Fitriani &lt;br /&gt;32.Erika Adriani&lt;br /&gt;33.Erma Ariyani&lt;br /&gt;34.Erma Normiyanti&lt;br /&gt;35.Eva Risky Ati&lt;br /&gt;36.Farah Hidayati&lt;br /&gt;37.Fahrul Anwar&lt;br /&gt;38.Fakrudin Arifin&lt;br /&gt;39.Fitriansyah&lt;br /&gt;40.Fitri Jamilah&lt;br /&gt;41.Fitryani&lt;br /&gt;42.Ganda Atmaja&lt;br /&gt;43.Gesit Aprianto&lt;br /&gt;44.Gusti Indra Setyawan&lt;br /&gt;45.Gunara &lt;br /&gt;46.Gutrah&lt;br /&gt;47.Hajriansyah&lt;br /&gt;48.Hana Novia Aulianti&lt;br /&gt;49.Harrie Insani Putra &lt;br /&gt;50.Helly Yulita &lt;br /&gt;51.Henny Marlinda&lt;br /&gt;52.Hendra Royadi&lt;br /&gt;53.Heri Sudiono &lt;br /&gt;54.Herry Rochniady&lt;br /&gt;55.Hudan Nur &lt;br /&gt;56.Ida Nurlainy&lt;br /&gt;57.Ida Royani Buldi &lt;br /&gt;58.Imraatul Jannah &lt;br /&gt;59.Ira Setiana Khairunnisa &lt;br /&gt;60.Isuur Loeweng&lt;br /&gt;61.Jauhar Yamani &lt;br /&gt;62.John S Fane &lt;br /&gt;63.Joni Wijaya&lt;br /&gt;64.Kasmudin&lt;br /&gt;65.Komariah Widya Astuti &lt;br /&gt;66.Listya Wulansari &lt;br /&gt;67.M. Aini Asmuni  &lt;br /&gt;68.M. Amin Mustika Muda &lt;br /&gt;69.M. Fuad Rahman &lt;br /&gt;70.M. Nahdiansyah Abdi &lt;br /&gt;71.M. Yandi&lt;br /&gt;72.M. Zakir  M &lt;br /&gt;73.Ma’mur Suryadilaga&lt;br /&gt;74.Mahdalia M. Amin &lt;br /&gt;75.Mahmud Shalihin&lt;br /&gt;76.Mahmud Jauhari Ali &lt;br /&gt;77.Masdulhaq Abdi &lt;br /&gt;78.Maya Fahrina Wardhani &lt;br /&gt;79.Megawati&lt;br /&gt;80.Meldawati&lt;br /&gt;81.Meylinda Mayangsari&lt;br /&gt;82.Mian Ayu Ratna Aisyah&lt;br /&gt;83.Miftahuddin Munidi&lt;br /&gt;84.Mirwan &lt;br /&gt;85.Muhammad Faried&lt;br /&gt;86.Muhammad Syahriadi HN&lt;br /&gt;87.Mutia Rahmah Albar &lt;br /&gt;88.Nanang Ramli&lt;br /&gt;89.Nani Retno Nurwardayaningsih &lt;br /&gt;90.Nafisah Zaini&lt;br /&gt;91.Nina Idhiana &lt;br /&gt;92.Ninin Susanti&lt;br /&gt;93.Nitia Desi Indrasari&lt;br /&gt;94.Noor Aida&lt;br /&gt;95.Norsya Elvira Damayanti &lt;br /&gt;96.Noryahman&lt;br /&gt;97.Nur Afifah&lt;br /&gt;98.Nur Hidayah &lt;br /&gt;99.Nurul Azmie LS&lt;br /&gt;100.Puspa Ramadyanti &lt;br /&gt;101.Puteri Gemala Sari &lt;br /&gt;102.Rahayu Rina Rahmawati &lt;br /&gt;103.Rahmah Wartania Putri &lt;br /&gt;104.Rahman Rijani&lt;br /&gt;105.Rahmatiah &lt;br /&gt;106.Rahmiyati&lt;br /&gt;107.Randu Alamsyah  &lt;br /&gt;108.Ratih Ayuningrum&lt;br /&gt;109.Reda Ari Yantie&lt;br /&gt;110.Redha Adharyan Ansyari&lt;br /&gt;111.Reza Anshari Azmi&lt;br /&gt;112.Riski Yunida &lt;br /&gt;113.Rismiyana  &lt;br /&gt;114.Rissari Yayuk &lt;br /&gt;115.Riznina Nur Rahmatya &lt;br /&gt;116.Rizqy Kurniawati &lt;br /&gt;117.Saidah &lt;br /&gt;118.Sainul Hermawan&lt;br /&gt;119.Salamiah&lt;br /&gt;120.Sigit Bagus Prabowo &lt;br /&gt;121.Siti Magfirah&lt;br /&gt;122.Siti Meidina Har Safitri&lt;br /&gt;123.Sri Normuliati&lt;br /&gt;124.Stefanus Yogi KA&lt;br /&gt;125.Sufyan Suri&lt;br /&gt;126.Suhaimi &lt;br /&gt;127.Suriansyah&lt;br /&gt;128.Suriyadi&lt;br /&gt;129.Sutrisno Watini&lt;br /&gt;130.Suyatno&lt;br /&gt;131.Syafiqatul Mahmudah &lt;br /&gt;132.Syarifuddin&lt;br /&gt;133.Tabri Lipani&lt;br /&gt;134.Tati Noor Rahmi&lt;br /&gt;135.Taufiq Ahmad &lt;br /&gt;136.Taufiq HT&lt;br /&gt;137.Taupiq&lt;br /&gt;138.Tri Restu Panie&lt;br /&gt;139.Tria Dewi Putri&lt;br /&gt;140.Turay Dendang Dirantawan&lt;br /&gt;141.Turmudi&lt;br /&gt;142.Wahyu Fitriani&lt;br /&gt;143.Wahyudi &lt;br /&gt;144.Warnita&lt;br /&gt;145.Wawan Setiawan&lt;br /&gt;146.Wayan Windre Semara&lt;br /&gt;147.Yaya Suyatno&lt;br /&gt;148.Yuliati Puspita Sari&lt;br /&gt;149.Yieni Firnawati Ma’ruf&lt;br /&gt;150.Zainal Mursalim&lt;br /&gt;151.Zayed Norwanto&lt;br /&gt;152.Zurriyati Rosyidah&lt;br /&gt;Dalam konteks Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009, semua sastrawan Kalsel di atas termasuk dalam kelompok generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009. &lt;br /&gt;Kepada mereka semua kami dari Puskajimastra Kalsel Banjarmasin mengucapkan selamat datang di jagat sastra Kalsel semoga tetap betah berada di dalamnya dari tahun ke tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAGAT SASTRA &lt;br /&gt;KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA SASTRA PERS &lt;br /&gt;Selama kurun waktu 2000-2009, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastranya secara berkala, yakni&lt;br /&gt;Tabloid Mingguan Serambi Ummah (rubrik Cerpen,  terbit setiap hari Jum’at, sejak tahun 2000).&lt;br /&gt;SKH Radar Banjarmasin (rubrik Cakrawala Sastra dan Budaya (terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2001).&lt;br /&gt;SKH Banjarmasin Post (rubrik Dahaga, terbit setiap hari Minggu, sejak tahun 2007).&lt;br /&gt;Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009.&lt;br /&gt;Selain itu juga didukung oleh Jurnal Cerpen Borneo Banjarmasin, Jurnal Kandil Banjarmasin, dan Jurnal Sastral Kindai yang terbit tidak berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi pribadi karangan penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 55 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Epilog Hari Ini, Imraatul Jannah, 2000. Martapura&lt;br /&gt;2.Mimpi, M. Suriani Siddik, 2000. Jakarta&lt;br /&gt;3.Nyanyian Dusun, Maman S. Tawie, 2000. Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Dunia Telur, Hamami Adaby, 2001. Banjarbaru&lt;br /&gt;5.Debur Ombak Guruh Gelombang. Jamal T. Suryanata, 2002. Banjarmasin&lt;br /&gt;6.Kesumba, Hamami Adaby, 2002, Marabahan&lt;br /&gt;7.Nikah Zikir, M. Suriani Siddik, 2002. Jakarta&lt;br /&gt;8.Lajang, Hudan Nur, 2002, Banjarbaru&lt;br /&gt;9.Surat Ungu Buat Ersa, Hardiansyah Asmail, 2002&lt;br /&gt;10.Kemana Harus Menatap, Ismail Wahid, 2002, Barabai&lt;br /&gt;11.Tembang Buat Ida, Rock Syamsuri Sabri, 2002. Marabahan&lt;br /&gt;12.Bunga Angin, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;13.Jajarat dan Kariau, Rock Syamsuri Sabri, 2003, Marabahan (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;14. Silir Pulau Dewata, Akhmad Tajuddin. 2003. Tanjung&lt;br /&gt;15.Surat Dari Swiss, Hamami Adaby, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;16.Tragedi 3 November, Hudan Nur, 2003. Banjarbaru&lt;br /&gt;17.2x2=5?, Amir Husaini Zamzam, 2003. Amuntai&lt;br /&gt;18.Do’a Terakhir Ayahku, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;19.Pintu Ka’bah, Amir Husaini Zamzam, 2004. Amuntai&lt;br /&gt;20.Anak Bawang. Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;21.Bayang Bayang Hilang, Ali Syamsuddin Arsy. 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;22.Dermaga Cinta, Hamami Adaby, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;23.Jalan Bersama, Eko Suryadi WS. 2004. Kotabaru&lt;br /&gt;24.Nyanyian Kuala. Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;25.Perempuan Perempuan yang Menatap Langit, Ismail Wahid, 2004, Barabai&lt;br /&gt;26.Rumah Anakku, Rock Syamsuri Sabri, 2004. Marabahan&lt;br /&gt;27.Sejarah Lari Tergesa. M. Fadjroel Rahman. 2004. Jakarta&lt;br /&gt;28.Sungai Hitam Semesta Berkabut. Noor Aini Cahya Khairani. 2004. Banjarmasin : Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;29.Surat Terbuka Seorang Lelaki dengan Vonis Mati, M. Rifani Djamhari, 2004. Banjarbaru&lt;br /&gt;30.Langkah, Andi Amrullah. 2005. Pagatan&lt;br /&gt;31.Pesan Luka Indonesiaku, Ali Syamsuddin Arsy. 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;32.Tanah Perjanjian. Ajamuddin Tifani. 2005. Jakarta : Hasta Mitra&lt;br /&gt;33.Umai Bungas Banjarbaru, Hamami Adaby, 2005, Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;34.Bukit Bukit Retak, Ali Syamsuddin Arsy, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;35.Di Batas Laut. Eko Suryadi WS, 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;36.Kaduluran, Hamami Adaby, 2006. Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;37.Kalalatu, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;38.Narasi Musafir Gila, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;39.Nyanyian Seribu Burung, Arsyad Indradi, 2006, Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;40.Romansya Setangkai Bunga, Arsyad Indradi, 2006. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;br /&gt;41.Kapal Lautku. Adjim Arijadi, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;42.Tahajud, Ismail Wahid, 2006. Barabai&lt;br /&gt;43.Aku dan Kau Sama Sama, Ismail Wahid. 2007. Barabai&lt;br /&gt;44.Dongeng Untuk Poppy. M. Fadjroel Rahman, 2007. Jakarta&lt;br /&gt;45.Jejak Air, Hajriansyah, 2007. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;46.Pistol Air, M. Nahdiansyah Abdi. 2008. Banjarmasin : Tahura Media.&lt;br /&gt;47.Kupu Kupu Kuning, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;48.Lelaki Kembang Batu, Eza Thabry Husano. 2008. Banjarbaru&lt;br /&gt;49.Meditasi Rindu, Micky Hidayat. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;50.Di Kemayaan Ruang. A. Kusairi, 2008. Rantau&lt;br /&gt;51.Di Jari Manismu Ada Rindu, Hamami Adaby, 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru&lt;br /&gt;52.Anggur Duka. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru&lt;br /&gt;53.Burinik. Arsyad Indradi, 2009. Banjarbaru. (puisi bahasa Banjar)&lt;br /&gt;54.Badai Gurun dalam Darah, Ibramsyah Amandit, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;55.Sebatung Melukis dalam Kaca, M Sulaiman Najam. 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi bersama karangan para penyair Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 47 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Kasidah Kota, 2000. Banjarbaru&lt;br /&gt;2Potret Diri, 2000&lt;br /&gt;3Potret Tiga Warna, 2000&lt;br /&gt;4Cakrawala, 2000. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru&lt;br /&gt;5Meratus Berduka, 2001. Banjarmasin&lt;br /&gt;6Wasi, 2001. Banjarmasin : Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan. Antologi Puisi Bersama Penyair Nusantara&lt;br /&gt;7Bahana. Ali Syamsudin Arsi (Editor). 2001. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru &lt;br /&gt;8Taman Hati, 2001. Banjarbaru.  &lt;br /&gt;9Nyanyian Seribu Sungai, 2001. Marabahan&lt;br /&gt;10Narasi Matahari, 2002. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Administratif Banjarbaru dan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru&lt;br /&gt;11Sajadah Kata, 2002. Banjarbaru&lt;br /&gt;12Notasi Kota 24 Jam, 2003, Banjarbaru&lt;br /&gt;13Perjuangan, Perdamaian, dan Cinta. Zulkipli Musaba dan Sabhan Sabri. 2003. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;14Air Mata Malam Malam, Ali Syamsuddin Arsy dkk. 2004. Banjarbaru L@nting Publisher&lt;br /&gt;15Anak Zaman, 2004. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;16Baturai Sanja, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha (ditulis dalam bahasa Banjar)&lt;br /&gt;17Bumi Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;18Jembatan,  2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusantara &lt;br /&gt;19Mendulang Cahaya Bulan, 2004. Banjarbaru &lt;br /&gt;20Tiga Kutub Senja. Eza Thabry Husano,  Hamamy Adaby, dan Arsyad Indradi. 2004. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha &lt;br /&gt;21Bulan Ditelan Kutu, 2004. Banjarbaru. Kilang Sastra Baru Karaha &lt;br /&gt;22Reportase, 2004. Kotabaru.  &lt;br /&gt;23Bumi Menggerutu,2005. Banjarbaru &lt;br /&gt;24Dimensi, 2005. Banjarbaru : Kelompok Studi Sastra&lt;br /&gt;25Menadah Turunan Hujan, 2005. Banjarbaru&lt;br /&gt;26Stasiun Waktu Kilometer 55. 2005. Kotabaru&lt;br /&gt;27Sajak Sajak Bumi Selidah. 2005. Marabahan : Penerbit Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala dan Panitia Peringatan Hari Jadi ke 45 Kabupaten Barito Kuala&lt;br /&gt;28Membilas Miang Kabut, 2006, Banjarbaru&lt;br /&gt;29Kota Kita. 2006. Kotabaru&lt;br /&gt;30Perkawinan Batu, 2006. Jakarta : DKJ TIM . Antologi Puisi Bersama&lt;br /&gt;31Ragam Jejak Tsunami. 2006. Medan : Balai Bahasa Sumut&lt;br /&gt;32Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan. Arsyad Indradi (Editor), 2006 (Cetakan I), 2007 (Cetakan II). Banjarbaru : Kalalatu Press Banjarbaru&lt;br /&gt;33Ronce Ronce Bunga Mekar, 2006. Tanjung&lt;br /&gt;34Sajak Sajak Kemerdekaan, 2006. Banjarmasin : Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Kalsel&lt;br /&gt;35Taman Banjarbaru. Ali Syamsuddin Arsi, M. Rifani Djamhari, dan Elang W. Kusuma (Editor). 2006. Yogyakarta : Gama Media&lt;br /&gt;36Melayat Langit, 2006. Banjarbaru. &lt;br /&gt;37Kugadaikan Luka, 2007, Shah Kalana al Laila Haji (Editor), Banjarbaru : Penerbit ruMahcerita&lt;br /&gt;38Cinta Rakyat, 2007. Marabahan&lt;br /&gt;39Jejak Jejak Angin, Hajriansyah dan M. Nadhdiansyah Abdi. 2007. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;40Seribu Sungai Paris Barantai. Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan. Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, dan M. Rifani Djamhari (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;41Mahligai Junjung Buih. Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan, 2007. Amuntai&lt;br /&gt;42Tarian Cahaya di Bumi Sanggam. Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V&lt;br /&gt;43Malaikat Hutan Bakau, Hudan Nur (Editor), 2008. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha dan Dewan Kesenian Banjarbaru. &lt;br /&gt;44Bertahan di Bukit Akhir. 2008. Barabai&lt;br /&gt;45Ije Jela Bersastra di Tahun Emas, 2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. &lt;br /&gt;46Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah. Bianglala Pemenang Lomba Cipta Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala. 2009 Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;47Do’a Pelangi di Tahun Emas.2009. Marabahan : Dinas Tata Kota, Budaya, dan Pariwisata Kabupaten Barito Kuala bekerja sama dengan Panitia Aruh Sastra VI Kalimantan Selatan di Barito Kuala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN PRIBADI&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen pribadi karangan penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 1 judul, yakni. Bintang Kecil di Langit yang Kelam. Jamal T. Suryanata, 2009.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi puisi dan cerpen bersama karangan para penyair dan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 7 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Nawu Raha, 2002. Tanjung&lt;br /&gt;2.La Ventre de Kandangan : Mosaik Sastra HSS 1937-2003. Burhanuddin Soebely (penyunting), 2004. Kandangan : Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Hulu Sungai Selatan&lt;br /&gt;3.Raja Anum, 2006. Tanjung. &lt;br /&gt;4.Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab. Antologi Sastra Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan III Tahun 2006. Micky Hidayat (Editor). 2006. Kotabaru : Pemerintah Kabupaten Kotabaru bekerja sama dengan Panitia Pelaksana Aruh Sastra Kalimantan Selatan III&lt;br /&gt;5.Ziarah Pelangi Balangan Menari. Bunga Rampai Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2008. Micky Hidayat, Burhanuddin Soebely, dan M Rifani Djamhari (Editor), 2008. Paringin : Pemerintah Kabupaten Balangan dan Panitia Aruh Sastra Kalimantan Selatan V.&lt;br /&gt;6.Di Merah Fajar Esok Pagi, Ganda Atmaja (Penyunting Akhir), 2008. Kertak Hanyar : KSI Kertak Hanyar. &lt;br /&gt;7.Darah Penanda, Ali Syamsuddin Arsi (Editor), 2008. Banjarbaru : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen pribadi karangan cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 9 judul, yakni. &lt;br /&gt;1Galuh, Jamal T. Suryanata, 2005. Banjarmasin (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;2Maundak Dandang, M. Fitran Salam, 2005, Banjarbaru (cerpen bahasa Banjar)&lt;br /&gt;3Kecoa, Zulfaisal Putera, 2005. Banjarmasin &lt;br /&gt;4Bulan di Pucuk Cemara. Jamal T. Suryanata. 2006. Banjarbaru : Penerbit Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan Banjarbaru&lt;br /&gt;5Gadis Dayak. Setia Budhi. 2006&lt;br /&gt;6Tahi Lalat di Punggung Istriku. Zulfaisal Putera, 2007. Banjarmasin&lt;br /&gt;7Dongeng Kesetiaan. Ratih Ayuningrum. 2008. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;8Menanti Tamu Lebaran, Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;9Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, Hajriansyah, 2009. Banjarmasin : Tahura Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI CERPEN BERSAMA&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi cerpen bersama karangan para cerpenis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 5 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Menapak Bumi Mahakam, Hadian Noor (Editor). 2002. Penerbit Andi Yogyakarta &lt;br /&gt;2.Bantu Saya Menikmati Cinta. Kuntum-kuntum Cerita Pendek Remaja. April dkk. 2006. Banjarmasin : Penerbit AWF Publisher&lt;br /&gt;3.Orkestra Wayang. 2007. Kandangan &lt;br /&gt;4.Perempuan yang Memburu Hujan, Harie Insani Putra dan Sandi Firly, 2008. Banjarmasin : Tahura Media &lt;br /&gt;5.Nyanyian Tanpa Nyanyian. Banjarmasin, 2009. Banjarmasin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ROMAN/NOVEL&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah roman/novel karangan romanis/novelis Kalsel yang  terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 24 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Rumah Tumbuh. Farah Hidayati, 2005. Jakarta&lt;br /&gt;2.Jingah, Iwan Yusi. 2000. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;3.Di Bawah Matahari Terminal. Jamal T. Suryanata, 2001. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;4.Puteri, Ian Emti, 2001. Banjarmasin : Persatuan Insan Film (PIF) Kalsel &lt;br /&gt;5.Lelehe, Djarani EM, 2002. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa  &lt;br /&gt;6.Kambang Barenteng, Harun Al Rasyid dan M Hasbi Salim, 2003&lt;br /&gt;7.Reinkarnasi, Lan Fang. 2003. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;8.Kantawan, Iwan Yusi. 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;9.Loksado, Iwan Yusi. 2004. Jakarta : PT Dian Ariesta&lt;br /&gt;10.Palas. Aliman Syahrani. 2004. Banjarmasin : Pustaka Banua&lt;br /&gt;11.Pay Yin, Lan Fang, 2004. Jakarta : Penerbit Gramedia.&lt;br /&gt;12.Pemberani Cilik dari Desa Lereng Bukit, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;13.Sindang Langit Tanah Air Mata, Djarani EM, 2004. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa&lt;br /&gt;14.Bahara Mingsang Idang Siritan, Burhanuddin Soebely, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;15.Boneka Untuk Brenda. Jamal T. Suryanata, 2005&lt;br /&gt;16.Misteri Pohon Kasturi, M. Hasbi Salim, 2005&lt;br /&gt;17.Penyesalan Sang Pemburu, Jamal T. Suryanata, 2005. Jakarta : Pabelan Cerdas Nusantara  &lt;br /&gt;18.Tambalaras, novel. Iwan Yusi. 2005. Jakarta : PT Rineka Cipta&lt;br /&gt;19.Kembang Burung Purei, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;20.Laki Laki Yang Salah, Lan Fang. 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;21.Perempuan Kembang Jepun, Lan Fang, 2006. Jakarta : Penerbit Gramedia&lt;br /&gt;22.Putri Sasirangan, M. Hasbi Salim, 2006 &lt;br /&gt;23.Tatangar. Iwan Yusi. 2006. Jakarta : Karya Mandiri Nusantara&lt;br /&gt;24.Jazirah Cinta, Randu Alamsyah, Jakarta : Penerbit Zahra, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA PRIBADI &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra pribadi karangan eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 11 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Tionghoa dalam Sastra Indonesia, Sainul Hermawan, 2005. Yogyakarta&lt;br /&gt;2.Maitihi Sastra Banjar, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin&lt;br /&gt;3.Teori Sastra : Dari Marxis Sampai Rasis, Sainul Hermawan, 2006. Banjarmasin : PBS FLIP&lt;br /&gt;4.Lingkaran Kata, antologi artikel Mahmud Jauhari Ali. 2008. Kertak Hanyar : Komunitas Sastra Indonesia&lt;br /&gt;5.Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel, Sainul Hermawan, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Antologi Kritik Sastra   &lt;br /&gt;6.Peranan Sastra Dalam Pentas. Ian Emti, 2001. Banjarmasin : HIPSI Kalsel&lt;br /&gt;7.Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Jamal T. Suryanata, 2003. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa &lt;br /&gt;8.Negeri Benang Pada Sekeping Papan, Ali Syamsuddin Arsi, Banjarmasin : Penerbit Tahura Media. Antologi Gumam.&lt;br /&gt;9.Antologi Biografi Sastrawan Kalsel, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel.&lt;br /&gt;10.Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009, Tajuddin Noor Ganie, 2009. Banjarmasin : Puskajimastra Kalsel&lt;br /&gt;11.Bahasa dan Gaya Puisi Sapardi Djoko Damono (Analisis Stilistika), Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Analis Puisi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN ANTOLOGI ESEI SASTRA BERSAMA &lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah antologi esei sastra bersama karangan para eseis Kalsel yang terbit selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 4 judul, yakni. &lt;br /&gt;1.Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan. Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie. 2001. Banjarmasin : Balai Bahasa Banjarmasin  &lt;br /&gt;2.Sastra Banjar Kontekstual, Sainul Hermawan dan Jarkasi, 2006. Banjarmasin &lt;br /&gt;3.Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan Saepuddin, Dahliana, dan Siti Akbari (Editor), 2008. Banjarbaru : Balai Bahasa Banjarmasin&lt;br /&gt;4.Pengkajian Puisi : Teori dan Aplikasi, Endang Sulistyowati dan Tarman Effendi Tarsyad, 2009. Banjarmasin : Tahura Media. Buku Teks Perkuliahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR SASTRAWAN KALSEL 2000-2009&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah  sastrawan Kalsel yang tercatat baru masuk ke dalam jagat sastra Kalsel selama kurun waktu 2000-2009 setidak-tidaknya tercatat sebanyak 152 orang., yakni. &lt;br /&gt;1.AA Ajang &lt;br /&gt;2.Abdurrahman Al Hakim &lt;br /&gt;3.Abdurrahman El Husaini&lt;br /&gt;4.Ade Ahmad Rienanda&lt;br /&gt;5.Ahmad Fahriza Halis &lt;br /&gt;6.Ahmad Fitriadi F &lt;br /&gt;7.Akhmad Husaini&lt;br /&gt;8.Ani Agustina &lt;br /&gt;9.Ana Maulida Hidayah&lt;br /&gt;10.Anna Fajarona &lt;br /&gt;11.Annisa Destyaningrum S &lt;br /&gt;12.Annisa Nurul Huda&lt;br /&gt;13.Aprilia Norhayati&lt;br /&gt;14.Arief Arifany&lt;br /&gt;15.Aspihan N. Hidin &lt;br /&gt;16.Audi Anabela Veruci &lt;br /&gt;17.Bayu Yoga Dinata&lt;br /&gt;18.Bayu Saputra&lt;br /&gt;19.Claudia Mita Dimetri&lt;br /&gt;20.Devi Halim &lt;br /&gt;21.Dewi Alfianti&lt;br /&gt;22.Dewi Putri Ananda&lt;br /&gt;23.Dewi Upayani &lt;br /&gt;24.Diana Alice&lt;br /&gt;25.Diena Rasya Umami&lt;br /&gt;26.Dini A. Husna &lt;br /&gt;27.Edka Afdiana&lt;br /&gt;28.Edy Suroso&lt;br /&gt;29.Edya Rosyadi &lt;br /&gt;30.Eka Maryana Rukmana&lt;br /&gt;31.Endang Fitriani &lt;br /&gt;32.Erika Adriani&lt;br /&gt;33.Erma Ariyani&lt;br /&gt;34.Erma Normiyanti&lt;br /&gt;35.Eva Risky Ati&lt;br /&gt;36.Farah Hidayati&lt;br /&gt;37.Fahrul Anwar&lt;br /&gt;38.Fakrudin Arifin&lt;br /&gt;39.Fitriansyah&lt;br /&gt;40.Fitri Jamilah&lt;br /&gt;41.Fitryani&lt;br /&gt;42.Ganda Atmaja&lt;br /&gt;43.Gesit Aprianto&lt;br /&gt;44.Gusti Indra Setyawan&lt;br /&gt;45.Gunara &lt;br /&gt;46.Gutrah&lt;br /&gt;47.Hajriansyah&lt;br /&gt;48.Hana Novia Aulianti&lt;br /&gt;49.Harrie Insani Putra &lt;br /&gt;50.Helly Yulita &lt;br /&gt;51.Henny Marlinda&lt;br /&gt;52.Hendra Royadi&lt;br /&gt;53.Heri Sudiono &lt;br /&gt;54.Herry Rochniady&lt;br /&gt;55.Hudan Nur &lt;br /&gt;56.Ida Nurlainy&lt;br /&gt;57.Ida Royani Buldi &lt;br /&gt;58.Imraatul Jannah &lt;br /&gt;59.Ira Setiana Khairunnisa &lt;br /&gt;60.Isuur Loeweng&lt;br /&gt;61.Jauhar Yamani &lt;br /&gt;62.John S Fane &lt;br /&gt;63.Joni Wijaya&lt;br /&gt;64.Kasmudin&lt;br /&gt;65.Komariah Widya Astuti &lt;br /&gt;66.Listya Wulansari &lt;br /&gt;67.M. Aini Asmuni  &lt;br /&gt;68.M. Amin Mustika Muda &lt;br /&gt;69.M. Fuad Rahman &lt;br /&gt;70.M. Nahdiansyah Abdi &lt;br /&gt;71.M. Yandi&lt;br /&gt;72.M. Zakir  M &lt;br /&gt;73.Ma’mur Suryadilaga&lt;br /&gt;74.Mahdalia M. Amin &lt;br /&gt;75.Mahmud Shalihin&lt;br /&gt;76.Mahmud Jauhari Ali &lt;br /&gt;77.Masdulhaq Abdi &lt;br /&gt;78.Maya Fahrina Wardhani &lt;br /&gt;79.Megawati&lt;br /&gt;80.Meldawati&lt;br /&gt;81.Meylinda Mayangsari&lt;br /&gt;82.Mian Ayu Ratna Aisyah&lt;br /&gt;83.Miftahuddin Munidi&lt;br /&gt;84.Mirwan &lt;br /&gt;85.Muhammad Faried&lt;br /&gt;86.Muhammad Syahriadi HN&lt;br /&gt;87.Mutia Rahmah Albar &lt;br /&gt;88.Nanang Ramli&lt;br /&gt;89.Nani Retno Nurwardayaningsih &lt;br /&gt;90.Nafisah Zaini&lt;br /&gt;91.Nina Idhiana &lt;br /&gt;92.Ninin Susanti&lt;br /&gt;93.Nitia Desi Indrasari&lt;br /&gt;94.Noor Aida&lt;br /&gt;95.Norsya Elvira Damayanti &lt;br /&gt;96.Noryahman&lt;br /&gt;97.Nur Afifah&lt;br /&gt;98.Nur Hidayah &lt;br /&gt;99.Nurul Azmie LS&lt;br /&gt;100.Puspa Ramadyanti &lt;br /&gt;101.Puteri Gemala Sari &lt;br /&gt;102.Rahayu Rina Rahmawati &lt;br /&gt;103.Rahmah Wartania Putri &lt;br /&gt;104.Rahman Rijani&lt;br /&gt;105.Rahmatiah &lt;br /&gt;106.Rahmiyati&lt;br /&gt;107.Randu Alamsyah  &lt;br /&gt;108.Ratih Ayuningrum&lt;br /&gt;109.Reda Ari Yantie&lt;br /&gt;110.Redha Adharyan Ansyari&lt;br /&gt;111.Reza Anshari Azmi&lt;br /&gt;112.Riski Yunida &lt;br /&gt;113.Rismiyana  &lt;br /&gt;114.Rissari Yayuk &lt;br /&gt;115.Riznina Nur Rahmatya &lt;br /&gt;116.Rizqy Kurniawati &lt;br /&gt;117.Saidah &lt;br /&gt;118.Sainul Hermawan&lt;br /&gt;119.Salamiah&lt;br /&gt;120.Sigit Bagus Prabowo &lt;br /&gt;121.Siti Magfirah&lt;br /&gt;122.Siti Meidina Har Safitri&lt;br /&gt;123.Sri Normuliati&lt;br /&gt;124.Stefanus Yogi KA&lt;br /&gt;125.Sufyan Suri&lt;br /&gt;126.Suhaimi &lt;br /&gt;127.Suriansyah&lt;br /&gt;128.Suriyadi&lt;br /&gt;129.Sutrisno Watini&lt;br /&gt;130.Suyatno&lt;br /&gt;131.Syafiqatul Mahmudah &lt;br /&gt;132.Syarifuddin&lt;br /&gt;133.Tabri Lipani&lt;br /&gt;134.Tati Noor Rahmi&lt;br /&gt;135.Taufiq Ahmad &lt;br /&gt;136.Taufiq HT&lt;br /&gt;137.Taupiq&lt;br /&gt;138.Tri Restu Panie&lt;br /&gt;139.Tria Dewi Putri&lt;br /&gt;140.Turay Dendang Dirantawan&lt;br /&gt;141.Turmudi&lt;br /&gt;142.Wahyu Fitriani&lt;br /&gt;143.Wahyudi &lt;br /&gt;144.Warnita&lt;br /&gt;145.Wawan Setiawan&lt;br /&gt;146.Wayan Windre Semara&lt;br /&gt;147.Yaya Suyatno&lt;br /&gt;148.Yuliati Puspita Sari&lt;br /&gt;149.Yieni Firnawati Ma’ruf&lt;br /&gt;150.Zainal Mursalim&lt;br /&gt;151.Zayed Norwanto&lt;br /&gt;152.Zurriyati Rosyidah&lt;br /&gt;Dalam konteks Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930-2009, semua sastrawan Kalsel di atas termasuk dalam kelompok generasi pewaris zaman reformasi 2000-2009. &lt;br /&gt;Kepada mereka semua kami dari Puskajimastra Kalsel Banjarmasin mengucapkan selamat datang di jagat sastra Kalsel semoga tetap betah berada di dalamnya dari tahun ke tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-3403205404955597937?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/3403205404955597937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/jagat-sastra-kalsel-2000-2009.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3403205404955597937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/3403205404955597937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/jagat-sastra-kalsel-2000-2009.html' title='JAGAT SASTRA KALSEL 2000-2009'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-7709935514550625260</id><published>2010-12-12T22:00:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T22:01:58.886-08:00</updated><title type='text'>WAWANCARA DENGAN TAJUDDIN NOOR GANIE TENTANG PERIBAHASA BANJAR</title><content type='html'>WAWANCARA DENGAN&lt;br /&gt;TAJUDDIN NOOR GANIE&lt;br /&gt;ORANG PERTAMA DI DUNIA&lt;br /&gt;YANG MENULIS TESIS TENTANG&lt;br /&gt;PERIBAHASA BANJAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak adalah orang pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar. Mengapa Bapak tertarik menulis tesis tentang peribahasa Banjar?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tertarik menulis tesis tentang peribahasa Banjar, karena meskipun secara fungsional etnis Banjar di Kalsel sangat akrab dengan peribahasa Banjar, namun ragam/jenis folklor Banjar ini sangat jarang dibicarakan orang. Pembicaraan tentang bentuk, fungsi, makna, dan nilai peribahasa Banjar tidak pernah menjadi pembicaraan yang menarik di kalangan etnis Banjar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis bapak juga sangat tebal, yaitu 395 halaman quarto. Bisa Bapak ceritakan tentang proses penulisannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis saya memang sudah sewajarnya setebal itu, karena sumber data yang saya kaji juga banyak, yakni 165 buah peribahasa Banjar. Setiap peribahasa saya kaji karakteristik bentuknya, fungsinya, maknanya, dan nilainya. Setiap peribahasa rata-rata saya paparkan dalam 2,5 halaman. Sungguh, suatu paparan yang sebenarnya juga ringkas, padat, dan singkat. Sangat tidak realistis jika tesis saya cuma setebal 200 halaman misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama bapak menegerjakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis ini saya tulis selama 2 semester penuh. Sebelum memilih 165 buah peribahasa Banjar sebagai sumber data kajiannya, saya terlebih dahulu membaca dan mengkritisi 747 buah peribahasa Banjar yang sudah dikenal luas di kalangan etnis Banjar di Kalsel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, mohon maaf, Pak. Ada pameo olok-olok yang populer di kalangan para mahasiswa atau bahkan para dosen, bahwa semakin tebal sebuah skripsi, tesis, dan disertasi, berarti semakin banyak pula dustanya. Tanggapan Bapak atas tudingan miring itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tudingan dimasud jelas tidak ilmiah dan tidak berdasar sama sekali. Insya Allah tidak ada dusta di dalam tesis saya. Meskipun sebagai sastrawan saya terbiasa menyelipkan lanturan-lanturan (digresi) dalam struktur alur cerpen-cerpen saya, namun, dalam konteks penulisan tesis ini saya tidak mungkin menyelipkan lanturan-lanturan semacam itu. Jangankan menyelipkan lanturan-lanturan, salah tulis kata, kalimat, dan tanda baca  saja sudah langsung diatensi oleh dosen pembimbing saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bapak maksudkan dengan karakteristik bentuk peribahasa Banjar?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karakteristik bentuk peribahasa Banjar merujuk kepada ciri-ciri bentuk fisik yang membangun struktur audiovisual peribahasa Banjar ketika peribahasa Banjar dimaksud direproduksi dengan mempergunakan salah satu atau sejumlah alat bantu pengingat (mnemonic device). Karakteristik bentuk peribahasa Banjar ada 2 genre/jenis, yakni : (1) berbentuk puisi, dan (2) berbentuk kalimat. &lt;br /&gt;Peribahasa Banjar berbentuk puisi adalah kata-kata yang disusun sedemikian rupa dengan cara merujuk kepada gaya bahasa perulangan (repetisi), terdiri atas : (a) gurindam, (b) kiasan, (c) mamang papadah, (d) pameo huhulutan, (e) saluka, dan (f) tamsil. Sedang peribahasa Banjar berbentuk kalimat adalah kalimat tunggal atau kalimat majemuk yang disusun sedemikian rupa dengan cara merujuk kepada gaya bahasa perbandingan, pertentangan, dan pertautan (bukan perulangan), terdiri atas : (a) papatah-patitih, (b) paribasa, (c) parumpamaan, (d) ibarat, dan (e) papadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya, Bapak adalah orang pertama yang memilah-milah peribahasa menjadi 2 genre/jenis bentuk. Sebelumya semuanya dipukul rata sebagai peribahasa saja, karena istilah yang dikenal memang cuma istilah peribahasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi. &lt;br /&gt;Apa saja perbedaan yang ada antara peribahasa Banjar yang berbentuk puisi dengan yang berbentuk kalimat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya terletak pada ragam/jenis gaya bahasa yang dirujuknya. Peribahasa Banjar berbentuk puisi identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi), sedang peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan. Perbedaan ragam/jenis gaya bahasa dimaksud berimplikasi langsung pada terjadinya perbedaan karakteristik bentuk, karena kosa-kata yang dapat dipilih untuk ditata, ditempatkan, dan diurutkan dalam struktur peribahasa Banjar berbentuk puisi berbeda dengan kosa-kata yang dapat dipilih untuk ditata, ditempatkan, dan diurutkan dalam struktur peribahasa Banjar berbentuk kalimat.&lt;br /&gt;Struktur gaya bahasa perulangan (repetisi) setidak-tidaknya menuntut adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, hampir sama secara morfologis, kosa-kata yang saling bersajak a/a/a/a, a/b/a/b, dan a/b/b/a, baik secara vertikal maupun secara horisontal di awal, tengah, dan akhir baris/larik. Ciri-ciri karakteristik bentuk di atas identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi), seperti : aliterasi, anadiplosis, anafora, antanaklasis, asonansi,  epanalepsis, epistrofa, epizeukis, kiasmus, mesodiplosis, simploke, dan tautotes&lt;br /&gt;Sedang gaya bahasa perbandingan dan pertentangan mengesampingkan semua ciri yang melekat pada gaya bahasa perulangan (repetisi) di atas. Gaya bahasa perbandingan cuma menuntut adanya 2 entitas kalimat yang dapat saling diperbandingkan (gaya bahasa perbandingan) atau dipertentangkan (gaya bahasa pertentangan). Ciri-ciri karakteristik bentuk berupa kalimat tunggal atau kalimat majemuk di atas menunjukkan peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, seperti : antitesis, depersonifikasi, inuendo, ironi, metafora, paradoks, perifrasis, perumpamaan), sarkasme, dan  hyperbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bapak maksudkan dengan karakteristik fungsi peribahasa Banjar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik fungsi peribahasa Banjar merujuk kepada ciri-ciri pragmatik yang melatar-belakangi keberadaan peribahasa Banjar sebagai puisi tradisional atau ungkapan tradisional berbahasa Banjar. Karakteritik fungsi peribahasa Banjar ada 4, yakni : (1) sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku, dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, peribahasa Banjar yang identik dengan fungsi ini adalah mamang papadah (berbentuk puisi) dan papadah (berbentuk kalimat); (2) sebagai sumber hukum, pengesah pranata sosial, pengawas dan pengukuh norma-norma sosial; (3) sebagai sistem proyeksi, lambang identitas budaya, dan sumber informasi budaya; dan (4) sebagai media untuk bergurau, berolok-olok, dan sebagai sarana retorika untuk mematahkan kata-kata lawan bicara, peribahasa Banjar yang identik dengan fungsi ini adalah gurindam, pameo huhulutan (berbentuk puisi), papatah-patitih,, parumpamaan, dan ibarat (berbentuk kalimat). Dari 4 fungsi ini, peribahasa Banjar dengan karakteristik fungsi nomor 4 merupakan peribahasa Banjar yang paling dominan (paling banyak ditemukan dalam penelitian saya).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bapak maksudkan dengan karakteristik makna peribahasa Banjar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik makna peribahasa Banjar merujuk kepada ciri-ciri konstruksi semantik yang dapat dibangun melalui  penafsiran atas kosa-kata yang dipilih, ditata, ditempatkan, dan diurutkan dalam struktur kalimat peribahasa Banjar. Peribahasa Banjar berbentuk puisi identik dengan karakteristik makna stilistika, sedang peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan karakteristik makna konotatif. Karakteristik makna peribahasa Banjar yang ditemukan perwujudannya dalam penelitian saya terdiri atas 2, yakni : (1) peribahasa Banjar yang mengandung kebijaksanaan dan kebenaran, (2) peribahasa Banjar yang tidak mengandung kebijaksanaan atau kebenaran. Peribahasa Banjar yang mengandung kebijaksanaan atau kebenaran adalah mamang papadah (berbentuk puisi) dan papadah (berbentuk kalimat). Sedang peribahasa Banjar yang tidak mengandung kebijaksanaan atau kebenaran adalah pameo huhulutan (berbentuk puisi),  papatah-patitih, parumpamaan, dan ibarat (berbentuk kalimat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bapak maksudkan dengan karakteristik nilai peribahasa Banjar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik nilai peribahasa Banjar merujuk kepada ciri-ciri dalam bentuk patokan-patokan normatif atau konsepsi-konsepsi ideal tentang segala sesuatu yang dipandang berharga untuk dijadikan sebagai pedoman dalam mengendalikan ucapan, tindakan, perilaku dan perbuatan. Karakteristik nilai peribahasa Banjar yang ditemukan perwujudannya dalam penelitian ini terdiri atas 4 genre/jenis, yaitu peribahasa Banjar dengan konsep nilai  : (1) kekudusan (holiness), (2) kebaikan (goodness), yang terdiri atas : (a) keadilan, (b) kearifan , (c) kedisiplinan, (d) kejujuran, (e) ketabahan, (f) kesederhanaan, (g) kesetiaan, (3) kebenaran (truth), dan ( 4) keindahan (beauty). &lt;br /&gt;Hasil penelitian saya menunjukkan peribahasa Banjar yang paling banyak ditemukan adalah peribahasa Banjar dengan karakteristik nilai kebaikan (goodness), data ini merupakan indikasi bahwa tujuan utama yang menjadi amanat dari setiap reproduksi  lisan dan tulisan atas sebuah peribahasa Banjar di kalangan etnis Banjar di Kalsel adalah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, yakni : keadilan, kearifan, kedisiplinan, kejujuran, ketabahan, kesetiaan, dan kesederhanaan. Dalam hal ini ada 2 nilai kebaikan yang paling dominan atau paling banyak ditanamkan melalui peribahasa Banjar, yakni kearifan dan kedisiplinan.  &lt;br /&gt;Meskipun nilai-nilai yang ditanamkannya adalah kearifan dan kedisiplinan, namun nilai-nilai kebaikan dimaksud tidak ditanamkan melalui peribahasa Banjar dengan tampilan fisik positif (estetik), sebaliknya ditanamkan melalui peribahasa Banjar dengan tampilan fisik negatif. Kosa-kata yang dipilih sebagai media pewujudnya secara tekstual tidak langsung mencerminkan kebijaksanaan atau kebenaran karena disampaikan dengan nada mencela, mencemooh, dan menyalahkan, (bahasa Banjar : mahapak, manumpalak, dan maniwas). Nilai positifnya sebagai ikon budaya tidak langsung mencuat dari tampilan fisiknya yang negatif, sehingga para pengguna harus menggalinya dengan perlakuan atau pendekatan dekonstruksi (pembuktian terbalik). Tampilan fisik negatif itu berkaitan dengan karakteristik fungsi peribahasa Banjar yang juga negatif, yakni sebagai media untuk bergurau, berolok-olok, dan sebagai sarana untuk mematahkan kata-kata lawan bicara.   &lt;br /&gt;Dominasi peribahasa Banjar dengan karakteristik nilai kearifan dan kedisiplinan merupakan petunjuk bahwa orang-orang yang dijadikan objek gurauan, objek olok-olok, atau sebagai lawan bicara yang harus dipatahkan kata-katanya adalah orang-orang tidak arif dan orang-orang tidak disiplin (tidak terkendali), yakni orang-orang yang diposisikan sebagai musuh masyarakat paling laten (momok) di kalangan etnis Banjar di Kalsel. &lt;br /&gt;Peribahasa Banjar dengan tampilan fisik negatif identik dengan stigma buruk yang dapat difungsikan sebagai alat untuk membunuh karakter orang-orang yang tidak disukai secara sosial, yakni orang-orang dengan sikap mental negatif atau orang-orang yang tidak menguntungkan dalam hubungan sosial kemasyarakatan yang egaliter. &lt;br /&gt;Terhadap orang-orang yang menjadi musuh masyarakat ini, etnis Banjar di Kalsel tidak mau berkompromi sebaliknya bersikap konfrontatif. Peribahasa Banjar yang dipilih untuk menyadarkan atau mendisiplinkannya bukanlah peribahasa Banjar dengan kosa-kata persuasif tapi peribahasa Banjar dengan kosa-kata yang kasar yang dirangkai dalam bentuk gaya bahasa inuendo, ironi, paradoks, dan sarkasme. Dalam konteks ini peribahasa Banjar difungsikan sebagai sarana kritik sosial yang ditujukan untuk memaksa dan mengawasi  anggota masyarakat agar selalu bersikap mematuhi norma-norma yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bapak, apakah penelitian menyangkut peribahasa Banjar masih perlu dilakukan di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira masih perlu. Bahkan, saya berpendapat, kegiatan inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi peribahasa Banjar harus semakin digiatkan terus dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Jika tidak, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa Banjar dikhawatirkan akan menjadi kekayaan budaya yang keberadaannya diabaikan oleh generasi muda. Bahkan, pada akhirnya peribahasa Banjar akan punah tak bersisa sama sekali. &lt;br /&gt;Fakta menunjukkan, di kalangan etnis Banjar sendiri belum banyak mereka yang kafasitasnya memenuhi kriteria sebagai ahli waris pasif peribahasa Banjar  apalagi ahli waris aktif. Dalam hal ini yang paling dominan adalah mereka yang sama sekali tidak tahu, tidak tahu menahu, dan tidak mau tahu tentang kekayaan folklor Banjar yang sesungguhnya harus mereka warisi dan lestarikan itu. &lt;br /&gt;Padahal, peribahasa Banjar diciptakan sebagai bagian dari kegiatan kolektif yang berhubungan dengan hal-hal seperti adat-istiadat, ajaran moral normatif, sosial ekonomi, estetika, etika, filsafat, norma-norma politik, dan sejarah lokal. Semua aspek sosial budaya di atas merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel. &lt;br /&gt;Sejak lama peribahasa Banjar mengemban fungsi sosial sebagai wahana pewarisan dan pemahaman gagasan tata nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak hanya itu, melalui  peribahasa Banjar sebagai medianya, etnis Banjar di Kalsel dapat mengungkapkan alam pikiran, sikap hidup, dan sistem sosial budaya mereka.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, tidak dapat dipungkiri peribahasa Banjar memiliki arti penting, setidak-tidaknya ada 3 fakta empirik yang menurut TNG menjadi dasar rasionalnya, yakni : (1) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang bersifat intersubjektif, dalam arti bukan sekadar artefak atau fakta kebendaan saja; (2) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang diwujudkan dalam bentuk wacana atau inskripsi dengan kandungan 3 gugus fakta sekaligus, yakni fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran budaya milik bersama, dan fakta sosial (sociofact) dari etnis Banjar; dan (3) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang berhubungan dengan dunia gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan tentang konstruksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya etnis Banjar.&lt;br /&gt;Dalam kedudukannya sebagai kekayaan budaya milik bersama, etnis Banjar dapat mempergunakan peribahasa Banjar sebagai media untuk mengekspresikan atau merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya yang khas suku bangsa mereka. Melalui peribahasa Banjar sebagai media komunikasinya, generasi tua etnis Banjar dapat menyampaikan semua ajaran, informasi, nasihat, dan semua kearifan lokal lainnya kepada generasi penerusnya, sehingga kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional berbahasa Banjar ini tetap lestari dari generasi ke generasi. &lt;br /&gt;Selain itu, peribahasa Banjar juga menampilkan gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan mereka sebagai suku bangsa. Bahkan, peribahasa Banjar juga dapat dipandang sebagai wacana, sekaligus juga inskripsi, yang merepresentasikan proses dialektika yang berkembang dalam konteks konstruksi realitas budaya etnis Banjar. Ironis, fakta empirik peribahasa Banjar yang begitu istimewa, ternyata tidak diimbangi dengan fakta historis peribahasa Banjar yang terbilang istimewa juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengar Bapak sekarang ini sedang mengerjakan penyusunan Kamus Peribahasa Banjar yang jauh lebih tebal lagi dibandingkan dengan Kamus Peribahasa Banjar yang Bapak terbitkan tahun 2006 dan dicetak ulang tahun 2007?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Peribahasa Banjar dimaksud sudah selesai saya kerjakan. Tebalnya 1.539+L halaman ukuran setengah folio. Jumlah entri/lemanya 9.058 buah, terdiri atas 2 jilid, yakni Jilid 1 (A-K) dan Jilid 2 (L-W).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas kesediaan Bapak diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berterima kasih karena anda berkenan mewawancarai saya. (Pewawancara : Salbiah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-7709935514550625260?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/7709935514550625260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/wawancara-dengan-tajuddin-noor-ganie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7709935514550625260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/7709935514550625260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/wawancara-dengan-tajuddin-noor-ganie.html' title='WAWANCARA DENGAN TAJUDDIN NOOR GANIE TENTANG PERIBAHASA BANJAR'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-2595389853883061016</id><published>2010-12-12T21:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T22:00:09.380-08:00</updated><title type='text'>OBITUARI M RIFANI DJAMHARI</title><content type='html'>OBITUARI&lt;br /&gt;M. RIFANI DJAMHARI ALM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalanku dengan M. Rifani Djamhari alm (MRD) terjadi pada tahun 1980. Ketika itu ia masih kuliah di Faperta Unlam dan kost di bilangan Jalan Jintan Banjarbaru II. Aku datang ke tempat kostnya bersama Tarman Effendi Tarsyad (TET). Kedatanganku dan TET ke sana adalah untuk menyerahkan puisi secara langsung kepadanya. Aku dan TET ketika itu tengah mencoba peruntungan dalam lomba tulis puisi yang diadakan oleh MRD dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;Pada mulanya aku merencanakan akan mengirim puisi lomba itu melalui jasa pos. Namun, rencana itu berubah ketika aku bertemu TET di RRI Nusantara III Banjarmasin. Aku dan TET bertemu pada saat mengikuti siaran Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS).&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau puisi ini kita antar langsung ke Banjarbaru. Bukankah setiap hari Sabtu kamu pulang ke Banjarbaru?”&lt;br /&gt;“Hemm, tapi aku tidak tahu di mana tempat kostnya?”&lt;br /&gt;“Aku tahu. Nanti kita sama-sama ke sana. Aku juga mau mengantar puisiku.”&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Deal.”&lt;br /&gt;Sejak tahun 1979, aku bekerja di Banjarmasin. Praktis sejak itu pula aku tidak tinggal di Banjarbaru lagi. Namun, setiap hari Sabtu aku selalu menyempatkan diri pulang ke Banjarbaru. Aku menengok orang orang tuaku yang tinggal di bilangan jalan Guntung Lua (sekarang Jalan Zamzam Jailani).&lt;br /&gt;TET sendiri ketika itu (1980) tinggal di Banjarbaru. Ia bekerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah di sana. Ia juga sering bertandang ke rumah orang tuaku di Banjarbaru pada saat aku ada di sana.&lt;br /&gt;Suatu siang yang panas aku dan TET datang bertandang ke tempat kost MRD. Kebetulan MRD sedang berada di rumah. Cukup lama juga kami berbincang-bincang dengan MRD di rumah kostnya itu.&lt;br /&gt;Sebelum bertemu untuk kali yang pertama, aku sebenarnya sudah mengenal nama MRD sebagai sastrawan Kalsel rising sun yang bakatnya sangat menjanjikan. Terbukti, puisi-puisi ketika itu selalu disiarkan di UMSIS edisi awal bulan. Perlu saya jelaskan puisi-puisi yang disiarkan di UMSIS edisi awal bulan adalah puisi-puisi yang dinilai berkualitas oleh pengasuhnya, yakni Bapak H. Hijaz Yamani alm dan Bapak Ismail Mulia Muning alm.&lt;br /&gt;Aku sendiri baru memulai karier sebagai penulis puisi. Diam-diam aku mengagumi MRD. Aku sangat salut dengan prestasinya menyabet gelar juara pertama lomba penulisan puisi bertema pahlawan yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Departemen Sosial Kalimantan Selatan (Kanwil Depsos Kalsel) pada tahun 1977.&lt;br /&gt;Tahun 1970-an, Kanwil Depsos Kalsel menyelenggarakan secara rutin lomba tulis puisi dan esei bertema kepahlawanan. Pada zamannya, lomba ini sangat bergengsi. Selain memperoleh hadiah uang, pemenangnya juga diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian kegiatan Peringatan Hari Pahlawan Tingkat Nasional di Istana Negara. Puisi MRD dimaksud ikut dimuat dalam antologi puisi bersama Tiga Karangan Sajak Perjuangan Sayembara Mengarang Hari Pahlawan (Jakarta, 1977). &lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian aku memang berhasil meraih prestasi yang sama, yakni sebagai pemenang lomba menulis esei kepahlawanan. Namun, sayang seribu kali sayang, kebijakan pemerintah telah berubah. Pemenangnya kali ini tidak lagi diberangkatkan ke Jakarta, tapi cuma diberi hadiah uang dan sebuah radio transistor.&lt;br /&gt;“Hehehe, prestasinya sama, tapi rezekinya berbeda.”&lt;br /&gt;Boleh jadi, karena sama-sama menyukai puisi, cerpen, dan esei sastra, maka sejak tahun 1980 itu akan dan MRD langsung akrab. Keakraban itu berlangsung selama 29 tahun hingga MRD dipanggil menghadap-Nya pada hari Sabtu, 20 Maret 2009 ybl.&lt;br /&gt;Meskipun tinggal di Banjarbaru, namun MRD sering bolak-balik ke Banjarmasin. Maklumlah, rumah keluarga besarnya ketika itu masih di kota Banjarmasin, tepatnya di bilangan Jalan Jati, depan Pasar Antasari sekarang ini. Kami sering bertemu di RRI Nusantara III Banjarmasin untuk mengikuti siaran UMSIS.&lt;br /&gt;Ketika Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB) didirikan pada tahun 1981, MRD tercatat sebagai salah seorang pendirinya bersama-sama dengan TET (Ketua), Micky Hidayat (Wakil Ketua), Sri Supeni alm (Bendahara) dan aku sendiri (Sekretaris). Hingga sekarang HPMB belum dibubarkan dengan resmi lho (cuma vacum cleaner saja, hehehe). Makjlumlah, beberapa orang pendirinya sekarang ini sudah aktif di Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI) Kalsel sehingga tidak punya waktu lagi untuk mengurusi HPMB.&lt;br /&gt;Persahabatanku dengan MRD semakin intens saja, ketika pada tahun 1982, MRD menjadi salah seorang wakil Kota Banjarbaru dan aku menjadi salah seorang wakil Kota Banjarmasin dalam Forum Penyair Muda Kalsel yang digelar oleh HPMB bertempat di Balai Wartawan Banjarmasin (18-19 September 1982). Salah satu puisi yang dibacakan MRD ketika itu adalah puisi yang kukutipkan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAGU SANGSAI III&lt;br /&gt;Pada bangku batu ini, angin&lt;br /&gt;Mengirimkan daun-daun kuning&lt;br /&gt;Dan senja menggincuinya, sia&lt;br /&gt;Sia kau tinggalkan aku di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bangku tua ini, aku bagai&lt;br /&gt;Pemabuk, tetap duduk&lt;br /&gt;Dan mencumbuinya, &lt;br /&gt;berlembar-lembar senja lu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bertemu diforum-forum sastra yang bersifat resmi semacam itu, aku dan MRD juga sering bertemu dalam forum-forum silaturahim yang bersifat tidak resmi. Tidak hanya itu, sebagai kritikus sastra amatiran, aku juga sering menulis ulasan tentang puisi-puisi MRD. Hanya saja, MRD tak pernah menanggapinya. Jadi aku tidak pernah tahu dengan persis apakah ia setuju atau tidak dengan kritikan-kritikanku terhadap puisi-puisinya itu.&lt;br /&gt;Aku sependapat dengan kawan-kawan sastrawan lain bahwa MRD adalah figur yang santun. Namun, aku juga mencatat ada tabiat positif MRD lainnya yang juga menonjol, yakni teguh pendirian, konsekwen, kritis, berani berbeda pendapat, dan berani pula mengungkapkannya secara terbuka di surat kabar.&lt;br /&gt;SKH Radar Banjarmasin edisi Minggu, 4 April 2004, memuat tulisan MRD berjudul SBSB : Kenduri di Rumah Orang Lain. Tulisan ini dengan lugas menunjukkan sikap pribadinya yang kritis dan berani. Melalui tulisannya yang dikemas dalam bentuk surat sastra itu MRD mengkritisi sikap sastrawan Jakarta yang menjadi panitia SBSB yang sepertinya melupakan keberadaan sastrawan Kalsel.&lt;br /&gt;Dampak dari tulisan MRD itu adalah diadakannya pertemuan silaturahim dadakan antara sastrawan Jakarta dan sastrawan Kalsel yang difasilitasi oleh pihak SKH Radar Banjarmasin. Pada kesempatan itu friksi yang sempat mencuat ke permukaan berhasil diredam melalui forum dialog yang berlangsung dari hati ke hati dan penuh kekeluargaan. Hasilnya happy ending.&lt;br /&gt;MRD kembali menunjukkan kualitasnya sebagi figur yang kritis dan berani ketika menyambut terbitnya antologi puisi Ajamuddin Tifani alm berjudul Tanah Perjanjian (Hasta Mitra Jakarta, 2006). Dalam tulisannya berjudul …. Sebab Ia Adalah Ajamuddin Tifani Penyair Yang …. Itu MRD mengkritisi banyak hal yang mengusik hatinya. Aku kira, apa yang dikemukakan oleh MRD di SKH Radar Banjarmasin edisi Minggu, 13 Agustus 2006 itu, layak, layak, layak (tiga kali) diperhatikan  oleh semua pihak jika nanti tergerak hatinya untuk menerbitkan ulang antologi puisi Ajamuddin Tifani dimaksud.&lt;br /&gt;Pada tanggal 14 Oktober 2008, aku dan MRD tampil sebagai pembicara pada session yang sama di hadapan para Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Aku, MRD, dan sejumlah kawan sastrawan Kalsel lainnya diminta oleh Balai Bahasa Banjarmasin untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman  dengan para guru SMTP/SMTA yang menjadi peserta penyuluhan sastra bertema Generasi Muda dan Sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Mestinya, Sabtu, 28 Februari 2009, aku dan MRD akan bersanding lagi dalam diskusi sastra membahas Situasi Kritik Sastra di Kalsel 2000-2008 bertempat di Aula Perpustakaan Unlam Banjarmasin. Namun, karena kesibukan kerjanya yang begitu rupa, MRD tidak jadi tampil sebagai pembicara dalam diskusi sastra dimaksud.&lt;br /&gt;Namun, meskipun tidak saling bertemu secara fisik, aku dan MRD dalam satu tahun terakhir ini masih sering saling bertukar SMS. Hampir setiap kali tulisanku dimuat di sebuah koran, MRD pasti mengirim SMS yang berisi ucapan selamat, pujian, atau kritikan atas tulisanku. Tidak jarang ia minta dikirimi naskah aslinya via email.&lt;br /&gt;Selasa, 16 Juni 2009, sesaat sebelum menghadiri acara peluncuran buku kumpulan cerpen Hajriansyah di Aula Perpustakaan Unlam Banjarmasin saya menerima SMS dari Ali Syamsuddin Arsi dan YS Agus Suseno yang mengabarkan bahwa MRD sedang dirawat di RSU Ulin Banjarmasin.&lt;br /&gt;Siang hari itu juga, aku dan TET datang ke RSU Ulin Banjarmasin untuk mengunjungi MRD yang sedang tergolek lemah (koma) di sana. Aku dan MRD tidak dapat saling berkomunikasi lagi.  Aku hanya bisa memandangi wajahnya yang putih bersih tak berdosa itu dengan perasaan sedih yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi.  &lt;br /&gt;Akhirnya, selamat jalan sahabat. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga semua karya sastra tulisanmu menjadi warisan ilmu yang berharga (bermanfaat) sehingga menjadi amal jariah yang tidak akan pernah putus-putusnya mengalirkan pahala atas namamu sampai hari akhir nanti. Amin. &lt;br /&gt;Paling akhir aku juga mendoakan, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan untuk menerima kehilangan yang sangat, sangat, sangat besar ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA DAN SIAPA&lt;br /&gt;M. RIFANI DJAMHARI ALM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Rifani Djamhari (MRD) dilahirkan di Margasari, Tapin, Kalsel, 8 Juli 1959. &lt;br /&gt;Sarjana S.1 Jurusan Tanah (Kesuburan Tanah) Fakultas Pertanian Unlam Banjarmasin (lulus 1989). Selain itu, MRD juga memegang sertifikat AMDAL A, B, dan C. &lt;br /&gt;Pernah bekerja sebagai Asisten Peneliti Doktor Kathy Mac Kinnon. Selain itu juga pernah bekerja sebagai praktisi, pengajar, penilai, dan penyusun analisis dampak lingkungan (AMDAL) di PPLH Unlam Banjarbaru. Terakhir, MRD bekerja sebagai konsultan AMDAL di CV  Harmoni Banjarbaru. &lt;br /&gt;Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya di SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita Banjarmasin, Majalah Topik Jakarta, Majalah Hai Jakarta, Majalah Zaman Jakarta, dan Majalah Sastra Horison Jakarta. &lt;br /&gt;Antologi pusinya antara lain Oda dan Do’a (Banjarbaru, 1977), Lanskap Laut (Banjarbaru, 1979), Sajak Sajak (Banjarbaru, 1980), Sajak Jambon Buat Dik Ami (Banjarbaru, 1981), Luka (Banjarmasin, 1982), dan Surat Terbuka Seorang Lelaki dengan Vonis Mati (Banjarbaru, 2004). &lt;br /&gt;Antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain Tiga Karangan Sajak Perjuangan Sayembara Mengarang Hari Pahlawan (Jakarta, 1977), Bandarmasih (Edisi Puisi, 1980), Pesta Baca Puisi Keislaman dan Kepahlawanan (Banjarbaru, 1980), Kuala (Marabahan, 1984), Antologi Puisi Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru (Banjarbaru, 1986), Tamu Malam (Banjarmasin, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Tajuddin Noor Ganie, Banjarmasin, 1992), Jendela Tanah Air (Banjarmasin, 1995), Rumah Hutan Pinus (Banjarbaru, 1996), Antologi Puisi Islami Al Banjari (Banjarmasin, 1996), Jendela Tanah Air (Banjarmasin, 1996), Gerbang Pemukiman (Banjarbaru, 1997), Bentang Bianglala (Banjarbaru, 1998), Bahana (Banjarbaru, 2001), Taman Hati (Banjarbaru, 2001), Cakrawala (Banjarbaru, 2002), Anak Zaman (Banjarbaru, 2004), Air Mata Malam Malam (Banjarbaru, 2004),  dan Seribu Sungai Paris Barantai (Kotabaru, 2006). &lt;br /&gt;Buku MRD yang lain Karakteristik Ekosistem Pertanian Lahan Basah : Dengan Referensi Khusus Sistem Orang Banjar (UI Press Jakarta, 1998). &lt;br /&gt;Forum sastra yang pernah diikutinya antara lain Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel (Banjarmasin, 1982), Aruh Sastra Kalsel I (Kandangan, 2004), dan Aruh Sastra Kalsel II (Pagatan, 2005),.&lt;br /&gt;MRD adalah Ketua Forum Penulis Banjarbaru (1988-sekarang), Sekretaris V Forum Komunikasi Penulis Kalimantan Selatan (1989), Ketua HIMSI Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar (1989), Ketua Kombid Sastra BKKNI Kotif Banjarbaru (1990-1991), Ketua Kombid Sastra Dewan Kesenian Daerah  (DKD) Banjarbaru (1994), Wakil Ketua Forum Dialog Sastra (Fordias) Kalsel (Banjarmasin, 1995), Direktur Lembaga Pusat  Dokumentasi Kliping Wacana Banjarbaru (1995), Direktur Pusat Dokumentasi Sastra, Budaya, dan Lingkungan Jerami Banjarbaru (1995-sekarang), Sekretaris Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru (1996), Pendiri Forum Taman Hati Banjarbaru (2002-sekarang), dan Pendiri sekaligus pengelola Kebun Penulis Banjarbaru (2007-sekarang). &lt;br /&gt;Tahun 1997, MRD menerima hadiah seni bidang sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman). &lt;br /&gt;Sabtu, 20 Juni 2009, Pukul 01.30 WIB, MRD meninggal dunia ketika masih dalam perawatan di RSU Ulin Banjarmasin. Sabtu, 13 Juni 2009, Pukul 12.00 WIB, MRD dimakamkan di Pemakaman Umum RP Soeparto Banjarbaru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283296342083962396-2595389853883061016?l=tajuddinnoorganie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/feeds/2595389853883061016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/obituari-m-rifani-djamhari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2595389853883061016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283296342083962396/posts/default/2595389853883061016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tajuddinnoorganie.blogspot.com/2010/12/obituari-m-rifani-djamhari.html' title='OBITUARI M RIFANI DJAMHARI'/><author><name>TAJUDDIN NOOR GANIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06622776787958360592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wox3ONT0Khs/TPdtCea8MuI/AAAAAAAAABU/cEnT4gwiWEU/S220/5975_100678193278329_100000084467793_16359_4011565_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283296342083962396.post-6691628956390186950</id><published>2010-12-12T21:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T21:58:34.360-08:00</updated><title type='text'>OBITUARI PAK JARKASI</title><content type='html'>OBITUARI PAK JARKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT JALAN &lt;br /&gt;DOSENKU DAN SAHABATKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALI PERTAMA BERKENALAN&lt;br /&gt;Perkenalanku dengan Pak Jarkasi terjadi pada suatu hari di tahun 1982, yakni di Radio Anka Thress Banjarmasin.&lt;br /&gt;Ketika itu beliau bersengaja datang ke tempat itu untuk bertemu denganku yang tengah ikut baca puisi dalam acara sastra di bawah panduan  Pak Awi salah seorang penyiar di sana.&lt;br /&gt;Beliau memintaku untuk bersedia menjadi pemakalah di kampus Fakultas Keguruan Universitas Lambung Mangkurat (FKg Unlam) Banjarmasin.&lt;br /&gt;Waw, permintaan yang sangat mengejutkan. Ketika itu aku baru saja memulai karier sebagai penulis esai sastra di koran-koran.&lt;br /&gt;Sebagai orang yang baru belajar menulis esai sastra, sudah barang tentu pengalamanku masih sedikit.Terus terang aku ragu-ragu untuk menerima permintaan Pak Jarkasi.&lt;br /&gt;Bukan apa-apa, aku sama sekali belum berpengalaman menulis makalah yang harus dipresentasikan di hadapan para dosen dan mahasiswa FKg Unlam. &lt;br /&gt;Keraguan yang sangat wajar, karena sampai dengan berusia 24 tahun ketika itu, aku belum pernah duduk di bangku kuliah. Jadi sama sekali belum tahu bagaimana format penulisan makalah.&lt;br /&gt;Selain itu, sebelumnya aku juga tidak pernah berbicara secara formal di depan publik.&lt;br /&gt;Pengalamanku ketika itu hanya sebatas pada baca puisi di RRI Nusantara III Banjarmasin, Radio Anka Thress, dan sekali-sekali ikut lomba baca puisi di seputaran kota Banjarmasin.&lt;br /&gt;“Topiknya tentang apa, Pak?”&lt;br /&gt;“Terserah Pak Tajuddin saja. Apapun yang Pak Tajuddin tulis akan kami terima dengan senang hati,” kurang lebih itulah yang dikatakan oleh Pak Jarkasi ketika itu.&lt;br /&gt;Oh, iya. Status Pak Jarkasi ketika itu adalah sebagai mahasiswa yang menjadi panitia cermah sastra Bulan Bahasa di kampusnya.&lt;br /&gt;Entah bagaimana ceritanya, aku malam itu pada akhirnya nekad saja mengiyakan permintaan Pak Jarkasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEKAD TAMPIL BERCERAMAH&lt;br /&gt;Jadilah, pada tanggal 24 Oktober 1982, sekitar pukul 09.00 Wite, aku tampil berceramah di kampus  FKg Unlam yang ketika itu masih berada di Jalan Veteran Banjarmasin.&lt;br /&gt;Aku masih ingat, selain dihadiri oleh para dosen dan para mahasiswa, juga hadir kawan-kawan dari Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB).&lt;br /&gt;Beberapa orang orang yang masih kuingat adalah Micky Hidayat, Miziansyah J alm, dan Ahmad Fahrawi alm.&lt;br /&gt;Dari kalangan mahasiswa yang masih kuingat adalah Nellawati Agen, Zulkipli Musaba, Abdul Karim, dan sudah barang tentu Pak Jarkasi sendiri.&lt;br /&gt;Hari itu aku membacakan makalah berjudul Kepelikan Faktor Dominan Keterasingan Puisi Kita. Puisi-puisi pelik yang kubahas ketika itu tidak lain adalah puisi kawan-kawan penyair Kalsel yang baru saja mengikuti Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel 1982 (Balai Wartawan Banjarmasin, 18-19 September 1982)  &lt;br /&gt;Boleh jadi, karena isinya bersifat kritik maka kawan-kawan yang terkena kritik tidak tinggal diam. Mereka berebutan untuk menanggapinya.&lt;br /&gt;Tanggapan juga datang bertubi-tubi dari kawan-kawan mahasiswa FKg Unlam yang usia mereka ketika ketika itu tidak terpaut jauh denganku.&lt;br /&gt;Aku ketika itu kalang kabut menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang datang silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOSENKU SEKALIGUS SAHABATKU&lt;br /&gt;Selepas itu, aku masih sering berhubungan dengan Pak Jarkasi. Lebih-lebih setelah Pak Jarkasi menjadi dosen mata kuliah ilmu-ilmu sastra di FKg Unlam Banjarmasin..&lt;br /&gt;Pak Jarkasi tidak hanya aktif sebagai dosen, tetapi juga aktif menulis esai-esai sastra di koran-koran. Basis komunikasi di antara kami berdua tidak pernah jauh-jauh dari masalah sastra. Begitulah ya
